
Awal bulan merupakan waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh para pencari nafkah, karena di tanggal itulah hasil dari keringat yang mereka keluarkan setiap bulannya akan mereka rasakan hasilnya. Tentunya dari hasil itu pula mereka dapat membeli segala macam kebutuhan pokok yang mereka butuhkan untuk satu bulan ke depan.
Swalayan menjadi salah satu tempat yang menjadi incaran mereka untuk membeli segala kebutuhan yang mereka inginkan. Selain tempatnya bersih, dukungan AC yang menjadi fasilitas di tempat tersebut juga memberikan kenyamanan tersendiri bagi para konsumen saat berbelanja. Hal itu pula yang dirasakan oleh Alan. Itulah sebabnya ia memilih swalayan “Jaya Mart” sebagai tempat untuk membeli segala macam kebutuhan pokok yang dibutuhkannya. Selain karena tempatnya yang luas, berbagai macam kebutuhan pokok juga tersedia di sana.
Tepat di belakang Alan, seorang wanita tua tengah mengantri, menunggu giliran untuk membayar dua kotak susu bayi yang dibawanya. Alan pun menoleh ke arah wanita tua tersebut. Ia merasa tidak tega.
“Silakan Nek, duluan saja,” sahut Alan memberi jalan pada wanita tua itu.
“Oh, terima kasih ya,” sahut Nenek Tua itu seraya berjalan ke depan Alan, lalu menyimpan dua kotak susu yang tadi di bawanya ke depan kasir.
Kasir dengan name tag ‘Reni’ itu pun dengan cekatan meraih kotak susu tersebut. Mendekatkan barcode yang tertera di belakang kotak ke dekat sinar laser yang berada persis di samping meja komputer yang ada di depan kasir.
“Semuanya 150 ribu, Nek.” Sahut Kasir bernama Reni itu.
Mendengar angka yang disebutkan Reni, Nenek itu pun langsung merogoh kantung bajunya. Namun, apa yang dicari wanita tua itu rupanya tidak ada.
“Maaf, Nek, ada apa?” tanya Reni.
“Emm.. Maaf, Neng sepertinya dompet Nenek ketinggalan. Apa boleh Nenek ambil susunya dulu karena cucu Nenek benar-benar sedang kelaparan menunggu susu ini? Susu di rumah sudah habis, sedangan ibunya sedang pergi bekerja?” pinta sang Nenek.
“Maaf, Nek, tidak bisa. Susu itu harus dibayar terlebih dahulu baru Nenek bisa membawanya,” sahut Reni penuh penyesalan.
“Nenek janji, setelah membuatkan susu untuk cucu Nenek, Nenek akan kembali lagi kemari untuk membayar susu itu,” pinta sang Nenek kembali.
“Sekali lagi maaf, Nek, tidak bisa,” sahut Reni.
“Sudah, Mbak berikan saja Nenek itu susunya dan masukan tagihannya ke saya,” sahut Alan menyela pembicaraan sang Nenek dengan Reni. Hal itu membuat Reni mengalihkan perhatiannya pada Alan yang sedari tadi berada di belakang Nenek tersebut.
Ya Tuhan, ganteng banget cowok ini ! Udah gitu orangnya baik banget lagi (pikir Reni)
“Mbak,” sahut Alan memecahkan lamunan Reni.
“Ma-maaf, Mas,” sahut Reni sedikit kaget.
Ia pun mengambil barang belanjaan Alan dan menghitung satu per satu barang tersebut sebagaimana caranya saat menghitung susu tadi.
“Suka permen strawbery mint juga, Mas?” tanya Reni saat melihat beberapa bungkus permen strawbery mint di barang belanjaan Alan.
“Ya, begitulah,” jawab Alan.
“Oh, aku pikir hanya kakakku saja yang suka dengan rasa permen itu,” sahut Reni sambil terus menghitung barang belanjaan Alan dan memasukkannya ke handbag yang dibeli Alan.
“Sungguh? Kakak kamu menyukainya?” tanya Alan.
“Iya, dia sangat menyukainya,” jawab Reni.
