Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 97 Tantangan


__ADS_3

Rena menangkap arah pandang Abi dan Mama Lana. Ia tahu Abi mungkin tidak sanggup menceritakan kejadian yang sebenarnya, mungkin Abi khawatir setelah Mama Lana mengetahui ini semua, Rena akan dipersalahkan atas musibah yang menimpa anak laki-laki sulungnya itu. Melihat Abi yang masih saja diam dan tak berani menjawab, mendorong Rena untuk mulai membuka suaranya.


“Kak Alan seperti ini karena berusaha melindungi aku, Mah. Harusnya aku yang ditusuk oleh laki-laki itu,” jawab Rena lirih.


“Apa?!!” tanya Mama Lana seakan tidak percaya.


“Bagaimana bisa? Memang apa yang terjadi denganmu?” bentak Mama Lana.


Ada kemarahan di sorot mata wanita itu. Ia tampak kesal pada Rena. Ia tahu kalau Rena adalah wanita yang ingin Alan jadikan istri dan begitu dicintai oleh putranya. Pandangan mata Elana terus menatap tajam ke arah Rena, menunggu penjelasan yang keluar dari mulut Rena.


Dengan ragu dan rasa takut yang mulai menggelayut, Rena memberanikan diri menceritakan semua kejadian yang telah mereka alami hingga Alan berakhir di rumah sakit ini. Ia sudah siap dengan segala konsekuensi yang akan diterimanya, termasuk jika calon mertuanya itu menjadi benci dan tidak suka kepadanya. Karena biar bagaimana pun sangatlah wajar jika seorang ibu memberikan reaksi demikian. Cinta mereka kepada putranya pastilah jauh lebih besar dari siapa pun. Tak akan ada seorang ibu mana pun yang rela melihat putranya terluka, meski itu demi wanita yang dikasihinya.


Mama Lana dan semua orang yang berada di tempat itu menyimak cerita Rena dengan seksama. Mulai dari awal penculikan Rena, pembicaraan Rena dengan para penculik itu, upaya penculik yang ingin menghancurkan wajah Rena beserta alasannya, sampai pada akhirnya peristiwa tertusuknya Alan karena ingin menyelamatkan Rena dari serangan para penjahat. Kemarahan, kegeraman, dan kesedihan bercampur menjadi satu saat mereka mendengar cerita dari Rena. Mereka mulai bertanya-tanya siapa ‘nona’ yang berada di belakang upaya penculikan Rena. Dan di saat yang bersamaan, muncullah Naya dengan tingkah pongahnya.


“Tante, bagaimana keadaan Alan? Aku dengar dia mengalami luka yang cukup parah,” ucap Naya.


“Dari mana kamu tahu kalau Alan terluka?” tanya Mama Lana.


“Oh, i-itu. Tentu saja, Tante aku tahu. Tante lupa aku ini siapa? Aku bisa menyewa mata-mata di mana pun untuk mengetahui keadaan Alan,” jawab Naya sombong.


“Termasuk juga menyuruh orang untuk menculik Bu Rena, iya kan?” sahut Felisa tiba-tiba.


“Apa maksudmu Felisa? Aku tidak sepicik itu. Dia sangat tidak selevel denganku,” sahut Naya meremehkan.


“Walaupun mungkin tidak selevel denganmu, tapi kenyataannya wanita inilah yang dipilih Alan untuk dijadikan calon menantuku, bukan dirimu!” ucap Mama Lana menekan kesombongan Naya.


Mama Lana pun menarik Rena berdiri di dekatnya. Untuk memperlihatkan wanita yang disepelekan oleh Naya kepadanya. Sedang Rena, sedari tadi terlihat bingung dengan pembicaraan Mama Lana dan keberadaan Naya di tempat itu.


Rena masih ingat betul siapa Naya. Naya adalah wanita sombong yang pernah ditemuinya yang telah menabrak penjual sayur hingga dagangannya hancur tak bersisa, namun kendati demikian Naya tidak mau mengganti rugi. Yang ada justru Naya membalikkan semuanya dan seolah-olah penjual sayur itulah yang bersalah. Dan sekarang apa hubungannya Naya dengan Alan? Mengapa Rena lagi-lagi harus berurusan kembali dengan wanita itu.


