
Rena pov
Biarkan burung-burung tetap menari menghias langit biru. Biarkan juga jika di antara mereka ada yang memilih memisahkan diri untuk bersenandung ria di balik rindangnya pepohonan. Diiringi dengan angin yang tetap setia membelai penghuni alam semesta. Namun, satu yang tetap aku harapkan, aku masih bisa menikmati canda tawa bersama dengan
sahabat-sahabatku di sini. Meski urusan cintaku mungkin tak semanis dan seindah yang aku harapkan.
"Halo, Assalamualaikum, Rena cantik. Bagaimana kabarmu hari ini?” tanya Aisyah yang kemudian duduk di sampingku.
"Waalaikumsalam, halo juga Aisyah molek. Kabarku baik-baik saja, kabar kamu sendiri bagaimana?"
tanyaku dengan gaya sok formal namun tetap memberikan senyum yang terbaik.
"Alhamdulillah, kabarku juga baik" jawab Aisyah.
Kemudian, Aisyah menengadahkan wajahnya dan menutup kedua matanya.
"Sedang apa kamu, Ais?" tanyaku.
"Sedang merasakan belaian angin ke wajahku, rasanya lembut sekali" sahut Aisyah
Aku pun mengikuti apa yang Aisyah lakukan, merasakan belaian angin mengusap wajahku. Rasanya begitu menenangkan. Namun, tiba-tiba saja sekelebat bayangan muncul di dalam pikiranku. Wajah Alan tampak nyata, mungkin
aku memang belum bisa melupakannya.
"Kamu masih belum menjawab pertanyaanku, Na," ucap Aisyah tiba-tiba.
"Jawab apa? Pertanyaan yang mana?" tanyaku bingung.
"Pertanyaan yang pernah aku tanyakan sama kamu beberapa hari yang lalu. Sebenarnya antara kamu dan Kak Alan ada hubungan apa?" tanya Aisyah menatapku lekat.
Degh
Aku bingung harus menjawab apa pada Aisyah, aku sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan kembali menanyakan pertanyaan itu.
"Tidak ada. Waktu itu Kak Alan hanya menolongku saat kuda yang aku tunggangi lepas kendali," jawabku mengingat kembali kejadian saat itu.
“Astaga, benarkah? Tapi, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Aisyah yang tampak kaget mendengar cerita dariku.
“Alhamdulillah, aku baik-baik saja. Kak Alan berhasil mengambil alih kemudi kuda yang aku tunggangi. Itu sebabnya, kami terlihat sangat dekat waktu itu,” jawabku.
"Tapi, aku merasa dia benar-benar menyukaimu. Sikapnya terhadap kamu sangat berbeda. Aku kira kalian menjalin hubungan secara diam-diam," ucap Aisyah sambil menatap tajam ke arahku.
"Ada-ada saja kamu, bisa-bisanya kamu berpikir aku dan Kak Alan menjalin hubungan secara diam-diam,” ucapku tanpa berani menoleh pada Aisyah.
“Tapi, kamu enggak bohong, kan?” tanya Aisyah.
“Sebenarnya... Kak Alan memang pernah mengungkapkan perasaan cintanya kepadaku,” ucapku.
“Apa? Lalu kamu jawab apa?” tanya Aisyah penasaran.
“Aku belum menjawab apa-apa karena aku sendiri tidak yakin dengan ucapannya,” jawabku.
“Kok begitu?” tanya Aisyah bingung.
__ADS_1
“Iya, karena rasanya tidak mungkin Ais, dia benar-benar mencintaiku. Aku ini dingin, ketus, dan keras kepala. Selain itu, aku juga tidak lebih cantik dan lebih baik dari Dewi. Kamu pasti juga tahu
kan kalau Dewi, sang primadona kampus kita itu sangat menyukai Kak Alan," ucapku menggebu-gebu.
“Iya, aku tahu, tapi cinta itu kan memang tak terduga. Dewi memang sempurna, tapi cinta kan memang tidak menuntut kesempurnaan,” ujar Aisyah.
“Kamu benar, tapi aku takut Kak Alan salah mengartikan peraasaannya terhadapku. Aku takut jika suatu saat nanti di saat aku benar-benar mencintainya dan menaruh harapanku terhadapnya, dia akan meninggalkanku. Dia akan menyadari bahwa Dewi jauh lebih sempurna daripada
aku,” ucapku.
"Jadi karena Dewi kamu tidak ingin berjuang untuk mendapatkannya?" tanya Aisyah.
"Untuk apa Ais? Aku tidak ingin sakit hati. Aku di sini hanya ingin fokus untuk belajar dan meraih cita-citaku. Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun," jawabku.
Lagipula Ais, kamu tidak tahu kalau aku sudah berjanji kepada Dewi untuk menjauh dari kehidupan Kak Alan dan tak lagi memberinya harapan. Aku juga sudah bertekad untuk melupakan semua yang pernah terrjadi antara aku dan Kak Alan (ucapku dalam hatiku yang terasa begitu sesak)
***
Sehari sebelumnya
"Rena, tunggu!"' teriak seorang perempuan dari arah belakang yang tak lain adalah Dewi.
Dewi tampak setengah berlari mengejar diriku. Dia selalu terlihat cantik seperti biasanya. Rambutnya yang hitam dan lebat tergerai begitu saja. Dewi juga memiliki kulit yang putih dan bibir yang merah semerah buah delima. Selain itu, tubuhnya juga tinggi dan proporsional. Pantas saja jika dia menjadi primadona di kampus ini.
"Kamu manggil aku, Dew? Ada apa?" tanyaku saat membalikkan badan ke belakang.
