
Senyuman Alan masih menghiasi wajah tampannya, menularkan rona kebahagiaan bagi siapa pun yang melihatnya, serta mengundang sejuta tanya yang enggan untuk ditolak.
“Kak Alan kenapa sih dari tadi senyum-senyum sendiri? Jangan-jangan kesurupan lagi,” sahut Felisa lalu mengambil sendok dan hendak memukulkannya ke kepala Alan.
“Eits, sedang apa kamu Felisa?” sahut Alan dengan nada yang cukup tinggi membuat Felisa menghentikan niatnya yang hendak memukulkan sendok ke kepala Alan.
“Hehe.. kirain Kakak kesurupan,” sahut Felisa seraya meletakkan kembali sendok yang hendak dipukulkannya ke Alan.
“Sembarangan bilang orang kesurupan,” sahut Alan.
“Lagian senyum-senyum sendiri. Ditanya kenapa senyum-senyum malah gak dijawab,” sahut Felisa.
“Kakak kamu ini lagi senang Felisa sayang,” jawab Alan.
“Iya, lagi senang kenapa? Ada apa? Apa karena Kak Naya udah balik ke Indonesia?” tanya Felisa.
“ Sungguh fitnah luar biasa,” sahut Alan.
“Maksudnya?” tanya Felisa.
“Ngapain juga Kakak senang karena Naya balik ke Indonesia. Yang ada Kakak justru akan sangat bahagia kalau dia gak balik-balik lagi ke sini,” jawab Alan.
“Sadis amat. Emang kenapa sih Kak? Kok kayanya Kakak nggak suka banget sama Kak Naya? Padahal mukanya Kak Naya kan cantik, sama seperti almarhum Kak Dewi,” sahut Felisa.
“Mereka gak bisa dibandingin Feli. Meskipun, secara fisik mereka memiliki banyak sekali kemiripan. Namun, kepribadian mereka sangat jauh berbeda,” jawab Alan.
“Beda gimana?” tanya Felisa.
“Dewi itu meskipun dia cantik dan anak orang kaya, tapi dia sama sekali tidak pernah sombong dan menunjukkan kekayaannya kepada orang lain. Sedangkan Naya, kamu tau sendiri lah bagaimana dia?,” sahut Alan.
“Iya sih, Kakak bener. Kak Naya itu orangnya sangat sombong. Aku masih ingat waktu pertama kali aku ketemu sama dia. Dia seenaknya saja menyerobot antrian,” sahut Felisa mengingat kejadian menyebalkan beberapa bulan yang lalu waktu dirinya pertama kali bertemu Naya.
Selain itu Felisa, kamu tidak tahu kalau dia juga wanita yang munafik. Di depan, Dewi, dia selalu bertingkah sok baik dan perhatian, tapi di belakangnya dia justru merayu suami Kakak sepupunya ini. Padahal, saat itu Dewi sedang sakit keras dan membutuhkan banyak dukungan dari keluarganya. (ucap Alan dalam hatinya).
Alan masih mengingat kejadian sekitar 8 tahun yang lalu, saat Dewi sedang terbaring di rumah sakit, Naya diam-diam masuk ke dalam kamarnya dan menawarkan tubuhnya pada Alan. Sungguh itu sangat menjijikan baginya karena Alan bukanlah laki-laki brengsek seperti yang dipikirkan oleh Naya.`
***
Rena mulai mempersiapkan berkas-berkas yang akan digunakannya untuk mengurus kepindahan sekolah Hana dan Haikal ke yayasan tempatnya sekarang mengajar. Ia sibuk memilah isi dokumen yang kemarin sempat dibawanya dari rumah.
Dirinya sempat terpaku pada satu map berwarna putih kekuningan bertulis Pengadilan Agama Kota XX. Ia sangat hafal betul isi dokumen yang ada di dalamnya. Dokumen yang mengubah kehidupan dia dan anak-anaknya. Rena pun segera mengabaikan map itu dan tak ingin lagi membuka isinya.