Aku pikir hanya Kak Rena saja yang benar-benar suka dengan rasa permen itu (pikir Alan)
“Baik, Mas, total keseluruhannya jadi 1 juta rupiah ya,” ucap Reni.
Setelah mengetahui total keseluruhan, Alan segera mengeluarkan sebuah kartu debit yang ada dalam dompetnya. Namun, sebelum sempat transaksi itu dilakukan, terdengar teriakan seorang perempuan dari arah belakang.
“Eitsssss.. Tunggu dulu, tunggu dulu!” sahut Felisa dengan terburu-buru menghampiri Alan dan Reni sambil membawa sebuah troli yang berisi banyak sekali makanan riang.
“Feli! Tolong hati-hati! Kamu bisa menabrak orang dengan trolimu itu kalau kamu terburu-buru membawanya seperti tadi,” bentak Alan.
“Iya, Kak... Maaf, aku kan hanya tidak ingin kehilangan kesempatan mendapatkan gratisan dari Kakak,” sahut Felisa dengan senyum tak berdosa.
“Maksud kamu?” tanya Alan.
“Mbak, tolong masukan tagihan ini ke punya Kakak ganteng ini, ya?” sahut Felisa cengengesan tanpa rasa bersalah menunjuk Alan yang tengah berdiri di dekatnya.
__ADS_1
“Feli, kamu kan sudah punya gaji?” tanya Alan.
“Ya, gak apa-apa kali Kak, sekali-kali traktir ade napa?” sahut Felisa.
“Sekali-kali? Udah sering kali... Emang buat apa sih gaji kamu?” tanya Alan.
“Buat ditabung,” jawab Felisa singkat.
“Ditabung buat apa?” tanya Alan.
“Buat nikah kali, Kak,” jawab Felisa asal.
“Nikah? Emang kamu mau nikah sama siapa?” tanya Alan bingung.
“Ya, sama Yayang Abi lah, Kak. Gitu aja, pake nanya!” sahut Felisa.
“Helo, adikku yang cantik dan ngegemesin.Tolong, jangan mimpi di siang bolong! Kamu dapetin hatinya aja belom, udah mimpi mau nikah sama dia aja, " sahut Alan.
“Yaelah, Kak, sekali-kali, kasih kata-kata penyemangat napa! Ini malah seneng banget bikin kalimat yang bikin ade down terus,” keluh Felisa.
“Terus itu belanja sebanyak itu buat siapa?” tanya Alan mengalihkan bahan pembicaraan.
“Buat Feli lah Kak. Hari ini kan rencananya teman-teman Feli mau datang ke rumah,” sahut Felisa.
“Dateng ke rumah? Kok , kamu enggak bilang dulu sama Kakak?” tanya Alan.
“Nah, ini aku bilang, Kak,” sahut Felisa.
“Udah mau dateng baru bilang. Bagus itu,” sindir Alan.
“Hehehe.. Maaf, Kak. Aku benar-benar lupa,” sahut Felisa.
“Baik Mas, sekarang totalnya jadi 1 juta 200 ribu,” sahut Reni yang sudah selesai mengemasi barang belanjaan milik Felisa dan Alan.
“Terima kasih, Mas, semoga puas dan bisa kembali lagi kemari,” sahut Reni sambil menempelkan kedua telapak tangannya.
“Sama-sama,” sahut Alan memamerkan senyum manisnya.
Bahagianya punya kekasih kayak dia atau paling enggak jadi adiknya juga bolehlah.. (batin Reni).
“Mbak,” sahut Alan yang tiba-tiba kembali menghampiri Reni.
“Iya, Mas, ada apa?” tanya Reni yang hampir terkejut setengah mati.
“Tadi kamu bilang, kakak kamu suka sekali permen strawbery mint, kan?” tanya Alan.
“Iya,” jawab Reni.
“Kalau begitu berikan ini kepadanya,” sahut Alan menyodorkan sebungkus permen strawbery mint kepada Reni.
Reni pun menerima bungkusan permen tersebut.
