Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 44 Membuka Hati


__ADS_3

Kenangan Rena dan Dewa sebelas tahun lalu


Sungguh sebuah keberuntungan bagi Rena, meski ijazah S-1 nya belum keluar ia sudah diterima mengajar di salah satu lembaga milik Yayasan Pelita Jiwa. SMP-nya memang baru berdiri tahun ini, setelah sebelumnya mereka memiliki tiga lembaga yang sudah cukup ternama di lingkungannya ada SMK, SMA, dan SD.


Rena yang kala itu masih dalam proses penyelesaian skripsinya termasuk salah satu guru baru dan guru termuda di lembaga itu. Hal itu karena kebanyakan guru-guru yang mengajar di SMP itu adalah guru-guru yang diperbantukan dari lembaga sebelumnya, yakni SMK, SMA, dan SD. Seperti halnya, Dewa.


Dewa sebelumnya adalah guru SMA di Yayasan Pelita Jiwa. Namun, karena dianggap ia lebih dibutuhkan di SMP, maka atas rekomendasi Pak Dimas, Dewa dipindahkan ke SMP. Di sanalah, ia bertemu kembali dengan Rena, setelah lulus dari tempat kuliahnya. Di tempat itu pula, hubungan mereka menjadi bertambah dekat. Dikarenakan keduanya masih sama-sama berstatus lajang, mereka sering menjadi bahan ledekan dari murid-muridnya, termasuk ledekan dari beberapa guru yang sudah senior. Apalagi yang wanita cantik dan yang pria ganteng, sungguh terlihat nampak serasi.


“Pak Dewa, kapan mau ke rumah Bu Rena?” goda Pak Asep di tengah-tengah percakapan antara dirinya, Pak Dewa, dan Pak Rama.


“Iya, nih, Pak Dewa. Bener kata Pak Asep, keburu diambil orang loh,” sahut Pak Rama menimpali.


Dewa hanya senyum-senyum mendengar candaan dari kedua rekan gurunya sambil terus memperhatikan Rena yang sedang duduk di pojok ruangan. Berharap Rena memberikan reaksi terhadap candaan kedua temannya itu. Namun, Rena malah berpura-pura tak mendengar dan terus sibuk mengoreksi pekerjaan siswanya.


Bagi Rena, candaan Pak Asep dan Pak Rama adalah sesuatu yang sudah sangat biasa di dengarnya. Ia pun selalu tampak tidak peduli dengan candaan yang dilontarkan kepadanya. Mungkin, itu sebabnya Mamahnya Rena begitu khawatir dengan sikap cuek dan dingin Rena pada setiap pria yang mendekatinya. Ia khawatir anak perempuannya akan menjadi perawan tua. Apalagi adik-adik sepupu Rena yang usianya jauh di bawah Rena, sudah memiliki pasangan. Sedangkan Rena, tak pernah sekali pun, ia memperkenalkan laki-laki kepada kedua orang tuanya. Ia masih setia dengan status jomblo forever nya, status yang pernah diberikan Lala kepadanya.


Suatu malam, tepat setelah acara wisuda Rena, ibu dan anak itu melakukan sebuah percakapan yang bisa dibilang cukup serius di kamar ibunya.


“Mah, boleh nggak kalau Rena setelah ini melanjutkan kuliah Rena ke jenjang S-2?” tanya Rena tampak ragu menatap Mamahnya.


“Apa? Mamah nggak salah denger Rena?” tanya Mamah Rena kaget dan balik menatap serius wajah putriya itu.


“Baru tadi Mama merasa lega sekaligus bahagia karena anak perempuan sulung Mamah akhirnya bisa menyelesaikan kuliahnya dan sekarang kamu bilang bahwa kamu mau melanjutkan kuliah lagi? Apa itu benar Rena?” tanya Mama seolah tak percaya dengan perkataan putrinya itu.


“Benar Mamah, Mamah nggak salah dengar, Rena benar-benar ingin melanjutkan kuliah Rena lagi,” sahut Rena.


“Ya ampun, Rena.., Dengarkan Mamah ya.. bagi seorang perempuan memiliki pendidikan yang tinggi adalah sebuah anugerah sekaligus musibah. Kenapa Mamah katakan demikian? Memiliki pendidikan yang tinggi itu anugerah karena sangat jarang sekali seorang perempuan itu bisa mengecam pendidikan yang tinggi apalagi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah seperti kita. Yang dalam pandangan mereka pendidikan setinggi apa pun tidak ada gunanya, toh ujung-ujungnya bakal ke dapur juga. Lalu, kenapa Mamah katakan musibah. Karena semakin tinggi pendidikanmu, semakin sulit kamu mendapatkan pasanganmu. Itu karena kebanyakan laki-laki menginginkan pasangan hidup yang pendidikannya di bawahnya atau setidaknya setara dengannya, begitu pula sebaliknya,” sahut Mamah.


