
“Assalamualaikum,” ucap Rayhan saat sudah berada di pintu depan rumah Rena yang kebetulan tidak dikunci.
“Waalaikumsalam, ” jawab Mama dan Ayah Rena yang kebetulan sedang berada di ruang tamu.
Mereka tampak terlihat bahagia, saat melihat kedatangan Rayhan yang malam ini terlihat begitu tampan. Selain itu, Rayhan pun bersikap sangat sopan. Ia mencium tangan kedua orang tua Rena saat bertemu dengan mereka. Kemudian, memberikan satu kantong plastik berisi dua dus martabak keju kesukaan Rena kepada Mama Rena.
“Oh, terima kasih. Ini Rayhan bukan?” tanya Mama Renata.
“Iya, Tante,” jawab Rayhan.
“Mari silakan duduk,” ucap Mama Renata.
“Makasih Om, Tante,” ucap Rayhan yang kemudian duduk di kursi yang berada di depan kursi kedua orang tua Renata.
Mereka pun tampak asyik berbicang-bincang satu dengan lainnya. Sesekali gelak tawa muncul di antara perbincangan mereka.
Benar kata anak-anak, Rayhan itu orang yang sangat supel dan humoris. Baru sehari ketemu saja, Mama sama Ayah sudah terlihat akrab sekali dengannya. Eh, tapi, Rayhan malam ini benar-benar akan ngelamar aku gitu. (batin Renata yang masih dihantui kata-kata Rayhan tadi siang)
Ada perasaan khawatir dalam diri Rena, saat ia ikut menyimak percakapan antara Rayhan dengan kedua orang tuanya. Ia takut kalau Rayhan benar-benar akan langsung melamarnya. Namun hingga percakapan mereka berakhir dan Rayhan pamit untuk pulang, Rayhan sama sekali tak membahas masalah tersebut. Saat itulah Rena mulai merasakan kelegaan.
***
Rena mengantarkan Rayhan pulang hingga sampai di tempat Rayhan memarkirkan motornya.
“Rena, aku serius minggu depan aku benar-benar akan melamar kamu,” ucap Rayhan saat mulai menaiki motornya.
“Kamu bicara apa? Dari siang bicaranya masalah lamaran terus,” ucap Rena yang tersenyum karena menganggap ucapan Rayhan hanya gurauan semata.
“Kali ini aku benar-benar serius Rena,” sahut Rayhan.
“O, ya?” tanya Renata masih meragukan perkataan Rayhan.
“Benar, aku benar-benar serius Renata. Karena kamu tahu kan di sekolah kita ada larangan keras untuk pacaran. Jadi, aku rasa, aku akan benar-benar melamar kamu,” tegas Rayhan.
__ADS_1
Ucapan Rayhan ada benarnya. Di sekolah tempat Rena mengajar sekarang memang terbilang sangat ketat dengan aturan. Salah satunya , melarang para siswanya untuk pacaran, termasuk guru-gurunya tentunya.
“Rayhan, kamu benar-benar serius?” tanya Rena mempertegas perkataan Rayhan.
“Benar, aku benar-benar serius Rena, bila perlu aku akan mengajak Pak Dimas. Jadi, kau tidak perlu khawatir kalau aku akan mempermainkan kamu,” ucap Rayhan bersungguh-sungguh-sungguh.
Apa? Pak Dimas? Ya, ampun menghadapi seorang Rayhan saja aku tidak bisa banyak bicara. Apalagi seorang Pak Dimas, bisa-bisa dia akan mengeluarkan ceramah panjang lebarnya. (Pikir Rena)
“Baik, Rayhan, aku percaya. Tapi, kan kita baru saling mengenal,” sahut Rena.
“Iya, aku tahu. Kita bisa saling mengenal lagi setelah kita berdua menikah,” ucap Rayhan lembut.
Rena sama sekali tak bisa menjawab perkataan Rayhan. Selain membenarkan apa yang diucapkannya. Laki-laki itu memang pandai sekali berbicara.
*****
Waktu berlalu terasa begitu cepat, hari yang dijanjikan Rayhan akan tiba dua hari lagi. Rena semakin bingung, semakin galau, dan merasa resah. Dia bingung harus bagaimana menyikapi masalah lamaran Rayhan. Itulah sebabnya, sampai saat ini, ia masih belum menceritakan tentang rencana lamaran Rayhan kepada kedua orang tuanya. Hatinya masih diliputi kebimbangan dan keraguan.
Di satu sisi Rena tidak menampik akan pesona yang dimiliki Rayhan. Laki-laki tampan yang memiliki banyak kelebihan. Sosok yang supel, mudah bergaul, periang, humoris namun tetap tegas, dan pandai mengaji. Semua itu menjadi nilai plus untuk seorang Rayhan. Apalagi, dia juga pernah berjanji pada ibunya akan membuka hati pada laki-laki mana pun yang serius dengannya, bila perlu ia akan langsung menerima lamaran laki-laki tersebut.
