
Jarum jam bergulir menuju ke angka 10, mengingatkan Rena akan janjinya kepada Felisa. Ia pun mulai mempersiapkan dirinya dengan penampilan seadanya. Penampilan sederhana, namun tetap memberikan daya tarik dan pesona tersendiri untuk ibu yang sudah memiliki dua anak ini.
Saat Rena hendak memesan OJOL (aplikasi ojeg on-line), sebuah mobil berhenti di halaman depan rumahnya. Mobil sedan berwarna merah yang diketahui Rena milik Felisa, murid SMP yang tadi meminta Rena untuk datang ke rumahnya. Felisa turun dengan menebar senyum di wajahnya saat berjumpa dengan Rena.
“Bu Rena udah siap?” tanya Felisa.
“Sudah, kamu--,” ucap Rena menggantung.
“Iya, Bu. Aku kemari sengaja buat jemput Ibu karena aku enggak enak kalau Ibu harus berangkat sendirian. Biar bagaimana pun aku kan yang meminta tolong Ibu, jadi sudah selayaknya aku jemput kemari,” tutur Felisa.
“Ya sudah, kalau begitu tunggu sebentar. Ibu pamit sama adik dan anak-anak Ibu dulu atau kamu mau ke dalam dulu?” tanya Rena.
“Enggak usah, Bu. Aku tunggu di sini aja,” sahut Felisa.
Rena pun berpamitan pada adik dan kedua anaknya yang sekarang sedang asyik menonton tv di ruang keluarga yang juga berfungsi sebagai ruang tamu.
“Kakak pergi dulu ya, Ren. Kamu tolong jaga anak-anak di rumah,” ucap Rena.
“Iya, Kak. Hati-hati di jalan,” sahut Reni.
"Iya," jawab Rena.
Setelah berpamitan, Rena segera pergi meninggalkan rumahnya bersama dengan Felisa.
***
Tak lama berselang, sampailah Rena ke rumah Felisa yang sebenarnya rumah milik Alan. Rumah yang dari luar terkesan sederhana. Namun, tampak mewah begitu sampai di dalam. Dengan ragu Rena pun melangkahkan kakinya ke dalam.
“Sepi sekali, di mana Kakakmu?” tanya Rena.
“Oh, Kakak lagi di dalam kamarnya lagi istirahat. Kebetulan kemarin Kakak baru kecelakaan,” ucap Felisa.
“Kecelakaan?Kecelakaan apa?” tanya Rena.
“Kecelakaan tunggal, Bu. Kemarin, saat Kakak sedang menyetir tiba-tiba saja ada anak kecil yang melintas di depannya. Itulah sebabnya Kakak membanting stir nya ke kiri dan menabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan itu,” tutur Felisa.
“Ya Tuhan, lalu bagaimana keadaan kakakmu sekarang? Apa semua baik-baik saja?” tanya Rena khawatir.
Bu Rena khawatir banget... Gimana nanti reaksi Bu Rena ya kalau dia tahu kakakku itu Kak Alan?” (ucap Felisa dalam hati).
“Felisa?” tanya Rena lagi karena ia masih belum menemukan jawaban atas pertanyaannya tadi.
“Alhamdulillah, semua baik-baik saja, Bu. Hanya tangan kanannya saja patah, jadi untuk saat ini dia tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Makan pun disuapin, Bu. Itulah sebabnya Feli meminta Mama untuk bantu Feli di sini,” ucap Felisa.
“Jadi Mamamu mau datang kemari ya?” tanya Rena.
“Iya, karena Feli kan tidak mungkin mengurus Kakak sendirian. Apalagi Feli juga harus mengajar,” jawab Felisa.
“Emang berapa lama pembantumu izin, Feli? Lalu di mana suami kakakmu?” tanya Rena yang hingga saat ini masih belum tahu kalau Alan adalah kakaknya Feli.
