
Dengan balutan blazer merah maroon yang dipadukan dengan rok panjang berwarna senada dan khimar merah muda, gadis kecil Mamah Elana ini tampak terlihat elegan dan semakin dewasa. Dialah Ratu Felisa Wijaya, adik dari Alan Bagaskara yang kini usianya sudah menginjak 23 tahun.
Pagi ini, Felisa tampak terlihat sibuk dari hari-hari biasanya.
“Tumben pagi-pagi begini kamu sudah siap?” tanya Alan begitu menjumpai Felisa di meja makan.
“Iya, Kak. Banyak sekali yang harus Feli beresin pagi ini,” sahut Felisa sambil menikmati sarapan paginya dengan susu dan roti.
“Emang Bu Ais masih belum bisa masuk?” tanya Alan yang duduk di dekat Felisa.
“Belum, Kak. Kandungan Bu Ais masih lemah. Katanya dia masih harus bed rest beberapa hari lagi,” jawab Felisa.
“Kalau begitu kamu minta tolong Nathan saja untuk membantumu menghandle pekerjaan Bu Ais. Biar bagaimana pun Nathan kan masih adik iparnya, pasti dia mau. Apalagi kalau kamu yang minta,” goda Alan.
“Ih, Kak Alan apa-apaan sih?” sahut Felisa cemberut karena Alan masih saja mengaitkan Nathan dengannya.
“Bi Siti,” panggil Alan saat melihat Bi Siti lewat.
“Iya, Mas Alan,” sahut Bi Siti.
“Bisa tolong buatkan saya nasi goreng enggak?” pinta Alan.
“Bisa, Mas. Sebentar Bibi buatkan,” jawab Bi Siti.
“Makasih, Bi,” sahut Alan.
“Sama-sama, Mas,” sahut Bi Siti yang segera berlalu meninggalkan Felisa dan Alan menuju dapur.
“Tumben pengen nasi goreng. Biasanya juga roti atau nasi uduk, Kak,” sahut Felisa.
“Lagi pengen aja,” sahut Alan.
“Oh ya, Kakak enggak ke kampus hari ini?” tanya Felisa.
“Ke Kampus, tapi mungkin siang karena hari ini Kakak mau ke sekolah dulu,” jawab Alan.
“Emang ada masalah di sekolah, Kak?” tanya Felisa.
Ada, masalah hati (ucap Alan dalam hatinya)
“Enggak ada. Lagi pengen jengukin aja,” jawab Alan.
“Oh..” sahut Felisa meneruskan sarapannya.
“Kak, hari ini aku bawa mobil ya?” tanya Felisa.
”Silakan, bawa aja. Tapi, hati-hati!” jawab Alan.
“Siap, Kakak,” sahut Felisa.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Felisa pun berpamitan pada Alan.
***
Di rumah Rena, tampak Reni, Rena, dan kedua anaknya sedang menikmati sarapan pagi mereka.
“Ren, hari ini kamu enggak kerja?” tanya Rena saat melihat Reni tidak memakai seragam kerjanya.
“Kerja, Kak, nanti siang.” jawab Reni.
“Oh, dapat jatah shift Siang? Berarti hari ini kamu pulang malam?” tanya Rena.
“Iya, Kak,” jawab Reni santai.
“Ren, maafin Kakak ya,” sahut Rena dengan nada sedih menatap adiknya.
“Maaf, untuk apa?” tanya Reni bingung.
__ADS_1
“Harusnya kamu bisa melanjutkan kuliah kamu, kalau saja ayahnya Hana dan Haikal bisa mengizinkan Kakak untuk membantumu waktu itu,” tanya Rena mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
“Jangan ungkit masalah itu lagi, Kak! Bikin Reni emosi tau,” sahut Reni yang tak bisa menahan kekesalannya.
Jujur saja, Reni waktu itu kecewa banget sama Kakak karena Kakak hanya mementingkan keluarga Kakak saja (ucap Reni dalam hatinya).
