Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 75 Ganas


__ADS_3

Sekelompok remaja berseragam putih biru berlalu lalang di sekitar lorong yang berada di dalam gedung SMP Cinta Kasih. Mereka menyapa dan memberi salam kepada para guru yang mereka lewati, termasuk dua orang guru yang kini tengah berdiri di dekat mading sekolah. Dua orang guru tersebut tak lain adalah Yuna dan Jessi.


“Kak Jessi bagaimana? Beneran kita harus minta maaf sama Rena?” tanya Yuna.


“Ya, mau bagaimana lagi? Itu sudah menjadi perintah kepsek, suami, dan kakakmu,” sahut Jessi.


“Sungguh rasanya sulit menerima itu karena dalam hal ini pipiku lah yang ditampar oleh Rena,” ucap Yuna kesal.


“Tapi itu semua terjadi karena kesalahanmu juga Yuna,” tutur Jessi.


“Kesalahanku?” tanya Yuna menunjuk ke wajahnya sendiri.


“Iya, kesalahanmu. Memang kamu pikir dengan kamu menghina dan menuduhnya seperti yang kemarin kamu lakukan itu benar?” tanya Jessi balik.


“Tapi kan saat itu Kak Jessi juga memiliki pemikiran yang sama denganku bukan?” tanya Yuna yang tidak terima dirinya disalahkan oleh kakak iparnya itu.


“Oke, aku akui, saat itu aku juga memiliki pemikiran yang sama denganmu. Tapi aku tidak pernah menyuruhmu mendatanginya dan berkata kasar seperti itu kepadanya,” tutur Jessi.


“Baiklah, kali ini Kak Jessi benar, mungkin aku memang salah telah menuduh dan berkata kasar kemarin kepadanya. Tapi dia juga telah membalasnya dengan menamparku, Kak. Aku pikir itu impas. Selain itu, gara-gara kejadian kemarin hingga saat ini Mas Dewa masih mendiamkan ku,” ucap Yuna.


“Iya, jelas Yuna, jika dia marah kepadamu. Dari awal aku sudah bilang, jangan melakukan itu tapi kamu tak mau mendengarkan ku,” ucap Jessi.


“Habis aku gemas mendengar cerita dari temannya Kak Jessi tentang perempuan itu,” seru Yuna.


“Iya, aku juga sama, tapi setelah aku pikir-pikir benar juga apa yang dikatakan Arka semalam bahwa kita tidak pernah tahu cerita yang sebenarnya. Jadi jangan pernah kita menghakimi seseorang hanya karena praduga kita semata. Apalagi kita adalah seorang guru yang setiap sikapnya akan selalu digugu dan ditiru oleh siswa-siswanya,” tutur Jessi.


Flashback on


“Arka, plis, tolong jangan diamkan aku! Tolong bicaralah padaku!” ujar Jessi kepada Arka yang selama perjalanan pulang tidak bicara sepatah kata pun.


“Kau mau aku bicara apa? Hari ini kamu dan Yuna benar-benar telah mengecewakan aku,” ucap Arka kesal.


“Maaf, aku telah berusaha menahan Yuna untuk tidak melakukan itu, tapi kau tahu sendiri bagaimana sifat adikmu itu,” ucap Jessi.


“Iya, aku sangat tahu bagaimana sifat adikku. Itulah sebabnya aku kecewa sama kamu. Harusnya kamu tidak menelan bulat-bulat informasi yang kamu terima dari teman kamu itu begitu saja. Apalagi langsung menceritakan semuanya kepada Yuna. Sementara semua informasi yang kamu dengar itu belum tentu benar adanya,” sahut Arka penuh penekanan.


“Iya, aku tahu dalam hal ini aku memang salah,” ucap Jessi menundukkan kepalanya.


“Dengar ya Jessi, kita ini seorang guru. Sikap kita ini akan selalu digugu dan ditiru oleh siswa-siswa kita. Jadi, hendaklah kamu selalu menjaga sikapmu itu. Lagipula seperti apa masalah Rena yang sebenarnya hanya Tuhan yang tahu. Jadi jangan pernah lagi kamu ataupun Yuna menghakimi seseorang hanya karena praduga kalian semata,” tutur Arka.


“Baiklah Arka, aku tidak akan lagi melakukan itu,” ucap Jessi penuh penyesalan.


“Oh ya, satu hal lagi yang sebenarnya sudah lama sekali ingin aku tanyakan sama kamu,” ucap Arka.


“Apa?” tanya Jessi.


“Aku perhatikan dari zaman kuliah kamu sepertinya memang kurang menyukai Rena. Itu benar kan?” tanya Arka.


“Iya, kamu benar. Dari zaman kuliah aku memang kurang menyukai Rena dan itu karena aku tahu dia pernah menyukaimu,” ujar Jessi.


“Apa? Jadi karena itu kamu langsung mengorek informasi tentang dia kepada temanmu?” tanya Arka kaget.

__ADS_1


“Iya,” jawab Jessi.


“Ya ampun, Jessi, dengarkan aku! Terlepas dari benar atau tidaknya pradugamu tentang Rena, aku hanya ingin kau tahu satu hal bahwa satu-satunya wanita yang membuatku jatuh cinta sejak pandangan pertama itu hanya kamu. Jadi, Sayang, jangan pernah takut aku akan menduakan mu dengan yang lain,” ucap Arka memegang dagu istrinya.


“Gombal,” sahut Jessi tersenyum senang.


“Oke, jadi besok tolong aku minta kamu dan Yuna segera minta maaf pada Rena,” ucap Arka.


“Baiklah,” jawab Jessi.


Flashback off


“Baiklah, Kak Jessi, aku akan menuruti semua yang kalian katakan. Aku akan minta maaf sama Rena. Tapi ngomong-ngomong kemana wanita itu? Apakah dia masih belum datang?” tanya Yuna.


