Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 65 Asisten Dosen


__ADS_3

Mobil Felisa masuk ke halaman parkir milik Yayasan TK, SD, SMP, dan SMA Cinta Kasih. Di sanalah, Felisa menurunkan Rena dan kedua anaknya.


“Sudah sampai, Bu,” ucap Felisa.


“Terima kasih ya, Feli,” sahut Rena.


“Sama-sama, Bu Renaku yang cantik,” sahut Felisa.


Rena dan kedua anaknya pun segera turun dari mobil Felisa.


“Oh ya, Bu Rena,” panggil Felisa tiba-tiba.


“Ada apa Feli?” tanya Rena.


“Aku minta nomor ponsel Ibu dong,” sahut Felisa.


“Sebentar,” Rena pun mengeluarkan ponsel untuk melihat nomornya karena memang nomor ponsel yang dipakai Rena sekarang adalah nomor baru sehingga ia sendiri belum bisa menghafalnya.


“0896-0000-XXX,” sahut Rena.


“Aku telepon ya, Bu,” sahut Felisa yang langsung menelepon nomor Rena.


“Ini nomor kamu?” tanya Rena begitu melihat ada panggilan masuk di layar ponselnya.


“Iya, Bu. Tolong disimpan ya,” sahut Felisa.


“Tentu cantik,” sahut Rena.


“Ah, Ibu. Bisa aja manggilnya, bikin aku jadi terbang nih,” sahut Felisa yang dibalas senyuman oleh Rena.


“Oh ya, aku berangkat ke kampus dulu ya, Bu,” sahut Felisa.


“Iya, hati-hati, Bu Dosen,” sahut Rena.


“Ibu, aku tuh masih asdos belum jadi dosen,” sahut Felisa.


“Sama aja, bentar lagi juga kamu bakal jadi dosen,” sahut Rena.


“Aamiin, doakan saja ya, Bu. Dah Ibu...,” sahut Felisa sembari melambaikan tangannya dan mulai memutar mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya ke Kampus Pelangi.


Anak itu sudah besar, sudah jadi asdos, tapi tingkahnya masih saja ke kanak-kanakan (Ucap Rena dalam hatinya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya).


Selama perjalanan menuju SMP Cinta Kasih, Felisa banyak menceritakan tentang dirinya dan keadaan Kampus Pelangi sekarang kepada Rena. Mulai dari dirinya yang diangkat sebagai asisten dosen oleh Bu Aisyah, keadaan para dosen yang dulu pernah mengajar Rena, serta para pejabat baru yang menduduki Kampus kesayangan Rena itu.


Flashback on


“Feli, kalau Ibu boleh tahu kamu ada perlu apa ke Kampus Pelangi pagi-pagi seperti ini?” tanya Rena yang sedari tadi menyimpan rasa penasarannya.


“Oh, aku sekarang ngajar di sana, Bu,” jawab Felisa.


“Serius kamu?” tanya Rena.


“Kenapa? Ibu enggak percaya kalau aku bisa ngajar?” tanya Felisa.


“Bukan begitu, hanya saja tadinya Ibu pikir kamu hanya mengambil S-2 di sana,” sahut Rena.


“Itu juga, Bu. Aku masih kuliah S-2 di sana dan sambil kuliah aku diminta Bu Aisyah untuk membantunya mengajar di sana. Bisa dibilang jadi asisten dosennya beliau lah,” jelas Felisa.


“Bu Aisyah? Apa maksudmu Aisyah Faradilla?” tanya Rena yang merasa tidak asing dengan nama itu.


“Ibu, kok bisa tau? Apa Ibu kenal sama Bu Aisyah?” tanya Felisa.

__ADS_1


“Ternyata benar,” sahut Rena.


“Jadi, Ibu memang kenal sama Bu Aisyah?” tanya Felisa lagi penasaran.


“Kenal karena kebetulan dia adalah teman kuliah Ibu,” jawab Ibu.


“Serius? Jadi, Bu Rena alumni Kampus Pelangi juga?” tanya Felisa tidak percaya.


“Iya,” jawab Rena.


“Kalau begitu Ibu juga kenal dong sama Pak Alan dan Pak Abimanyu?” tanya Felisa.


“Kenal, kebetulan mereka berdua Kakak kelas Ibu,” jawab Rena tersenyum mengingat pertemuannya dengan Alan kemarin pagi.


Jadi, Bu Rena kenal sama Kak Alan. Bagus itu. Setidaknya aku bisa mengorek beberapa informasi tentang kakakku dari Bu Rena. Siapa tau Bu Rena juga tau tentang gadis strawberry mint yang membuat kakakku kemarin seperti orang gila (ucap Felisa dalam hati).


“Seberapa dekat hubungan Bu Rena dengan Pak Alan dan Pak Abimanyu?” tanya Felisa.


Degh


Kenapa Felisa bertanya seperti itu? (pikir Rena).


“Tidak, Ibu tidak terlalu dekat dengan mereka. Ibu mengenal mereka hanya karena mereka itu Ketua BEMJ yang cukup populer saat Ibu kuliah dulu,” jawab Rena sedikir berbohong.


Maaf, Felisa, aku tidak mungkin menceritakan kedekatanku dengan Alan (ucap Rena dalam hati)


“Oh,” sahut Felisa.