“Rena, kenalkan dia adalah Naya. Wanita yang sudah lama menyukai Alan, tapi Alan sama sekali tidak menghiraukannya,” ucap Mama Lana yang kali ini berbalik menyepelekan Naya.


Apa? Wanita ini menyukai Kak Alan. Apa jangan-jangan dia lah nona yang dimaksud oleh para penjahat itu? (batin Rena)


“Tante, kenapa Tante bicara seperti itu? Lagipula aku heran, kenapa Tante masih mempertahankan wanita ini di sini. Bukankah dia yang telah menyebabkan Alan menjadi seperti ini,” ucap Naya penuh hasut.


“Sepertinya mata-matamu tahu betul tentang semua kejadian yang kami alami Naya Atmaja. Atau jangan-jangan benar kata Felisa. Kamu adalah dalang di balik semua ini,” tuduh Abi.


“Diam, kamu Abi! Tutup mulutmu!” bentak Naya.


“Naya, cukup! Jangan mempermalukan dirimu dan ayahmu dengan membuat keributan di rumah sakit ini. Kamu tidak lihat kami semua di sini sedang mengkhawatirkan Alan,” bentak Papa Kevin yang sedari tadi hanya menyimak percakapan mereka.


“Tapi mereka semua menuduhku, Om,” ucap Naya yang tak terima dirinya mendapat perlakuan seperti itu,


“Perkara tuduhan itu bisa kita selesaikan di pengadilan,” tantang Papa Kevin.


“Oh, jadi Om juga berpikiran sama dengan mereka. Baiklah, tapi jangan pernah menyesal karena Om telah berurusan dengan Keluarga Atmaja,” ucap Naya yang berlalu meninggalkan mereka semua.


“Sayang, apa kamu yakin kita akan berurusan dengan mereka?” tanya Mama Lana setelah memastikan Naya sudah pergi menjauh dari tempat itu.


“Tentu tidak, kita bukanlah lawan yang seimbang dengan mereka. Aku akan meminta bantuan Alex dan menceritakan semua masalah ini kepadanya,” jawab Papa Kevin.

__ADS_1


“Iya, kamu benar Sayang. Hanya Alex Abdul Malik lah lawan yang setara dengan mereka,” ucap Mama Lana.


Tak lama tampak seorang dokter keluar dari ruangan itu.


“Dok, bagaimana keadaan teman saya?” tanya Abi begitu melihat dokter keluar dari ruangan itu.


“Keadaan pasien masih kritis. Dia kehilangan banyak sekali darah dan kami sedang berusaha memberikan transfusi darah kepadanya,” jawab Dokter.


“Dok, sepertinya persediaan darah untuk pasien tidak mencukupi. Kita membutuhkan donor darah segera,” ucap seorang perawat yang baru kembali dari ruang penyimpanan darah.


“Apa di antara kalian ada yang memiliki golongan darah yang sama dengan pasien?” tanya Dokter.


“Golongan darahku sama dengan Alan, tapi aku memiliki riwayat hipertensi,” ucap Papa Kevin.


“Tidak, Pak. Orang yang menderita hipertensi tidak diperkenankan mendonorkan darahnya,” jawab Dokter.


“Memang apa golongan darah Alan?” tanya Abi.


“Golongan darahnya ‘O’,” jawab Dokter.


“Kalau begitu ambil darahku saja. Aku juga memiliki golongan darah yang sama dengan Kak Alan,” ucap Rena.


“Aku juga, aku bersedia mendonorkan darahku untuk Alan,” ucap Abi.


“Baiklah, Suster bawa mereka untuk pemeriksaan dan pengambilan darah untuk pasien,” ucap Dokter.


“Baiklah, Dok. Mari ikut saya,” ajak perawat itu.


Rena dan Abi pun mengikuti perawat itu untuk melakukan proses pengambilan darah.


***


“Kak Na,” Reni langsung memeluk Rena saat berjumpa dengannya.


