Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 40 Perjodohan


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, meninggalkan segala kenangan yang tersimpan di relung hati setiap insan... Membuka kisah baru bagi perjalanan Alan dan Rena.


Tidak men-skip cerita adalah langkah bijak untuk memahami alur cerita ini..


...****...


Dua belas tahun kemudian


Alan termangu di tempat tidurnya. Pikirannya kembali melayang ke masa 12 tahun silam. Saat dirinya menyerah pada cinta pertamanya dan akhirnya memilih menerima perjodohannya dengan Dewi, gadis tercantik di kampusnya dulu.


Saat itu semua penghuni rumah sedang duduk berkumpul menikmati kopi dan susu hangat yang didampingi camilan buatan sang nyonya rumah. Mereka asyik bercanda satu dengan lainnya hingga sebuah percakapan serius antara ayah dan anak tercipta di ruangan itu. Ruangan yang semula dipenuhi gelak tawa seketika menjadi hening.


“Lan, apa kau sudah punya kekasih?” tanya Kevin pada putra kesayangannya.


“Kenapa Papa tiba-tiba bertanya seperti itu, tidak biasanya?” tanya Alan heran dengan pertanyaan sang Papa.


“Teman Papa ingin melamar kamu untuk anaknya,” sahut Kevin tidak ingin terlalu lama berbasa-basi, meski perkataannya yang spontan itu membuat semua yang berada di ruangan itu terkejut dan memandang ke arahnya.


“Apa?! Yang benar saja? Alan kan laki-laki, Pa, masa laki-laki dilamar,” tanya Alan sewot.


“Nabi Muhammad juga dilamar oleh Khadijah,” sahut Papa enteng.


“Itu pengecualian, Pa,” sanggah Alan.


“Memang siapa yang ingin melamar Alan, Mas?” tanya Elana yang sedari tadi menyimak percakapan ayah dan anak itu.


“Raditya Herlambang, teman sekolahku dulu, kamu ingat kan?” tanya Kevin pada istrinya.


“Oh, Raditya teman Mas yang sekarang jadi pengusaha kaya dan sukses itu, yang kata Mas memiliki ratusan anak cabang perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan hingga manca negara?” sahut Elana saat mengingat nama itu.


“Iya,” sahut Kevin menganggukkan kepalanya.


“Ya Tuhan, berati kamu beruntung sekali, Lan!” sahut Elana yang tampak senang mengetahui kabar tersebut.


“Mama, jangan matre deh,” sahut Alan yang justru tampak tidak senang dengan rencana perjodohan dari keluarganya itu.


“Eits, kamu, ya. Mama itu senang karena kamu akan memiliki mertua kaya seperti Om Radit yang itu artinya masa depanmu akan lebih terjamin. Lagi pula setahu Mama, anak perempuan Om Radit itu sangat cantik. Benar kan, Mas?” tanya Elana.


“Iya, kau benar sekali. Makanya, aku juga heran Radit kok bisa melamar anak kamu yang jelek, cerewet, dan pecicilan itu, “ sahut Kevin yang mendapat pukulan di lengan oleh istrinya.


“Hus, sembarangan! Alan itu anakku yang paling tampan, tau Mas,” sahut Elana tidak terima.


“Dan aku yang paling cantik dan imut,” sahut gadis kecil di samping Alan yang sedari hanya menyimak saja.

__ADS_1


“Memang siapa anaknya Om Radit, Pa? Memang dia kenal sama Alan?” tanya Alan penasaran.


“Iya, dia kenal sama kamu. Om Radit bilang dia adik kelas kamu dan dia sudah lama menyukai kamu. Kalau tidak salah, namanya Dewi, iya Dewi,” sahut Kevin.


Dewi? Jadi Dewi yang meminta ayahnya untuk menikah denganku? (pikir Alan)


Dewi memang pernah menyatakan perasaannya kepada Alan, namun Alan menolak karena memang ia tidak memiliki perasaan apa pun padanya. Dia hanya menganggap Dewi sebagai teman biasa.


“Bagaimana? Kau mau? Kau belum punya kekasih kan, Lan?” tanya Kevin lagi.


Alan sungguh tidak tahu harus menjawab apa pada Kevin, Papanya. Ia memang tidak memiliki kekasih, namun dihatinya sudah ada Rena. Sayangnya, ungkapan perasaannya pada Rena hingga saat ini masih belum mendapat kepastian jawaban. Yang ia lihat, Rena justru seperti sedang berusaha menjauh darinya sejak Alan menyatakan perasaan cinta kepadanya.


Apa itu artinya Rena memang sudah menolak dirinya secara halus? Apa perjuangan cintanya memang harus berakhir sampai di sini saja.


"Maaf, Pa, Alan masih memerlukan waktu untuk berpikir karena sejujurnya di hati Alan sudah ada orang lain," jawab Alan.


***


Esok harinya, setibanya Alan di kampus, ia langsung mencari Dewi di kelasnya.


“Eh, Kak Alan,” sapa Adinda hangat saat melihat Alan berada di depan kelasnya.