“Jadi, maksud Mamah kalau Rena melanjutkan kuliah Rena ke jenjang S-2, maka akan sulit bagi Rena, mendapatkan pasangan?” sahut Rena mulai memahami inti pembicaraan dari Mamahnya itu.


"Iya, kurang lebih seperti itu. Lagi pula Rena, usiamu sekarang sudah tidak muda lagi. Teman-teman seangkatanmu di sini, sudah banyak yang menikah. Lalu apa kamu tidak ingin memikirkan itu? Ingat Rena, ketika kita bertemu dengan seorang teman, mereka tidak akan menanyakan apa titel dan gelar yang kamu dapatkan? Berapa jumlah rumahmu? Berapa jumlah mobil yang kamu miliki? Tapi yang akan mereka tanyakan adalah apakah kamu sudah menikah? Apakah kamu sudah punya anak? Sudah berapa anak yang kamu miliki?” Ucap Mamah yang langsung memukul telak Rena sehingga sulit bagi Rena untuk membantahnya.


“Iya, Mah, Mamah benar. Untuk sekarang ini Rena nggak akan memikirkan kuliah S-2 lagi. Tapi, Mah, untuk masalah jodoh, Rena nggak bisa janji, karena jodoh itu kan di tangan Tuhan. Sekali pun kita menginginkannya, tapi kalau Tuhan belum berkehendak, maka itu tidak akan terjadi,” sahut Rena.


“Iya, Rena, Mama paham, tapi Mama ingin kamu berjanji bahwa kamu akan mulai membuka hatimu, mulailah bersikap manis pada siapa pun laki-laki yang mendekatimu. Tidak bersikap jutek dan dingin seperti biasanya, karena kalau kamu terus bersikap seperti itu, mana ada laki-laki yang mau mendekatimu, yang ada, sekali pun mereka ada hati terhadapmu mereka akan langsung lari menjauh darimu,” ucap sang Mama.


“Iya, Mah, Rena berjanji. Rena akan berusaha bersikap manis pada siapa pun laki-laki yang mendekati Rena. Kalau perlu, Rena akan langsung menerima lamaran yang datang untuk Rena,” sahut Rena yang langsung mendapat tepukan di pipi kanannya.


“Kamu ini, mudah sekali bicaranya,” sahut sang Mama yang menganggap ucapan Rena itu hanya candaan semata. Namun, bagi Rena ucapan itu bukanlah candaan semata, melainkan ucapan yang diucapkannya dengan sungguh-sungguh.


Dalam hatinya, Rena berjanji akan benar-benar membuka hatinya. Ia akan belajar mencintai seorang laki-laki yang memang menunjukkan kesungguhannya. Ia akan belajar melupakan perasaannya terhadap Alan dan hanya menjadikan Alan sebagai bagian dari kenangan indah dalam hidupnya.


****


Setelah pembicaraan dirinya dengan sang Mama, Rena mulai menunjukkan perubahan sikapnya. Sepertinya tekadnya untuk membuka hati, benar-benar akan dilakukannya. Seperti pagi ini, ia mulai tampak lebih ramah dan ceria daripada biasanya.


“Assalamualaikum, Ibu Rena,” sapa Bae, Riska, dan Laela secara bersamaan sambil memamerkan senyum mereka saat berpapasan dengan Rena di jalan.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Rena memperlihatkan senyum manisnya.


Kemudian Bae pun meraih tangan kanan Rena dan menempelkan punggung tangan tersebut ke hidung, kening, pipi kanan, pipi kiri, dan bibirnya membuat Rena semakin melebarkan senyumnya melihat tingkah berlebihan dari muridnya.


“Ih, Bae, udah napa gantian,” sahut Riska yang kemudian mengambil tangan Rena dan melakukan hal yang sama seperti yang Bae lakukan.


“Kalian ini mencium tangan Bu Rena saja sampai seperti itu,” sahut Laela sambil meraih tangan Rena dan mencium punggung tangan tersebut dengan menempelkannya ke bagian hidung saja.


“Gak apa-apa Lae, kan biar dapat banyak berkah,” sahut Bae.


