Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 28 Sang Penyelamat


__ADS_3

Langit biru menyambut raja siang yang baru datang dari ufuk timur. Sinarnya memberi kehangatan bagi semesta yang rindu akan belaiannya. Para mahasiswa dengan semangat menaiki truk TNI untuk mengikuti outbond di Gunung XX. Outbond tersebut wajib diikuti oleh semua mahasiswa semester tiga yang mengambil mata kuliah Alamiah Dasar, salah satu mata kuliah umum yang ada di fakultas Rena.


Rena dan teman-temannya begitu antusias dan bersemangat mengikuti outbond tersebut. Mereka menaiki truk yangsama. Dalam pelaksanaan outbond, seluruh mahasiswa yang ada di semester tiga menjadi dibagi menjadi beberapa kelompok. Beruntung Rena dan teman-temannya masuk ke


dalam kelompok yang sama.


"Iyes, ternyata kita masuk ke dalam kelompok yang sama," sahut Lala saat melihat daftar nama-nama


kelompok yang tertempel di mading depan kampus mereka.


"Iya, enggak nyangka ya kebetulan banget," sahut Dina yang juga ikut gembira dengan hasil


pengumuman yang tertempel di mading itu.


"Kalau begitu yuk, kita naik truk sama-sama!" ajak Aisyah.


"Hayuk!" jawab keempat teman Aisyah secara serempak.


Aisyah, Rena, Novi, Lala, dan Dina bergegas menuju halaman depan kampus, tempat truk yang akan mereka tumpangi diparkirkan. Begitu sampai di tempat parkiran, mereka pun menaiki truk yang


terparkir di sana. Truk-truk tersebut sudah diberi nomor sehingga para mahasiswa mudah untuk menemukan truk yang akan mereka tumpangi.


"Hati-hati, La," sahut Rena saat membantu Lala yang tampak kesulitan menaiki truk tersebut.


Saat Lala berhasil naik, keempat temannya yang lain pun ikut menyusul Lala naik dari belakang. Mereka naik secara bergantian dan saling membantu satu dengan lainnya.


Selama perjalanan keceriaan, canda, dan tawa mengiringi kelima sahabat itu bersama teman-


teman lainnya yang berada di truk yang sama dengan mereka. Tanpa terasa tiga jam sudah waktu berlalu. Akhirnya mereka pun sampai juga di Gunung XX, tempat yang menjadi tujuan mereka.


"Wuah, indah banget," seru Rena sebagai ungkapan kekagumannya saat melihat pemandangan yang begitu mempesona di depan matanya.


Hamparan kebun teh nan hijau terpampang nyata di depan mata Rena dan teman-temannya. Di sisi-sisinya terdapat kumpulan bunga dengan beragam warna yang cerah dan sedap dipandang mata. Selain itu, beberapa pohon yang rindang


ikut tersaji di antara teh dan bunga-bunga yang memberi keteduhan dan rasa nyaman bagi siapa pun yang berada di sana. Setelah puas menikmati indahnya panorama yang disuguhkan Gunung XX itu, mereka pun memasuki villa untuk sejenak beristirahat guna menghilangkan kepenatan yang mereka rasakan selama perjalanan.


Tak lama berselang, para mahasiswa itu pun dikumpulkan kembali di sebuah lapangan yang luas yang letaknya tak jauh dari villa tempat mereka beristirahat.


Di lapangan tersebut tampak tiga wajah yang tak asing bagi mereka, yakni Alan, Arka, dan Abi. Selain itu, di antara ketiganya tampak pula Julian yang menggantikan Abi sebagai ketua BEMJ Bahasa Inggris, setelah posisi Abi naik menjadi ketua BEM Fakultas. Mereka semua ditunjuk oleh pihak fakultas untuk menjadi panitia kegiatan outbond kali


ini. Selain mereka ada juga beberapa mahasiswa lainnya yang berasal dari semester 5 dan 7.


"Ya Tuhan, mereka itu semakin ke sini semakin ganteng aja, ya?" tanya seorang mahasiswi yang berada di depan Rena pada dua rekan yang berada di sampingnya.


Mahasiswi itu bernama Almira, sedangkan dua orang rekan yang berada di samping kanan dan kirinya adalah Dian dan Yolanda. Mereka masih satu kelas dan satu jurusan dengan Rena.


"Oh ya, mereka itu udah punya pacar belum sih?" tanya Almira lagi.


"Kayaknya udah deh, gak mungkin kan kalau ganteng-ganteng kayak gitu belum punya pacar," jawab Yolanda.


"Iya, emang enggak mungkin lah! Dan yang aku dengar kalau Kak Arka itu lagi dekat sama Kak Jessy," sahut Dian.


