
Alan sedang bersiap untuk membereskan segala hal yang dibutuhkannya berkaitan dengan segala keperluan untuk acara reuni hari ini. Acara yang sudah dipersiapkan olehnya dan teman-temannya selama kurang lebih hampir satu bulan lamanya.
“Apa yang bisa Feli bantu, Kak?” tanya Felisa.
“Bantu doa saja karena sepertinya semua barang-barang yang dibutuhkan untuk keperluan nanti semuanya sudah selesai Kakak siapkan,” jawab Alan.
“Tentulah, Kak. Feli akan selalu berdoa untuk Kakak. Semoga semua acara berjalan dengan lancar, khususnya acara yang berkaitan dengan rencana lamaran Kakak pada Bu Rena karena Feli ingin sekali bisa melihat Kakak segera menikah lagi,” ucap Felisa.
“Terima kasih, adikku sayang. Mudah-mudahan kamu juga cepat mendapatkan jodohmu,” ucap Alan.
“Aamiin. Ya sudah, kalau memang tidak ada lagi yang perlu Feli bantu. Feli mau bersiap-siap dulu, ” sahut Felisa yang kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar Alan.
Saat Felisa pergi, Alan kembali terduduk di atas ranjangnya. Senyum mengembang terulas di wajah tampannya. Ia kembali teringat kejadian empat hari yang lalu.
Flashback On
Setelah mendengar kabar dari Faizal tentang kedekatan Abi dengan Rena, konsentrasi Alan terhadap pekerjaannya terlihat tidak begitu baik. Beberapa kali kesalahan dilakukannya. Itulah sebabnya hari itu ia lebih memilih mengistirahatkan dirinya di dalam ruangan tempatnya biasa bekerja. Hal itu juga dilakukannya untuk menghilangkan segala rasa gelisah dan gundah yang menyelimuti hati dan pikirannya.
Tanpa sadar Alan pun terlelap di ruangan itu dari siang hingga kini tengah berganti sore. Jam di dinding tempatnya bekerja sudah menunjukkan pukul 04.10 sore. Suasana di sekitar kampus mulai terlihat sepi. Hanya sedikit mahasiswa yang tampak berlalu lalang di sekitar tempat itu. Alan pun mulai terbangun dari tidurnya yang cukup panjang.
“Astaga, sudah jam 4. Berati sudah cukup lama aku tertidur di sini,” ucap Alan sambil mengusap wajahnya. Ia menghela nafasnya panjang. Lalu beranjak dari kursi, tempat Alan merebahkan diriya tadi. Kemudian, ia segera merapihkan barang-barangnya untuk pulang meninggalkan ruangan itu.
Baru lima langkah Alan keluar dari ruangannya itu, tiba-tiba langkah kakinya terhenti. Saat ia melihat sosok Abi berada di hadapannya.
“Abi,” sapa Alan.
“Hey, Alan, kamu belum pulang?” sahut Abi.
“Baru saja aku mau pulang. Kamu sendiri? Kapan kamu datang?” tanya Alan.
“Aku baru saja datang karena tadi Faiz memintaku untuk menggantikan Jessi melatih anak-anak yang akan mengikuti turnamen taekwondo di sekolahmu dua hari lagi,” jawab Abi.
“Iya, aku tahu. Tadi Faiz sudah menceritakan semuanya padaku. Lalu, untuk apa kamu kemari?” tanya Alan.
“Aku kemari hanya ingin mengambil file-file ini karena aku harus mempelajarinya untuk bahan presentasi besok,” jawab Abi menunjukkan file-file yang berada di tangannya.
“Oh, begitu. Kalau begitu berarti bisakah sekarang kamu menemaniku minum kopi di kedai kopi milik Bang Ar?” ajak Alan.
“Tentu saja. Sudah lama kita tidak minum kopi berdua di kedai itu,” sahut Abi.
Abi dan Alan pun bergegas meninggalkan kampus mereka. Lalu, mereka berjalan ke arah kedai kopi yang terletak di belakang kampus. Kedai kopi yang sederhana, namun memiliki cita rasa kopi yang cukup nikmat bagi Alan dan juga Abi.
Sudah cukup lama mereka tidak menikmati kopi di tempat tersebut karena memang selama ini mereka jarang melewati gerbang belakang kampus. Mereka lebih sering pulang lewat gerbang depan.
“Tempat ini sepertinya sekarang sudah banyak yang berubah?” ucap Alan saat melewati gerbang belakang kampus mereka.
Alan dulu memang sering melewati tempat itu karena sewaktu masih menjadi mahasiswa di kampus tersebut. Alan tinggal di tempat kost yang kebetulan berada di belakang kampus. Di tempat kost itu juga lah Alan mengenal lebih dekat sosok Faizal, Iyus, Abi, Arka, dan Dewa.
__ADS_1
“Kamu benar Alan, tapi mudah-mudahan saja rasa kopinya tidak ikut berubah,” sahut Abi.
Alan dan Abi pun memasuki kedai sederhana itu. Kedai dengan nuansa warna hitam dan abu-abu yang ditata senyaman mungkin untuk para pelanggannya.
“Apa sebenarnya ingin kamu bicarakan, Lan?” tanya Abi tanpa basa-basi begitu mereka berdua mengambil tempat duduk yang saling berhadap-hadapan.
“Apa maksudmu?” tanya Alan bingung.
“Ayolah, aku tahu kamu mengajakku kemari tentunya bukan sekedar ingin mengajakku minum kopi saja, bukan? Apa ini menyangkut Rena?” tanya Abi dengan seulas senyum di bibirnya.
“Apa Faiz mengatakan ssuatu padamu?” tanya Alan.