"Rena aku ingin bicara empat mata dengan kamu. Bisa kita duduk di sana." pinta Dewi seraya menunjuk sebuah kursi panjang yang ada di taman.
Aku dan Dewi lalu berjalan ke taman dan duduk di kursi panjang yang ada di taman itu. Kebetulan suasana taman saat itu tampak sepi.
"Rena, aku enggak biasa basa basi. Jadi, aku langsung saja, ya?" ucap Dewi.
"Iya, silakan aku juga enggak biasa banyak basa basi kok, Dew. Nanti yang ada beritanya jadi basi."
sahutku.
"Rena, mungkin kamu sudah mendengar kalau aku suka dengan Kak Alan. Bahkan, aku sudah pernah menyatakan perasaanku sama dia," ucap Dewi lugas yang cukup membuatku sangat terkejut.
Apa ?? Jadi itu semua benar dan bukan gosip?! Bahkan Dewi sampai nembak Kak Alan. Gadis yang selama ini, ia kenal pendiam dan disukai banyak kaum adam. Entah seberapa besar perasaan sukanya pada Kak Alan sampai dia berani melakukan itu. (pikirku dalam hati)
Aku pun berusaha untuk tak memperlihatkan perasaan terkejutku kepadanya.
"Dew, aku memang pernah mendengar kalau kamu suka sama dia, tapi aku enggak tau kalau kamu sudah menyatakan perasaan kamu sama dia. Tadinya aku pikir dia yang akan menyatakan
perasaannya sama kamu.. secara kamu kan gadis paling cantik, baik, dan populer di kampus kita," ucapku yang dibalas dengan senyum tipis penuh ironi di bibir Dewi.
"Sayangnya, dalam urusanku dengan Kak Alan, aku tak seberuntung itu. Aku bahkan dia tolak secara
halus," sahut Dewi.
"Ditolak, ditolak bagaimana? Kok bisa?" tanyaku penasaran.
Apa-apa jangan karena dia memang benar-benar mencintaiku? (ucapku dalam hati)
__ADS_1
"Iya, dia bilang untuk saat ini dia hanya ingin kami berteman saja karena dia sendiri belum yakin dengan perasaannya terhadapku," jawab Dewi.
Oh, jadi Kak Alan menjawab seperti itu (ucapku dalam hati)
"Kalau menurut aku itu sih berarti kamu masih diberi kesempatan, bukan ditolak. Kamu hanya tinggal
menunggu waktu sampai Kak Alan benar-benar bisa yakin dengan perasaannya terhadapmu. Oh ya, tunggu! Kenapa kamu curhat masalahmu ini ke aku, secara kita enggak sedekat itu, kan? Sampai-sampai kamu bisa curhat masalahmu dengan Kak Alan ke aku?" tanyaku.
"Itu karena kamu yang menjadi masalahnya,"
jawab Dewi.
Apa maksudnya? Apa dia tahu perasaan Kak Alan terhadapku? Apa dia tahu kalau Kak Alan pernah menyatakan perasaan cintanya terhadapku? (ucapku dalam hati)
"Maksud kamu?" tanyaku pura-pura
bingung.
"Kak Alan masih belum yakin dengan perasaannya terhadapku karena sepertinya di hatinya juga ada kamu. Kamu menjadi beban di hatinya, tapi kalau kamu mau menjauh dari kehidupannya, maka aku yakin perasaannya hanya akan menjadi milikku," jawab Dewi.
"Jadi, maksud kamu aku harus menjauh dari kehidupan Kak Alan? Agar Kak Alan bisa yakin dengan perasaannya terhadapmu?" tanyaku dengan nada sedikit meninggi.
Ucapan Dewi benar-benar membuatku kesal karena dari nadanya bicara dia menganggap akulah penyebab semua itu terjadi. Cinta Kak Alan terhadapku adalah sebuah kesalahan.
“Iya,” jawab Dewi.
"Baiklah, aku berjanji. Aku akan menjauh dari Kak Alan dan melupakan semua yang pernah terjadi antara aku dan dia," jawabku ketus.
Aku pun segera bangkit berdiri dan meninggalkan Dewi sendiri di sana. Saat ini, dadaku benar-benar terasa sesak, ingin rasanya aku tumpahkan air mata yang sudah menggenang di kedua sudut mataku. Semua yang Dewi katakan terdengar menyakitkan hingga aku tak mampu membendungnya. Namun, sebelum langkahku benar-benar menjauh, Dewi kembali menanyakan sesuatu yang membuat langkahku terhenti sejenak.
"Rena, apa kamu juga menyukai Kak Alan?" tanya Dewi kepadaku.
"Apa itu sekarang penting bagimu? Toh, aku suka atau tidak akan sama saja. Aku harus melupakannya, kan?" sahutku yang membuat Dewi terdiam dan tak mampu menimpalinya.
Aku pun berlalu pergi meninggalkan Dewi sendirian dengan air mata yang sudah tak mampu aku bendung lagi. Mereka jatuh dengan begitu derasnya.
***
"Apa kamu yakin dengan itu semua? Apa kamu yakin dengan keputusanmu untuk tidak menerima cintanya Kak Alan?" tanya Aisyah membuyarkan lamunanku.
"Aku yakin Ais, sangat yakin," jawabku.
“Benar kah? Kamu tidak akan menyesal?” tanya Aisyah lagi.
“Tidak,” jawabku seraya mengalihkan pandanganku tak kuasa menatap Aisyah.
Meski, harus aku akui akan sulit bagiku untuk melupakan itu semua karena terlalu banyak kenangan manis di antara aku dan dia (ucapku
dalam hati)
***
Bersambung
__ADS_1