
Alan melajukan mobilnya menuju pemakaman untuk mengunjungi makam almarhumah Dewi, istrinya yang sudah tiada. Sebelum sampai, Alan berhenti di sebuah toko bunga untuk membeli sebuket bunga mawar putih kesukaan Dewi.
Sesampainya di sebuah makam dengan batu nisan yang bertuliskan “Dewi Permata Hati binti Raditya Herlambang," Alan duduk dan meletakkan buket bunga mawar putih yang tadi dibelinya. Diusapnya batu nisan itu, sebelum akhirnya pikirannya melayang jauh meninggalkan masa kini menuju masa lalu.
Delapan tahun sebelumnya
“Apa?! Kamu hamil?” tanya Alan heran penuh keterkejutan.
“Iya, Kak, aku sedang hamil. Tadi aku baru memeriksanya dengan test pack," jawab Dewi dengan wajah tertunduk.
“Tapi bagaimana bisa kamu hamil Dewi? Bukankah obat yang kamu minum itu memberikan efek samping yang membuatmu sulit untuk hamil? Apa jangan-jangan kamu tidak meminum obat itu?” tanya Alan penuh selidik.
“Iya, Kak, selama ini aku memang tidak pernah meminumnya,” sahut Dewi lirih dengan wajah yang masih tertunduk tak berani menatap suaminya.
Alan pun mengusap wajahnya kasar saat mendengar pengakuan jujur dari mulut istrinya itu.
“Ya ampun, Dewi! Kenapa kamu melakukan itu? Kamu sadar tidak, itu membahayakan nyawamu!” sahut Alan dengan nada tinggi dan penuh emosi.
“Aku sadar Kak. Aku sadar sepenuhnya dengan tindakanku,” sahut Dewi, kali ini dengan wajah yang terangkat menatap lekat suami tercintanya itu.
“Apa?! Itu artinya kamu bunuh diri, Dewi!” sahut Alan dengan suara yang semakin menggelegar sambil menunjuk wajah Dewi dan menatapnya dengan pandangan murka.
“Iya, Kak, aku tahu, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku ingin memiliki keturunan sama halnya dengan wanita lainnya,” sahut Dewi dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Kita sudah menikah 8 tahun, Kak. Tapi, selama 8 tahun itu aku tak bisa memberimu apa-apa. Selain, hanya menjadi beban bagimu dengan penyakit yang aku derita selama ini. Aku ingin memiliki keturunan darimu, Kak, apa itu salah?” tanya Dewi dengan suara terisak, menyentuh nurani Alan yang paling dalam, membuatnya lupa akan kemarahan pada istrinya itu.
Alan pun menarik nafasnya panjang. Ia mulai memikirkan ucapan istrinya itu, meski selama ini ia tak pernah merasa terbebani dengan penyakit istrinya itu. Namun, bagaimana pun keinginan istrinya itu bukanlah suatu kesalahan, yang salah hanyalah keadaanya yang tak memungkinkan.
“Dewi, maafkan aku. Aku memahami keinginanmu ini. Aku pun juga ingin memiliki keturunan sebagaimana pria pada umumnya. Tapi seharusnya kamu lebih bersabar, setidaknya tunggulah sampai dirimu benar-benar sembuh,” sahut Alan sambil mengusap air mata yang sempat menetes di pipi istrinya itu.
“Tapi sampai kapan, Kak? Sampai kapan aku bisa terbebas dari penyakit ini?” sahut Dewi dengan nada yang penuh keputusasaan. Air matanya tak henti menetes di pipinya. Alan pun kemudian menarik tubuh Dewi dan membenamkan kepala Dewi tepat di dadanya.
“Sayang, Tuhan tidak pernah memberikan ujian kepada hamba-hambanya di luar batas kemampuannya. Aku yakin suatu saat kamu bisa terbebas dari penyakitmu ini,” sahut Alan seraya mengusap lembut rambut hitam istrinya.
