
Rena mulai kembali menapaki jalan yang kemarin dilaluinya, menuju sebuah gedung sekolah yang megah dan elit. Ia berharap sekolah itu akan menjadi awal kisah barunya menuju masa depan yang lebih cerah. Setelah cukup lama ia mengistirahatkan dirinya dari aktivitasnya sebagai seorang guru.
Seperti kemarin, saat sampai di depan gerbang sekolah yang megah itu, Rena harus melaporkan dirinya ke pos penjagaan untuk mendapatkan kartu pengunjung sebagai syarat masuk ke area lingkungan sekolah tersebut. Setelah mendapatkan kartu pengunjung, Rena pun melangkahkan kakinya menuju gedung yang sama, tempat ia dan Dewa bertemu kemarin.
Bugh!!
Tanpa sengaja, Rena menabrak seseorang yang berjalan dari arah yang berlawanan dengan dirinya. Sosok itu memiliki badan yang cukup kekar hingga membuat Rena dan berkas-berkas yang dibawanya jatuh ke lantai.
“Ya ampun, maaf,” sahut laki-laki berbadan kekar itu seraya membantu Rena merapikan kembali berkas-berkas milik Rena yang tadi berjatuhan di lantai.
“Ya, enggak apa-apa,” ucap Rena datar tanpa menoleh sedikit pun ke arah laki-laki yang menabraknya itu.
Rena lalu merapikan berkas-berkas yang berserakan itu. Setelah semua berkas berhasil dirapikan kembali oleh Rena, ia pun melanjutkan perjalanannya, begitu pula dengan laki-laki yang tadi menabraknya.
“Pak Arka, tunggu,” sahutan seorang wanita membuat Rena dan laki-laki yang tadi menabrak Rena itu mengalihkan pandangan mereka ke arah suara yang memanggil nama laki-laki tersebut.
Arka? Apakah dia Arka yang sama? (pikir Rena)
Rena membalikkan badannya untuk melihat dengan jelas sosok laki-laki yang barusan dipanggil oleh Maya.
Astaga, benar, itu kan Kak Arka? Arkana Prayudha (batin Rena).
“Iya, ada apa Bu Maya?” tanya Arka sambil berjalan menghampiri wanita yang tadi memanggilnya.
“Bapak diminta ke ruangan Kepala Sekolah,” sahut Maya.
“Oh, baiklah saya akan ke sana, terima kasih,” ucap Arka berlalu meninggalkan Rena yang diam terpaku melihat sosok Arka.
Kenapa lagi-lagi aku bertemu dengan orang-orang dari masa laluku ya? Ada apa ini? Belum lama ini aku bertemu dengan Kak Alan, kemudian Kak Dewa, sekarang Kak Arka, lalu setelah ini... Apa aku juga akan bertemu dengan Kak Abi, ya? Ya, ampun mungkin benar ungkapan yang mengatakan kalau dunia ini sempit (batin Rena tak percaya dengan apa yang dijumpainya akhir-akhir ini).
“Bu Rena,” ucap Maya yang mengembalikan pikiran Rena yang sempat melayang entah ke mana.
“Oh, maaf, Bu Maya, ada apa?” sahut Rena.
“Ibu sudah ditunggu Pak Dewa di ruangannya,” sahut Bu Maya dengan memasang senyumnya yang ramah.
“O-oke, baiklah terima kasih,” sahut Rena.
Rena pun melangkahkan kakinya menuju ruangan Dewa. Belum sempat, ia mengetuk pintu ruangan itu, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka..
“Astaga, Bapak benar-benar mengagetkan saya saja,” sahut Rena saat melihat sosok Dewa yang berdiri di hadapannya.
“Oh, maaf, Bu Rena, saya tidak tahu kalau Ibu sudah berada di sini. Kalau begitu, mari ikut saya,” ajak Dewa yang kemudian berjalan di depan Rena.
“Ke mana Pak?” tanya Rena bingung.
__ADS_1
“Jungle Fun,” jawab Dewa asal sambil terus melangkah.
“Ha??!!” seru Rena.
Dewa tersenyum melihat reaksi Rena yang tampak lucu baginya. Ia pun menghentikan langkah kakinya dan menatap lembut wajah wanita yang kini tengah berada di hadapannya. Hal itu membuat Rena sedikit salah tingkah.
“Ya ampun, Bu Rena, kenapa kaget begitu ?” tanya Dewa.
“Abis Bapak, tiba-tiba mengajak saya ke Jungle Fun?” tanya Rena dengan raut wajah yang begitu menggemaskan, yang membuat Dewa tak lagi bisa menahan tawanya.
“Hahaha, Bu Rena, kamu tuh masih saja lucu seperti dulu, ya?” sahut Dewa yang masih terus tertawa melihat wajah Rena yang dianggapnya sangat menggemaskan.
“Apanya yang lucu sih Pak? Memang salah ya, kalau saya kaget karena Bapak tiba-tiba mengajak saya ke Jungle Fun?” tanya Rena.
“Jadi, Bu Rena benar-benar menanggapi ucapan saya tadi dengan serius?” tanya Dewa.
“Loh maksud Bapak?” tanya Rena bingung sekaligus malu.
“Saya tadi hanya asal ucap Ibu..,” sahut Dewa memanjangkan kata ‘ibu’.
