
Gumpalan awan putih menyelinap di antara birunya warna langit yang membentang di seluruh kawasan Kampus Pelangi. Kampus yang selama ini menjadi tempat pertemuan antara Alan dan Rena, kini disinggahi oleh beberapa mahasiswa baru dari angkatan yang berbeda.
Di sepanjang lorong kampus itu, kini telah tampak seorang gadis manis berparas imut, berwajah mirip Putri Titian. Ia berjalan dengan sedikit mengendap-ngendap ke arah seorang laki-laki yang berdiri membelakanginya.
Duar!!
"Ya ampun, FELI!!" sahut Alan yang tampak kaget dengan kelakuan Felisa, adik perempuannya itu. Kemudian, ia pun membalikkan badannya, mengulas senyumnya yang mempesona dan mampu memikat siapa pun kaum hawa yang menyaksikannya.
"Kamu itu sudah jadi asisten dosen tapi kelakuanmu masih saja seperti anak kecil," sahut Alana menggelengkan kepala.
"Hehehe...Maaf, Kak. Abis aku seneng sih godain Kakakku yang paling tampan ini," sahut Felisa.
"O, ya? Bukannya kata kamu Kak Abi yang paling tampan?" goda Alan.
"Eits, jangan salah! Tadi kan aku bilangnya kalau aku senang godain kakakku yang paling tampan. Kakakku ya, kak Alan, Ka-kak-ku," sahut Felisa menekan kata 'kakakku'.
"Iya, iya, terus kalau Kak Abi apa dong ?" tanya Alan.
"Kalau Kak Abi ya.. tentu saja laki-laki yang paling tampan sejagat raya," jawab Felisa yang begitu menyanjung Abi, membuat Alan mencibik kan bibir ke arahnya.
"Ya, ampun, Kak, panjang umur! Orang yang kita bicarakan datang kemari, Kak," sahut Felisa dengan rona wajah penuh kebahagiaan saat melihat Abi melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alan dan Felisha.
"Pagi, Pak Abimanyu," sapa Felisha dengan memasang senyum yang lebar.
"Pagi," sahut Abi tanpa menoleh sedikit pun apalagi tersenyum. Bahkan, ia terus berjalan meninggalkan Alan dan Felisha.
"Ya, ampun, Kak, temanmu itu benar-benar kutub es, ya? Untung aku suka sama dia, kalo nggak sudah aku lempar buku ini ke mukanya," sahut Felisha sambil memamerkan buku yang dipegangnya.
Alan hanya tersenyum menanggapi kicauan adik perempuannya tentang sahabatnya Abi. Ia memang cukup mengenal karakter Abi. Abi memang bukan pribadi yang ramah bahkan ia dikenal sebagai sosok laki-laki yang dingin, terutama setelah kepergian Nena.
Sejak Nena meninggal, Abi menjadi lebih dingin terhadap perempuan. Ia juga tak pernah menjalin kasih dengan wanita mana pun bahkan setelah 15 tahun kepergian Nena, wanita yang begitu dicintainya.
Itulah sebabnya, Alan sangat mendukung keputusan adik perempuannya, untuk tidak menyerah dalam upaya mengejar cinta Abi. Ia tahu Abi laki-laki yang setia dan penuh kasih, namun hatinya yang seperti es sepertinya memang sulit untuk mencair.
"Pagi, Bu Feli, Pagi Pak Alan," sapa laki-laki berkaca mata tebal yang bernama Nathan dengan memamerkan senyum yang cukup lebar.
"Pagi, Pak Nathan," sahut Alan dan Felisa. hampir bersamaan.
"Bu Feli, ini," sahut Nathan seraya menyodorkan sebungkus coklat pada Felisa.
"Makasih, Pak Nathan," sahut Felisa menerima coklat itu dari tangan Nathan.
Setelah Felisa menerima coklat darinya, Nathan pun berlalu meninggalkan Alan dan Felisa dengan perasaan senang yang tergambar dari raut wajahnya.
