Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 31 Serangan Dadakan


__ADS_3

Rena dan Aisyah tampak berjalan beriringan menuju salah satu ruangan yang berada di lantai bawah. Ruangan yang mungkin jarang sekali dikunjungi para mahasiswa tanpa adanya kepentingan. Letaknya berada di tengah-tengah ruangan lain yang ada di lantai bawah gedung tersebut.


"Ais, kira-kira Bu Widya memanggil kita untuk apa ya?" tanya Rena.


"Entahlah, aku juga enggak tahu, Rena. Yang jelas yang aku tahu Bu Widya bukan hanya memanggil kita berdua saja, tapi dia juga memanggil Adinda, anak kelas B," jawab Aisyah.


Sesampainya di depan ruangan Bu Widya, Aisyah mengetuk pintu  dan mengucapkan salam yang diikuti oleh Rena.


Tok tok tok


"Assalamualaikum," sahut Aisyah dan Rena.


"Waalaikumsalam, silakan masuk," jawab Bu Widya dari dalam.


Setelah mendengar instruksi masuk dari Bu Widya, pemilik ruangan tersebut, Aisyah dan Rena pun membuka pintu dan memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Di dalam ruangan yang bernuansa biru langit bercampur putih itu sudah tampak Adinda, mahasiswa semester 4 yang berasal dari kelas B. Ia duduk di sebuah kursi yang berada tepat di depan meja Bu Widya.


"Duduklah!" perintah Bu Widya kepada Aisyah dan Rena. Mereka berdua pun duduk di kursi yang berada di samping Adinda.


"Terima kasih kalian bertiga sudah hadir di sini. Ibu langsung saja ya,.." sahut Bu Widya.


"Begini anak-anak, di kampus kita akan diadakan lomba menulis karya ilmiah. Masing-masing fakultas mengirimkan perwakilannya dari tiap-tiap program studi yang ada di fakultas mereka. Nah, untuk itu Ibu selaku Ketua Program Studi Bahasa Indonesia memilih kalian untuk mewakili program studi kita dalam perlombaan tersebut. Bagaimana


kalian siap?" tanya Bu Widya.


"Siap Bu," jawab Adinda.


"Insyaallah, siap Bu," sahut Aisyah.


"Iya, insyaallah saya siap, Bu," jawab Rena.


"Baiklah, untuk perlombaan kali ini kalian akan mengikutinya secara beregu dan nanti Pak Riswandi akan menjadi dosen yang membimbing kalian. Namun, sebelum kalian menghadap ke beliau, persiapkan dulu karya yang akan kalian pakai untuk perlombaan." Ucap Bu Widya.


"Baik, Bu," sahut ketiganya bersamaan.


"Oh ya, nanti kalian juga akan dibantu oleh Kak Alan. Kebetulan sebelumnya dia sudah pernah mengikuti lomba yang sama dengan kalian. Dia juga berhasil menjadi pemenang dalam perlombaan itu bahkan hingga tingkat nasional," ucap Bu Widya.


"Wah, hebat sekali," sahut Adinda.


"Sekarang, dia sedang menunggu kalian di perpustakaan untuk membahas masalah ini," ucap Bu Widya.


"Baik, Bu, terima kasih atas informasinya. Kami akan segera menemui Kak Alan di sana," ucap Aisyah.


****

__ADS_1


Setelah menemui Bu Widya di ruangannya tadi, Aisyah, Rena, dan Adinda menuju perpustakaan untuk menemui Alan.


"Rena, kamu sudah kenal samaAdinda?" tanya Aisyah pada Rena.


Aisyah sendiri sudah lebih dahulu mengenal Adinda. Hal itu karena mereka sama-sama menjadi pengurus di BEMJ Bahasa Indonesia.


"Belum, kalau gitu salam kenal namaku Renata, panggil aja Rena," sahut Rena sambil mengulurkan tangan kanan dan senyumnya kepada Adinda.


"Aku udah tahu kok nama kamu. Kamu kan termasuk salah satu mahasiswa yang diminta memperkenalkan diri ke seluruh mahasiswa baru saat kegiatan POM waktu itu kan? Renata aja,


bukan?" ujar Adinda saat menerima uluran tangan dari Rena.


"Iya, benar sekali. Tidak aku sangka kamu masih mengingat hal itu," ucap Rena.


"Tentu dong, Adinda! Apalagi jika itu berkaitan dengan Kak Alan," sahut Adinda membanggakan diri.


"Jadi, nama kamu Dinda, ya?" tanya Rena lagi yang dijawab anggukkan kepala oleh Adinda.


Ternyata fans kamu benar-benar banyak ya, Kak. Manis-manis pula  (pikir Rena).


Mereka bertiga akhirnya sampai di perpustakaan. Lalu, mulai mencari keberadaan Alan yang ternyata sedang duduk di salah satu kursi yang ada di perpustakaan tersebut. Ia tampak sedang asyik


membaca saat mereka bertiga menghampirinya.


Alan pun menoleh ke arah ketiga gadis itu. Ia memberikan senyum manisnya dan menatap lekat ketiganya, walaupun sebenarnya tatapannya itu lebih ditujukan kepada Rena. Ini adalah pertama


kalinya mereka bertemu kembali setelah kegiatan outbond di Gunung XX tempo hari. Kegiatan yang memberikan kenangan tersendiri bagi Alan dan juga mungkin bagi Rena.


