Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 24 Sahabat Baru


__ADS_3

Rena pov


Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin, aku dan teman-teman melaksanakan pekan orientasi mahasiswa. Sekarang, kami telah berada di semester tiga.


Selama berkuliah hingga memasuki awal semester tiga ini, banyak sekali hal yang terjadi. Banyak hal telah yang berubah.


Aku dan Novi sudah jarang bertemu dengan Rindu karena jurusan dan jadwal kuliah kami berbeda. Sedangkan, untuk aku dan Novi, kami selalu bersama karena kebetulan kami bukan hanya berada di jurusan yang sama, tapi juga di kelas yang sama.


Di kelas tersebut aku dan Novi sangat dekat dengan tiga orang lainnya. Mereka adalah Aisyah, Dina, dan Lala. Kami selalu pergi ke mana-mana bersama. Tak jarang kami pun mengunjungi ruang sekretariat BEMJ, yang kebetulan anggota baru di sana, untuk menjemput mereka berdua makan di kantin.


Sebenarnya aku sendiri enggan mengunjungi tempat itu karena malu bertemu dengan kakak- kakak senior, tapi ya mau bagaimana lagi namanya juga demi teman. Eh, tidak sekarang mungkin mereka berempat bisa dibilang sahabatku.


***


Author pov


"Rena, kenapa sih kamu dan Novi enggak mau ikut dalam kepengurusan BEMJ?" tanya Lala


"Males ah, capek. Enakan kaya gini," jawab Rena


"Iya, aku juga sama," sahut Novi


"Tapi kan kalian mahasiswa berprestasi, IPK kalian aja gede-gede." sahut Dina.


"Tau tuh ditanyain juga sama Kak Alan," sahut Lala.


"Siapa? Rena?" tanya Novi melirik Rena.


"Apaan sih? Cabut nih," ancam Rena karena dia paling tidak suka teman-temanya membahas tentang dia dan Alan.


"Enggak, kalian berdua kok. Bukan cuma Rena aja." sahut Lala.


Mereka berempat duduk di kursi yang ada di samping ruang sekretariat BEMJ.


"Duh, Aisyah mana sih?? Tuh sekretaris kayanya lebih rempong dari ketuanya deh," sahut Dina jengkel


"Iya, sejak Ais kepilih jadi sekretaris BEMJ, dia sekarang lebih super sibuk," sahut Novi.


"Bener banget, tapi Aisyah hebat loh! Kalau bukan karena Kak Alan saingannya pada pemilihan Ketua BEMJ kemarin, pasti dia sekarang yang jadi ketuanya," sahut Lala.


Iya, akhir semester kemarin, fakultas KIP, kampus Pelangi baru saja mengadakan pemilihan ketua BEM yang baru untuk semua jurusan dan fakultas periode 2005-2006. Pada periode kali ini, Alan


dan Arka kembali terpilih sebagai Ketua BEMJ Bahasa Indonesia dan Ketua BEMJ Biologi.


Sedangkan, Abimanyu terpilih sebagai Ketua BEM Fakultas. Untuk jabatan Ketua BEMJ Bahasa Inggris kali ini dipegang oleh Kevin Juliano, mahasiswa semester 5 Jurusan Bahasa Inggris.


"Eh, maaf ya, lama," sahut Aisyah yang baru keluar dari ruangan itu.


"BANGET" sahut Novi dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Ya udah, yuk! Perutku udah keroncongan banget," pinta Rena seraya beranjak berdiri dari tempat itu.


Saat mereka berempat akan meninggalkan tempat tersebut, Alan keluar dari ruangan itu.


"Hai, semua," sapa Alan ramah sambil memasang senyum manisnya


Semua yang ada di sana menjawab sapaan Alan, kecuali Rena. Ia diam saja. Bahkan, ia mengalihkan pandangannya dari tatapan Alan.


Kenapa aku ngerasa dia ngeliatin aku terus sih? Ya ampun, Renaaaa, sadar! Emang kamu siapa? Dia siapa? Pria pecicilan itu kan memang biasa ramah sama semua orang (batin Rena)


Ya ampun, jutek banget tuh cewek! Juga dingin seperti biasa, benar-benar strawbery mint (pikir Alan)


"Mau pada ke mana?" tanya Alan.


"Mau ke kantin, Kak! Cari bakso yang pedees," sahut Lala memanjangkan kata terakhir dan menekan kata itu.


"Bukannya mulut kamu udah pedes, enggak bakal tambah pedes tuh makan bakso pedes," ucap Alan.


"Yeaayy, Kakak! Enak aja," sahut Lala sambil mengerucutkan bibirnya


"Tapi emang bener, kan? Mulut kamu itu emang pedes. Makanya nanti minumnya kalian kasih teh manis aja, biar yang keluar hanya kata-kata manis darinya," sahut Alan sambil melirik ke arah Rena.