Belum lagi sosok Dewa dan Alan yang kerap muncul di dalam pikiran Rena. Mungkin, hubungannya dengan Alan sudah tidak bisa diharapkan. Bagi Rena semua itu hanya akan dianggapnya sebuah kenangan karena Alan pasti sudah bahagia dengan Dewi, istrinya. Tapi, Dewa, meskipun dia tidak pernah menyatakan perasaannya terhadap Rena, entah kenapa Renata merasa Dewa menyimpan perasaan kasih yang tulus terhadapnya. Hal itu membuat Rena merasakan kebimbangan yang luar biasa, hingga sampailah ia pada satu keputusan.
****
Saat Rena sudah memantapkan hati dengan keputusan yang akan diambilnya, ia segera meraih ponselnya. Ia mencoba mencari kontak telepon milik Rayhan. Saat kontak telepon milik Rayhan ditemukan, Rena pun berusaha untuk meneleponnya. Namun, belum sempat teleponnya itu tersambung, ia sudah mematikannya kembali. Ia mengurungkan niatnya untuk menelepon Rayhan.
“Duh, Rena, masa nelepon dia aja kamu enggak berani sih,” gumam Rena pada dirinya sendiri.
“Ya, sudah kirim pesan saja,” sahut Rena yang langsung memindahkan layar ponselnya ke fitur pesan.
Rena mulai mengetik pesan untuk Rayhan.
“Assalamualaikum, Ray, gimana kabarmu hari ini?” (Rena)
__ADS_1
Tak ada balasan, Rena langsung mengetik pesan selanjutnya.
“Ray, kamu beneran serius mau melamar aku?” (Rena)
Ini kali kedua Rena mengirim pesan, namun Rayhan belum juga menjawab pesannya.
“Ke mana dia? Kenapa pesanku belum dibalas? Apa aku telepon aja?” gumam Rena.
Rena memulai kembali menekan tombol hijau yang ada di ponselnya untuk menelepon Rayhan. Namun, lagi-lagi diurungkannya kembali niat itu.
“Ah, kenapa aku gugup sekali kalau harus bicara langsung sama dia?” ucap Rena sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Oke, aku kirim pesan lagi saja,” gumam Rena.
Renata kembali mengirimkan pesan untuk Rayhan.
“Ray, maaf, sepertinya untuk sekarang aku belum bisa menerima lamaran kamu karena aku benar-benar belum yakin dengan hal itu. Bukannya kalau kita merasa ragu dengan sesuatu hal sebaiknya kita tinggalkan perkara itu, ya?” (Rena)
“Ray, tolong jawab pesanku,” (Rena)
Hingga ketikan pesan terakhir yang dikirim oleh Rena, Rayhan belum juga membalas pesannya. Rena pun terus memandangi pesan tersebut.
“Pesannya sudah terkirim. Tapi, kenapa dia belum membalas pesanku, ya? Apa dia belum membacanya? Atau dia marah sama aku?” gumam Rena.
“Arrggh... Rayhan, kamu benar-benar membuatku gila,” seru Rena yang kemudian meletakkan ponselnya dan merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
Rena terus memandangi langit-langit kamarnya, memikirkan segala hal yang pernah terjadi dalam kehidupannya, terutama yang berkaitan dengan kehidupan percintaannya. Meskipun, hingga saat ini belum ada laki-laki yang secara resmi menjadi kekasihnya, namun bukan berati tak ada laki-laki yang pernah mendekatinya.
Sebenarnya cukup banyak laki-laki yang mendekatinya, namun sikap dingin Renata dan sikapnya yang selalu berusaha menghindari mereka membuatnya tak pernah menjalin hubungan serius dengan pria mana pun, termasuk Alan, laki-laki yang sebenarnya memiliki tempat teristimewa di hatinya. Namun, telah ia abaikan hingga akhirnya dirinya sendirilah yang merasakan penyesalan setelah dia merasa telah benar-benar kehilangan sosok itu.
Kini, Tuhan mempertemukan dirinya dengan Rayhan, di saat hatinya justru telah tersentuh oleh kebaikan Dewa. Bahkan, laki-laki itu dengan sangat beraninya mengajaknya menikah. Tidak seperti Dewa yang hingga saat ini belum memberikan kepastian akan perasaannya. Namun, entah mengapa Rena masih merasa ragu. Baginya, ini terlalu terburu-buru, ia harus meyakinkan hatinya dulu bahwa Dewa benar-benar tak memiliki perasaan apa-apa padanya. Sekaligus meyakinkan dirinya bahwa Rayhan benar-benar pria yang baik dan bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Terlalu lama berpikir membuat Rena merasa letih dan akhirnya tertidur pulas di atas peraduannya.
***
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih masih setia dengan cerita author ini dan jangan lupa bagi yang sudah mampir tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote, rate 5, dan komennya ya..💗💗💗😘😘😘