“Apa ada yang bisa Reni bantu, Kak ?” tanya Reni saat melihat Rena masih sibuk merapikan berkas-berkas yang sedari tadi tercecer berantakan.
“Tidak usah Reni, semua persyaratannya sudah Kakak siapkan. Sekarang, Kakak tinggal memfotokopinya saja,” jawab Rena.
“Jadi, Kakak akan memindahkan Hana dan Haikal ke sekolah yang ada di yayasan tempat Kakak mengajar ?” tanya Reni.
__ADS_1
“Iya, Reni, dengan begitu Kakak akan mudah mengawasi mereka. Lagipula di sana ada Novi yang juga bisa ikut mengawasi Hana dan Haikal selama mereka bersekolah di sana,” sahut Rena.
“Novi ? Siapa Kak ?” tanya Reni.
“Itu teman SMP Kakak yang juga pernah kuliah bareng sama Kakak,” jawab Rena.
“Yang tinggal di danau hijau itu bukan?” tanya Reni.
“Iya,” jawab Rena.
“Oh, jadi teman Kakak juga mengajar di sana?” tanya Reni.
“Iya, dia ngajar di sana, di SD nya. Bahkan, bukan cuma dia. Hampir semua guru di sana yang Kakak temui kemarin rata-rata teman kampus Kakak,” jawab Rena.
“Oh ya? Terus Kak Alan ngajar di sana juga gak?” tanya Reni.
“Gak tau. Kakak gak ketemu dia,” jawab Rena.
“Yah, kirain Kak Alan ngajar di sana juga,” sahut Reni dengan nada kecewa.
“Jadi, ceritanya ada yang kecewa nih karena Kak Alan enggak ngajar di sana?” tanya Rena.
“Iya,” jawab Reni.
“Kalau begitu selamat kecewa! Sekarang Kakak mau ke fotokopi dulu. Kamu tolong jagain Hana dan Haikal,” sahut Rena.
“Siap, Kakak,” sahut Reni sambil mengacungkan jempolnya.
***
“Tittttttttt...”
“Astaghfirullah, siapa sih yang membawa mobil sekencang itu? Gak tau apa ini di jalanan umum,” sahut Rena kesal.
Bruakk
“Ya, Tuhan,” sahut Rena saat melihat mobil itu menabrak gerobak sayur yang ada di depannya. Ia pun segera menghampiri tempat kejadian tersebut.
“Ibu, gak apa-apa?” tanya Rena pada Ibu penjual sayur.
“Saya gak apa-apa, Neng. Tapi, gerobak saya,” sahut ibu itu dengan wajah sedih saat melihat gerobaknya hancur dan sayuran yang dibawanya pun berserakan ke mana-mana.
“Kamu itu bagaimana sih?!” teriak seorang wanita yang baru saja keluar dari mobil yang menabrak gerobak si penjual sayur itu.
Wanita itu tak lain adalah Naya. Dengan wajah kesal, ia menghampiri Rena dan si penjual sayur tadi.
“Apanya yang bagaimana, Mba? Apa Mba nggak liat gerobak sayur ibu ini hancur dan ibu ini pun nyaris saja tertabrak mobil Mba?” tanya Rena sambil menunjuk gerobak sayur yang rusak.
__ADS_1
“Hei, saya tidak bicara sama kamu! Saya sedang bicara sama dia,” sahut Naya sambil menunjuk ibu penjual sayur itu.
“Tapi, Neng ini benar Mba. Apa Mba gak liat gerobak dan dagangan saya hancur gara-gara mobil Mba menabrak gerobak saya?” sahut si penjual sayur.
“Oh, jadi kamu menyalahkan saya? Kamu ingin uang dari saya, hah?!” sahut Naya dengan nada tinggi.
“Bukan begitu, Mba. Tapi, dalam hal ini memang Mba yang salah,” sahut Rena.