Sayang sekali, aku pikir Bu Rena kenal dekat sama mereka, ternyata tidak (ucap Felisa kecewa dalam hatinya)


“Memang mereka masih di sana juga?” tanya Rena.


“Iya, Bu. Mereka masih di sana. Bahkan, sekarang mereka sudah punya jabatan di kampus itu,” jawab Felisa.


“Pak Alan menjadi Ketua Prodi Bahasa Indonesia, sedangkan Pak Abimanyu kini menjabat sebagai Asisten Rektor 1,” jelas Felisa.


“Waw, hebat sekali. Lalu, Bu Widya dan Pak Didin?” tanya Rena.


“Bu Widya sekarang dipindahkan ke pasca sarjana, sedangkan Pak Didin belum lama ini pensiun dari jabatannya,” jawab Felisa.


“Oh, sudah lama aku tidak pernah ke Kampus itu,” sahut Rena.


“Kalau gitu main dong, Bu,” sahut Felisa.


“Insyaallah, kapan-kapan kalau sempat,” jawab Rena.


Flashback off


***


Setelah turun dari mobil Felisa, Rena mampir terlebih dahulu ke gedung SD. Ia berniat mendaftarkan kedua anaknya terlebih dahulu, Hana dan Haikal ke SD tersebut. Di sana, ia sudah disambut oleh Novi.


“Hai, apa kabar?” tanya Novi seraya menjabat tangan sahabatnya itu dan memberikan pelukan kepada Rena.


“Alhamdullillah, kabarku baik,” jawab Rena.


“Ini anak-anakmu?” tanya Novi saat melihat Hana dan Haikal yang berdiri di samping Rena.


“Iya,” jawab Rena.


“Halo anak-anak manis, ini Ibu Novi. Ibu guru kalian di sini. Ibu boleh kenalan enggak sama kalian?” sapa Novi ramah pada Hana dan Haikal.

__ADS_1


“Boleh, Bu guru. Nama aku Rayhana Larasati, dipanggil Hana,” jawab Hana.


“Ya ampun, nama yang cantik sekali, secantik orangnya.” Puji Novi.


“Kalau aku, Haikal, tapi aku enggak tau nama panjangku,” jawab Haikal.


“Mamah, nama panjang Haikal siapa?” tanya Haikal langsung kepada Rena.


“ Nama panjangmu itu Haikal Rayhan, sayang,” sahut Rena.


“Ibu guru kata Mamah, nama panjang aku Haikal Rayhan. Aku biasa dipanggil Haikal atau Ikal,” jawab Haikal membuat Rena dan Novi tersenyum.


“Oh, Haikal. Senang ketemu sama Haikal dan Hana,” sahut Novi.


“Aku juga, Bu,” sahut Haikal dan Hana hampir bersamaan.


“Nov, aku titip anak-anak dulu. Aku mau urus pendaftaran mereka ke sekolah ini,” sahut Rena.


“Iya, Na. Tenang aja, serahkan mereka berdua sama aku,” jawab Novi.


***


Rena pun pergi ke bagian TU untuk mengurus kepindahan kedua buah hatinya itu. Setelah selesai mengurus semua berkas pendaftaran, ia pun kembali menemui anak-anaknya yang sedang dititipkannya bersama Novi.


Di tengah perjalanannya, ia berpapasan dengan Maya, salah satu staf HRD yang bekerja di Yayasan tersebut.


“ Bu Maya,” sapa Rena.


“Halo, selamat pagi Bu Rena.” Sapa Maya.


“Pagi juga, Bu Maya,” sahut Rena.


“Sedang apa Bu Rena di sini?” tanya Maya.


“Aku sedang mendaftarkan kedua anakku di sekolah ini, Bu,” jawab Rena.


“Jadi, Bu Rena sudah punya anak?" tanya Maya.


"Alhamdulillah, aku sudah punya dua," jawab Rena.


“Aku kira belum,” sahut Maya.


“Bu Rena, boleh minta waktunya sebentar tidak? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan ke Ibu,” sahut Maya.


Aduh, ada apalagi ini? Kenapa aku merasa tidak enak? Ada hal penting apa yang ingin disampaikan Maya kepadaku (pikir Rena).


“Boleh, tapi mungkin saya tidak bisa memiliki waktu banyak karena sebentar lagi sudah waktunya masuk,” sahut Rena.


“Iya, gak apa-apa. Sebentar saja, Bu. Ini juga demi kebaikan Ibu,” sahut Maya.


“Aduh, Bu Maya bikin saya penasaran saja. Ya sudah, kalau begitu baiklah. Kita bicara di mana?” tanya Rena.


“Kalau gitu kita bicara di kantin saja, yuk!” ajak Maya pada Rena.


Mereka berdua pun berjalan menuju kantin untuk membicarakan hal penting yang masih menimbulkan sejuta tanya dalam benak Rena.


***


Bersambung


Terima kasih yang telah membaca tulisan ini..🙏🙏😍😍😍

__ADS_1


Terus dukung author lewat like, komen, vote, dan rate 5 nya ya.. 😘😘❤️❤️❤️


Salam sayang dan sehat selalu 😊😊


__ADS_2