Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 88 Cemas


__ADS_3

Tak lama, ponsel Alan berdering...


Sebuah panggilan masuk ditujukan Faizal untuk Alan. Alan pun segera mengangkat telepon dari sahabatnya itu.


“Iya, halo, Faiz ada apa?” tanya Alan tanpa basa basi.


“Eits, si bos nih, langsung nyamber aja. Pake basa basi dulu, kek!” ucap Faizal.


“Pake basa basi sama kamu yang ada cuma basi,” sahut Alan terkekeh.


“Okelah kalau begitu, enggak masalah. Aku langsung saja ke laporannya,” ujar Faizal.


“Laporan? Laporan apa?” tanya Alan bingung.


“Hari ini tepatnya Senin, 20 Juli 2020, aku Faizal, Kepala SMP Cinta Kasih, melaporkan bahwa saudari Rena terlihat sedang jalan bareng bersama Abi. Laporan selesai,” ujar Faizal yang kemudian terkekeh membayangkan reaksi sahabat yang sekaligus juga atasannya itu.


“Bicara apa kamu Faizal?” tanya Alan sedikit kesal dengan apa yang didengar dari sahabatnya itu.


“Iya, aku bicara tentang apa yang kulihat hari ini teman. Sungguh mengejutkan, seorang Abi yang jarang terlihat membawa wanita kini terlihat mengantar seorang wanita hingga sampai ke sekolah dan wanita itu tak lain adalah wanita yang kini menjadi incaran seorang Alan. Bukan kah itu laporan yang luar biasa,” sahut Faizal yang masih terkekeh karenanya.


“Maksud kamu hari ini Rena berangkat ke sekolah bersama Abi?” tanya Alan dengan nada yang mulai serius.


“Iya, begitu lah. Memang tangan kananmu masih sakit, Lan? Bukannya aku dengar kemarin gips di tanganmu sudah mulai dilepas?” tanya Faizal.


“Alhamdulillah, tanganku sudah jauh lebih baik dan gipsnya juga sudah mulai dilepas. Hari ini juga aku sudah mulai mengajar seperti biasa,” jawab Alan dengan nada yang terdengar murung.


“Kalau begitu kenapa bukan kamu sendiri yang mengantar Rena? Bukankah biasanya Rena diantar jemput sama kamu atau adikmu?” tanya Faizal.


Alan pun menceritakan semua yang dibicarakan antara dirinya dan ibunya kepada Faizal.


“Sebenarnya apa yang dikatakan Mama Lana kepadamu tidak lah salah. Apalagi jika kamu memang serius ingin melamar dia di depan teman-teman kita nanti. Kamu harus benar-benar memastikan perasaannya. Jangan sampai kamu mendapat penolakan darinya karena kalau sampai itu terjadi mungkin hubungan kalian akan semakin merenggang,” tutur Faizal.


“Iya, sepertinya itu juga yang dipikirkan Mama. Lalu menurutmu aku harus bagaimana? Apa aku harus membatalkan niatku untuk melamarnya?” tanya Alan separuh frustasi.


“Bisa iya, bisa tidak. Semuanya tergantung sikap yang nanti akan ditujukan Rena kepadamu,” sahut Faizal.


“Lalu menurutmu Rena sendiri seperti apa?” tanya Alan.


“Rena itu wanita yang sulit ditebak Alan. Bukankah begitu? Dan menurutku kamu tidak bisa memaksakan keinginanmu terhadapnya karena semakin kamu ingin mendapatkannya maka sepertinya dia justru akan semakin menjauh darimu,” ucap Faizal.


“Kamu benar Faizal. Sudah begitu lama aku mengenalnya, namun sepertinya sulit sekali untuk mengetahui isi hatinya yang sebenarnya,” sahut Alan.


“Kenapa kamu tidak bertanya langsung saja pada adiknya? Bukan kah hubunganmu dengan adiknya cukup dekat? Aku yakin sedikit banyak adiknya pasti tahu tentang perasaan Rena terhadapmu. Bukankah ustad Alif pernah bilang jika kamu ingin mengenal seorang wanita, maka kamu dapat mengenali sifat aslinya dari orang yang paling dekat dengannya yaitu adik atau kakaknya,” ujar Faizal mengingat kata-kata Ustad Alif (guru mereka) saat mengisi materi “Menikah Tanpa Pacaran".

__ADS_1


Alan mulai memikirkan kata-kata Faizal.


“Baiklah akan aku coba melakukannya. Lalu apalagi yang kamu lihat antara Abi dan Rena?” tanya Alan.


“Ada hal yang tak biasa aku lihat Alan. Aku tidak tahu kelebihan apa yang dimiliki wanitamu karena aku melihat sikap Abi tidak sedingin seperti sikap yang selama ini sering ditunjukan olehnya pada wanita-wanita yang berada di sekitarnya. Aku melihat Abi banyak tersenyum di samping Rena,” ucap Faizal.


“Kamu bersungguh-sungguh, Faiz?” tanya Alan seakan tak percaya.


“Tentu saja, kalau tak percaya kamu datang saja kemari,” ujar Faizal.