“Kak, sekarang semua sudah terjadi. Mungkin kehamilanku ini juga sudah menjadi bagian dari takdir Tuhan. Jadi, kumohon Kak, beri aku dukungan atas keputusanku ini,” pinta Dewi.
__ADS_1
“Dew, sejujurnya aku sangat kecewa padamu. Kamu mengambil keputusan tanpa berbicara terlebih dahulu kepadaku dan sebagai seorang suami aku pasti akan mendukungmu selama itu tidak membahayakan dirimu. Tapi, kamu tahu kehamilan ini akan membuatmu tak bisa menjalani kemoterapi sebagaimana biasanya karena itu akan membahayakan janin yang ada di dalam rahimmu,” sahut Alan.
“Aku tahu itu, Kak. Itulah sebabnya aku minta sama Kak Alan selama aku hamil, tolong jangan memintaku untuk menjalani kemoterapi. Setidaknya sampai bayi kita lahir,” ucap Dewi memohon.
“Seperti yang aku bilang tadi, aku tak bisa mendukung keputusan yang dapat membahayakan nyawamu,” sahut Alan penuh penekanan.
Sesaat setelah Alan mengucapkan kalimat yang terasa begitu menyakitkan bagi istrinya. Keheningan pun melanda sepasang suami istri itu. Alan tak henti mengusap kepala Dewi, berusaha memberikan ketenangan pada istrinya sambil memikirkan keputusan yang terbaik untuk diambilnya. Di satu sisi, Alan ingin mendukung keputusan istrinya itu. Ia pun ingin memiliki anak yang bisa dipeluk dan digendongnya, namun di sisi lain ia tak mau egois karena kehadiran seorang anak pada kondisi Dewi yang sekarang akan sangat membahayakan baginya.
Alan teringat cerita almarhum mertuanya tentang ibunya Dewi sebulan sebelum ayah mertuanya itu dipanggil menghadap yang kuasa. Ibunya Dewi meninggal sesaat setelah melahirkan Dewi. Hal itu karena kondisinya selama hamil Dewi menurun drastis. Selain itu, saat melahirkan, ibunya Dewi pun kehilangan banyak darah dan itu sangat berbahaya bagi pasien yang memiliki riwayat penyakit leukemia seperti ibunya. Alan tak menginginkan hal yang sama terjadi pada Dewi. Ia berniat membicarakan semuanya pada dokter yang selama ini menangani Dewi. Semoga ia mendapatkan titik terang untuk masalah ini.
Dewi pun mengangkat kepala yang tadi dibenamkannya di dada bidang suaminya. Ia menatap lekat mata suaminya, sebelum akhirnya ia berucap.
“Kak, bolehkah aku menanyakan sesuatu?” tanya Dewi.
Alan tersenyum mendengar pertanyaan yang ia anggap konyol dari mulut Dewi.
“Tentu saja, memang siapa yang akan berani melarangmu bertanya pada suamimu, Nyonya Alan Bagaskara,” ucap Alan.
“Tapi tolong jawab pertanyaan Dewi dengan jujur dari hati Kak Alan yang terdalam,” pinta Dewi.
“Kak Alan, katakan padaku, apakah Kakak selama ini mencintaiku?” tanya Dewi.
Alan kembali mengulas senyum di bibirnya.
“Mengapa kamu bisa bertanya seperti itu?" tanya Alan.
“Kak Alan, tolong jawab! Aku hanya ingin tahu apakah Kakak mencintaiku? Karena selama ini kita sama-sama tahu bahwa kita menikah karena perjodohan, karena Kakak merasa kasihan dengan penyakit yang aku derita, bukan karena kita saling mencintai,” ucap Dewi lirih.
“Apakah sekarang itu penting? Bukankah sekarang kamu telah menjadi istriku dan aku telah menjadi suamimu,” ucap Alan.
“ Jadi, selama ini Kakak memang tak pernah mencintaiku,” sahut Dewi dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan air mata yang perlahan menetes di pipi putihnya.
Alan pun mengusap lembut air mata yang jatuh di pipi istrinya itu.
