Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 32 Aku Menyukainya


__ADS_3

Alan tersenyum senang melihat ekspresi Rena. Sebenarnya dia tahu bahwa semua itu hanyalah ketidaksengajaan, namun ketidaksengajaan itu membuatnya merasa senang dan sepertinya sangat sulit untuk dilupakannya.


Setelah semua buku yang akan dijadikan bahan untuk menulis karya ilmiah dirasa cukup, Rena pun kembali ke kursi yang sebelumnya ia duduki. Ia meletakkan buku-buku itu di atas meja yang berada di depan kursinya. Ia pun mengeluarkan pulpen beserta buku catatan yang dipergunakannya untuk menulis hal-hal penting dalam buku itu.


Tak lama Aisyah datang menghampiri Rena. Ia pun melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Rena. Ia meletakkan buku-buku yang diambilnya tadi di atas meja. Kemudian, duduk di kursi yang berada di samping Rena.


"Hai, Na, serius amat," sapa Aisyah.


"Ya, harus serius lah, biar kerjaan kita cepat selesai. Dinda mana?" tanya Rena.


"Tuh, sama Kak Alan," jawab Aisyah seraya mengalihkan pandangannya ke arah Dinda yang sedari tadi mendekati Alan dan sibuk menggelayut manja di lengannya.


"Dih, genit banget sih!" ucap Rena ketus.


"Emang dia sering kaya gitu ya?" tanya Rena.


"Sering banget, makanya kadang kasihan juga sama dia," ucap Aisyah.


"Kasihan kenapa?" tanya Rena.


"Iya, karena sikapnya yang terlalu berlebihan sama Kak Alan, dia jadi sering dimanfaatkan sama Kak Faiz dan Kak Mauri," jawab Aisyah.


"Manfaatin gimana?" tanya Rena lagi.


"Mereka sering minta traktiran sama Dinda dengan alasan Kak Alan yang minta makanan itu," jawab Aisyah.


"Oh, kasihan banget," ucap Rena sambil mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya


"Mau minum, enggak?" tanya Rena menawarkan botol minumnya kepada Aisyah.


"Enggak usah, makasih. Aku juga punya kok," jawab Aisyah.


"Rena..," ucap Aisyah menggantung


"Eemm," sahut Rena sambil menelan air minum yang ada di botolnya.


"Kamu ada hubungan apa sih sama Kak Alan?" Pertanyaan Aisyah itu sontak membuat Rena tersedak karena kaget.


"Uhuk, uhuk, maksud kamu apa sih?" tanya Rena bingung.


"Rena, jawab yang jujur," desak Aisyah.


"Kamu kenapa Ais? Emang menurut kamu aku bakal bohong ya?" tanya Rena semakin bingung dengan arah pembicaraan Aisyah.


Aisyah lalu menatap Rena lekat-lekat, ia ingin memastikan bahwa sahabatnya itu tidak menyembunyikan apa pun darinya.


"Rena, aku lihat loh dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu dan Kak Alan pernah menunggangi kuda bersama saat kita berada di Gunung XX tempo hari," tutur Aisyah yang membuat Rena kembali teringat pada kejadian hari itu.


Flashback on


"Wah, seger banget udara sore ini... Enak kali ya, kalau dipakai jalan-jalan. Tapi Novi, Lala, Dina, dan Rena pada ke mana ya?" gumam Aisyah.


Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk dari ponselnya. Pesan masuk tersebut berasal dari Novi.


Ais, aku sama Rena jalan-jalan keluar dulu ya.. (Novi)

__ADS_1


Kok, enggak kalian ngajak-ngajak sih? (Aisyah)


Tadi kamu itu masih tidur, enggak tega aku banguninnya, ngorok lagi ๐Ÿ˜๐Ÿ˜(Novi)


Huuu, (Aisyah)


Pesan masuk (Lala)


Ais, aku sama Dina lagi di luar mau beli bakso, kamu mau nitip enggak? (Lala)


Boleh, tapi baksonya jangan terlalu pedes ya.. karena dengar kata-kata kamu aja udah kerasa pedes, hehehe.. ๐Ÿ˜(Aisyah)


Aih, mulai lagi! Udah, ah, males ngebahasnya! (Lala)


Pesan masuk (Novi)


Ais, aku sama Rena mau naik kuda, kamu mau ikut enggak ? (Novi)


Enggak ah, aku mau mandi duluaja (Aisyah)


Setelah mengakhiri percakapannya dengan Novi dan Lala, Aisyah pun memilih untuk segera memanjakan tubuhnya dengan berendam di kamar mandi.


Cukup lama sudah, Aisyah menghabiskan waktunya berendam. Kini, setelah dirasa puas, ia pun segera


mengakhirinya dan lekas memakai pakaiannya.


"Duh, seger banget... Oh ya, kira-kira Novi dan Rena lagi di mana ya?" ucap Aisyah pada dirinya sendiri. Kemudian, ia mengambil sebuah teropong dari dalam tasnya.


