Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 81 Siasat


__ADS_3

Sang Kaisar Timur kini berada di posisi sebagai bintang utama yang bersinar mengisi singgasana jagat raya. Kehangatan yang terpancar dari paparan sinarnya mengusik mimpi-mimpi dua anak manusia yang kini tengah berada di meja makan untuk menikmati sarapan paginya.


“Makan yang banyak ya, Kak Alan,” ucap Felisa sembari memasukan sepotong roti ke mulut kakaknya.


“Makasih ya, Feli. Sudah mau bantuin kakakmu sarapan,” ucap Alan.


“Sama-sama, Kak. Lagipula kalau bukan Feli siapa lagi coba? Bi Siti sekarang lagi pulang kampung ngurus pernikahan anaknya. Mungkin nanti Feli minta Mama ke sini ya, Kak. Biar bantuin Feli ngurus Kakak,” ujar Felisa.


“Ya sudah, kamu panggil aja Mama ke sini. Maaf, kalau kakak ngerepotin kamu. Mungkin kalau kakak sudah punya istri kakak enggak perlu lagi ngerepotin kalian berdua,” sahut Alan.


“Makanya Kak, cepat dong lamar Bu Renanya,” goda Felisa.


“Ya, pengennya sih gitu. Tapi, sekarang aja dia lagi marah sama Kakak,” ucap Alan sedih.


“Marah kenapa?” tanya Felisa.


Alan pun menceritakan semua kejadian yang kemarin terjadi antara dia dan Rena. Hal itu membuat Felisa terkekeh mendengarnya.


“Dih, Kak Alan beneran sudah ngebet tuh sama Bu Rena, hahaha,” tawa Felisa terdengar begitu nyaring.


“Udah, diem ! Sekarang, mending kamu bantuin kakak gimana caranya supaya Rena sudah tidak marah lagi sama kakak,” ucap Alan.


Felisa pun memikirkan perkataan Alan. Sesaat sebuah ide terbesit di kepalanya.


“Aha, Feli punya ide nih, Kak, ” seru Felisa.


“Ide apa?” tanya Alan.


Felisa pun menceritakan idenya kepada Alan.


“Baiklah, kakak setuju. Kapan rencananya dimulai?” tanya Alan.


“Hari ini, Kak. Kebetulan hari ini kan tanggal merah jadi sekolah libur. Bu Rena sekarang pasti sedang ada di rumahnya,” jawab Felisa.


“Oke, kalau begitu Kakak percaya kan semuanya sama kamu,” ucap Alan.


“Sip, Kak,” sahut Felisa sambil mengacungkan dua jempolnya.


Felisa dan Alan pun menyudahi sarapan pagi mereka.


“Oh ya, Kak. Semalam siapa yang mindahin Feli ke tempat tidur? Seingat Feli, Feli itu tidur di mobilnya Kak Abi deh?” tanya Felisa.


“Abi,” jawab Alan.


“Yang bener, Kak?” tanya Felisa yang tak percaya.


“Iya, bener. Memang kamu pikir tangan kakak yang digips ini bisa mindahin badan kamu yang berat itu?” tanya Alan.


“Enggak sih, tapi masa sih Kak Abi?” sahut Felisa dengan nada yang masih tak percaya.


“Beneran, Feli. Kakak enggak bohong. Abi yang sudah gendong kamu dan sepertinya...” ucap Alan menggantung.

__ADS_1


“Sepertinya apa, Kak? Jangan bikin penasaran deh!” sahut Felisa.


“Dia sudah mulai suka sama kamu,” ucap Alan sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Masa sih??” sahut Felisa masih tak percaya dengan perkataan kakaknya itu.


“Iya, cara dia semalam menatap kamu tuh beda Feli. Dan asal kamu tahu,” ucap Alan menggantung.


“Tahu apa?” tanya Felisa.


Alan pun membisikkan apa yang dilihatnya semalam pada Felisa. Seketika itu juga pipi Felisa tampak merona. Ia masih belum bisa percaya dengan apa yang diceritakan oleh kakaknya itu sebelum ia dapat memastikan sendiri kebenarannya.


***


Entah kenapa pagi ini Rena tampak terlihat gelisah dan sering sekali melamun. Berbagai pekerjaan yang dilakukannya pun selalu tidak berjalan dengan baik. Nasi goreng yang dibuatnya keasinan, jemuran yang dipakainya roboh, dan piring yang dicucinya pecah saat sedang mencuci piring.


“Kakak kenapa sih? Sepertinya lagi banyak yang dipikirin? Memang ada apa, Kak?” tanya Reni saat melihat Rena yang sedang melamun.


“Entahlah, Ren. Dari sore kemarin perasaan Kakak enggak enak. Kakak ngerasa gelisah sepanjang malam,” sahut Rena.


“Kok bisa, Kak? Apa sebelumnya ada kejadian yang mengusik pikiran Kakak?” tanya Reni.


Rena kembali teringat akan masalah yang terjadi antara dirinya dan Alan. Ia pun menceritakan semuanya pada adik bungsunya itu. Mendengar cerita kakak perempuannya itu Reni hanya bisa senyum-senyum menanggapinya. Karena ia sudah menduga itu semua saat pertama kali berjumpa dengan Alan.