"Ehem, yang dapat coklat dari penggemar," goda Alan pada Felisa yang sedari tadi memperhatikan coklat yang diberikan Nathan kepadanya.
"Apaan sih Kak Alan, aku tuh cuma heran, ternyata Nathan bener-bener memenuhi ucapannya ya.. kalau dia akan memberikan coklat kesukaanku ini tiap hari," sahut Felisa.
"Itu berarti dia benar-benar serius suka sama kamu dan coklat itu sebagai bukti kalau dia memang benar-benar menaruh perhatian sama kamu" sahut Alan.
"Masa?" tanya Felisa.
"Iya, jadi? Bagaimana?" tanya Alan.
"Bagaimana apanya?" tanya Felisa.
__ADS_1
"Apa kamu akan terus mengejar cintanya Abi? Sementara sudah jelas dia nggak peduli sama kamu. Berbeda dengan Nathan yang jelas-jelas menunjukkan perhatiannya sama kamu," sahut Alan.
"Iya, sih Kak, Nathan emang perhatian banget sama aku. Bahkan, ke hal terkecil seperti coklat ini pun dia bisa tau. Tapi, sorry ya, Kak, aku tuh tipe cewek setia. Sekali sudah mencintai seorang pria, tak kan mudah hatiku mengalihkannya pada yang lain. Bila perlu aku akan terus mengejarnya hingga aku benar-benar mendapatkan cintanya," sahut Felisa.
"Ya, ampun, adik kakak ini udah makin besar dan makin pintar bicara cinta rupanya," sahut Alan sambil mencubit pipi Felisa gemas.
"Aw, sakit Kak," keluh Felisa memegang pipi bekas cubitan Alan.
"Baiklah, sebagai Kakak, aku akan selalu mendukung apa pun keputusan adikku ini. Siapa pun pria yang nantinya akan kau pilih, Kakak berharap dia akan benar-benar menyayangimu," sahut Alan.
"Terima kasih, Kak.. Aku juga berdoa agar Kakak bisa segera menemukan cinta sejati Kakak yang akan menemani Kakak di hari tua nanti dan memberikan Kakak keturunan seperti yang diharapkan Mama selama ini," sahut Felisa seraya memeluk Alan.
Alan hanya tersenyum menanggapi perkataan adiknya, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan adiknya sendirian di sana.
***
Alan memasuki ruangan tempat ia bekerja. Betapa terkejutnya ia ketika melihat ternyata ada Abi yang sedang duduk di kursi tamu yang berada di depan ruangannya. Kursi itu dikhususkan untuk para tamu yang ingin menemuinya.
"Astaga Abi, ternyata kau di sini," sahut Alan.
"Iya, dari tadi aku menunggumu Pak Ketua. Ada amanat dari Pak Rektor yang ingin aku sampaikan kepadamu," sahut Abi.
"O,ya, apa itu?" tanya Alan yang duduk di dekat Abi.
"Pak Rektor ingin kampus kita mengadakan acara reuni akbar untuk 1 dekade," jawab Abi.
"Sungguh? Angkatan tahun berapa saja?" tanya Alan.
"2001 hingga 2010," jawab Abi singkat.
"Benar sekali. Itulah sebabnya kenapa Pak Rektor menunjuk kita sebagai panitia penyelenggaranya," sahut Abi.
"O, ya? Lalu rencana kamu sekarang apa?" tanya Alan.
"Aku ingin mengumpulkan beberapa teman kita yang lain untuk ikut menjadi panitia dalam acara ini," jawab Abi.
"Bagus, tak masalah aku setuju dengan itu," sahut Alan.
"Kalau begitu bisakah kau membantuku untuk memilih siapa saja teman-teman kita yang sekiranya dapat membantu kita dalam acara ini?" tanya Abi.
"Tentu, bagaimana kalau Faiz, Iyus, Dewa, Kevin, dan Arka?" tanya Alan.