“Oh...., begitu. Jadi, sekarang Bapak mau mengajak saya ke mana?” tanya Rena sambil menahan rasa malunya karena sudah salah menanggapi maksud Dewa.
“Iya, ke ruang kepala sekolah dong, Bu Rena. Memang Ibu kemari mau ngapain? Ibu mau tes wawancara bukan?” sahut Dewa menekan kata terakhir.
“Oh, iya, saya lupa. Maaf, Pak, saya benar-benar kurang fokus tadi, mungkin karena saya sedang haus," jawab Rena yang mulai mengingat maksud kedatangannya.
Rena dan Dewa pun melanjutkan perjalanan mereka menuju ke ruang kepala sekolah yang berada di lantai tiga gedung itu.
“Memang Ibu belum sempat minum tadi?” tanya Dewa.
“Bagaimana sempat minum Pak, Bapak kan tadi langsung mengajak saya kemari?” jawab Rena.
“Ya sudah, kalau begitu ikut saya,” sahut Dewa.
“Ke mana?” tanya Rena bingung.
“Kok, pake tanya lagi?” sahut Dewa.
“Ya iyalah, jelas saya tanya, Bapak bicaranya enggak jelas. Lagian dari tadi tuh Bapak cuma bilang ikut, ikut, ikut,.. Lah, kan dari tadi juga saya memang ikutin Bapak. Ngapain juga Bapak pake nyuruh saya ikutin Bapak lagi,” sahut Rena.
“Aduh, memang susah ya, kalau ngomong sama guru bahasa. Harus jelas dan benar,” sahut Dewa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi, mau ke mana kita?” sahut Rena menirukan gaya ‘Dora’ salah satu tokoh kartun kesukaan putrinya.
“Ke sana," sahut Dewa menunjuk ke ujung lorong di mana di ujung lorong tersebut tersedia sebuah dispenser yang dilengkapi dengan beberapa mug plastik di sisi kanan dan kirinya.
__ADS_1
Sekolah tersebut memang menyediakan beberapa dispenser di setiap lorong ruangan sebagai bagian dari bentuk pelayanan kepada siswa agar siswa tidak kekurangan air minum.
Rena pun mengikuti Dewa dan berhenti tepat di sebuah dispenser yang tadi ditunjuk oleh Dewa. Dewa pun menuangkan air minum untuk Rena.
Ya ampun, Kak Dewa, masih saja seperti dulu, baik dan perhatian (batin Rena saat menerima air minum dari Dewa).
Rena lalu duduk di sebuah kursi yang letaknya tak jauh dari tempat dispenser itu berada.
“Gimana? Masih haus?” tanya Dewa.
"Enggak, Pak, terima kasih,” jawab Rena.
“Yang bener? Jangan sampai gara-gara Ibu kehausan seperti tadi, tes wawancaranya jadi gagal karena Ibu kurang fokus dalam menjawab pertanyaan wawancara," ucap Dewa.
“Iya, Pak benar, saya sudah tidak haus lagi,” sahut Rena meyakinkan.
“Kalau begitu, mari kita lanjutkan perjalanan kita ke ruang kepala sekolah,” ajak Dewa.
"Ya sudah, mari Pak," sahut Rena.
Rena dan Dewa pun menyimpan mug gelas yang tadi digunakan mereka untuk minum. Lalu, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka hingga sampai di depan sebuah pintu ruangan yang bertuliskan 'Ruang Kepala sekolah'.
Tok.. tok..tok...
Suara ketukan pintu seolah seirama dengan suara jantung Rena yang kali ini berdetak lebih cepat. Perasaan cemas mulai menghinggapi Rena membuat keringat dingin ikut mengalir di tubuhnya.
Layaknya pelamar pada umumnya, Rena pun merasakan kegugupan yang sama saat akan diwawancarai oleh atasannya. Meski Dewa sudah berkali-kali meyakinkan dirinya agar tidak perlu cemas, tapi tetap saja perasaan itu tak bisa terusir dengan mudah terutama saat mereka sudah sampai di depan pintu ruangan milik kepala sekolah, orang yang akan mewawancarainya. Justru yang ada, perasaan itu malah semakin menguasainya.
Tenang Rena, tenang semua akan baik-baik saja (pikir Rena meyakinkan hatinya)
“Masuk,” suara seseorang memanggilnya dari dalam ruangan itu.
Rena dan Dewa kemudian masuk ke ruangan tersebut setelah mendengar sahutan dari si pemilik ruangan. Di sana ia melihat Arka yang sedang duduk berada di depan meja kepala sekolah. Sedangkan, kepala sekolah yang ingin dijumpai Rena tampak sedang sibuk dengan laptopnya. Jika dari arah samping, wajah kepala sekolah itu memang tampak tak asing bagi Rena. Lalu ia pun melirik ke papan nama yang berada di atas meja kepala sekolah tersebut yang bertuliskan: Muhammad Faizal, M.Pd.
***
Bersambung
Halo, pembaca setiaku, gimana? Tebakan kamu benar, Enggak??
Masih ingatkan sama sosok ini?
Jika lupa baca dulu part-part sebelumnya
Jangan lupa, tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, dan votenya. Author sayang kalian semua ....
__ADS_1
Semoga sehat selalu ❤️❤️❤️