“Kok kamu malah senyum-senyum sih Ren? Kamu senang ya... Kakakmu diperlakukan seperti itu?” keluh Rena.


“Bukan begitu, Kak. Aku hanya heran aja. Kalian sudah sama-sama dewasa, tapi kelakuan kalian persis seperti anak ABG,” ucap Reni.


“Masa Kakak enggak ngerasa sih kalau Kak Alan emang dari awal udah punya rasa sama Kakak?” tanya Reni menatap lekat wajah kakaknya.


“Yah.. Sebenarnya Kakak juga ngerasa sih, Ren. Tapi...” jawab Rena menggantung.


“Tapi apa, Kak? Apa Kakak masih takut untuk menjalin hubungan lagi dengan makhluk yang namanya laki-laki?” tanya Reni ketus.


“Entahlah, Ren,” jawab Rena.


“Kak, mau sampai kapan Kakak terus menutup hati Kakak?” ucap Reni sedih.


“Kamu kenapa sih Ren? Kenapa jadi bertanya seperti itu terus? Lagipula belum tentu Kak Alan benar-benar suka sama kakak. Toh, dia juga belum pernah mengatakannya,” jawab Rena.


“Kalau dia benar-benar mengatakannya bagaimana? Apa jawaban Kakak?” tanya Reni penuh selidik.


“Kalau dia benar-benar mengatakannya, maka Kakak akan menolaknya,” jawab Rena.


“Kenapa?” tanya Reni heran.


“Karena Kakak ingin mengetahui apakah perasaannya terhadap Kakak benar-benar tulus atau tidak? Atau dia hanya menyukai Kakak hanya karena ingin memenuhi kebutuhan syahwatnya semata sebagaimana tujuan awal Rayhan menikahi kakak,” jawab Rena.


Jawaban kakaknya itu membuat Reni terdiam dan tak bisa lagi memberikan komentarnya. Karena memang benar apa yang dikatakan oleh kakaknya. Kebanyakan laki-laki menikahi seorang perempuan hanya karena dorongan syahwat semata. Jarang ada laki-laki yang benar-benar tulus mencintai seorang wanita kecuali dalam kisah-kisah negeri dongeng atau novel fiksi semata.


Tak berapa lama setelah percakapan antara dua kakak beradik itu, suara ponsel Rena pun berdering, memaksa sang pemilik untuk segera mengangkatnya.

__ADS_1


Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim, Ha, Kho, Dal, Dza, Ra, Zai, Sin, Syin, Shad, Dha, Tha, Dzha,...(nada panggilan masuk ponsel Rena).


Setelah melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Rena pun menekan tombol hijau yang berada di ponsel itu memulai untuk percakapannya.


“Iya, halo,” sapa Rena pada si penelepon.


“Halo, Bu Rena. Assalamualaikum,” ucap si penelepon yang tak lain adalah Felisa.


“Waalaikumsalam, iya Felisa, ada apa?” tanya Rena.


“Bu Rena, hari ini ada acara enggak? Aku mau minta tolong sama Bu Rena,” ucap Felisa.


“Minta tolong? Minta tolong apa ya?” tanya Rena.


“Gini, Bu Rena, hari ini kan kakakku ulang tahun. Aku ingin sekali membuatkan sesuatu yang spesial buat kakakku dengan tanganku sendiri. Kira-kira Bu Rena mau enggak bantuin aku buat bikin bubur kacang hijau kesukaan kakakku?” tanya Felisa.


“Maksudnya?” tanya Rena bingung.


“Iya, maksudnya Bu Rena ke rumahku. Ajarin aku cara-cara membuatnya karena pembantuku di rumah sedang tidak ada. Bi Siti sedang menghadiri pernikahan anaknya di kampungnya,” jelas Felisa.


“Oh, begitu ya. Baiklah Ibu akan ke sana,” jawab Rena.


“Beneran, Bu?” tanya Felisa senang.


“Iya, beneran. Insyaallah jam 10-an Ibu datang ke sana. Sekarang kamu kirim alamat rumahmu saja,” ucap Rena.


“Baik, Ibu. Aku akan segera mengirim alamatku ke Ibu. Makasih ya, Bu. Ibu baik deh, mmmuuaah,” ucap Felisa.


“Iya, sama-sama,” sahut Rena yang tersenyum dengan tingkah Felisa.


“Kalau begitu udah dulu ya, Bu. Aku tunggu Ibu di rumah. Assalamualaikum..” ucap Felisa.


“Waalaikumsalam,” jawab Rena mengakhiri panggilan teleponnya.


Di rumah Alan, kakak beradik itu tampak tersenyum riang setelah mendengar jawaban dari Rena. Sesuai dugaan mereka, Rena pasti tidak akan tega menolak permintaan Felisa. Mereka tahu bahwa salah satu kelemahan dari Rena adalah sifatnya yang tidak tegaan melihat kesusahan orang lain. Itulah sebabnya Felisa menggunakan cara ini untuk mempersatukan kakak dan ibu guru kesayangannya itu.


***


Bersambung


Kira-kira cara Felisa berhasil enggak ya? 🤔


Kita tunggu saja di part selanjutnya...😉


Jangan lupa baca dan berikan dukungan terus pada author dengan melalui like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2