“Memang kapan aku bilang aku tidak mencintaimu? Memang benar, awalnya kita menikah karena perjodohan dan karena aku merasa kasihan melihat keadaanmu saat itu. Namun, berjalan dengan seiringnya waktu dan tulusnya cintamu kepadaku. Aku pun mulai merasakan hal yang sama kepadamu,” jawab Alan menatap Dewi hangat.
__ADS_1
“ Benarkah itu?” tanya Dewi masih tak percaya dengan perkataan suaminya.
“Apakah kamu melihat kebohongan di mataku?” tanya Alan balik sambil menatap lekat mata indah milik istrinya itu.
“Tapi kamu tak pernah mengatakannya, Kak. Kamu tidak pernah bilang bahwa kamu mencintaiku,” sahut Dewi.
“Apa itu harus?” goda Alan.
“Iya,” jawab Dewi.
“Baiklah, dengarkan aku, karena mungkin kamu hanya akan mendengarnya sekali ini saja,” sahut Alan sambil terus menatap lekat wajah cantik istrinya.
“Dewi, aku mencintaimu sayang,” ucap Alan dengan lembut dan perlahan-lahan.
Mendengar itu hati Dewi merasa bahagia tak terkira. Kalimat yang selama ini ingin didengarnya dari mulut suami tercintanya itu telah terucap, meski itu hanya diucapkannya sekali saja.
“Aku juga mencintaimu Kak Alan, bahkan aku sangat mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku,” sahut Dewi yang mendapat dekapan hangat dari Alan.
“Kak Alan, lalu bagaimana perasaanmu terhadap Rena? Apakah sampai saat ini kamu masih memiliki perasaan terhadapnya?” tanya Dewi yang masih menyimpan rasa penasarannya.
“Kamu ini, kenapa malah tiba-tiba membicarakan orang lain? Benar-benar tidak tahu suasana. Dengar ya.. Rena hanya bagian dari masa laluku, sudahlah lupakan dia,” sahut Alan mengalihkan pandangannya dari tatapan Dewi karena sesungguhnya ia sendiri pun tidak tahu apakah masih ada rasa di hatinya untuk Rena.
Dewi pun tertidur dalam pelukan Alan. Alan yang menyaksikan tidur polos istrinya itu, mengulas senyum manis di bibirnya. Dikecupnya kening dan bibir mungil istrinya itu. Lalu, ia pun tidur bersama dengan istrinya dalam dekapan hangat dan belaian lembut angin malam.
Keesokan harinya, Alan masih melihat Dewi tertidur pulas di sampingnya. Ia membelai lembut wajah istrinya. Namun, sesuatu yang aneh mulai dirasakannya. Ia merasakan wajah istrinya itu begitu dingin dan tampak kaku. Meski, hatinya ragu dan tak ingin mempercayai pikiran buruk yang berkecamuk dalam benaknya. Ia lekas mengambil pergelangan tangan istrinya. Diperiksanya denyut nadi sang istri. Betapa terkejutnya Alan, saat tahu ia tak lagi dapat mendengar denyut nadi dari istrinya. Ia pun segera membawa Dewi pergi ke rumah sakit.
***
Alan kembali menitikan air matanya saat kenangan itu kembali menghampirinya. Setiap kali ke makam ini, ia selalu mengingat saat-saat itu. Detik-detik sebelum ia kehilangan sang istri dan calon buah hatinya yang belum sempat lahir sekitar delapan tahun lalu.
“Dewi, rasanya aku masih belum percaya kejadian hari itu. Kamu pergi meninggalkanku bersama dengan calon buah hati kita. Calon yang begitu ingin kamu lihat keberadaannya di dunia. Namun, takdir berkata lain, kamu dan dia telah dijemput lebih dahulu oleh yang Kuasa,” ucap Alan lirih. Pandangan matanya dengan tajam menatap langit yang sudah mulai terlihat gelap. Seolah siap menyambut kedatangan hujan di hari itu.
***
Bersambung
__ADS_1