Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 79 Khawatir


__ADS_3

Tak lama setelah Naya mengucapkan kalimat terakhirnya itu. Alan pun lekas menutup ponselnya. Namun, saat ia akan menyimpan ponselnya kembali, ia benar-benar terkejut karena tiba-tiba seorang anak berlari di depannya dan hampir tertabrak mobil yang sedang dikendarainya itu. Refleks Alan segera membanting stir nya ke kiri dan...


Bugh!!


Mobil Alan menabrak sebuah pohon besar yang berada di pinggir jalan. Bagian depan mobilnya mengalami kerusakan yang cukup parah. Beruntung, Alan mengemudikan mobil itu dengan kecepatan sedang sehingga benturan yang diakibatkannya tidak terlalu parah. Ia pun masih bisa selamat dalam kecelakaan itu. Namun, tangan kanannya terlihat sedikit membiru sehingga sulit untuk digerakkan. Sepertinya, Alan mengalami patah tulang di bagian tangan kanannya itu.


Lama Alan berjuang menahan rasa sakit yang dirasakan oleh tubuhnya. Ia masih berusaha membebaskan dirinya dari keadan ini. Ia pun mencari ponselnya untuk meminta bantuan dari seseorang. Dengan sedikit bersusah payah akhirnya Alan mendapatkan ponselnya yang sempat terjatuh itu. Namun, sial baginya, saat kecelakaan itu terjadi ponselnya terjatuh cukup keras hingga menyebabkan ponsel itu pecah dan tidak dapat digunakan lagi.


“ Ya Tuhan, bagaimana ini? Di luar sedang hujan sangat deras. Rasanya tidak mungkin akan ada orang yang lewat tempat ini,” ucap Alan seraya memperhatikan keadaan jalanan yang terlihat sangat sepi.


“Hah,” Alan hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Kali ini satu-satunya yang bisa dilakukannya hanyalah menunggu seseorang yang bisa membantunya lepas dari keadaan ini. Ia pun merebahkan dirinya di kursi pengemudi. Memejamkan matanya secara perlahan-lahan sambil menikmati rasa sakit yang dirasakan pada bagian tangan kanannya itu.


***


Hujan deras pun terus membasahi isi bumi. Menciptakan genangan-genangan air di wilayah tak berpori. Memaksa penduduk bumi untuk tetap tinggal di dalam rumah agar terhindar dari derasnya kepungan air hujan.


“Hujannya makin deras, tapi kenapa Kak Alan masih belum pulang ya? Bukannya harusnya ia sudah pulang dari tadi?” ucap Felisa dengan nada cemas.


Diliriknya jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul 6 sore. Seharusnya Alan sudah sampai di rumah. Apalagi Nathan yang sempat ditelepon oleh Felisa, memberitahu Felisa bahwa Alan sudah pulang dari pukul 4 sore tadi.


Felisa terus menerus bolak-balik ke sana kemari. Entah kenapa dari pukul 5 sore tadi, Felisa merasakan kecemasan yang luar biasa akan keadaan kakak satu satunya itu. Hal itu jugalah yang mendorongnya untuk menelepon Nathan dan benar saja dua jam sudah berlalu Alan masih belum menampakkan bantang hidungnya.


Lagi-lagi Felisa berusaha menelepon Alan. Namun, ponsel Alan masih belum bisa dihubungi.


“Aduh... Kak Alan ke mana sih? Kenapa masih belum pulang juga? Ponselnya enggak aktif pula,” keluh Felisa cemas bercampur kesal.


“Ya Tuhan, lindungi kakakku di mana pun ia berada,” ucap Felisa.


Waktu terus berlalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Namun, Alan masih belum tampak juga keberadaannya.


“Sepertinya aku harus mencari Kak Alan,” ucap Felisa.


Felisa pun memakai jaket mantel dan tas selempang di tubuhnya. Ia segera meraih kunci mobil yang masih diletakkannya di atas buffet sejak siang tadi.


Dengan langkah terburu-buru, Felisa keluar dari rumahnya. Begitu sampai di teras depan rumahnya, karena kurang hati-hati ia menginjak lantai keramik yang basah akibat terkena semburan air hujan yang terbawa oleh angin. Felisa pun terpeleset dan beruntung saat dirinya sudah hampir jatuh, Abi berhasil menangkap tubuhnya, memeluknya erat dalam rangkulan tangannya yang kokoh. Sejenak keduanya terpaku, tak menyangka dengan kejadian yang baru saja mereka alami. Mereka begitu dekat hingga detak jantung keduanya dapat terdengar dengan jelas.


“Makasih, Kak Abi,” ucap Felisa seraya memperbaiki posisi tubuhnya menjauh dari pelukan Abi.


Abi tak membalas ucapan Felisa. Ia hanya menatap Felisa dengan tatapan heran saat melihat adik sahabatnya itu keluar dengan memakai jaket mantel dan tas selempang di tubuhnya.

__ADS_1


“Kamu mau ke mana?” tanya Abi kemudian.


“Aku mau mencari Kak Alan,” jawab Felisa.