"Kak Jessy mana?" tanya Almira.


"Itu loh yang jago taekwondo," jawab Dian.


"Ooo, jadi Jessy yang jago taekwondo itu. Wah, aku gak berani nikung kalau gitu. Bisa-bisa aku di 'puak'


sama dia," sahut Almira sambil mengangkat tangan memperagakan gaya orang memukul.


"Hahaha, lagian Kak Arka mana mau sama kamu, Mir, udah gendut, item, hidup lagi," sahut Yolanda.


"Aaa, kamu tuh Yola, jahat banget sih sama aku," sahut Almira cemberut.


"Huss! Kalian tuh ya, dari tadi berisik banget!" sahut Lala ketus.

__ADS_1


"Gak apa-apa kali, La. Acaranya belum mulai ini, masih cek sound cek sound," sahut Almira.


"Iya, La. Syirik aja kamu," sahut Dian.


"Ya udah, terserah kalian," sahut Lala kesal.


"Oh ya, kalau Kak Arka udah punya pacar. Aku sama Kak Alan aja deh," sahut Almira


"Jangan mimpi Mira, kamu gak denger kalau Kak Alan itu katanya lagi deket sama Dewi, primadona kampus kita yang cantiknya gak ketulungan," sahut Yolanda.


"Bener kan, La?" tanya Yolanda kepada Lala.


" Tau," jawab Lala jengkel.


"Ye, masih marah aja! Iya, kan, Ais?" tanya Yolanda lagi.


Aisyah hanya mengangkat bahunya yang mengisyaratkan ketidaktahuannya.


"Kalau gitu aku sama Kak.." ucap Almira terpotong.


"Hus, udah mulai tuh!" sahut Novi saat melihat Abi sudah siap berbicara di depan dengan mikrofon


di tangannya.


Semua mahasiswa diam, tidak ada yang berbicara. Mereka memperhatikan dengan seksama setiap perkataan Abi mengenai kegiatan outbond kali ini. Namun, tidak dengan Rena. Ia masih memikirkan isi pembicaraan antara Almira, Yolanda, dan Dian yang baru saja di dengarnya.


Bener kata Almira dan teman-temannya tidak mungkin orang seperti Kak Alan, Kak Arka, dan Kak Abi belum memiliki pacar. Mungkin sekarang memang belum terpublikasi, tapi lambat laun pun pasti hal itu akan terdengar. Apalagi Kak Alan, dia sangat manis, perhatian, supel, meski kadang terlalu pecicilan dan narsis. Namun, pesona yang dimilikinya mampu memikat kaum hawa, termasuk Dewi, primadona kampus ini(pikir Rena)


Aduh, Rena, kenapa kamu malah memikirkan dia sih? Ingat jangan suka baper! Kak Alan memang selalu bersikap baik pada semua orang. Apa belum cukup rasa sakit yang kamu rasakan akibat terlalu mengharapkan seseorang. Cukup, cukup kamu memiliki perasaan berlebih pada Kak Arka saja, tidak dengan Kak Alan (pikir Rena).


Setelah Abi selesai menjelaskan tentang teknis pelaksanaan outbond yang akan mereka lakukan, semua mahasiswa bersama kelompoknya memulai kegiatan outbond tersebut.


****


Selesai kegiatan outbond, Rena dan Novi memanfaatkan waktu mereka untuk berkeliling sekitar villa yang mereka tempati. Saat berkeliling, Rena melihat ada istal alias kandang kuda di belakang villa itu.


"Iya," sahut Novi.


"Kira-kira kuda-kudanya disewakan tidak, ya?" tanya Rena.


"Enggak tahu, emang kamu mau naik kuda?" tanya Novi.


"Iya, Nov. Aku dari dulu ingin sekali tahu rasanya naik kuda kaRena aku belum pernah mencobanya," jawab Rena.


"Ooo, kalau gitu coba tanya si Mamang itu!" sahut Novi seraya menunjuk laki-laki yang berada di sekitar kandang kuda tersebut.


"Mang, maaf permisi. Saya mau tanya," sahut Rena kepada laki-laki itu.


"Oh iya, Neng, ada apa?" tanya laki-laki tadi.


"Kuda-kuda di sini disewakan tidak, Mang?" tanya Rena.


"Iya, Neng disewakan. Eneng mau naik kuda?" tanya laki-laki itu kepada Rena.


"Iya, Mang," jawab Rena sambil menganggukkan kelapa


"Butuh berapa?" tanya laki-laki itu.


"Novi, kamu mau naik kuda juga?" tanya Rena.


"Boleh deh," sahut Novi.


"Dua Mang," sahut Rena


"Siap! Kalau 2 berarti 50 ribu, ya, Neng," sahut laki-laki itu.