“Kakakku itu laki-laki Bu Rena dan dia belum punya istri. Sedangkan Bi Siti, pembantuku, izin kurang lebih sekitar satu minggu,” jawab Felisa.
“Oh, begitu. Ya sudah, sekarang tunjukan dapurmu! Kita mulai buat buburnya sekarang saja,” sahut Rena.
__ADS_1
“Bu Rena enggak istirahat dulu?” tanya Felisa.
“Enggak perlu,” jawab Rena ramah.
Felisa pun mengajak Rena ke dapurnya. Mereka mulai melaksanakan misi mereka yakni membuat bubur kacang hijau, kesukaan Alan. Kegiatan dimulai dengan mencuci bersih kacang hijau. Lalu mendidihkan air. Setelah air mendidih kacang hijau, jahe, dan pandan dimasukkan secara bersama-sama.
Kacang hijau dimasak hingga kulitnya pecah dan empuk. Setelah itu, barulah gula merah, gula pasir, dan garam ditambahkan sebagai penambah cita rasa. Setelah gula merah larut, masukan santan secara perlahan dan tunggu hingga mendidih. Bubur kacang hijau ala chef Rena dan Felisa pun siap disajikan.
“Hemm... Kayaknya enak, Bu,” ucap Felisa saat menghirup aroma yang keluar dari bubur kacang hijau yang telah dibuatnya bersama Rena.
“Coba saja,” ucap Rena.
“Masih panas, Bu. Nanti saja kalau sudah agak dingin,” jawab Felisa.
Rena dan Felisa pun menuangkan bubur ke dalam beberapa mangkuk. Lalu menyajikan bubur tersebut di atas meja makan.
Saat sedang sibuk menyajikan bubur, ponsel Felisa pun berdering. Dilihatnya nama di layar ponsel itu. Seulas senyum tampak di wajah manisnya.
“Iya, halo! Assalamualaikum, Mah,” ucap Felisa.
“Waalaikumsalam, Sayang. Mamah sudah sampai di depan perumahan kakakmu nih, tapi ban mobil Mama kempes. Kamu bisa enggak jemput Mama ke sini?” sahut Mama Felisa.
“Iya, Mah. Nanti Felisa jemput ke sana. Mama tunggu aja di situ,” ucap Felisa.
“Baiklah, cepat ya!” jawab Mama.
“Oke, sekarang juga Felisa berangkat,” sahut Felisa.
“Kalau begitu Mama tutup dulu ya... Assalamualaikum,” sahut Mama.
Ibu dan anak itu pun mematikan sambungan telepon mereka.
“Bu, aku jemput Mama bentar ya.. Ibu jangan pulang dulu,” pinta Felisa.
“Baiklah,” sahut Rena, meski sesungguhnya ia tidak merasa nyaman kalau harus tinggal di rumah itu sendirian. Tapi, ia juga tidak enak untuk menolak permintaan muridnya itu.
Felisa pun berpamitan pada Rena. Namun, bukan Felisa namanya kalau keluar rumah begitu saja. Ia memulai aksi jahilnya. Pintu depan rumah yang ditempatinya, ia kunci dari luar.
“Hehehe.. Maaf, ya Bu Rena. Ini semua Feli lakukan supaya Bu Rena enggak kabur dan bisa berbaikan dengan Kak Alan,” ucap Felisa.
Setelah melakukan aksi jahilnya, Felisa segera meluncur membawa mobilnya untuk menjemput sang ibu yang kini tengah menunggunya depan perumahan. Namun, sebelum ia membawa mobilnya lebih jauh, ia teringat sesuatu.
Feli pun menepi kan mobilnya sebentar. Lalu, menuliskan sebuah pesan yang ia kirimkan kepada Alan.