Kakak.., Kakak...beruntung sekali kamu, dapat permen dari cowok ganteng dan baik hati. Coba tadi, aku aja yang bilang kalau aku yang suka permen ini. Pasti permen ini sekarang sudah menjadi milikku. (batin Reni)
***
Alan dan Felisa pun kini sudah sampai di teras depan rumah mereka. Betapa terkejutnya mereka saat melihat kedatangan beberapa tamu wanita yang sedang duduk di kursi yang berada di teras depan rumah tersebut.
“Riska, Bae, Laela, Sarah? Kalian?” tanya Felisa heran.
“Hai, Ica....” sahut keempat sahabat Felisa sambil melambaikan tangan ke arah Felisa yang sedari tadi masih tampak kaget dengan keberadaan mereka yang tiba-tiba sudah sampai di rumahnya.
__ADS_1
“Kenapa kalian enggak bilang kalau sudah sampai sini?” tanya Felisa.
“Sengaja, kami memang pengen kasih kejutan buat kamu,” sahut Sarah.
“Terkejut kan, lo?” tanya Bae.
“Banget,” sahut Felisa.
“Jadi, mereka teman-teman kamu, Fel?” tanya Alan yang sedari tadi memperhatikan interaksi Felisa dengan teman-temannya.
“Iya, Kak. Mereka teman-teman SMP-ku yang tadi aku ceritakan,” jawab Felisa.
Melihat keberadaan Alan yang baru mereka sadari, keempat sahabat Felisa pun segera bangkit berdiri dari tempat duduk mereka.
“Halo, Kak. Salam kenal, kami teman SMP Ica,” sahut Laela.
“Ica?” tanya Alan heran dengan panggilan yang mereka sebutkan untuk adiknya Felisa.
“Iya, Kak Alan, itu panggilan aku waktu di sekolah dulu. Kak Alan lupa?” sahut Felisa.
“Oh iya, Kakak baru ingat. Kamu enggak mau dipanggil Feli karena salah satu teman kamu suka ada yang iseng dan suka manggil kamu pel-an (alat untuk mengepel), kan?” sahut Alan.
“Betul sekali, Kak. Itu dia tersangkanya,” sahut Riska melirik ke arah Bae.
“Salam kenal Kak, aku Wahyuni Salina,” sahut Bae sambil mengulurkan tangannya ke arah Alan. Namun, Alan tidak membalas jabatan tangan tersebut. Ia hanya menempelkan kedua telapak tangannya sebagai tanda perkenalannya.
“Alan, Kakaknya Feli,” sahut Alan.
“ Aku Laela, Kak,” ucap Laela.
“Sarah,” ujar Sarah.
“Riska Syahrini, Kak, yang paling cetar dan membahana di antara mereka semua,” sahut Riska dengan penuh percaya diri.
“Kalau begitu, mari masuk!” ajak Alan kepada Felisa dan keempat temannya.
Mereka pun mengikuti Alan, masuk ke dalam rumah tersebut. Rumah yang tampak sederhana dari luar, namun terlihat sangat mewah begitu memasuki ruangan yang ada di dalamnya.
“Ris, Wahyuni tadi siapa, ya? ” tanya Laela lirih pura-pura tidak tahu.
“Enggak tau ya, siapa Wahyuni ?” ledek Riska sambil melirik ke arah Bae.
“Udah deh, jangan kayak gitu, suka pura-pura enggak tau,” timpal Bae sambil memasang wajah cemberutnya.
“Ya maaf,” sahut Laela dan Riska bersamaan.
Keempat teman Felisa pun memasuki ruang tamu yang berada di dalam rumah tersebut . Mereka pun duduk di kursi tamu yang telah tersedia di sana.
“Kalau begitu Kakak pamit ke kamar dulu, ya,” sahut Alan meniggalkan kelimanya.
“Iya, Kak,” sahut kelima orang gadis itu hampir bersamaan..
Alan pun berlalu meninggalkan kelima gadis itu di ruang tamu.
***
Bersambung
Terima kasih bagi semua pembaca karya ini, jangan lupa tinggalkan jejak kalian lewat vote, komen, dan likenya...😍😍😍😘😘😘
💐💐💐
__ADS_1
Setelah menantikan keromantisan kisah ini.. Baca juga kisah author yang tidak kalah seru, romantis, dan lucu dalam "Mengaku Tunangan CEO"