Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 61 Nasi Goreng Spesial


__ADS_3

Kupu-kupu beterbangan mengitari bunga-bunga yang bermekaran di salah satu pekarangan rumah megah berwarna biru yang dihuni oleh Alan dan adiknya. Felisa tampak sedang menunggu seseorang di teras depan rumah mereka.


“Duh... Kak Alan ke mana sih? Dia itu sebenernya lagi lari atau lagi tidur sih? Udah siang kayak gini masih belum balik. Nyesel tadi aku enggak ikut,” gumam Felisa.


“Pengen makan, tapi males kalau sendirian,” gumam Felisa sambil mengambil majalah dan membuka-buka isinya.


Tiitttt....tiiittttt...tittt...


Suara klakson mobil terdengar dari arah gerbang depan rumahnya. Dengan cekatan, Pak Asep, satpam yang bekerja di rumah Felisa, membuka pintu gerbang rumah itu, setelah melihat orang yang berada dalam mobil.


“Duh, dia lagi. Pasti ke sini nyari Kak Alan,” gumam Felisa saat melihat sebuah mobil berwarna silver masuk ke dalam rumahnya.


Mobil itu pun berhenti tak jauh dari tempat Felisa sekarang sedang duduk.


“Hai, Feli,” sapa seorang wanita berambut coklat yang turun dari mobil itu.


Wanita itu adalah Naya, lengkapnya Naya Atmaja. Dia adalah saudara sepupu dari almarhumah Dewi, istrinya Alan. Sama seperti Dewi, dia juga memiliki tubuh yang tinggi dan proporsional bak seorang model. Wajahnya pun sangat cantik, dengan kulit yang putih, bibir merah seperti buah ceri, serta rambut panjang dan lurus sebahu.


“Hai juga, Kak Naya,” sapa Felisa.


“Kakakmu ada di rumah, Feli?” tanya Naya yang langsung duduk tanpa dipersilahkan.


“Enggak, ada Kak. Kakaknya lagi keluar,” jawab Felisa.


“Ke mana?” tanya Naya.


“Kurang tau, Kak,” jawab Felisa berbohong karena dia tahu bahwa Alan pasti akan sangat marah kalau Feli memberitahukan keberadaan Alan pada Naya.


“Sayang sekali ya.. Padahal aku langsung terbang dari Paris ke mari hanya untuk menemui kakakmu,” sahut Naya yang memberikan rasa iba pada Felisa. Namun, itu tak membuatnya membocorkan keberadaan Alan.


“Iya, mungkin Kak Alan gak tau kakak bakal datang ke sini sebelumnya. Memang Kakak nggak menghubungi Kak Alan dulu?” tanya Felisa.


“Sudah kok, tapi nggak dijawab,” sahut Naya.


“Oh,” sahut Felisa.


Iya, nggak akan dijawab kali, Kak. Kak Alan kan emang kurang suka sama Kakak.(pikir Felisa)


“Kalau gitu aku pulang dulu aja, sampai salamku buat Alan,” sahut Naya.


“Iya, Kak,” jawab Felisa.


Naya pun beranjak pergi dan meninggalkan rumah Alan.


Padahal Kak Naya itu cantik. Bahkan, bisa dibilang sebelas dua belaslah sama Kak Dewi. Tapi kenapa Kak Alan nggak suka ya? (pikir Felisa)


“Aduh, udah deh. Ngapain juga mikirin orang terus. Mending pikirin ni perut. Sedari tadi belum ke isi gara-gara nungguin Kak Alan tersayang,” gumam Felisa beranjak berdiri dan masuk ke dalam rumahnya.


***


Reni, Haikal, dan Hana baru saja kembali dari kamar mandi setelah hampir satu jam meninggalkan Alan dan Rena berdua.


“Kalian ini ngapain aja sih di kamar mandi? Lama banget, jangan-jangan tidur lagi,” sahut Rena agak kesal karena melihat adik dan anak-anaknya baru saja kembali.


“Biasa, ngantri Kak. Panjang banget kayak Tembok Raksasa Cina,” sahut Reni.


“Lebay,” sahut Rena.


