Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 72 Aku Mencintaimu


__ADS_3

Setelah cukup lama bergulat dengan kemacetan, Alan pun sampai di rumah yang saat ini ditinggali Rena bersama dengan adik dan kedua anaknya. Rumah yang letaknya berada di belakang perumahan tempat Alan tinggal ini termasuk rumah yang sangat sederhana. Namun, meski begitu rumah ini cukup nyaman untuk ditinggali.


Alan pun membukakan pintu mobilnya untuk Rena.


“Sudah sampai, Tuan Putri,” ucap Alan membuat Rena begitu tersanjung.


Rena pun hendak turun dari mobilnya. Namun sebelum itu, ia pun membangunkan kedua buah hatinya yang nampak terlelap karena terlalu lama menunggu macet.


“Hana, Haikal, bangun sayang,” seru Rena.


Mendengar panggilan sang Mama, Hana pun terbangun. Namun, tidak dengan Haikal. Ia masih tampak terlelap dalam mimpinya.


“Haikal, Haikal, bangun sayang,” seru Rena sambil mengelus-elus pipi putranya itu. Namun, Haikal masih juga belum terbangun.


“Dia masih asyik sama mimpinya kali, Mah. Mimpi punya mobil seratus buah dan sebuah pesawat jet pribadi,” tutur Hana yang tertawa geli melihat adiknya yang masih mengorok dengan iler yang menghias wajah imut adiknya itu.


“Biarkan saja, sini aku gendong,” tawar Alan.


“Jangankan, Kak ! Aku akan berusaha membangunkannya dulu,” ucap Rena.


Kali ini Rena menggunakan cara lainnya. Ia menciumi pipi putra kesayangannya itu sambil terus memanggil-manggil namanya.


“Haikal, sayang.... Bangun, Nak!” seru Rena.


Haikal, Haikal... Om Alan benar-benar iri sama kamu, Nak. Meski ilermu di mana-mana, Mamahmu masih juga menciumimu. Coba, Om yang ada di posisimu, Nak. Nikmat Tuhan mana lagi kah, yang akan kamu dustakan... (ucap Alan dalam hatinya).


Haikal pun akhirnya membuka matanya perlahan-lahan.


“Udah sampai, Mah?” tanya Haikal.


“Udah, Sayang. Yuk, turun!” ajak Rena lembut.


Setelah Haikal terbangun, Rena, Haikal, dan Hana pun turun dari mobilnya Alan. Namun, karena masih mengantuk Haikal pun sempat hampir terjatuh. Beruntung Alan memeganginya hingga Haikal tidak sampai terjatuh.


“Hati-hati, Haikal! Sini, biar Om gendong saja!” seru Alan.


“Tapi, Kak..” ucap Rena yang tampak tidak enak.


“Sudah, Rena. Enggak apa-apa. Daripada anakmu jatuh,” ucap Alan.


Rena tak bisa lagi menolak niat baik Alan untuk menggendong putranya.


Alan pun menggendong Haikal sampai ke dalam kamarnya dan merebahkan anak itu di atas ranjangnya. Ia nampak tersenyum melihat kepolosan putra dari wanita yang dicintainya itu. Sebuah ciuman pipi mendarat di wajah Haikal, membuat Rena terkesima dengan pemandangan itu. Alan mencium putranya dengan penuh kasih, hal yang jarang sekali dilakukan oleh ayah kandung Haikal sendiri.


“Aku pulang dulu ya, Ren” ucap Alan.


“Iya, Kak, terima kasih. Aku dan anak-anakku pasti sudah sangat merepotkanmu,” ucap Rena.


“Tidak, kok. Aku justru sangat senang melakukannya,” ucap Alan tulus.


“Om Alan, terima kasih, ya. Besok jemput kita lagi, kan?” tanya Hana.


“Hana.. Kamu enggak boleh kayak gitu. Emang Om Alan supir kita yang harus jemput kita setiap hari,” ucap Rena.


“Gak apa-apa, kok. Nanti, Om jemput tiap hari,” sahut Alan.


“Yeeee.. Om Alan baik, deh,” seru Hana riang.


“Kak Alan,” sahut Rena yang tampak tidak enak dengan keinginan putrinya itu.


“Sudah, Rena, gak apa-apa. Toh, kita masih satu jalan,” ucap Alan.


Rena memang tak bisa menyangkal itu, rumah mereka dekat. Tempat mereka bekerja pun bersebelahan.


Setelah berpamitan, Alan pun keluar dari rumah Rena. Namun, sebelum naik ke dalam mobilnya Hana, putri Rena, memanggil Alan.

__ADS_1


“Om Alan, tunggu,” seru Hana.


Alan pun menoleh dan menghampiri gadis kecil itu.


“Sini, deh!” seru Hana yang meminta Alan sedikit membungkuk.


Cup


Kali ini sebuah kecupan dari Hana yang mendarat di pipi Alan.


“Hana sayang, Om,” seru Hana.


“Om, juga sayang,” jawab Alan tersenyum lembut.


Rena pun nampak bahagia melihat interaksi di antara keduanya. Senyum manis pun menghias di wajah wanita yang kini berusia 33 tahun.


“Rena,” goda Alan menempelkan jari telunjuk di pipinya.


“Ih... sudah sana pulang,” sahut Rena ketus.


Rena.. Rena.. semakin kamu galak... aku semakin jatuh cinta sama kamu.. (ucap Alan dalam hatinya)


Alan pun masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan kendaraan itu menuju rumahnya.