“Entahlah, kita tunggu saja dia di depan,” ajak Jessi.


***


Mobil Alan kini memasuki gerbang depan sekolah tempat Rena mengajar. Sama seperti kemarin, saat mobil Alan memasuki gerbang, kedua orang satpam yang berjaga di depan pintu gerbang memberikan salam kepadanya dengan sedikit membungkukkan badan mereka.


Aneh sekali, kenapa kedua satpam itu tampak begitu menaruh hormat kepada Alan (pikir Rena).


Mobil yang dikemudikan Alan terus melaju melewati pos satpam tersebut dan baru berhenti begitu sampai di halaman parkir yang luas milik Yayasan SD, SMP, dan SMA Cinta Kasih. Sama seperti biasanya, Alan pun membukakan pintu untuk Rena dan kedua anaknya. Dengan riang, Hana dan Haikal turun dari mobil itu.


Tepat di sebelah tempat di mana mobil Alan diparkirkan, sebuah sedan berwarna hitam ikut terparkir di sana. Mobil itu tak lain adalah milik Faizal, Kepala Sekolah di tempat Rena mengajar.


“Ehem.. ehem..,” deheman Faizal mengalihkan fokus pandangan Alan dan Rena ke arah sumber suara tersebut.


“Pak Faiz,” sahut Rena saat melihat Faizal tengah berdiri di sebelahnya.


“Alhamdulillah, Pak, kabar saya baik,” sahut Rena.


“Iya, seperti yang kamu lihat sendiri. Kabarku juga baik, bahkan mungkin sangat baik,” ujar Alan sambil menatap Rena.


“Syukurlah kalau begitu. Tapi, sepertinya.... sekarang Bapak yang satu ini sudah beralih profesi ya, dari dosen menjadi supir pribadinya Bu Rena?” goda Faizal.


“Ah, Bapak bisa aja. Kebetulan rumah kami berdekatan, jadi Kak Alan menawarkan bantuannya untuk mengantarkan aku dan anak-anak sampai kemari,” jawab Rena malu-malu.


“Wah, kebetulan yang membahagiakan sekali, bisa mengantar guru cantik seperti Bu Rena,” goda Faizal.


“Sudahlah Faiz, jangan menggodanya terus! Nanti macan kamu di rumah bisa ngamuk,” timpal Alan.


“Macan? Pak Faiz memelihara macan?” tanya Rena.


“Maksudnya Mauri cantik, Rena,” jawab Alan.


“Oh,” timpal Rena tersenyum mendengar panggilan atasannya untuk istrinya itu.


“Mah, Maaf. Hana duluan ya, karena Hana dapat jatah piket pagi ini,” sahut Hana tiba-tiba.


“Oh, iya sayang,” ucap Rena lembut.

__ADS_1


Hana pun mengambil tangan Rena dan mencium punggung tangannya. Lalu, tak lupa pula mencium pipi Rena.


“Om Alan, makasih ya,” sahut Hana hendak meninggalkan tempat itu namun ditahan oleh Haikal.


“Kak Hana, tunggu. Ikal mau bareng Kak Hana aja,” sahut Haikal.


“Kalau begitu, ayo cepat!” ajak Hana.


“Mama, Ikal juga duluan ya,” ucap Haikal.


Kali ini pun Haikal mengambil tangan Rena dan mencium punggung tangannya. Namun, tiba-tiba Rena terkaget saat putra bungsunya itu mengecup bibirnya.


“Eh, Haikal, enggak boleh di sebelah sini, di kening atau di pipi Mama saja,” protes Rena.


“Tapi tadi Haikal lihat di dalam mobil, Om Alan hampir mengecup Mama di sebelah sini,” ucap Haikal polos menunjuk bibir Rena.


Perkataan Haikal itu tentu saja membuat Rena sangat terkejut dan menatap Alan dengan penuh kemarahan. Sorot matanya begitu tajam, laksana elang yang hendak menerkam mangsanya. Sedangkan, Alan hanya bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan Rena yang tampak begitu ganas.


Astaga, karena terbawa perasaan aku benar-benar lupa kalau di dalam tadi ada anak-anak (ucap Alan dalam hati).


“Kapan Om Alan melakukannya?” tanya Rena menatap Haikal lekat.


“Tadi waktu mengobati kening Mama,” jawab Haikal.


“Haikal, ayo! Nanti Kakak terlambat,” ucap Hana menyela pembicaraan Mama dan adiknya.


“Iya, Kak. Udah ya, Mah, Haikal pamit dulu,” sahut Haikal.


“Iya, Nak,” Setelah mendengar jawaban dari sang Mama Haikal pun bergegas berlari mengejar kakaknya yang sudah meninggalkannya cukup jauh.


Di sana Alan masih berdiri terpaku melihat ke arah Rena, sedangkan Faizal tampak memperhatikan ekspresi wajah kedua orang yang berada di hadapannya. Ekspresi Rena terlihat sangat dingin. Ia terus memperhatikan Alan tanpa bicara sepatah kata pun.


“Permisi, Pak. Saya duluan,” ucap Rena dingin.


Rena pun berlalu meninggalkan Alan dan Faizal tanpa menoleh sedikit pun ke arah Alan.


Ya Tuhan, sepertinya dia benar-benar sangat marah (batin Alan).


***


Bersambung


Baca dan simak terus lanjutan ceritanya.


Jangan lupa juga, dukung terus author dengan memberikan like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


💐💐💐


Setelah menantikan keromantisan kisah ini.. Baca juga kisah author yang tidak kalah seru, romantis, dan lucu dalam "Mengaku Tunangan CEO"


__ADS_2