“Dewi, ada?” tanya Alan.


“Itu dia di pojok. Dewi, ada yang nyari nih....,” sahut Adinda setengah berteriak memanggil Dewi.


“Kak Alan,” sapa Dewi lembut.


“Dewi, bisa aku bicara denganmu,” pinta Alan.


“Tentu saja bisa, memang ada apa Kak? Kok, Kakak kelihatannya serius sekali,” tanya Dewi.


“Kita bicara di taman saja, ya,” ajak Alan,


“Baiklah,” sahut Dewi,


Dewi pun mengikuti langkah kaki Alan menuju taman.


“Dewi, apa kamu serius ingin menikah denganku?” tanya Alan.


“Oh, Papa sudah bilang semuanya pada Om Kevin, ya?” tanya Dewi.


“Iya, itu sebabnya aku tanyakan itu padamu. Apa kau benar-benar ingin menikah denganku?” tanya Alan.

__ADS_1


“Iya, aku benar-benar ingin menikah dengan Kakak. Karena aku sangat menyukai Kakak bahkan aku sangat sayang sama Kakak. Itu sebabnya aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama Kakak,” sahut Dewi.


“Tapi Dewi, aku sudah pernah bilang sama kamu. Kalau aku hanya menganggap kamu sebagai teman saja, tidak lebih,” sahut Alan.


“Jadi, maksud Kakak, Kakak ingin menolak ku?”


tanya Dewi diiringi dengan air mata yang jatuh dari sudut matanya.


Melihat Dewi, menangis, Alan merasa bersalah. Ia sangat tidak tega jika melihat seorang perempuan menangis. Ia pun memeluk Dewi dengan maksud menenangkannya. Namun, air mata Dewi bukannya mengering, justru malah semakin bertambah deras hingga membasahi kemeja Alan.


“Kak, usiaku sudah tidak lama lagi, apakah aku tidak bisa merasakan kebahagiaan walau hanya sesaat? Hiks..Hiks..” tanya Dewi sesegukan. Air mata pun terus mengalir dari wajah cantiknya. Pertanyaan Dewi itu membuat Alan terpaku. Ia tak mampu memahami maksud perkataan Dewi.


“Apa maksud kamu?” tanya Alan.


Belum sempat Dewi menjawab, tiba-tiba saja darah segar mengalir dari lubang hidungnya. Dewi pun seketika ambruk dalam pelukan Alan.


***


Di pojok sebuah ruangan rumah sakit, dua orang pria tampak sedang duduk termenung. Wajah mereka tampak pucat.


“Sejak kapan Dewi menderita penyakit ini Om?” tanya Alan.


“Sejak kecil Alan. Dia memiliki penyakit yang sama dengan Mamanya. Itu sebabnya dia tidak boleh merasa stres apalagi sedih," jawab Radit.


“Tapi selama ini ia tampak baik-baik saja,” sahut Alan.


“Iya, itu karena pengobatan yang harus dijalaninya setiap bulan,” sahut Radit.


“Apa penyakit leukemia ini bisa disembuhkan?” tanya Alan.


“Peluangnya sangat tipis Alan, meskipun kita bisa melakukan kemoterapi atau operasi sumsum tulang belakang.Namun, tetap saja itu tidak bisa menjamin kesembuhannya 100%. Sekarang yang bisa Om lakukan hanya menjaga kondisi mentalnya agar tidak drop serta memberi pengobatan semaksimal mungkin,” sahut Om Radit dengan mata yang sudah berkaca-kaca mengingat kembali apa yang terjadi dengan almarhumah istrinya.


“Itu sebabnya Alan, Om hanya ingin membuat anak Om bahagia, setidaknya ini bisa memperpanjang usianya. Om mohon Alan, menikahlah dengan Dewi. Terimalah perjodohan ini,” pinta Radit kepada Alan dengan mengatupkan kedua lengannya. Melihat seorang ayah memohon seperti itu kepadanya membuat Alan benar-benar merasa tidak tega. Itu sebabnya, ia akhirnya pun menerima perjodohan ini.


"Hah,"


Alan menghela nafas panjang mengakhiri lamunannya. Kemudian, ia bangkit dari ranjang dan kembali meneruskan maksudnya yang sempat tertunda. Ia turun ke lantai bawah untuk menghampiri kedua orang tuanya yang saat ini masih berada di ruang kerja.


“Ma, Pa, Alan pamit ya, Alan mau pergi ke makam dulu. Setelah itu, mungkin Alan langsung kembali ke Bogor. Pekerjaan Alan sudah menunggu di sana,” sahut Alan saat menghampiri kedua orang tuanya. Ia pun kemudian mencium punggung tangan ayah dan ibunya.


“Iya, sayang, hati-hati, ya.. Mudah-mudahan lebaran tahun depan kamu bisa ke sini bersama keluarga barumu,” sahut sang Mama sambil mengusap lembut kepala putra tercintanya itu.


“Iya, doakan Alan, Ma, " ucap Alan lembut dengan senyum yang mengembang di bibirnya.

__ADS_1


****


Bersambung


__ADS_2