“Jadi benar, Rena yang ingin kamu lamar itu Rena yang sama dengan yang sekarang mengajar di sekolah milikmu?” tanya Abi.
“Iya,” jawab Alan. Ia baru ingat bahwa sebelumnya ia pernah menceritakan perihal keinginannya untuk melamar Rena di acara reuni nanti pada Abi.
“Faiz mengatakan apa saja padamu? Dia pasti mengatakan hal yang tidak-tidak,” sahut Abi.
“Apa maksudmu?” tanya Alan semakin bingung.
“Alan, jangan pernah berpikir kalau aku memiliki hubungan atau perasaan khusus pada Rena. Memang benar aku tidak menampik kalau aku memang menyukai kepribadian Rena yang sedikit mirip dengan almarhumah Nena, tapi itu bukan berarti aku memiliki perasaan khusus padanya. Mungkin kalau di hatiku belum ada orang lain, aku bisa saja tertarik padanya,” ucap Abi.
“Memang siapa yang telah mengisi hatimu?” tanya Alan penasaran.
“Kelak kalau sudah waktunya, kamu sendiri pun akan tahu,” jawab Abi.
Tapi, aku berharap wanita yang memiliki hatimu adalah adikku karena aku tahu dia sangat menyukaimu. Aku sungguh tidak ingin melihatnya terluka ketika ternyata lelaki yang ditunggunya selama ini menyukai orang lain. (ucap Alan dalam hati).
Kopi yang dipesan oleh Abi dan Alan pun sampai di meja mereka. Mereka menikmati kopi itu sambil sesekali bercerita tentang apa saja yang dibicarakan Abi dengan Rena. Pembicaraan mereka berdua sempat tertunda saat ponsel milik Alan berbunyi. Alan mengangkat ponsel itu tanpa sempat melihat siapa yang meneleponnya.
“Halo, Kak Alan. Assalamualaikum,” ucap si penelepon dengan nada yang sedikit gemetar.
Alan sempat terpaku saat mendengar suara yang ada di balik telepon itu. Suara wanita yang cukup dikenalinya. Ia pun kembali menatap layar ponselnya untuk melihat nama dari orang yang sekarang sedang meneleponnya.
Senyumnya mengembang saat ia tahu bahwa dugaannya itu benar. Di layar ponsel miliknya tertulis “Belahan Jiwaku”.
“Waalaikumsalam, Rena,” jawab Alan.
“Bagaimana keadaan tangan Kakak sekarang? Apakah sudah lebih baik?” tanya Rena.
“Alhamdulillah, sudah. Sekarang gips yang dipasang di tanganku sudah dilepas dan aku juga sekarang sudah bisa beraktivitas seperti biasa,” jawab Alan.
“Syukurlah, aku senang mendengarnya,” jawab Rena.
“Aku juga senang karena tahu kalau ternyata kamu sangat perhatian padaku,” goda Alan.
“Ja-jangan salah paham, Kak. Itu cuma basa basiku saja,” sahut Rena mencoba mengelak.
__ADS_1
“Enggak masalah, meski itu sesuatu yang basi aku tetap menikmatinya.Walaupun aku akan lebih senang jika itu merupakan sesuatu yang baru darimu,” goda Alan.
“Please, Kak, jangan godain aku terus dong! Atau aku tutup teleponnya,” ancam Rena.
Abi yang mendengar percakapan mereka tampak tersenyum dibuatnya.
“Jangan dong, Rena! Baiklah, sekarang bagaimana kabarmu dan anak-anak?” tanya Alan.
“Alhamdulillah, keadaan kami baik-baik saja, walaupun tadi aku sempat dipanggil wali kelasnya Hana karena gara-gara dia kedua temannya sempat berkelahi,” jawab Rena.
“Apa? Memang siapa yang berkelahi gara-gara Hana? Wah, hebat anakmu ya masih kecil sudah diperebutkan dua laki-laki,” sahut Alan.
“Bukan seperti itu untuk masalah Hana nanti saja aku ceritakan kalau kita bertemu,” ucap Rena.
“Jadi kau ingin bertemu denganku?” goda Alan yang membuat pipi Rena yang berada di seberang telepon sana merona karenanya.
Aduh, salah bicara lagi aku. (ucap Rena dalam hati)
“I-iya, maksudku nanti kan kita pasti ketemu. Bukankah yang aku dengar empat hari lagi kampus kita akan mengadakan acara reuni. Kak Alan, ikut kan?” tanya Rena.
“Yah, kalau kau yang memintanya aku pasti akan ikut,” jawab Alan.
“Cih, siapa yang meminta Kakak ikut? Aku cuma bertanya,” sahut Rena ketus.
“Baiklah, kemungkinan besar aku akan ikut. Tapi, kamu ikut juga kan?” tanya Alan.
“Ya, rencananya sih sepertinya aku akan ikut juga,” jawab Rena.
“Kalau begitu sampai bertemu di sana dan sampaikan salam rinduku pada kedua anakmu,” sahut Alan.
“Insyaallah, nanti aku sampaikan pada anak-anak. Kalau begitu aku tutup dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Rena menutup teleponnya.
“Waalaikumsalam,” jawab Alan dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
Flashback Off
Alan begitu senang dan tidak sabar menanti acara yang sudah dibuatnya khusus untuk Rena. Alan berharap jawaban yang diberikan oleh Rena seperti yang diinginkannya selama ini. Rena, bukalah pintu hatimu untuk Alan yang sangat mencintaimu.
***
Bersambung
Terima kasih bagi yang telah setia membaca dan menantikan cerita 😉 🙏🙏
Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, vote, dan komennya😊😊😊
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
__ADS_1
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