Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 30 Cincin


__ADS_3

Dengan lembut ia meraih lengan Rena. Dibelainya lengan itu, sebelum akhirnya sebuah cincin ia masukkan ke dalam jari manis Rena secara perlahan, penuh kehatian - hatian hingga cincin itu


benar-benar masuk ke bagian terdalam jemari manis Rena. Setelah itu, ia meraih punggung tangan Rena, mengecupnya dengan lembut dan penuh kehangatan, membuat si yang punya tangan begitu merasa tersanjung sekaligus bahagia dibuatnya. Bersamaan dengan itu berbagai kalimat tahmid keluar dari mulut beberapa orang yang hadir di tempat itu.


"Alhamdulillah, akhirnya sekarang mereka sudah resmi bertunangan. Semoga sampai ke pernikahan, ya, aamiin," sahut Mama Rena.


Suara mama tampak begitu jelas di telinga Rena, menebarkan rasa bahagia yang sulit digambarkan. Ia pun menatap laki-laki yang berada di sampingnya itu. Laki-laki yang baru saja memakaikan cincin di jari manisnya. Senyum laki-laki itu tampak mengembang dengan jelas di bibirnya. Namun, wajahnya tersamarkan karena cahaya lampu ruangan yang begitu menyilaukan mata Rena.


Tiba-tiba terdengar suara lain yang memekakkan gendangbtelinga Rena hingga membuatnya begitu terkejut dan tersadar dari alam mimpi indahnya.


"Kak Renaaaa, bangun udah siang," teriak seorang gadis belia dari balik pintu kamar Rena sambil menggedor pintu itu.


"Astaga, cuma mimpi," gumam Rena seraya mengumpulkan semua kesadarannya. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya.


"Iya, sebentar, jangan teriak-teriak terus dong, Ren! Ini Kakak juga udah bangun," sahut Rena sambil berjalan menghampiri pintu kamarnya dan membuka pintu itu.


"Kak Rena, kok baru bangun sih? Emang masih libur kuliahnya? Aku capek tau dari tadi bangunin Kakak yang kalau tidur udah kayak orang mati. Kalau bukan disuruh Mama, aku males tau bangunin


Kakak," sahut gadis belia itu yang tak lain adalah Reni, adik bungsu Rena.


"Emang Mamah ke mana?" tanya Rena


"Tadi keluar dari pagi, katanya ada urusan. Kak Rena sendiri kuliah apa nggak sih hari ini? Dari tadi aku nanya dikacangin." sahut Reni.


"Kuliah. Nanti, siang jam 9," sahut Rena.


"Tapi sekarang udah jam 8 lewat, Kak Na, emang mau berangkat ke kampus jam berapa?" sahut Reni.


"Apa?!! Kenapa baru dibangunin sih Reni?" sahut Rena kaget sekaligus panik.


"Yeee, udah dibangunin dari tadi juga," sahut Reni.


Rena pun lekas bersiap-siap ke kampusnya. Ia terlihat begitu terburu-buru. Pasalnya, jarak dari rumahnya ke kampus memakan waktu kurang lebih 1 jam, itu pun jika bus yang ditumpanginya datang dengan cepat.


****


Hari ini adalah hari pertama Rena mengikuti perkuliahan di semester 4, setelah kurang lebih tiga minggu ia diberi libur yang cukup panjang. Rena tampak begitu panik, mengingat di hari pertama


kuliahnya, ia justru datang terlambat. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat Novi dan Dina sedang duduk di kursi panjang yang ada di depan gedung perkuliahannya.


"Novi, Dina, kok kalian belum pada masuk?" tanya Rena sambil melihat jam yang ada di pergelangan tangan kirinya yang sudah menunjukkan pukul 9 lewat.

__ADS_1


"Ya ampun Rena, kamu baru dateng? Bener-bener Miss Late, ya..?" kata Dina.


Rena hanya cengengesan mendengar julukan yang diberikan teman-temanya kepadanya. Julukan itu diberikan karena Rena memang cukup sering datang terlambat.


"Tadi aku bangun kesiangan, kalian sendiri kenapa ada di sini?" tanya Rena lagi karena pertanyaan itu


belum juga dijawab oleh Dina dan Novi.


"Bu Fatimah hari ini enggak bisa masuk, karena katanya dia ada urusan penting yang harus diselesaikannya di luar kota," jawab Novi.


"Oh," sahut Rena singkat. Ia merasa lega saat mendengar jawaban Novi. Bersama itu juga panik yang sempat hinggap di dirinya lenyap seketika.


"Rena, duduk sini deh! Kamu tahu gak? Ada gosip tentang kamu," ucap Dina saat Rena mulai duduk di


antara Dina dan Novi.


Deg, mendengar perkataan Dina, Rena langsung terkejut. Di dalam pikirannya, ia menerka-nerka gosip apa yang beredar tentang dirinya.