“Reni, Ayah, terima kasih sudah datang kemari,” ucap Rena.


“Kamu ini bicara apa? Tidak perlu terima kasih karena sudah selayaknya Ayah menjenguk calon menantu ayah. Sekarang bagaimana kondisi Alan?” tanya Ayah Rena.


“Kondisinya masih kritis, Yah. Karena sampai detik ini Kak Alan masih belum sadarkan diri,” jawab Rena.


“Kak Na, yang sabar ya,” ucap Reni.


“Oh ya, di mana ayah dan ibunya Alan? Apa mereka tidak datang kemari?” tanya Ayah Rena.


“Mereka baru saja pulang. Katanya ingin mengambil barang-barang yang mereka butuhkan selama di rumah sakit, tapi Felisa ada di dalam sedang menemani Alan,” ujar Rena.


“Lalu kenapa Kak Na di sini?” tanya Reni heran.


“Dokter melarang banyak pasien di dalam. Itu sebabnya kami menjaga Alan bergantian,” jawab Rena.


“Jadi, Kak Na sendiri di sini?” tanya Reni.

__ADS_1


“Tadi ada Kak Abi dan Kak Faiz di sini, tapi sekarang mereka sedang menemui dokter,” jawab Rena.


“Kak Na sudah makan?” tanya Reni.


Rena hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Reni.


“Kalau begitu Reni, belikan makanan dulu di kantin. Ayah temani Kak Na di sini,” ucap Reni.


“Baiklah,” jawab Ayah Rena.


***


Reni menyusuri jalan menuju kantin rumah sakit yang berada di lantai bawah rumah sakit tersebut. Tubuhnya hampir saja terhempas saat bertabrakan dengan seseorang. Beruntung Reni masih bisa menjaga keseimbangannya hingga tidak sampai terjatuh.


“Maaf, Nona, Anda tidak apa-apa?” tanya laki-laki itu yang memiliki suara dan wajah yang sangat familiar.


“Kak Rayhan,” ucap Reni kaget.


Reni tidak menyangka bahwa dia akan bertemu kembali dengan mantan suami kakaknya Rena dan juga ayah dari kedua keponakannya itu di tempat seperti ini.


“Reni? Kamu ada di sini,” ucap Rayhan yang juga sama kagetnya dengan Reni.


“Siapa yang sakit? Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Rayhan.


Tidak, aku tidak boleh cerita kalau orang yang sedang sakit adalah calon suami Kak Na (batin Reni).


“Em.. teman Kak. Kakak sendiri? Kenapa bisa berada di sini? Memang siapa yang sedang sakit?" tanya Reni balik.


“Oh, kalau aku di sini sedang menunggu ibuku yang sedang sakit. Reni kau tahu, Ibu ingin sekali bertemu dengan Hana dan Haikal, cucu-cucunya. Apakah kau bisa meyakinkan Rena untuk membawa mereka kemari,” pinta Rayhan.


Oh, jadi Nenek sihir itu sekarang sedang sakit. Dan sekarang dia baru ingat kalau selama ini dia punya cucu. (ucap Reni dalam hati).


“Reni,” sahut Rayhan saat tak menemukan jawaban dari Rena.


“Oh ya, Kak. Nanti akan aku sampaikan ke Kak Na. Sekarang aku mau beli makan dulu,” tutur Reni yang langsung berlalu meninggalkan Rayhan.


Kenapa aku harus bertemu dengan Kak Rayhan di saat seperti ini. Apakah aku harus menceritakan semuanya kepada Kak Na? (ucap Reni dalam hati)


***


Bersambung


Wah, Rayhan kembali.. Apa yang nantinya kan terjadi pada Alan?


Adakah kaitan kembalinya Rayhan dengan akhir cerita dalam kisah ini?


Baca dan simak terus, detik-detik episode terakhir kisah Rena dan Alan.


Jangan sampai ketinggalan ya...


Jangan lupa juga berikan dukungannya dengan like, vote, dan komennya.

__ADS_1


Terima kasih dan salam sayang buat semua pembaca setia cerita “Mungkinkah Kembali”


Semoga sehat selalu..


__ADS_2