Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 74 Nomor Ponsel


__ADS_3

Pagi ini Rena bersama adik dan kedua anaknya terlihat sedang menikmati sarapan pagi mereka di meja makan yang terletak bersebelahan dengan dapurnya.


"Hana, cepat makannya! Nanti kita bisa terlambat,” seru Rena saat melihat putri sulungnya makan dengan sangat lambat.


“Iya, Mama. Ini juga bentar lagi selesai,” sahut Hana.


Hana pun terus berusaha menghabiskan sarapannya agar sang Mama berhenti mengomel kepadanya.


“Haikal, makannya yang rapi,” ucap Rena.


Haikal hanya menjawab dengan anggukkan karena mulutnya penuh dengan makanan.


“Kalau begitu Mama mau pesan OSCAR dulu deh,” ucap Rena.


“Kenapa OSCAR, Mah? Bukannya Om Alan mau jemput kita?” tanya Hana.


“Ehem.. ehem..,” Suara deheman Reni terdengar saat Hana menyebut nama Alan.


“Iya, Mah. Ikal lebih suka naik mobil Om Alan daripada .... Siapa tadi namanya, Kak?” tanya Haikal.


“OSCAR,” jawab Hana.


“Iya, itu. Daripada Om OSCAR.,” sahut IKal.


“Om OSCAR, emangnya orang,” timpal Reni.


“Jadi, itu bukan nama orang ya Tante?” tanya Hana penasaran.


“Bukan, Hana, OSCAR itu kepanjangan dari Online Server Car atau kalau di Indonesia Kan artinya pelayanan mobil online,” jawab Reni.


“Oh,” sahut Hana yang sebenarnya masih belum begitu memahami penjelasan dari tantenya itu.


“Yah, pantes aja dari tadi enggak ke kirim. Paket datanya habis,” keluh Rena.


“Ya udah, pesan OSCAR nya pakai ponsel Reni aja atau Kakak telepon aja Kak Alan tanya dia jadi jemput atau enggak,” usul Reni.


“Mang Kakak punya nomornya,” jawab Rena.


“Emang enggak punya?” tanya Reni.


“Enggak,” jawab Rena menggelengkan kepalanya.


“Yah... sayang sekali,” keluh Reni.


Padahal itu bisa jadi kesempatan aku buat deketin kakak sama Kak Alan (ucap Reni dalam hati).


“Sayang sekali kenapa?” tanya Rena curiga.


“Iya, sayang sekali. Kan kalau kakak bisa berangkat bareng sama Kak Alan lumayan, bisa irit ongkos,” jawab Reni sedikit berbohong.


“Hu.. Dasar matre,” timpal Rena.


Saat Rena sedang bercakap-cakap dengan Reni, tiba-tiba suara panggilan masuk terdengar dari ponsel Rena.


Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim, Ha, Kho, Dal, Dza, Ra, Zai, Sin, Syin, Shad, Dha, Tha, Dzha,...(nada panggilan masuk ponsel Rena).


“Siapa yang menelepon pagi-pagi begini?” gumam Rena saat melihat nomor yang tak dikenalnya muncul di layar ponselnya.


“Iya, hallo,” sahut Rena.


“Halo, Rena. Assalamualaikum,” sahut si penelepon dengan nada yang begitu lembut.


“Waalaikumsalam, maaf ini siapa ya?” tanya Rena.


“Masa kamu enggak kenal sama suara aku?” tanya si penelepon kembali.

__ADS_1


Ih, rese! Kepedean banget nih orang, ditanya malah balik nanya (gerutu Rena dengan suara yang tidak terdengar)


“Maaf, tuan. Saya memang enggak kenal sama suara Anda,” ucap Rena.


“Yakin? Padahal baru kemarin sore ya kita ketemu,” ucap si penelepon.


Rena pun berpikir sejenak hingga akhirnya sebuah nama muncul di kepalanya.


“Kak Alan?” tanya Rena ragu.


“Iya, Rena. Apa kabar?” ucap Alan.


“Ja-jadi ini benar nomor Kak Alan?” tanya Rena separuh tidak percaya


“Iya, benar sekali. Ini memang nomor aku. Jadi kamu jangan terlalu gugup gitu dong!” goda Alan.


“Dih, siapa yang gugup? Aku cuma heran aja dari mana Kak Alan bisa tahu nomorku. Seingat aku, aku belum pernah kasih nomor ini ke Kak Alan,” ucap Rena ketus.


“Memang aku enggak dapat nomor ini dari kamu,” sahut Alan.


“Lalu dari siapa?” tanya Rena.


“Dari bisikan angin yang menyampaikan kerinduanmu kepadaku,” goda Alan.


“Cih, maksudnya apa? Siapa yang rindu sama Kak Alan? Udah deh Kak, masih pagi jangan suka ngegombal,” ucap Rena ketus.


“Yakin, kamu enggak lagi rindu sama aku?” tanya Alan.


“Yakin,” jawab Rena.


“Enggak lagi ngomongin aku?” tanya Alan.


“E-Enggak,” jawab Rena ragu karena memang dia dan adiknya sedari tadi membicarakan Alan.


