Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 68 Perhatian


__ADS_3

Sebuah mobil jenis SUV berwarna silver memasuki gerbang sekolah milik Yayasan TK, SD, SMP, dan SMA Cinta Kasih. Saat mobil itu masuk, tampak kedua satpam yang berjaga di depan gerbang membungkukkan badan mereka sebagai salam kepada si pemilik mobil yang tak lain adalah Alan.


Dengan perasaan yang bercampur aduk, Alan memasuki area sekolah miliknya. Perasaan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan saat harus menjambangi sekolah tersebut. Berbagai pikiran berkelumit dalam benaknya. Entah, alasan apa yang harus diberikannya pada Rena, saat ingin berjumpa dengan wanita pujaan hatinya itu.


Setelah mobilnya selesai di parkir, ia pun memasuki gedung tersebut. Gedung yang tampak bersih dan terawat dengan berbagai fasilitas mewah di dalamnya. Alan pun menaiki tangga menuju lantai tiga, tempat kantor sahabatnya itu berada.


Tok..tok..tok...


“Silakan masuk,” sahut suara yang berasal dari dalam ruangan.


“Eh, Pak Bos, kirain enggak jadi datang,” seru Faizal saat Alan memasuki ruangannya.


Faizal pun berdiri menyambut Alan, mereka berdua saling berjabat tangan dengan gaya yang sama sewaktu mereka masih kuliah dulu.


“Apa kabar Pak Kepsek? Apakah semuanya lancar?” tanya Alan begitu duduk di kursi tamu yang berada di ruangannya Faizal.


“Alhamdulillah, semuanya lancar, aman, dan terkendali,” jawab Faizal.


“Syukurlah, berarti aku tidak salah mempercayakan sekolah ini kepadamu,” ucap Faizal.


“Lalu bagaimana dia?” tanya Alan.


“Dia siapa?” tanya Faizal berlagak bodoh.


“Ah, Faiz. Jangan berlagak bodoh kamu,” ujar Alan setengah kesal.


Faizal pun tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang tampak kesal dengan jawabannya.


“Sejauh yang aku lihat dia baik-baik saja. Hari ini adalah hari pertamanya mengajar di sekolah ini,” ucap Faizal.


“Apa dia senang mengajar di sekolah ini?” tanya Alan kembali.


“Tidak tahu juga. Kenapa tidak kau tanyakan langsung saja kepadanya? Biar nanti aku suruh dia kemari untuk bertemu denganmu,” ucap Faizal.


“Tidak, tidak, tidak untuk saat ini,” jawab Alan terburu-buru.


“Kenapa? Bukannya kau kemari karena ingin bertemu dengannya?” tanya Faizal yang dibuat bingung dengan tingkah sahabatnya itu.


“Iya, aku akui aku memang ingin sekali bertemu dengannya, tapi untuk saat ini aku tidak ingin dia tahu kalau aku yang memiliki sekolah ini,” jawab Alan.


“Kenapa?” tanya Faizal.


“Kau seperti tidak tau Rena saja. Aku tidak ingin dia merasa tidak nyaman berhubungan denganku hanya karena aku pemilik yayasan ini,” jawab Alan.


“Aku kan memang tidak begitu mengenalnya,” sahut Faizal.


“Oh ya, aku lupa,” sahut Alan.

__ADS_1


“Lalu untuk apa kau datang kemari?” tanya Faizal bingung.


“Apa maksudmu bertanya seperti itu? Apa kau ingin mengusirku?” timpal Alan.


“Maksudku kalau kau tidak ingin menemuinya, kenapa juga kau datang kemari?” tanya Faizal lagi berharap kali ini Alan bisa benar-benar menjelaskan maksud kedatangannya.


“Aku hanya ingin melihat dia dan mengetahui kabarnya,” jawab Alan polos.


“Oh, Tuhan, ternyata hanya untuk itu. Kenapa kau tidak segera lamar saja dia? Dengan begitu kau bisa melihat dan mengetahui kabarnya setiap hari,” ujar Faizal gemas.


“Aku takut dia malah menjauhiku lagi seperti dulu,” jawab Alan mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat Rena justru menjauhinya setelah Alan mengungkapkan perasaannya.


“Seperti itukah?” tanya Faizal yang tak percaya bahwa sahabatnya itu pernah ditolak secara tidak langsung oleh Rena.


“Iya, itu juga salah satu alasan kenapa aku mau menikah dengan Dewi,” jawab Alan penuh kegetiran.


“Baiklah, aku akan membantumu agar kau bisa melihat dan mengetahui kabar wanitamu itu,” ucap Faizal yang kemudian mengambil sebuah laptop dan mendudukannya di meja tamu.


Dari laptop tersebut, Faizal pun dapat memutar rekaman CCTV yang sengaja dipasang di setiap ruang kelas. Hal itu dilakukan agar ia dapat dengan mudah memantau kondisi para siswa dan guru selama belajar di kelas, serta untuk mencegah terjadinya tindakan kriminal seperti kasus pencurian atau pun perkelahian yang sering terjadi di dalam kelas.


Rekaman CCTV dipusatkan di kelas VII.1, kelas tempat Rena mengajar saat itu. Tampak senyum manis mengembang di wajah Rena saat ia sedang berinteraksi dengan para siswanya. Suasana belajar mengajar di kelas itu tampak hangat dan menyenangkan.


“Dia sepertinya senang sekali mengajar di kelas itu,” ucap Alan dengan wajah yang berseri-seri.