"Cie.., mau dong denger kata-kata manis dari Lala," sahut Aisyah.


"Apaan sih kamu Ais? Jangan dengerin kata Kak Alan!" sahut Lala.


"Yee, yang perlu teh hangat itu bukan aku, tapi Rena tuh. Secara dia kan cewek yang paling dingin di antara kita," sahut Lala.


"Cih, apaan sih? Kok jadi nyambung-nyambung ke aku, enggak ada kabelnya tau," sahut Rena ketus.


"Udah ah, jangan berantem terus! Katanya mau ke kantin. Aku udah lapar banget tau! Yuk, cepat!"


sahut Novi seraya menyeret keempat sahabatnya itu menuju kantin.


"Kak, maaf kita gak ngajakin," sahut Lala dari kejauhan sebelum benar-benar menghilang


"Dih, siapa juga yang mau diajakin," jawab Alan.


"Tapi kalo diajakin juga gak akan nolak," gumam Alan sambil menyunggingkan senyumnya saat melihat Rena dan teman-temannya sudah berlalu pergi meninggalkannya.


****


Di kantin


"Jadi setelah ini kita ikut mata kuliah jurnalis, nih? Bareng Kakak Kelas, ya?" tanya Rena


"Iya, bareng sama kelasnya Kak Alan dan Kak Faiz," jawab Aisyah sambil mengunyah bakso.


Duh, kenapa sih harus sekelas sama dia? Tapi,

__ADS_1


mudah-mudahan dia juga udah ambil mata kuliah ini seperti yang udah-udah karena kan dia juga pinter, IPKnya juga 'amazing' pasti dia sudah ambil tahun lalu (batin Rena)


"Kira-kira Kak Alan ikut juga enggak, ya?" tanya Lala.


"Enggak tau juga, yang udah-udah biasanya dia udah ngambil duluan karena kan dia tuh pinter banget, walaupun gayanya kaya gitu," jawab Aisyah.


Tempat perkuliahan Rena yang menggunakan sistem sks, memang demikian. Di tempat itu, mahasiswa yang memiliki IPK di atas 3,00 diperbolehkan mengambil sks berlebih dari beban sks yang diwajibkan kepada mereka tiap semesternya. Hal itu agar mahasiswa terpacu menjadi lebih giat dan lebih cepat menyelesaikan perkuliahannya.


"Dan denger-denger, Kak Alan sudah ditawari oleh beberapa dosen untuk menjadi asisten dosen di kampus kita lho," lanjut Aisyah


"Wah, hebat tuh," sahut Novi.


"Keren," timpal Lala.


Mereka pun terus melahap bakso itu sambil tak henti bercanda dan bercerita.


****


Perkuliahan sudah dimulai. Pengisi mata kuliah tersebut adalah Pak Janwar Bramantyo, beliau adalah seorang jurnalis, novelis, dengan gelar maestro sastra Asia.


Aisyah, Lala, Rena, Novi, dan Dina memasuki ruangan perkuliahan. Semua sorot mata menatap ke arah mereka saat mereka memasuki tempat tersebut seolah mempertanyakan keberadaan mereka di ruangan itu. Akan tetapi, hari ini bukan hari pertama bagi mereka dihadapkan pada kondisi semacam itu. Hari-hari sebelumnya juga sama, saat mereka mengambil mata kuliah di tingkat atas, mereka pasti akan bertemu sorot mata yang


demikian.


Di kelas itu sudah ada beberapa mahasiswa yang sedang duduk sambil bercakap-cakap. Beberapa dari mereka dikenali Rena, ada Dania, Mauri, Faizal, dan Alan. Pertemuan mereka berdua sama


sekali tak diduga oleh keduanya, baik Alan maupun Rena.


Dia masuk kelas ini juga (pikir Alan saat memandang Rena).


Aduh, ternyata dia belum mengambil mata kuliah ini (pikir Rena)


"Na, kita duduk di belakang aja, yuk," ajak Novi


Rena menjawab dengan anggukan kepala sambil mengikuti langkah kaki Novi dan teman-temannya yang lain. Sementara Alan berada di barisan paling depan bersama Faizal, sedangkan Dania dan Mauri di barisan kedua persis di depan bangku milik Rena dan teman-temannya.


"Kamu dan teman-temanmu mengambil mata kuliah ini juga?" tanya Dania


"Iya, Kak," jawab Rena


"Wah, berarti kalian anak-anak pinter dong!" puji Mauri.


Rena hanya menjawab pujian Mauri dengan senyuman. Lalu, kelimanya duduk di kursi belakang. Tak lama Pak Janwar datang dan memberikan materi di kelas tersebut.


***


Bersambung


Jangan lupakan like, vote, dan komen terbaiknya.

__ADS_1


__ADS_2