“I-iya sih, tadi sempat ngomongin Kakak, dikit,” jawab Rena jujur.


“Oh ya? Ngomongin apa?” tanya Alan lagi.


“Hana tadi bilang katanya kakak mau jemput kami kemari, tapi aku kan belum dapat kabar apa-apa dari kakak sampai sekarang. Apakah Kak Alan jadi jemput atau tidak? Terus mau nanya ke Kak Alan juga aku enggak punya nomor ponsel Kakak. Jadi aku putuskan untuk memesan OSCAR saja,” ucap Rena.


“Kalau gitu sekarang kamu batalkan pesanan OSCAR nya karena aku sekarang sudah sampai di depan rumahmu,” sahut Alan.


“Apa?” tanya Rena kaget.


“Iya, Rena. Aku sekarang sudah sampai di depan rumah kamu,” ucap Alan sekali lagi.


“Ya-ya sudah, aku ke depan dulu,” ujar Rena.


“Siapa? Kak Alan?” tanya Reni yang sedari tadi menguping pembicaraan antara Rena dengan Alan.


“Iya, sekarang orangnya udah ada di depan,” sahut Rena.


“Oh, bisa kebetulan sekali,” ucap Reni dengan mengulas senyum di wajahnya.


Rena dan Reni pun bergegas menuju halaman depan rumah mereka. Di luar sana sudah ada Alan yang sedari tadi berdiri menunggu Rena dan anak-anaknya.


“Kak Alan, masuk dulu, yuk!” ajak Reni.


Alan pun masuk ke rumah Rena dan duduk di ruang tamunya.


“Kenapa Kak Alan harus repot-repot jemput kami kemari?” tanya Rena.


“ Enggak repot, Rena. Aku sekalian lewat saja,” jawab Alan.


“Sebentar ya, Kak. Aku ambil tas dulu sekalian panggil anak-anak,” ujar Rena seraya meninggalkan Alan berdua dengan Reni.

__ADS_1


“Kak Alan, memang kemarin kakak anterin pulang Kak Rena dan anak-anaknya, ya?” tanya Reni.


“Iya, tau dari mana? Apa kakakmu cerita?” tanya Alan penasaran.


“Enggak, bukan Kakak tapi Hana,” jawab Reni.


“Oh,” sahut Alan.


Tak lama Rena dan kedua anaknya pun menghampiri Alan dan Reni yang sedari tadi menunggu mereka.


“Kakak sudah mau berangkat?” tanya Reni.


“Iya, Ren. Kamu hati-hati di rumah ya,” ucap Rena.


“Iya, Kak. Kakak juga hati-hati di jalan ya,” ucap Reni.


“Kak Alan, jagain Kakakku ya..” ujar Reni kepada Alan.


“Siap, dengan seluruh jiwa dan raga,” jawab Alan memperlihatkan senyum manisnya.


Seperti kemarin, Alan pun membukakan pintu mobil untuk Rena dan kedua anaknya.


“Rena, kamu tidak di depan saja bareng sama aku,” tawar Alan.


“Iya, Mama di depan aja. Biar aku sama Haikal aja yang di belakang,” ujar Hana.


“Baiklah, tapi jangan macam-macam ya,” sahut Rena kepada Alan.


“Memang kamu pikir aku bakal ngapain kamu?” tanya Alan menatap Rena penuh arti.


“Iya, jaga-jaga aja,” jawab Rena malu.


“Tenang, Rena. Aku enggak bakal ngapain-ngapain kamu, sebelum kamu halal buat aku,” goda Alan sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat wajah Rena bersemu merah.


Sepanjang perjalanannya bersama Alan, jantung Rena terus berdetak lebih cepat seakan ingin melompat keluar dari dalam.


Aduh, ada apa dengan diriku? Kenapa rasanya seperti ini? Tidak mungkin kan aku suka sama Kak Alan. (ucap Rena dalam hatinya).


Bugh


Kepala Rena tiba-tiba terbentur bagian depan mobil, saat mobil Alan berhenti mendadak karena ada pejalan kaki yang menyeberang sembarangan.


“Kamu enggak apa-apa, Ren?” tanya Alan panik.


“Enggak apa-apa, Kak. Sepertinya hanya memar sedikit,” jawab Rena.


Alan pun lekas mengeluarkan salep pereda memar yang selalu disimpannya di laci mobil miliknya.


“Sini,” Perlahan Alan mengolesi kening Rena yang membiru dengan salep pereda memar itu.


Kejadian ini kembali mengingatkan Rena saat Alan dulu pernah mengobati lukanya akibat tendangan bola Arka yang melayang ke kepalanya. Ia pun memejamkan matanya mencoba membayangkan kembali kejadian itu. Melihat mata Rena yang terpejam membuat Alan ingin sekali menyentuh bibir tipis Rena. Namun, saat bibirnya itu hampir saja mendarat di bibir Rena, perempuan itu malah membuka matanya. Hal itu tentu saja membuat Alan kaget dan menjadi kikuk dibuatnya.


***


Bersambung


Baca dan simak terus lanjutan ceritanya.


Jangan lupa juga, dukung terus author dengan memberikan like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2