"Oke, aku setuju denganmu," sahut Abi.
"Lalu kapan kita bisa bertemu untuk membicarakan kegiatan ini dengan mereka?" tanya Alan.
"Lebih cepat lebih baik, karena Pak Rektor ingin acaranya dimulai awal bulan ini," sahut Abi.
"Apa? Itu artinya acaranya masih sebulan lagi?" tanya Alan.
"Benar sekali, tapi kau kan tahu bagaimana rektor baru kita?" sahut Abi.
"Ya, aku tahu, rektor baru kita ini memang cukup spesial, dia selalu ingin semuanya berjalan dengan sempurna tanpa cela sedikit pun. Kalau begitu bagaimana kalau besok sore saja di rumahku? Kebetulan besok kan hari Sabtu, pastinya teman-teman kita punya waktu senggang di hari itu," tanya Alan.
"Baiklah, aku setuju denganmu, kau atur saja," sahut Abi.
__ADS_1
"Oke, tak masalah. Ada lagi?" tanya Alan.
Abi pun berpikir sejenak.
"Sepertinya tidak ada lagi. Kalau begitu sekarang aku kembali ke ruanganku dulu. Terima kasih, ya, Lan," sahut Abi.
"Oke, sama-sama," sahut Alan.
Abi pun beranjak dari tempat duduknya, bermaksud untuk meninggalkan ruangan Alan. Namun, saat ia hendak keluar dari ruangan itu, langkah kakinya terhenti. Ia seperti teringat akan sesuatu yang ingin ditanyakan nya sedari tadi kepada Alan.
"O, ya, Lan, apa kamu mengenal Rena?" tanya Abi.
Degh!
Kenapa Abi tiba-tiba menanyakan Rena? (pikir Alan)
"Kenal, memangnya kenapa?" tanya Alan.
"Apa dia teman kampus kita juga?" tanya Abi karena ia tidak begitu mengingat Rena.
"Iya, dia dulu adik kelas kita. Dia juga termasuk salah satu mahasiswa angkatan 2001 hingga 2010," jawab Alan.
"Benarkah, sepertinya kau sangat mengenalnya?" tanya Abi menatap Alan lekat.
"Iya, aku memang cukup mengenalnya dan kurasa yang lain pun juga sama," sahut Alan.
"O, ya?" tanya Abi penasaran karena ia masih belum mengingat tentang Rena.
"Iya, memang kau lupa. Dia itu kan gadis yang ikut bermain teater dalam acara OSPEK fakultas kita," sahut Alan.
Abi pun berusaha mengingat tentang kejadian itu.
"O, ya, kamu benar, aku ingat sekarang. Pantas saja aku tak mengenalnya karena penampilannya yang dulu berbeda sekali dengan penampilannya yang sekarang," sahut Abi.
Apa maksud Abi bicara seperti itu? Apa itu artinya ia pernah berjumpa dengan Rena sebelumnya. (pikir Alan)
"Memang kamu pernah berjumpa dengannya?" tanya Alan.
"Iya, beberapa hari lalu dan dia mengenaliku, tapi aku sama sekali tak mengenalnya. Makanya, aku menanyakan dia kepadamu," sahut Abi.
"Iya, tidak heran, kamu kan memang dari dulu cukup populer di kalangan kaum wanita, Bi," sahut Alan.
Adikku saja sampai tergila-gila sama kamu (batin Alan)
"Kamu bisa aja. Ya, sudah aku pergi dulu," sahut Abi berlalu pergi meninggalkan Alan.
Aku harap kali ini kamu tidak menjadi sainganku lagi, Abimanyu Saputra (batin Alan)
****
Bersambung
Terima kasih telah membaca cerita author sampai di sini dan jangan lupa tinggalkan jejaknya lewat like, komen, dan votenya ya...
Jadikan pula favoritmu..😘😘😘❤️❤️
__ADS_1