“Hehe.. Boleh dong sekali-kali lebay,” sahut Reni.


“Masa? Sering juga,” sahut Rena.

__ADS_1


“Kapan?” tanya Reni.


“Iya... iya.. kamu tuh memang Jablay,” jawab Rena.


“Ih, Kak Na tega banget, adek sendiri dibilang Jablay,” sahut Reni cemberut.


“Maksudnya jarang lebay,” jawab Rena.


“Hu.. dapat istilah kaya gitu dari mana sih?” tanya Reni sewot.


“Tuh,” sahut Rena menunjuk Alan yang sedari tadi senyum-senyum mendengar percakapan mereka berdua.


“Wah, Kak Alan nih.. enggak bener ngajarinnya. Padahal, baru sebentar aku titipin kakakku ke Kak Alan, udah diajarin istilah kaya gitu. Gimana kalau aku titipin kakakku selamanya sama Kak Alan,” sahut Reni yang mendapat cubitan dari Rena di bagian pinggangnya.


“Aw.. Kakak Na sakit, dari tadi cubitin aku mulu,” sahut Reni sewot.


“Lagian kamu, bicara sembarangan,” sahut Rena agak kesal.


“Siapa yang bicara sembarangan? Kan siapa tau aja Kak Na sama Kak Alan memang berjodoh,” sahut Reni.


“Reni,” sahut Rena melotot dengan tangan yang hampir mendarat kembali ke pinggang Reni.


“Eits, jangan coba-coba cubit Reni lagi! Kak Na tentu tau kan moto Reni. Pembalasan akan selalu lebih kejam dari perbuatan,” sahut Reni menekan setiap kalimatnya.


“Udah cukup, kalian ini enggak malu apa diliatin sama Hana dan Haikal,” sahut Alan mencoba memisahkan pertengkaran dua kakak beradik itu.


“Udah biasa, Om Al,” sahut Haikal.


“Iya, Om Al, itu mah udah biasa. Tante Ren sama Mamah emang sering kayak gitu, udah kayak anjing sama kucing di rumah yang sering berantem,” sahut Hana.


Perkataan Hana dan Haikal membuat Reni dan Rena terdiam karena malu. Khususnya Rena yang merasa sudah bertingkah ke kanak-kanakkan di depan Alan dan anak-anaknya. Mungkin, karena ia dan Reni sudah cukup lama tidak berinteraksi dan bercanda ria seperti tadi. Terutama sejak Rena menikah dengan Rayhan. Interaksi dan tatap mukanya dengan keluarganya sangat dibatasi oleh mantan suaminya itu.


Hampir sepuluh tahun, ia menikah dengan Rayhan dan selama itu pula, bisa dihitung dengan jari ia menginap di rumah orang tuanya. Itu pun tanpa didampingi suaminya. Entah, apa yang menjadi penyebab Rayhan tidak pernah mau menginap di rumah orang tuanya. Karena selama ini hanya alasan ketidaknyamanan saja yang keluar dari mulut mantan suaminya itu. Yang bagi Rena itu hanyalah sebuah alasan klise yang jika ia pertanyakan hanya akan menjadi sumber pertengkaran dirinya dan Rayhan.


“Ren, kita pulang, yuk! Udah siang,” sahut Rena memecah kebisuannya.


“Benar Kak, udah siang, udah mulai panas pula,” sahut Reni sambil menatap matahari yang sinarnya tampak menyilaukan.


“Kalau gitu, aku juga pulang ya..? Terima kasih atas nasi goreng spesial buatannya,” sahut Alan.


“Sama-sama Kak Alan, mudah-mudahan gak kapok mencicipi masakanku,” sahut Rena.


“Siapa yang kapok? Yang ada aku malah ketagihan dengan rasanya,” sahut Alan.


“Cie.. ketagihan.. kalau gitu aku buka delivery order deh khusus buat Kak Alan,” sahut Reni.


“Boleh,” sahut Alan yang terdengar sangat antusias.


“Ih, Reni, apa-apaan sih kamu?” sahut Rena yang menajamkan matanya kepada Reni.