“Kau benar. Para siswa juga sepertinya merasa nyaman diajar olehnya,” ucap Faizal.


“Ternyata di balik sikapnya yang sering terlihat dingin dan jutek, Rena itu pandai sekali mengambil hati orang, ya,” goda Faizal yang mendapat sikutan dari Alan.


Sepanjang di ruangan Faizal, Alan tak henti memandangi rekaman CCTV yang memperlihatkan aktivitas Rena selama mengajar di kelas. Senyum bahagia ikut terpancar dari wajah lelaki tampan itu.


Anak itu baru kali ini aku melihat dia sebegitu perhatiannya pada seorang wanita. (Ucap Faizal)


***


Bel istirahat kedua pun berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar untuk melaksanakan ibadah shalat Dzuhur berjamaah. Setelah itu, mereka pun makan bersama dengan menu yang sudah disiapkan pihak katering sekolah. Mereka makan di aula khusus yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Berbeda dengan siswa, para guru lebih memilih makan di ruangan mereka. Hanya Rena saja yang tidak terlihat siang itu.


“Kak Jess, apa yang tadi ingin Kak Jessi ceritakan padaku? Yang katanya serius banget itu?” tanya Yuna yang masih penasaran dengan perkataan kakak iparnya sebelumnya.


Jessi pun menceritakan semua informasi yang didengarnya dari sahabatnya itu mengenai Rena. Mulai dari alasan Rena dikeluarkan dari sekolah lamanya, kemungkinan hal yang menjadi penyebab perceraiannya, sampai kedekatan Rena dengan Dewa di sekolah lamanya. Yuna tampak begitu kesal mendengar semua yang didengarnya dari kakak iparnya itu mengenai Rena. Ia sangat berharap Rena tidak akan lama mengajar di sekolah itu.


“Pantas saja aku tidak merasa asing mendengar namanya. Ternyata dia pernah dekat sama Mas Dewa. Ya.. sekarang aku ingat, nama itu yang beberapa kali aku dengar disebut Pak Asep dan teman-teman Mas Dewa lainnya yang pernah mengajar di sekolah itu juga waktu mereka menghadiri pernikahan kami. Tidak disangka Rena dan Mas Dewa kembali bertemu di sekolah ini dengan status Rena yang sudah menjadi janda. Awas saja, kalau dia berani merayu suamiku lagi! Akan aku beri dia pelajaran yang enggak akan dia lupakan! Bila perlu akan kubuat dia angkat kaki dari sekolah ini,” ucap Yuna geram.


“Sudah, Yuna tenang. Kamu lupa kalau kamu sudah pernah mendapat surat peringatan karena masalahmu dengan Maya dulu,” ujar Jessi mencoba menenangkan adik iparnya yang tampak terlihat begitu emosi.


Ya Tuhan, apa aku sudah salah memberi tahu Yuna tentang semua ini? (ucap Jessi yang sepertinya menyesali semua yang telah diucapkannya kepada yuna).


“Iya, aku ingat. Tapi, aku tidak peduli dengan semua itu. Yang jelas kalau aku lihat Rena sampai merayu suamiku, awas saja! Tidak akan aku ampuni dia,” ucap Yuna dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong perempuan itu sekarang di mana?” tanya Yuna.


“Entahlah,” jawab Jessi yang melihat ke arah sekitar dan tak melihat keberadaan Rena.


“Jangan sampai aku melihat dia ada di ruangannya Mas Dewa,” ucap Yuna dengan sorot mata penuh amarah.


Yuna pun langsung berjalan keluar meninggalkan ruangan.


“Yuna, kau mau ke mana?” teriak Jessi mencoba menyusul Yuna.


“Aku ingin ke kantor Mas Dewa. Aku ingin memastikan, kalau perempuan itu tidak ada di ruangannya,” ucap Yuna sejenak. Namun, ia menghentikan langkahnya, saat dia melihat Jessi mengejarnya.


“Bagaimana kalau aku ikut saja denganmu?” tawar Jessi.


“Untuk apa?” tanya Yuna.


“Ya... ingin ikut saja menemanimu. Apa tidak boleh?” ucap Jessi.


Sebenarnya aku takut saja terjadi apa-apa di sana. Entah mengapa perasaanku saat ini tidak enak. (ucap Jessi dalam hati).


“Baiklah, kau boleh ikut denganku,” ujar Yuna.


Jessi dan Yuna pun melangkahkan kaki mereka ke kantor Dewa yang letaknya berada di lantai satu gedung ini.


***


Setelah menjenguk dan memastikan anak-anaknya makan dengan lahap, Rena pun kembali ke gedung SMP. Namun, saat ia hendak naik ke lantai dua menuju ruang guru, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Pesan itu berasal dari Dewa.


Bu Rena, maaf, bisakah kau ke ruangan saya sebentar untuk mengambil beberapa buku yang tadi kau butuhkan. Sekarang, buku-buku itu sudah ada di ruangan saya. (Dewa)


Baik, Pak. Saya akan ke sana sekarang. (Rena).


Rena pun mengurungkan niatnya naik ke lantai 2. Ia pun berbalik kembali menuju ruangan yang tadi sempat dilewatinya, yaitu ruang wakasek kurikulum, yang tak lain adalah ruangannya Dewa.


***


Bersambung


Kira-kira Rena bakal ketemu enggak ya.. sama Yuna dan Jessi di tempat Dewa ? 🤔🤔


Baca dan simak terus lanjutan ceritanya.


Jangan lupa juga, dukung terus author dengan memberikan like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘

__ADS_1


Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2