“Iya, gak apa-apa,” sahut Rena tak ingin murid-muridnya mempermasalahkan hal sepele seperti tadi.


Rena tahu baik Bae, maupun Laela sama-sama keras dan tidak mau mengalah jadi jika perdebatan di antara mereka diteruskan akan panjang urusannya.


“Ibu, aku kangen. Ibu ke mana aja?” sahut Riska manja.


“Baru tiga hari Ibu gak masuk udah kangen aja,” sahut Rena.


“Aduh, Ibu, tiga hari tuh rasanya tiga tahun tanpa Ibu,” sahut Riska.


“Iya, Bu,” sahut Laela dan Bae yang hampir bersamaan menimpali perkataan Riska.


“Maaf, kemarin itu Ibu ada ujian sidang skripsi, lalu dua harinya Ibu ikut persiapan untuk wisuda di hari Sabtunya,” sahut Rena.


“Wah, Ibu sudah diwisuda ya? Berarti sekarang Ibu udah punya gelar dong,” sahut Laela.


“Gelarnya apa Bu?” tanya Riska.


“S.Pd.,” jawab Rena.


“S.Pd. itu apa Bu?” tanya Laela.


“Sarjana Penuh Derita, ups,” sahut Bae keceplosan dan langsung menutup mulutnya.


“Eh..,” ucap Rena menatap Bae dengan tajam.


“Wah, Bae, parah, “ sahut Riska.


“Iya, nih parah,” sahut Laela.


“Ibu, maaf, keceplosan,” ucap Bae menundukkan kepalanya penuh penyesalan.


“Gak apa-apa, yang penting jangan diulang! Apalagi sampai keluar singkatan yang lebih parah dari itu,” sahut Rena.


“Emang ada Bu singkatan yang lebih parah dari itu?” tanya Riska.


“Ada,” jawab Rena.

__ADS_1


“Apa Bu?” tanya Laela.


“Sarjana Penuh Dosa,” jawab Rena lirih dan hampir-hampir tidak terdengar.


“Waduh,” sahut Bae terkejut dengan jawaban Rena.


“Udah, ah, kok jadi ngomongin titel Ibu sih! Dan ingat, kata-kata Ibu yang tadi jangan diingat-ingat, ya,” ancam Rena.


“Iya, Ibu,” sahut Bae, Riska dan Laela hampir bersamaan.


“Bagus,” sahut Rena.


“Bu, tau nggak, kalau kita kedatangan penghuni baru?” tanya Laela antusias.


“Penghuni baru? Ada murid baru gitu?” tanya Rena.


“Bukan Bu, tapi guru baru,” sahut Bae dengan penuh semangat.


“Sebenarnya bukan guru baru sih Bu, Pak Rayhan itu udah lama ngajar di sini, tapi di SD,” sahut Riska.


“O, ya, jadi namanya Rayhan?” tanya Rena.


“Iya, Bu, orangnya ganteng banget,” sahut Bae sambil memegang kedua pipinya dengan tangannya.


“Benar Bu, Pak Dewa mah kalah,” sahut Laela.


“Iya, dong, siapa dulu, guru aku,” sahut Riska yang memang merupakan alumni dari SD Pelita Jiwa.


“Pak Rayhan itu yang dulu diceritakan Mili, bukan? Saat Ibu meminta kalian menceritakan tentang tokoh idola kalian di depan kelas?” tanya Rena mencoba mengingat nama yang sepertinya tidak asing di telinganya.


“Iya, Bu, bener banget. Pak Rayhan itu memang guru idola yang dulu diceritakan Mili, tapi bukan cuma Mili saja karena hampir semua siswa perempuan di SD mengidolakannya, termasuk aku,” sahut Riska.


“O, Jadi Pak Rayhan yang itu, guru yang kata Mili ganteng, lucu, humoris, ramah, dan pinter ngaji juga bukan?” tanya Bae.


“Iya, bener Bae,” jawab Riska.


“Ya, ampun, aku jadi makin suka sama Pak Rayhan,” sahut Bae.


“Banyak kali Bae yang suka sama dia bukan cuma kamu. Mungkin Bu Rena juga bakalan suka sama Pak Rayhan,” goda Riska.


“Eh, Bu Rena kan sudah punya Pak Dewa,” goda Laela.


“Aduh, apaan sih kalian bicaranya makin ngelantur aja? Udah, ah, Ibu mau ke kantor dulu,” sahut Rena meninggalkan murid-muridnya yang sudah mulai menggodanya.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2