“Gak apa-apa, Kak Rena, lumayan. Aku juga kan nanti bisa dapat biaya ongkos kirimnya,” sahut Reni.


“Matre deh,” sahut Rena.


“Biarin aja. Kalau cewek matre itu wajar Kak Na, kalau cowok matre baru kurang ajar,” sahut Reni.


“Jangan dengerin, Kak ! Dia cuma asal ngomong aja,” sahut Rena.


“Siapa yang asal ngomong? Beneran loh Reni akan anterin kalau Kak Alan memang mau,” sahut Reni.


“Tapi, Kakak yang enggak mau ikut bisnis kamu,” sahut Rena.

__ADS_1


“Yah.. sayang sekali ya.. Padahal aku sangat senang waktu Reni menawarkan itu,” sahut Alan.


Setidaknya itu bisa jadi kesempatan untuk aku bisa kembali dekat denganmu Rena (batin Alan).


“Iya nih, Kak Na, enggak asyik,” sahut Reni pura-pura cemberut.


Reni.. kamu tuh enggak ngerti banget sih.. memang aku siapanya Kak Alan yang harus bikinin dia nasi goreng tiap hari. (gumam Rena dalam hati).


Percakapan di antara mereka pun terhenti saat Alan mendengar pesan yang masuk melalui ponselnya.


“Dia lagi,” gumam Alan saat melihat nama si pengirim pesan.


Alan, kamu di mana? Tadi aku ke rumah kamu. Dan kata adikmu Feli, kamu sedang keluar. Kok kamu jahat banget sih, Lan ! Padahal sebelumnya aku sudah kirim pesan ke kamu kalau setibanya aku di Indonesia aku akan langsung ke rumahmu. Aku telepon, nomormu pun selalu tidak aktif. (Naya).


Alan pun kembali mengabaikan pesan itu, setelah sebelumnya ia sempat menon-aktifkan ponselnya karena enggan menerima telepon dari Naya.


“Siapa Kak Alan ?” tanya Reni penasaran.


“Teman, dia bilang kalau dia sudah sampai di Indonesia,” jawab Alan.


“Laki-laki atau perempuan ?” tanya Reni yang kembali mendapat tatapan tajam dari Rena.


“Perempuan,” jawab Alan singkat.


“Oh.. can---," ucap Reni terpotong oleh Rena.


“Reni, udah siang. Cepat yuk, kita pulang!” ajak Rena memotong perkataan Reni yang menurutnya akan melebar ke mana-mana.


“Ya udah, hayuk! Kak Alan kami pamit pulang dulu, ya.. senang bisa ketemu sama Kak Alan. Mudah-mudahan besok-besok kita bisa ketemu lagi,” sahut Reni.


“Sama aku juga senang ketemu kalian. Oh ya, kalian tinggal di sekitar sini juga bukan?” tanya Alan.


“Iya, Kak Alan. Kami tinggal di belakang perumahan ini. Kapan-kapan Kak Alan main dong ke rumah kami,” sahut Reni.


“Boleh, di mana alamatnya?” tanya Alan.


“RT 5, RW 3, sepuluh nomor rumahku.. Jalannya Jalan Cinta,” jawab Reni sambil melantunkan lagu Cici Faramida.


“Serius? Kok kayak lagu ?” tanya Alan.


“ Hehe.. bercanda Kak Alan. Tapi, hampir mirip kok alamatnya,” jawab Reni.


“Benarkah?” tanya Alan.


“Iya, kami tinggal di Jalan Harapan Cinta RT 3 RW 5, Nomor 12,” jawab Reni.


“Oke, kapan-kapan aku mampir,” sahut Alan.


“Sip, ditunggu,” sahut Reni.


Setelah berpamitan, mereka pun akhinya kembali ke rumah mereka masing-masing.


***


Bersambung


Terima kasih yang telah membaca tulisan ini..🙏🙏😍😍😍


Terus dukung author lewat like, komen, vote, dan rate 5 nya ya.. 😘😘❤️❤️❤️


Salam sayang dan sehat selalu 😊😊

__ADS_1


__ADS_2