“Mencari ke mana? Memang Alan masih belum pulang?” tanya Abi kaget.


“Belum, Kak. Kakak sendiri kenapa kemari?” tanya Felisa.


“Aku juga mencari kakakmu karena dari tadi aku telepon tidak diangkat,” jawab Abi.


“Sama, teleponku juga tidak diangkat sepertinya ponselnya Kak Alan sedang bermasalah,” ucap Felisa.


“Kalau begitu kita cari sama-sama saja. Kamu naik ke mobilku,” sahut Abi.


Felisa pun menuruti perkataan Abi. Ia pun membuka pintu belakang mobil Abi.


“Kenapa di belakang? Kamu pikir aku supir kamu apa?” sahut Abi saat melihat Felisa membuka pintu belakang mobilnya.


Tanpa menyahuti perkataan Abi, Felisa pun menutup kembali pintu belakang mobil. Lalu, beranjak membuka pintu depan dan di samping Abi.


Dari samping Abi memperhatikan Felisa yang nampak berbeda dari biasanya. Gadis di sampingnya ini biasanya terlihat bawel dan tidak akan terima begitu saja kalau Abi menyuruh-nyuruh dia semaunya. Ia pasti akan melawan apalagi jika nada bicara Abi terdengar tidak ramah.


“Kamu sangat khawatir sama Kakakmu ya?” tanya Abi.


“Jangan khawatir! Aku yakin Alan pasti baik-baik saja,” ucap Abi lembut.


“Iya, semoga saja,” sahut Felisa yang kemudian menoleh ke arah Abi.


Tumben manusia es ini sekarang bicaranya terdengar lebih lembut. Ada angin apa? Semoga saja dia lebih sering seperti ini (ucap Felisa dalam hati).


Abi terus melajukan mobilnya sambil memperhatikan keadaan jalan yang mereka lewati. Begitu pula dengan Felisa yang kini tengah berada di sampingnya.


Di tengah perjalanan, Felisa sekilas melihat mobil yang sama persis dengan mobil milik kakaknya menabrak sebuah pohon besar yang berada di pinggir jalan.


“Stop! Stop! Kak Abi berhenti!” seru Felisa.


“Ada apa Feli?” tanya Abi menghentikan laju kendaraannya.


“Sepertinya itu mobil Kak Alan,” sahut Felisa menunjuk ke tempat yang baru saja mereka lewati.

__ADS_1


Abi pun menengok ke arah tempat yang ditunjuk Felisa.


“Astaga, benar. Itu mobil Alan. Kenapa bisa sampai seperti itu?” sahut Abi yang terkejut melihat mobil Alan menabrak sebuah pohon besar. Ia pun segera memundurkan mobilnya dengan perlahan. Lalu mengajak Felisa untuk keluar dari mobil itu. Mereka pun menghampiri tempat terjadinya kecelakaan itu.


“Kak Alan,” teriak Felisa saat melihat Kakaknya berada dalam mobil dengan wajah yang pucat dan tangan kanannya yang membiru. Mendengar teriakan adiknya itu, Alan pun membuka matanya dengan perlahan.


“Syukurlah, kalian datang juga. Aku kira aku akan tetap di sini sampai besok,” sahut Alan saat melihat Felisa dan Abi sudah datang menjemputnya.


Abi pun mengeluarkan Alan dari dalam mobilnya. Memapahnya hingga sampai ke dalam mobil milik Abi. Lalu, mendudukannya di kursi penumpang bagian belakang. Ia pun menelepon bengkel untuk mengurus mobil Alan yang rusak akibat kecelakaan tunggal yang baru saja menimpa Alan.


“Kenapa bisa sampai seperti ini, Kak?” tanya Felisa yang kali ini pindah ke belakang duduk di samping Alan.


“Tadi ada anak kecil lewat di depan mobil kakak secara tiba-tiba. Jadi, kakak terpaksa langsung membanting stir ke arah kiri dan terjadilah kecelakaan ini,” ucap Alan.


“Terus tadi kenapa enggak langsung menghubungi Feli,” tanya Felisa.


“Ponsel kakak rusak karena terjatuh waktu kecelakaan tadi,” jawab Alan.


“Tapi Kakak enggak apa-apa, kan?” tanya Felisa khawatir.


“Sepertinya tidak, hanya tangan kanan kakak sakit sekali?” keluh Alan.


“Kalau begitu sekarang kita ke rumah sakit untuk memeriksa tangan Kakak ya?” ajak Felisa.


Abi pun mengantar Felisa dan Alan ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Alan pasca terjadinya kecelakaan. Sesampainya di rumah sakit, Alan pun diperiksa oleh dokter yang sedang berjaga saat itu. Melewati beberapa pertanyaan yang diajukan oleh dokter serta beberapa tes agar benar-benar dapat dipastikan kondisi Alan baik-baik saja.


***


Bersambung


Kira-kira kondisi Alan seperti apa ya? Apa benar hanya patah tulang saja?


Baca dan simak terus lanjutan ceritanya.


Jangan lupa juga, dukung terus author dengan memberikan like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏🙏


.


__ADS_2