__ADS_1


"Oke," jawab Rena.


Rena dan Novi menaiki kuda bersama-sama. Karena mereka belum bisa membawa kuda sendiri, maka masing-masing dari mereka didampingi oleh seorang petugas yang akan menjaga agar kuda bisa dikendalikan dengan benar. Mereka mulai mengelilingi tempat tersebut, menikmati panorama yang ada di wilayah Gunung XX.


Ketika sedang menikmati pemandangan, tiba-tiba saja kuda yang ditumpangi Rena berhenti.


"Neng, saya izin buang air kecil sebentar ya? Neng, tunggu di sini saja." sahut petugas yang mendampingi Rena berkuda.


"Oh ya, Mang." jawab Rena.


Petugas itu pun segera berlalu meninggalkan Rena sendirian bersama kudanya.


"Duh, Novi mana sih? Kok gak kelihatan ya?" gumam Rena.


Tak lama berselang, pangeran berkuda putih datang menghampiri Rena. Siapa lagi kalau bukan Alan, sosok laki-laki yang wajahnya tampan bak seorang pangeran.


"Rena, kamu sedang berkuda juga?" tanya Alan.


"Eh, Kak Alan. Iya, Kak," jawab Rena.


"Sendirian saja?" tanya Alan lagi saat melihat Rena hanya seorang diri.


"Enggak kok Kak, aku sama Novi, tapi kayaknya aku ketinggalan jauh sama dia," jawab Rena sedikit grogi


"Kalau gitu kita berkuda bareng, yuk!" ajak Alan.


Rena bingung harus menjawab apa dengan ajakan Alan. Rasanya ia sangat tidak enak jika menolak, tapi kalau mengiyakan sama saja cari mati karena ia sama sekali tidak bisa berkuda. Namun, Rena malu jika harus mengatakan hal yang sebenarnya.


"Rena, hayu!" ajak Alan lagi saat melihat Rena hanya diam saja tak bergerak.


Dengan ragu-ragu Rena memulai aksinya. Ia memegang erat tali pelana kuda, dan mulai menghentakkan tumit kakinya ke badan kuda. Entah karena hentakkan kakinya yang terlalu kuat atau bagaimana, tiba-tiba saja kuda yang ditumpangi Rena menjadi lepas kendali.


"AAAH, Kak Alan, tolong!" teriak Rena saat kuda yang ditumpanginya berlari dengan cepat membawa tubuh Rena.


"Rena, tunggu!" sahut Alan mengejar kuda Rena.


"Rena, ada apa dengan kudamu?" sahut Alan saat berada dekat dengan kuda yang membawa Rena.


"Aku gak tau, Kak," sahut Rena panik.


Rasa takut menghinggapinya, jantungnya berpacu kencang seirama dengan pacuan kuda yang membawanya. Keringat dingin membanjiri tubuhnya karena kuda itu masih juga tak mau berhenti bahkan larinya semakin kencang.


"Kak Alan, tolong!" teriak Rena yang terdengar begitu mengiris saat kudanya semakin jauh dari kuda yang membawa Alan.


Alan mempercepat pacuan kudanya hingga berhasil mengejar kuda Rena.


"Rena, coba kamu tenang dan kendalikan kudanya dengan benar," sahut Alan.


"Aku enggak bisa, Kak. Sebenarnya aku memang tidak bisa berkuda," sahut Rena yang mulai menangia ketakutan.


"Apa? Kenapa kamu gak bilang di awal?" tanya Alan.


"Kakak enggak nanya," jawab Rena.


"Aduh, Rena, kamu tuh pinter pinter bodoh ya," sahut Alan kesal mendengar kebodohan Rena.


Alan mencoba mencari cara untuk menolong Rena. Ia pun akhirnya memilih loncat dari kudanya ke kuda yang ditumpangi Rena, meski itu sangat beresiko. Beruntung, ia berhasil melakukannya dengan baik. Saat ini posisi tubuhnya begitu dekat dengan Rena.


Alan segera mengambil alih kemudi kuda yang ditunggangi oleh dirinya dan Rena. Ia melingkarkan tangannya ke tubuh Rena agar dapat memegang tali pelana kuda yang terhalang oleh tubuh Rena dengan baik. Mereka berdua kini begitu dekat hingga debaran jantung keduanya pun bisa saling terdengar. Begitu pula dengan keringat yang mengalir di badan keduanya seolah bercampur menjadi satu. Ada rasa bahagia yang hinggap di hati Rena. Terutama saat kuda Rena akhirnya bisa dikendalikan dengan baik oleh Alan.


***


Bersambung


Jangan lupa dukungannya denga memberi like, vote, dan komen terbaiknya ya...

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2