Waktu itu saat terjadi krisis ekonomi di keluarga Rena, Rena tak bisa berbuat apa-apa. Niatnya ingin membantu biaya kuliah adiknya dihalangi oleh suaminya Rayhan dengan alasan Rayhan juga membutuhkan uang itu untuk merenovasi rumah mereka. Padahal, saat itu sang adik benar-benar membutuhkan bantuannya karena warung dagangan ayah dan ibunya sedang sepi, sedangkan Kakaknya Reno tidak ada uang untuk membantu mereka. Reno sendiri sudah memiliki pinjaman yang dipakainya saat membantu biaya operasi jantung mertuanya.
“Sekali lagi, maaf,” sahut Rena lirih.
“Kak, sudahlah. Toh, kuliah juga buat cari kerja dan sekarang Reni sudah punya pekerjaan itu,” sahut Reni tak ingin lagi membahas masalah itu.
“Tapi kalau kamu kuliah, kamu tidak perlu bekerja siang malam seperti ini. Kamu juga bisa mencapai cita-citamu menjadi seorang guru seperti Kakak,” sahut Rena.
“Lantas Reni harus bagaimana, Kak? Waktu gak akan bisa diulang lagi,” sahut Reni dengan nada yang mulai sedikit emosi.
“Ren, kenapa kamu tidak melanjutkan kuliahmu sekarang? Kakak janji akan membantumu,” sahut Rena.
“Entahlah, Kak. Sepertinya Reni sudah kehilangan minat untuk itu,” jawab Reni yang membuat Rena tampak kecewa.
“Mah, ayo berangkat! Nanti kita terlambat,” sahut Hana pada Rena yang baru menyelesaikan sarapannya.
“Iya, Mamah pesan OSCAR dulu,” sahut Rena sambil membuka aplikasi untuk memesan OSCAR, aplikasi mobil on-line yang akan ditumpanginya untuk sampai ke sekolah.
***
Cukup lama Rena dan kedua anaknya menunggu di depan rumah mereka, namun pesanan OSCAR yang dipesan Rena belum juga sampai.
“Udah, cancel aja, Kak. Ganti pakai ojol aja! Toh, Reni juga gak ikut,” sahut Reni saat menghampiri Rena yang sedari tadi sibuk melihat jam di tangannya.
“Iya, Ren. Kakak cancel aja kali daripada terlambat,” sahut Rena kembali membuka aplikasi OSCAR dan membatalkan pesanannya.
Rena pun segera membuka aplikasi ojolnya, namun sebelum sempat ia memesan ojeg online di aplikasi tersebut, sebuah mobil berwarna merah berhenti di depan mereka. Seorang gadis yang ada dalam mobil itu pun keluar dan menghampiri mereka.
Senyum si pemilik wajah yang manis itu tampak terlihat mengembang di wajahnya.
Rena pun memperhatikan gadis yang baru saja menyapanya. Senyum yang sama juga mengembang di wajah Rena saat melihat sosok masa lalu yang telah lama tidak dijumpainya.
“Felisa bukan?” tanya Rena sedikit ragu.
“Iya, Bu, bener ini Felisa, murid Ibu Rena yang paling cantik sejagat raya,” sahut Felisa sembari mengambil tangan Rena dan mencium punggung tangan guru SMP nya itu.
“Seneng banget deh Ibu masih kenal sama aku,” sahut Felisa.
“Tentu dong, mana mungkin Ibu bisa lupa sama murid ibu yang paling cantik, pinter, dan cerewet seperi kamu,” sahut Rena.
“Ah, Ibu. Bisa aja,” sahut Felisa.
“Ini anak-anak Ibu bukan?” tanya Felisa saat melihat Hana dan Haikal yang sudah berseragam lengkap berdiri di samping Rena.
“Iya, ini anak-anak Ibu dan yang itu adik Ibu,” sahut Rena sambil menunjuk ke arah Reni yang saat itu juga sedang berdiri di dekat Rena.
Felisa pun mengulurkan tangannya kepada Reni.
“Salam kenal, Felisa,” sahut Felisa memperkenalkan dirinya.