Kak, sekarang saatnya Kakak beraksi. Bu Rena sekarang sedang berada di dapur sendirian. (Felisa)
Oke, baiklah. Terima kasih adikku (Alan)
Sama-sama, Kakak. Selamat berjuang dan semoga berhasil (Felisa)
Siap !! (Alan)
Setelah menerima pesan dari Felisa, Alan pun mulai melakukan aksinya. Ia turun ke bawah menemui Rena dengan gaya yang seolah-olah tidak mengetahui kalau Rena berada di rumah itu.
__ADS_1
“Felisa,” seru Alan.
Hal itu membuat Rena yang berada di dapur tersentak kaget. Bukan hanya karena bunyi suara yang tiba-tiba didengarnya, namun juga karena suara itu sama persis dengan suara seseorang yang sangat dikenalinya. Suara dari laki-laki yang semalam sempat mengganggu tidurnya.
“Suara itu, kok sama persis dengan Kak Alan ya? Apa mungkin itu hanya halusinaniku saja?” gumam Rena.
Jantung Rena pun seolah berdetak lebih cepat seiring dengan langkah kaki yang kian mendekat ke arahnya. Rena tampak membelalakkan matanya, saat melihat sosok Alan berada di depan matanya. Alan yang kini tampil seadanya dengan celana jeans dan kaos seragam bola Argentina yang tampak begitu pas di badannya. Kaos itu memang sengaja dipakainya untuk mengembalikan kenangan yang pernah ada di antara dirinya dengan Rena.
“Kak Alan??” sapa Rena kaget.
“Rena,” sahut Alan yang juga berpura-pura kaget dengan keberadaan Rena di rumah itu.
“Kenapa kamu bisa di sini?” tanya Alan.
“A-aku diminta Felisa kemari. A-apa Kak Alan itu kakaknya Felisa?” tanya Rena gugup.
“Iya, Felisa memang adikku. Sekarang di mana dia?” tanya Alan pura-pura.
“Dia bilang dia mau menjemput ibu kalian di depan perumahan sana,” sahut Rena yang sudah terdengar lebih tenang.
“Oh, Mama sudah datang,” ucap Alan tenang.
Ia pun menarik kursi meja makan yang berada di dapurnya. Sedangkan Rena, hanya bisa memperhatikan gerak tubuh Alan.
“Rena, boleh aku minta tolong kepadamu,” pinta Alan.
“Apa?” tanya Rena.
“Bisakah kau tolong suapi aku,” ucap Alan sambil memandang tangannya yang sedang digips akibat patah tulang yang dideritanya.
Rena cukup kaget mendengar permintaan Alan itu. Namun, ia pun tak kuasa untuk menolak permintaan Alan karena melihat kondisi Alan yang memang tak memungkinkan dirinya untuk bisa makan sendiri.
Perlahan Rena menyuapi satu sendok bubur yang baru saja dibuatnya tadi ke mulut Alan.
“Aw, panas Ren,” pekik Alan.
“Oh, maaf. Aku lupa kalau buburnya memang masih panas,” ucap Rena.
Kali ini Rena meniup dulu bubur itu sebelum ia memasukkan kembali bubur tersebut ke mulut Alan. Alan begitu senang dengan perhatian yang diberikan wanita yang dicintainya itu kepadanya. Meski, ia tak bisa memungkiri, saat mereka dekat selalu ada gejolak perasaan yang muncul dalam dirinya yang membuatnya sukar untuk mengontrol diri. Terlebih saat bibir Rena menempel di sendok bubur miliknya, membuatnya ingin sekali menyentuh bibir itu. Namun, ia berusaha keras untuk bisa menahan perasaan itu karena ia tak ingin hubungannya dengan Rena kembali memburuk.
***
Bersambung
Aduh, Mamanya Alan bakal datang nih.. 😁
Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ya..🤔
Kita tunggu saja di part selanjutnya...😉😁😁
Jangan lupa baca dan berikan dukungan terus pada dengan melalui like, vote, dan komennya😊😊😊
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
__ADS_1
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘
Terima kasih 🙏🙏🙏