“Kak Alan, hati-hati,” sahut Rena lirih saat melihat mobil Alan sudah melaju meninggalkan rumahnya.


***


Deru suara mobil sampai di halaman depan rumah Alan, memanggil hati yang sedari tadi dipenuhi sejuta tanya yang belum terjawab ke halaman depan rumahnya.


“Ya ampun, Kak Alan... Dari mana aja? Jam segini baru datang. Diteleponin enggak dijawab? Bilang mau ke kampus enggak nongol-nongol batang hidungnya,” seru Felisa.


“Feli, kebiasaan deh kamu. Kalau nanya udah kayak kereta api, pangjang banget,” sahut Alan menekan kata terakhir.


“Dari sekolah, terus nganterin temen pulang dulu,” jawab Alan.


“Serius, nganterin pulang doang? Kok baru nyampe jam segini,” tanya Felisa tak percaya karena ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 6 sore.


"Tadi di jalan macet banget, Felisa,” jawab Alan sambil mengambil air minum yang ada dalam lemari es nya.


"Terus kenapa tadi Feli telepon selalu gak diangkat ?" tanya Felisa lagi.


"Ponselnya ketinggalan di rumah," jawab Alan.


"Lalu kenapa Kak Alan bohong? Bilangnya mo ke kampus, tapi Feli tungguin gak datang-datang?” tanya Felisa lagi.


“Kak Alan gak bohong Felisa. Tadi tuh emang mau ke kampus, tapi tiba-tiba ada sedikit masalah di sekolah. Jadi, Kakak pikir Kakak harus beresin dulu masalahnya,” jawab Alan.


“Masalah apa Kak?” tanya Felisa penasaran.


“Kepo,” jawab Alan.


“Ih.. Kakak, gitu deh, suka bikin orang penasaran,” gerutu Felisa kesal.


“Lagian kamu, Kakak baru dateng udah diborong pertanyaan. Bukannya, siapin Kakak minum kek, makan kek, mandi kek...Ini malah disiapin seberondong pertanyaan. Yang ada di ni Fel, kalau kamu punya suami, kamu bakal langsung dipecat jadi istri,” ucap Alan sedikit kesal.


“Hehehe... Kakak, sadis amat ngomongnya. Feli kan lupa, Kak, maaf,” ucap Felisa.


“Ya sudah, sekarang cepat suruh Bi Siti siapin Kakak makan. Kakak mau mandi dulu abis itu shalat,” seru Alan.


“Siap, Bos,”.


***


Selesai shalat, Alan tampak menikmati makan malamnya.

__ADS_1


“Kak Alan..,” panggil Felisa manja.


“Apalagi? Tumben manggil kayak gitu. Biasanya manggil kayak gitu ada maunya,” sahut Alan.


“Ih, Kak Alan, pinter banget. Tau aja deh,” sahut Felisa.


“Jadi, kamu mau apa?” tanya Alan.


“Aku mau minjem laptop Kakak. Boleh, ya?” pinta Felisa.


“Emang laptop kamu ke mana?” tanya Alan.


“Laptop aku rusak, Kak. Tadi baru aja aku bawa ke tempat servis,” jawab Felisa.


“Emang kamu mau pakai buat apa?” tanya Alan.


“Buat ngerjain laporan yang disuruh Pak Imran dan harus selesai besok. Tadi, Feli udah bikin sebagian isinya di kampus pakai laptop Kak Abi, tapi masih belum selesai, Kak,” ucap Felisa.


“Udah akur kamu sama Abi?” tanya Alan heran.


“Emangnya aku sama Kak Abi musuhan, Kak?” tanya Felisa balik.


“Bukan, biasanya kan Abi selalu menghindari kamu,” sahut Alan.


“Iya, juga sih. Tapi, udahlah jangan bahas dia dulu. Sekarang, Feli mau bikin laporan dulu,” ucap Felisa menekan kata laporan.


“Ya, sudah sana. Pakai laptop Kakak,” ucap Alan.


“Passwordnya?” tanya Felisa yang membuat Alan tiba-tiba terdiam.


“Aku mencintaimu,” jawab Alan.


“Idih.. Bucin banget,” ledek Felisa.


“Udah, sana atau gak jadi Kakak pinjemin nih,” ancam Alan.


“Eh.. Jangan Kak, jangan, maaf,” sahut Felisa.


Felisa pun segera memasuki meja kerja Alan. Lalu, menyalakan laptop milik kakaknya yang sebelumnya memang telah ada di meja kerjanya. Tidak lupa pula ia mengetik password yang baru saja diberikan Alan.


“Aku mencintaimu? Kakak, Kakak, ada ada aja password-nya. Cinta sama siapa sih, Kak?” gumam Felisa tertawa geli.


Laptop pun menyala, sejenak Felisa terpaku saat melihat gambar wallpaper di layar depan laptop kakaknya itu.


“Itu, Kan....” Felisa pun membulatkan matanya saat sebuah nama terucap dari bibirnya.


“Bu Rena!!” sahut Felisa terkejut.


Felisa sama sekali tidak menyangka kalau kakaknya ternyata mengenali guru SMP kesayangannya itu. Sungguh suatu kebetulan sekali. Terlebih Felisa tahu bahwa saat ini status keduanya sedang sama-sama sendiri.


“Ternyata Kakaku ya.. Diam-diam,” gumam Felisa dengan seulas senyum di wajahnya.


***


Bersambung


Baca dan simak terus lanjutan ceritanya.


Jangan lupa juga, dukung terus author dengan memberikan like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2