
Rena pun mengurungkan niatnya naik ke lantai 2. Ia pun berbalik kembali menuju ruangan yang tadi sempat dilewatinya, yaitu ruang wakasek kurikulum, yang tak lain adalah ruangannya Dewa.
Tok... tok.. tok...
“Masuk,” sahut seseorang yang ada di ruangan itu.
Setelah mendengar sahutan dari dalam, Rena pun memberanikan diri untuk masuk ke ruangannya Dewa.
“Bu Rena, cepat sekali,” sahut Dewa.
“Iya, Pak, kebetulan tadi waktu Bapak mengirimkan pesan kepada saya, saya sedang berada di lantai ini,” ucap Rena.
“Oh, bisa kebetulan sekali. Kalau begitu silakan Ibu ambil buku-bukunya,” sahut Dewa menunjuk ke arah sebuah meja yang di atasnya terdapat tumpukan beberapa buku Bahasa Indonesia dan pelajaran lainnya.
Rena pun mengikuti arah pandang Dewa. Ia berjalan ke arah meja yang ditunjuk oleh Dewa. Lalu, ia pun mengambil beberapa buku Bahasa Indonesia yang dibutuhkannya di atas meja itu.
“Tadi Ibu memang dari mana?” tanya Dewa yang merasa penasaran dengan keberadaan Rena di lantai bawah.
“Saya tadi dari SD, Pak, menemui kedua anak saya. Kebetulan mereka baru saya pindahkan hari ini. Jadi, saya ingin memastikan bahwa anak-anak merasa nyaman bersekolah di sini. Sekalian mengantarkan makan siang untuk mereka karena saya khawatir hari ini mereka belum mendapatkan jatah katering,” jawab Rena.
“Oh, jadi begitu,” sahut Dewa.
“Iya, Pak, dan terima kasih atas buku-bukunya,” ucap Rena sambil memperlihatkan buku-buku yang telah diambil dan akan dibawanya.
“Sama-sama,” sahut Dewa.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak,” ucap Rena.
“Silahkan,” sahut Dewa.
Rena pun bergegas keluar dari ruangan Dewa dengan membawa buku-buku yang baru saja diambilnya itu.
***
Dari kejauhan tampak Yuna dan Jessi yang baru saja turun dari lantai atas. Pandangan mereka langsung tertuju pada satu ruangan yang letaknya cukup jauh dari tempat mereka berdiri. Yuna terlihat sangat geram begitu melihat Rena yang baru saja keluar dari ruangan Dewa.
“Tuh, lihat! Ternyata janda ganjen itu benar-benar berada di ruangannya Mas Dewa,” ucap Yuna penuh amarah.
“Astaga, dia sungguh tidak tahu malu. Baru satu hari di sini sudah menggoda suami orang,” sahut Jessi yang ikut jengkel melihat Rena keluar dari ruangan Dewa.
“Kak Jessi benar, dia sangat tidak tahu malu. Sekarang coba Kak Jessi lihat ini (menunjuk jam yang ada di pergelangan tangan kirinya), berarti sudah lama sekali kan dia berada di ruangannya Mas Dewa. Apa coba yang mereka lakukan selama itu?” ucap Yuna geram.
“Entahlah, aku tidak berani menerkanya,” sahut Jessi.
Yuna dan Jessi berpikir kalau Rena sudah berada di ruangannya Dewa sejak selesai shalat berjamaah karena selama itulah Rena tidak tampak sama sekali di ruang guru.
“Kak, aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Sekarang juga, akan aku beri dia pelajaran agar dia tahu siapa sebenarnya istri dari Dewa Antara,” ucap Yuna mengepalkan kedua tangannya.
__ADS_1
Dengan penuh kemarahan Yuna pun melangkahkan kakinya ke arah Rena. Namun, belum jauh melangkah, Jessi sudah menahannya.
“Yuna, cukup. Sabarlah! Sekarang masih jam istirahat, aku khawatir kita akan menjadi tontonan orang-orang yang lewat tempat ini,” ucap Jessi berusaha menenangkan Yuna.
“Biarkan saja! Biarkan mereka menonton dan menyaksikan bagaimana kemarahan seorang istri kepada wanita yang telah berusaha mengganggu suaminya,” ucap Yuna penuh penekanan.
“Yuna, aku paham perasaanmu, tapi setidaknya pikirkan reputasi suami dan kakakmu di sekolah ini,” ucap Jessi sedikit berteriak.
“Maaf, Kak Jessi, sekarang ini aku benar-benar sedang marah dan aku sudah tidak peduli lagi dengan semua itu,” sahut Yuna melepaskan cengkeraman tangan Jessi yang sedari tadi menahannya.
“Kamu benar-benar keras kepala, Yuna,” sahut Jessi setengah berteriak.
“Iya, aku memang keras kepala,” ucap Yuna setengah berteriak tanpa menoleh lagi ke arah Jessi.
Yuna yang diikuti Jessi pun menghampiri Rena.
“Bu Rena, tunggu dulu!” sahut Yuna yang seketika menghentikan langkah kaki Rena.
“Iya, Bu Yuna. Ada apa?” tanya Rena bingung apalagi saat melihat ekspresi Yuan dan Jessi yang tampak tak bersahabat.
“Untuk apa kamu ke ruangan suamiku?” tanya Yuna.
“Saya hanya mengambil buku-buku ini,” jawab Rena sambil memperlihatkan buku-buku yang sedang dibawanya.
“Bohong!!” teriak Yuna yang cukup mengagetkan Rena dan Jessi.
“Menuduh? Jelas-jelas apa yang saya katakan adalah kebenaran yang sesungguhnya,” timpal Yuna.