Rena menggigit bibir bawahnya, ia tampak begitu grogi melihat Alan yang sedari tadi terus memperhatikannya.


Aduh, kenapa tatapan Kak Alan kayak gitu banget sih, aku kan jadi makin grogi (pikir Rena)


Gadis ini semakin hari, semakin terlihat menggemaskan saja, entah kenapa aku selalu senang jika bertemu dengannya (pikir


Alan).


"Kak Alan lagi mikirin apa sih?" tanya Adinda menghampiri Alan, lalu Dinda pun duduk di sampingnya.


Rena dan Aisyah juga ikut duduk di kursi yang berada di depan meja mereka. Posisi Rena kini berhadap-hadapan dengan Alan, sedangkan Aisyah memilih duduk di samping kanan Rena.


"Kak Alan? Lagi mikirin apa?" tanya Adinda lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Alan.


"Lagi mikirin kamu Dinda," jawab Alan sambil melirik Rena.


"Ah, Kak Alan, bisa aja! Jangan gombalin aku dong, nanti aku bisa tambah suka sama Kak Alan," sahut Adinda manja sambil menggelayut di lengan Alan.

__ADS_1


Ih, centil banget sih Dinda! Kak Alan juga sama aja (batin Rena kesal)


Rena benar-benar merasa tidak nyaman melihat pemandangan itu. Sementara, Alan terus menatap wajah Rena yang terlihat masam. Hal itu disadari oleh Aisyah. Ia memperhatikan arah pandang Alan seraya memperhatikan ekspresi wajah keduanya.


Sebenarnya antara Rena dengan Kak Alan ada hubungan apa ya? Kenapa Kak Alan menatap Rena seperti itu? Apa mereka sepasang kekasih? Tapi, sudahlah, untuk apa juga ngurusin merekaberdua, toh sekarang yang harus dipikirkan adalah lomba karya ilmiah ini (ucap Ais dalam hatinya).


"Kak Alan, kira-kira tema apa ya yang bagus untuk bahan karya ilmiah kita?" tanya Aisyah.


Mendengar pertanyaan Aisyah, Alan menyampaikan ide yang dimilikinya kepada Rena, Aisyah, dan Adinda. Semula Rena kurang setuju dengan ide yang disampaikan Alan karena beberapa alasan. Namun, kemudian ide tersebut disempurnakan oleh pemikiran dari ketiganya hingga akhirnya disepakati satu ide tentang tema yang akan diangkat untuk karya ilmiah yang akan mereka buat.


"Fix, sekarang kita sudah setuju dengan tema itu. Sekarang sebagai langkah awal kita cari buku-buku yang bisa dijadikan bahan referensi untuk karya kita." ucap Alan.


"Baik, Kak," sahut ketiganya penuh semangat.


Kemudian, mereka bangkit dari tempat duduk dan segera menyebar ke seluruh penjuru perpustakaan. Mereka mencari buku-buku yang mereka perlukan sebagai bahan tulisan untuk karya ilmiah mereka.


Rena mulai mencari buku pada rak buku yang berada di sudut kanan perpustakaan. Ia membuka dan membaca sekilas beberapa buku yang menurutnya memiliki judul yang berkaitan dengan karya yang akan dibuatnya.


Ia tampak serius melakukan kegiatannya tersebut hingga tak menyadari kalau Alan sedari tadi berdiri di dekatnya.


Alan berdiri dekat, bahkan sangat dekat dengan Rena. Ia sebenarnya melakukan itu karena ingin mengejutkan Rena. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Alan yang terkejut ketika tiba-tiba...


Cup


Bibir merah Rena menempel di pipinya secara tidak sengaja. Saat itu, Rena sedang membalikkan badannya menghadap ke arah Alan yang kebetulan berdiri sangat dekat dengannya. Kejadian itu membuat mereka berdua terpaku sesaat. Alan sama sekali tidak menyangka akan mendapat serangan dadakan seperti itu untuk kedua kalinya.


"Ya ampun, kamu sepertinya suka sekali melakukan serangan mendadak seperti barusan ya," goda Alan memecah keheningan yang sempat terjadi di antara mereka berdua.


"Idih, maksud Kakak apa?" tanya Rena dengan pipi yang merah merona sambil membalikkan badannya


membelakangi Alan.


"Kalau kamu memang suka sekali mencium pipiku ini, bilang saja. Aku pasti akan memberikannya dengan sukarela. Tak perlu melakukan serangan mendadak seperti itu terus," goda Alan separuh berbisik.


Puk!!


Sebuah buku mendarat di wajah tampan Alan. Rena menggunakan buku yang sedang dipegangnya untuk memukul muka Alan yang begitu senang menggodanya.


"Jangan mimpi! Itu semua benar-benar tak sengaja. Lebih baik Kakak menerima ciuman dari buku itu saja supaya kakak lekas bangun dari mimpi Kakak!" sahut Rena jengkel. Ia pun segera berlalu meninggalkan Alan dengan wajah yang tampak kesal.


Alan tersenyum senang melihat ekspresi Rena. Sebenarnya dia juga tahu bahwa semua itu hanya ketidaksengajaan, namun ketidaksengajaan itu membuatnya merasa senang dan sepertinya sangat sulit untuk ia lupakan.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2