“Reni,” sahut Reni membalas uluran tangan dari Felisa.
“Ibu lagi apa di sini? Apalagi nunggu kendaraan?” tanya Felisa.
“Iya, Felisa. Ibu tadi lagi nunggu OSCAR. Tapi, karena enggak dateng-dateng dan takut terlambat jadi Ibu cancel. Rencananya Ibu mau pesan ojol aja,” jawab Rena.
“Emang Ibu dan anak-anak Ibu mau ke mana? Biar Felisa anterin,” sahut Felisa.
“Gak perlu Felisa, nanti ngerepotin kamu,” sahut Rena.
“Gak apa-apa kok, Bu. Felisa malah seneng bisa bantuin Ibu,” sahut Felisa.
__ADS_1
“Iya, Kak, bareng Felisa aja. Daripada Kakak dan anak-anak Kakak terlambat,” sahut Reni.
“Ya sudah, tapi beneran kamu gak bakal direpotin kalau Ibu minta dianter ke SMP Cinta Kasih?” tanya Rena.
“SMP Cinta Kasih? Yang dekat Universitas Pelangi bukan, Bu?” tanya Felisa.
“Iya, benar. Kamu tahu?” tanya Rena.
Jelas tahu lah, Bu. Itu kan sekolah milik Kak Alan, Kakakku (sahut Felisa dalam hatinya).
“Tentu saja tahu, Bu. Kebetulan aku juga mau ke Universitas Pelangi. Itu artinya gak ada masalah karena kita searah,” jawab Felisa.
“Oh ya? Baiklah, Ibu ikut mobil kamu,” sahut Rena.
Rena dan anak-anaknya pun masuk ke mobil Felisa.
“Kamu gak ikut?” tanya Felisa pada Reni.
“Enggak, aku di rumah aja,” jawab Reni.
“Oh,” sahut Felisa.
“Ren, Kakak pergi dulu, ya!” seru Rena.
“Iya, Kak, hati-hati.” Sahut Reni.
Felisa pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Ibu, aku dengar menjelang lebaran kemarin, teman-teman pada ke rumah Ibu, ya?” tanya Felisa.
“Iya, kok kamu tahu?” sahut Rena.
“Kemarin, Riska dan yang lainnya cerita ke aku, Bu. Tapi aku kesal sama mereka karena aku gak diajak,” sahut Felisa.
“Mungkin mereka lupa,” sahut Rena.
“Iya, mereka sih bilang begitu. Tapi tega banget, masa seorang Felisa yang cantik dilupakan,” sahut Felisa.
“Kamu tuh masih narsis aja,” sahut Rena tersenyum mendengar perkataan Felisa.
“Oh ya, Bu. Ibu ngajar di SMP itu?” tanya Felisa.
“Iya,” jawab Rena.
“Sudah berapa lama?” tanya Felisa.
“Baru hari ini Felisa,” jawab Rena.
“Jadi, ini hari pertama Ibu?” tanya Felisa lagi.
“Iya,” jawab Rena.
“Semoga Ibu bisa dapat jodoh ya di sana,” sahut Felisa.
“Maksud kamu?” tanya Rena.
“Aku udah dengar masalah Ibu sama Pak Rayhan dari teman-teman. Aku beneran sedih dan gak nyangka kalau Pak Rayhan yang kelihatannya baik dan sayang sama Ibu ternyata bisa seperti itu,” sahut Felisa yang membuat Rena menjadi murung.
“Tapi, Ibu jangan sedih! Di setiap musibah pasti ada hikmahnya. Aku yakin Allah akan memberikan Ibu jodoh yang lebih baik lagi dari Pak Rayhan,” sahut Felisa.
Dan aku harap Ibu bisa bertemu dengan Kakakku hari ini dan Ibu bisa berjodoh dengannya. Dengan begitu Ibu akan jadi kakak iparku. (pikir Felisa)
“Aamiin,” sahut Rena mencoba menghilangkan kesedihannya.
***
Bersambung
__ADS_1