“Kebenaran? Kebenaran apanya? Saya semakin tidak paham dengan apa yang Ibu ucapkan,” ujar Rena menekan kata terakhir.
“Tidak paham? Tidak paham atau pura-pura tidak paham, hah!!” teriak Yuna.
Sabar, Rena, sabar. Ingat apa yang sudah dikatakan Bu Maya kepadamu, (ucap Rena).
“Baiklah, kalau Ibu memang tidak ingin menjelaskannya, saya permisi dulu,” ucap Rena yang melanjutkan perjalanannya, mengabaikan Yuna,
“Hei, tunggu janda gatal! Urusan kita belum selesai,” teriak Yuna yang membuat Rena sangat marah karena julukan yang diberikan Yuna kepadanya.
Rena pun berbalik dan menghampiri Yuna, menatapnya dengan tatapan penuh amarah.
“Tolong, Bu. Jangan pernah memanggil saya seperti itu lagi!” ucap Rena penuh penekanan.
“Lalu, julukan apa yang pantas saya berikan untuk wanita PENGGODA seperti kamu!” teriak Yuna yang seketika itu juga mendapat tamparan keras dari Rena.
Plak!!!
“Yuna!” teriak Jessi kaget saat melihat adik iparnya itu mendapat tamparan keras dari Rena.
__ADS_1
“Kamu!!! Berani sekali kamu menamparku!” teriak Yuna sambil memegangi pipinya yang memerah.
“Itu pantas untukmu, Bu Yuna. Karena Ibu telah menuduh saya yang bukan-bukan. Jangan Ibu pikir karena Ibu Yuna itu adik dan juga istri dari wakil kepala sekolah di sini, Ibu bebas memanggil apa saja kepada saya! Apa Ibu tidak berpikir, julukan yang Ibu berikan kepada saya barusan itu bisa menyakiti hati saya? Itu sakit, Bu. Bahkan, lebih sakit daripada tamparan keras yang saya berikan kepada Ibu,” ucap Rena dengan mata yang berkaca-berkaca.
“Oh ya? Lalu, apa Ibu pikir hati seorang istri tidak akan sakit, saat melihat suaminya bersama dengan wanita lain di dalam kantornya,” ucap Yuna setengah berteriak.
“Apa maksud Ibu?” tanya Rena tidak mengerti.
Memang benar, Rena tidak menampik bahwa di ruangan Dewa tadi, ia hanya berdua saja dengan Dewa. Namun, itu tidaklah lama dan ia hanya mengambil buku saja di tuangan itu.
“Jangan pura-pura tidak mengerti, Bu Rena!” sahut Yuna.
“Iya, saya akui saya memang tadi ke ruangannya Pak Dewa dan saat itu kami memang hanya berdua. Tapi, saya ke sana hanya mengambil buku-buku ini saja,” jelas Rena sembari memperlihatkan buku-buku yang tadi baru diambilnya dari ruangan Dewa.
“Mengambil buku? Selama itu?” tanya Yuna sinis.
“Lama? Memang berapa lama saya di sana? Apa Ibu tidak tahu kalau saya ke ruangan itu hanya sebentar? Bahkan, mungkin tidak sampai lima menit saya di ruangan itu,” jelas Rena.
Yuna dan Jessi hanya terdiam mendengar perkataan Rena karena memang Yuna hanya melihat Rena keluar dari ruangan itu tanpa tahu kapan Rena masuk ke ruangan Dewa.
“Bu Rena, Bu Yuna, Bu Jessi, ada apa ini? Kenapa kalian bertiga masih berdiri di sini? Bukannya seharusnya kalian sudah masuk kelas?” tegur Faizal yang baru saja masuk ke gedung itu bersama Alan dan Arka.
Mendengar teguran dari Faizal, Rena dan Yuna pun seketika menghentikan pembicaraan mereka. Mereka baru menyadari bahwa bel sudah berbunyi 5 menit yang lalu. Namun, karena pertengkaran itu mereka sampai tidak mendengar bunyi bel tersebut.
“Maaf, Pak, tadi saya tidak mendengar bel. Sekarang, saya izin masuk ke kelas dulu,” ucap Rena berlalu meninggalkan Yuna, Jessi, Faizal, Alan, dan Arka.
“Kami juga, Pak,” sahut Jessi menarik tangan Yuna untuk mengajaknya pergi dari tempat itu.
“Bu Yuna, tunggu!” seru Arka tiba-tiba yang membuat Jessi dan Yuna menghentikan langkah mereka.
“Kenapa dengan pipimu?” tanya Arka yang membuat perhatian Alan dan Faizal tertuju pada pipi Yuna yang memang memerah karena tamparan keras dari Rena.
“Emm, ini.. tadi ada seseorang yang menamparku, Pak,” tanya Yuna tidak bisa berbohong.
Jawaban Yuna cukup mengejutkan bagi Arka, Alan, dan Faizal.
“Kamu bertengkar lagi?” tanya Arka menajamkan matanya pada Yuna, lalu beralih pada istrinya Jessi seolah menuntut penjelasan dari mereka berdua.
Yuna dan Jessi pun saling beradu pandang, mereka bingung harus mengatakan apa pada lelaki yang berdiri di hadapan mereka. Karena berbohong pun percuma, Arka sangat mengenali sifat mereka dan akan tahu jika mereka berbohong.
“Iya,” jawab Yuna menundukkan pandangannya.
“Dengan siapa?” tanya Arka penuh selidik.
“Bu Rena,” jawab Yuna pelan, namun masih bisa didengar oleh yang lainnya.
***
__ADS_1
Bersambung