Setelah itu, Aisyah membuka jendela kamarnya. Kamar yang berada di lantai tiga villa tersebut. Kemudian, ia mengarahkan teropong itu jauh keluar sana.


Flashback off


Belum sempat Rena menjelaskan kepada Aisyah apa yang terjadi sebenarnya antara dirinyaย  dengan Alan, tiba-tiba saja Dinda dan Alan sudah berada antara mereka berdua. Hal itu membuat Rena mengurungkan niatnya untuk bercerita kepada Aisyah.


"Gimana udah dapat buku-bukunya?" tanya Adinda sambil meletakkan buku-buku yang dibawanya di


atas meja yang ada di depannya.


"Tuh, lihat sendiri kan?" jawab Rena ketus.


"Oh," sahut Dinda saat melihat tumpukan buku yang ada di depan meja Aisyah dan Rena.


Alan dan Adinda pun kembali ke tempat mereka duduk sebelumnya. Mereka bertiga Adinda, Aisyah, dan Rena mulai mencatat poin-poin penting yang ada dalam buku yang mereka bawa. Keheningan


sejenak melanda mereka berempat.


Alan mulai merasa bosan dengan situasi semacam itu. Ide jahilnya untuk menggoda Rena kembali terbesit dalam benaknya. Ia sengaja mengambil botol minum yang ada di meja Rena. Botol minum


yang sebenarnya akan diambil oleh Rena, karena ia merasa haus kembali. Namun, Alan langsung merebutnya dengan cepat sebelum tangan Rena menyentuhnya.


"Maaf ya, aku boleh minta minumnya enggak? Aku haus sekali," pinta Alan memelas.


"Maaf, Kak, tapi aku lagi batuk," jawab Rena bohong.


"Gak masalah," sahut Alan.

__ADS_1


Sebenarnya itu hanya alasan Rena saja agar Alan tak minum di botol yang sama dengannya. Namun, sepertinya Alan tampak tidak mempedulikan itu. Ia tetap saja melanjutkan niatnya untuk minum dari botol yang sama dengan Rena.


Iya, buat Kakak enggak masalah, tapi buat aku itu masalah banget. Karena saat ini aku benar-benar haus dan Kakak seenaknya saja mengambil minumanku (ucap Rena dalam hati).


"Nih, kamu mau minum juga, kan?" sahut Alan sambil meletakkan botol minum itu ke tempat semula.


Ih, jijik banget.. Siapa juga yang mau minum bekas mulutnya? Walaupun sebenarnya aku benar-benar haus banget (pikir Rena).


Rena kembali fokus pada pekerjaannya yang tadi. Sedangkan, Alan dia begitu menikmati wajah Rena yang terlihat masam karena perbuatannya. Ia pun kembali menggoda Rena.


Kali ini, Alan mengeluarkan sesuatu yang ada dalam kantong bajunya. Beberapa buah permen dengan rasa strawbery mint yang sengaja ia letakkan di atas mejanya agar Rena melihatnya.


Permen itu kan permen yang pernah aku berikan dulu kepadanya (ucap Rena dalam hatinya)


Alan tampak begitu santai mengambil satu per satu permen yang ada di hadapannya itu, lalu memakannya dengan begitu nikmat. Ia tampak tidak peduli dengan Rena atau yang lainnya .


"Kak Alan, aku perhatikan Kak Alan suka sekali memakan permen itu," tanya Dinda yang sedari tadi melihat Alan tak henti memakan permen yang ada di atas mejanya itu.


"Itu karena aku menyukainya. Aku menyukai rasanya yang unik dan bikin ketagihan," tutur Alan sambil


menatap dan melihat ekspresi Rena yang cukup kaget dengan kalimat 'aku menyukainya'.


"Rasa strawbery mint. Apanya yang unik?" tanya Dinda lagi sambil mengambil permen yang Alan letak kan di atas mejanya.


"Unik lah karena permen ini memiliki rasa manis, asam, dan dingin yang jarang dimiliki permen yang


lain," jawab Alan.


"Iya juga, ya," sahut Dinda menyetujui ucapan Alan.


"Selain itu, aku juga menyukai orang yang pertama kali memberikan permen itu kepadaku," ucap Alan sambil menatap Rena dengan lekat.


Deg


Tatapan Alan membuat jantung Rena seakan berdetak lebih cepat, apalagi saat dirinya mendengar perkataan Alan barusan.


Apa maksud perkataannya tadi? Iya, menyukaiku? (pikir Rena).


"Sungguh?" tanya Dinda.


"Sungguh, aku sangat menyukainya," ucap Alan penuh penekanan.


โ€œOh ya? Siapa dia?โ€ tanya Dinda penasaran.


โ€œRa-ha-sia,โ€ jawab Alan.


โ€œIh.. Kak Alan,โ€ sahut Dinda jengkel.


Rena yang sedari tadi menyimak perbincangan Alan dan Dinda dibuat bingung dengan perasaannya sendiri. Entah ia harus merasa senang atau tidak mendengar kata-kata Alan tersebut. Baginya,


kata-kata itu seperti pernyataan cinta Alan secara tidak langsung kepada dirinya.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2