“Diam, kamu! Saya tidak bicara sama kamu,” bentak Naya pada Rena.
“Asal kamu tahu aja yah, gara-gara telinga dia yang tuli itu mobil saya jadi lecet dan kotor seperti ini,” sahut Naya menunjuk mobil
“Maksud, Mba?” tanya Rena.
“Tadi kan saya sudah memencet klakson mobil saya. Jadi, salah dia dong kalau musibah ini sampai terjadi,” sahut Naya menunjuk si Penjual Sayur.
“Iya, tapi Mba memencet klakson mobilnya tiba-tiba. Jadi, saya kaget dan panik sehingga saya hanya bisa menyelamatkan diri saya, tapi tidak dengan gerobak saya,” sahut si Penjual Sayur membela dirinya.
“Kamu dengar? Itu semua salah dia karena dia tidak menyelamatkan gerobaknya sendiri. Jadi, jangan mimpi saya akan mengganti rugi ini semua! Tidak sepeser pun! Yang ada harusnya dia yang mengganti semua kerugian yang saya alami. Mobil saya jadi lecet dan kotor karenanya. Tapi, saya tahu, gembel kayak dia gak akan mampu mengganti semua kerugian saya,” sahut Naya merendahkan.
Sombong sekali perempuan ini. Jelas-jelas dia yang salah karena telah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. (batin Rena).
“Maaf, Mba. Menurut saya dalam hal ini Mba juga salah karena Mba telah melajukan mobil Mba dengan kecepatan yang tinggi,” sahut Rena mencoba membela si penjual sayur.
“Hei, itu urusan saya. Mobil ini punya saya. Mau saya melajukan mobil ini dengan kecepatan tinggi atau pelan itu urusan saya. Bukan urusan kamu! Lagipula apa kalian gak kenal siapa saya? Saya ini Naya Atmaja, putri dari pemilik Atmaja Group. Jadi, jangan pernah cari masalah dengan saya! Camkan itu!!” sahut Naya dengan angkuhnya yang membuat Rena dan si penjual sayur itu hanya bisa diam dan tak mau lagi menanggapi wanita sombong itu.
Naya pun kembali ke mobilnya. Ia pun berlalu meninggalkan Rena dan si penjual sayur yang hanya bisa pasrah dengan kelakuan Naya yang semena-mena itu.
Ya, Tuhan, ada ya perempuan sombong yang tidak punya hati seperti dia. Sudah salah tidak mau mengakui kesalahannya. Malah dia melimpahkan semua kesalahannya itu pada ibu si penjual sayur tersebut. Semoga aku tidak lagi berurusan dengan orang picik seperti dia (batin Rena).
Rena pun melihat ibu si penjual sayur merapikan gerobak dan sayurannya yang berceceran. Ia pun segera membantu ibu itu.
“Sabar ya, Bu,” sahut Rena menenangkan.
“Iya, Neng. Mungkin ini memang sudah nasib saya,” sahut ibu itu sembari menyeka air mata yang sudah mengalir di pipinya.
“Semoga Allah mengganti ini semua dengan yang lebih baik,” sahut Rena.
“Aamiin,” jawab ibu si penjual sayur itu.
Sebagian manusia sering kali melakukan perbuatan yang semaunya pada manusia lain yang mereka anggap lebih lemah darinya. Mereka lupa akan adanya kuasa Tuhan yang akan membalas setiap perbuatan yang telah mereka lakukan.
***
Bersambung
Terima kasih bagi yang masih setia membaca ceritaku. Mudah-mudahan kalian tetap semangat hingga akhir episode.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian lewat like, vote, rate 5, dan komennya. Author akan semakin berterima kasih 😘😘😘
Salam sayang buat kalian dan keluarga kalian, semoga Allah selalu melindungi dan memberi kesehatan pada kita semua.. (aamiin yaa rabbal a'lamin) ❤️❤️❤️