“Buat apa aku ke sana? Begitu aku sampai Abi pasti sudah tidak ada lagi di sana,” ucap Alan.


“Kata siapa? Abi kemungkinan besar sampai sore di sini karena aku baru saja memintanya menggantikan Jessi melatih anak-anak yang akan mengikuti turnamen taekwondo yang akan berlangsung dua hari lagi,” ucap Faizal.


“Kamu gila, Faiz! Kenapa kamu suruh dia? Memang tidak ada orang lain lagi apa? Lalu Jessi memang kenapa dia?” tanya Alan kesal.


“Hey, tenang teman. Aku meminta Abi karena memang dia sangat mahir dalam olahraga bela diri ini dan kamu sendiri pun tahu seperti apa kemampuannya. Lalu masalah Jessi, tiga hari ini dia izin karena Fathan, putranya sedang sakit,” jelas Faizal.


“Maaf, mungkin karena terlalu cemas dan khawatir pikiranku menjadi kurang jernih,” sahut Alan.


“Sudahlah Alan, kamu tidak perlu cemas. Kalau Rena itu memang jodohmu tidak ada yang perlu kamu khawatirkan,” ucap Faizal.


“Bukannya kamu yang dari tadi menggodaku dan membuatku khawatir? Kalau begitu aku rasa aku tidak perlu ke sana. Aku percaya dengan hatiku,” sahut Alan.


***


Matahari mulai menampakkan keperkasaannya, sinarnya menyilaukan mata dan panasnya terasa membakar kulit. Namun, itu tak meredakan semangat anak-anak untuk terus bermain menghabiskan waktu istirahat mereka.


“Dhel, main sama aku, yuk!” ajak Nafa, gadis kecil berwajah oriental dengan wajah imutnya.


“Enggak, ah. Aku mau main sama Hana aja,” jawab Adhel, gadis seusia Nafa dan Hana yang memiliki mata bulat dengan lesung pipi di sebelah kanan dan kiri pipinya.


“Kamu ya, Dhel!” Nafa geram dan mendorong badan Adhel hingga mengenai Hana yang saat itu sedang memegang es susu coklat, akibatnya es susu coklat milik Hana tumpah dan tumpahannya itu mengenai pakaian Hana dan Adhel.


“Nafa!!” teriak Hana dan Adhel hampir bersamaan.


“Rasakan kalian! Makanya jangan sombong jadi orang!” sahut Nafa tanpa merasa bersalah.


“Kamu ya, udah salah bukannya minta maaf malah bikin kesel. Rasakan ini!” sahut Adhel membalas perbuatan Nafa dengan mendorong badan Nafa hingga terjatuh. Saat terjatuh kepala Nafa terkena batu kerikil dan membuat keningnya berdarah.


“Aduh, kalian ya... Bu Guru... Keningku berdarah,” rengek Nafa.


Kejadian itu terlihat oleh Novi yang kebetulan sedang melewati tempat itu.

__ADS_1


“Adhel, Hana, ada apa ini? Kenapa Nafa bisa seperti ini?” bentak Novi.


Hana dan Adhel hanya diam tak berani menjawab.


“Kamu enggak apa-apa Nafa? Sini Ibu obatin! Hana, Adhel, ikut Ibu!” seru Novi geram.


“I-iya, Bu,” jawab Hana dan Adhel hampir bersamaan dengan wajah penuh ketakutan.


Adhel, Hana, dan Nafa pun mengikuti Novi ke UKS. Novi mengobati luka yang ada di kening Nafa.


“Sekarang, coba ceritakan ke Ibu! Kenapa Nafa bisa sampai seperti ini?” tanya Novi dengan nada yang lebih rendah dari sebelumnya.


Hana dan Adhel pun mulai menceritakan semuanya, begitu pula dengan Nafa.


“Baiklah, berarti dalam hal ini kalian bertiga Ibu anggap bersalah,” ujar Novi.


“Kok gitu, Bu? Kan aku yang jadi korban,” ucap Nafa tidak terima.


“Tapi kamu kan yang duluan cari masalah Nafa,” sahut Hana.


“Benar yang dibilang Hana,” sahut Adhel menimpali.


“Sudah, cukup! Sekarang kalian bertiga bersihkan kamar mandi! Ibu akan memanggil orang tua kalian kemari,” ucap Novi tegas.


“Jangan, Bu!!” teriak Hana, Adhel, dan Nafa hampir bersamaan.


“Tidak ada kata JANGAN,” ucapan terakhir Novi membungkam mulut Hana, Nafa, dan Adhel.


Mereka bertiga sudah tidak lagi berani membantah dan menuruti semua perintah Novi untuk membersihkan kamar mandi. Selain itu, mereka pun harus menerima kenyataan bahwa sore ini orang tua mereka harus menghadap Novi karena kebetulan Novi adalah guru sekaligus wali kelas dari Hana, Nafa, dan Adhel.


***


Bersambung


Bagaimana sikap orang tua Adhel dan Nafa pada Rena ya? 🤔🤔


Tunggu dan saksikan kelanjutannya 😁


Dan terima kasih bagi yang telah setia membaca cerita ini dan 😉 🙏🙏


Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️

__ADS_1


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘


__ADS_2