Apa ini ada hubungannya dengan kejadian di Gunung XX beberapa pekan lalu, ya? Apa ada yang tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Kak Alan waktu itu, pikir Rena.


Pasalnya Rena tak menceritakan kejadian itu pada siapa pun termasuk pada sahabat-sahabatnya. Ia takut menjadi bahan bullyan atau ledekan teman-


temannya.


"Apa ? Siapa bilang?" tanya Rena kaget.


"Siapa lagi kalau bukan trio bigos (biang gosip), Almira dan teman-temannya." sahut Dina.


"Apa? Berani betul mereka ngegosip tentang aku," sahut Rena.


"Iya, Almira juga bilang bahwa kamu sendiri yang mengatakan padanya kalau cincin yang kamu pakai di jari manis kamu itu adalah cincin tunangan," sahut Novi.


Iya, sekarang Rena ingat kalau dulu dia pernah mengatakan itu pada Almira. Hal itu karena ia tidak suka dengan sikap Almira yang suka mengatur dan terus menerus menanyakan kepadanya tentang


cincin yang dipakai di jari manisnya itu. Akhirnya, ia asal ucap saja dan mengiyakannya, tapi tidak disangka kalau Almira bisa percaya begitu saja.


"Iya, sih aku memang pernah bilang seperti itu, tapi itu karena aku sebel sama dia. Dia terlalu ngatur! Dia bilang kalau pakai cincin itu jangan di jari manis kaya cincin tunangan aja. Ya, sudah, aku jawab aja emang ini cincin tunangan kok, baru dia diem,"


sahut Rena.


"Jadi, kamu beneran belum tunangan kan, Na?" tanya Novi.

__ADS_1


"Udah," jawab Rena membuat Dina dan Novi membulatkan kedua matanya dan menatap tajam ke arah Rena.


"Dalam mimpi," Ucap Rena cengengesan.


"Serius? Masalahnya kamu tuh sering banget ngaku kalo kamu udah tunangan. Contohnya aja ke Bang Jon, kamu bilang bahwa kamu sudah tunangan kan ke dia?" tanya Novi.


"Ya ampun, kalau itu memang sengaja aku lakuin supaya dia berhenti ngejar-ngejar aku terus. Kamu tau kan kaya gimana dia?" sahut Rena sambil mengingat tentang Jon, pengamen di terminal yang selalu menunggu Rena di sana dan senantiasa mencuri-curi kesempatan untuk bisa ngobrol dengannya.


"Lagian kalau aku beneran sudah tunangan, pasti kalian sudah aku kasih tau. Buat apa juga aku sembunyikan. Memang aku senang dikatain Lala 'Jomblo Forever' ," sahut Rena


Jawaban Rena tersebut mendapat anggukan dari kedua temannya. Mereka yakin apa yang dikatakan Rena kali ini benar bahwa dia memang belum bertunangan.


"Nov, Na, aku mau kasih tahu kalian sebuah rahasia, tapi tolong jangan ceritakan ini ke yang lain," ucap Dina.


"Wah, jadi ini yang suka main rahasia," ledek Rena.


"Ih, dengerin dulu. Kalian ingat nggak sama cerita aku tentang Kak Bagas?" tanya Dina.


"Ingat, cowok yang udah kerja dan ngejar-ngejar kamu dari SMA kan?" tanya Novi


"Iya, bener banget dan dua hari yang lalu aku jadian sama dia," sahut Dina.


"Apa?!!" ucap Novi dan Rena serempak karena kaget.


"Bukannya kamu nggak suka sama dia?" tanya Rena


"Tadinya kupikir begitu, sampai aku lihat dia jalan sama cewek lain. Rasanya tuh sakit banget," ucap Dina.


"Kemudian dia nembak aku lagi dan kami jadian deh. Tapi aku belum berani bilang sama orang tuaku karena mereka pasti tidak akan suka, apalagi Kak Bagas cuma lulusan SMA, jadi kami ngejalanin hubungan ini secara diam-diam," ucap Dina terdengar sedih.


"Jadi, maksud kamu backstreet gitu?" tanya Novi.


"Iya," jawab Dina.


"Ya ampun, hubungan semacam itu kan beresiko banget, banyak yang gagal, Din. Tapi, aku tetap mendoakan semoga hubungan kalian baik-baik saja, bahkan bila perlu sampai ke jenjang pernikahan, aamiin"ucap Rena.


"Iya, aku juga mendoakan hal yang sama dengan Rena, Din," sahut Novi.


"Makasih ya, kalian berdua benar-benar sahabatku yang paling baik," sahut Dina senang.


Dina pun memeluk kedua sahabatnya. Meskipun, mereka tidak seratus persen mendukung keputusan Dina, tapi setidaknya doa dari kedua sahabatnya itu membuat beban di hati Dina sedikit berkurang.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2