
Suara ketukan pintu yang diiringi sahutan seseorang dari arah pintu depan rumahnya, membangunkan Rena dari tidurnya. Suara sahutan itu terdengar tidak asing di telinga Rena. Ia pun lekas beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya. Rena bermaksud untuk membukakan pintu yang telah diketuk tadi. Namun, sang Mama telah lebih dahulu sampai di depan pintu rumah itu dan membukakannya.
Dari balik pintu itu, tampak Rayhan yang sedang berdiri tegap. Ia berpakaian begitu rapih dengan celana katun berwarna krem dan batik berwarna coklat. Tentu saja hal itu membuat Rena dan Mama Rena sangat terkejut dibuatnya.
“Rayhan? Mari masuk,” ucap Mama Rena dengan memamerkan senyum ramah di wajahnya.
“Maaf, Tante, enggak perlu, di sini saja. Saya enggak lama kok. Kebetulan tadi saya baru saja menghadiri resepsi pernikahan teman saya yang berada di sekitar sini,” sahut Rayhan dengan suara agak parau dan mata yang mulai berkaca-kaca.
Aduh, kenapa dia? Apa dia baru saja menangis? Apa dia sudah membaca pesan itu? Adakah yang salah di sini ? (ucap Rena dalam hati)
“Saya kemari hanya ingin menyampaikan permintaan maaf saya pada Tante dan juga Om atas kelancangan saya datang kemari tempo hari, dan mungkin mulai hari ini saya tidak akan datang lagi ke rumah ini,” sahut Rayhan sambil menatap Rena yang tengah berdiri di samping mamanya dengan sorot mata yang masih berkaca-kaca.
Mendengar perkataan Rayhan yang cukup mengejutkan, membuat sang Mama menatap Rena dengan tatapan tajam, seolah menuntut penjelasan dari putrinya atas semua yang dikatakan oleh Rayhan.
“Maaf, Rayhan, Tante masih belum paham dengan maksud perkataan kamu barusan? Memangnya kenapa? Apa ada masalah antara kamu dengan Rena?” tanya Mama Rena.
“Maaf, Tante, mungkin putri Tante belum mengatakannya kepada Tante kalau dia telah menolak saya,” sahut Rayhan sambil memandang Rena dan membuat Mama Rena terkejut dengan perkataannya.
Menolak Rayhan? Aduh, ada apa dengan anak ini? Apa dia benar-benar perlu diruqyah? Kenapa dia selalu bersikap seperti ini pada semua laki-laki yang datang kepadanya ? Apa dia benar-benar ingin jadi perawan tua? Apa kurangnya seorang Rayhan ? Dia tampan, orangnya ramah, sopan, dan memiliki pendidikan yang setara dengannya. (Ucap Mama dalam hati )
Mama terus menatap Rena dengan tatapan mata yang sangat tajam, seolah ingin memakan putrinya. Melihat tatapan mata mamanya yang penuh dengan kemarahan dan kekecewaan membuat Rena merasa bersalah dan perasaan bersalah itu semakin bertambah, saat dirinya melihat mata Rayhan yang semakin memerah seperti menahan tangis dan kekecewaannya kepada Rena.
“Maaf, Tante, saya permisi dulu. Assalamualaikum,” sahut Rayhan sambil berlalu pergi meninggalkan rumah Rena.
“Waalaikumsalam,” jawab Rena dan Mamanya secara bersamaan.
__ADS_1
Setelah Rayhan pergi dan Mama Rena menutup pintu depan rumahnya. Ia pun kemudian mendekatkan dirinya ke arah Rena seolah meminta penjelasan atas apa yang didengarnya dari Rayhan.
“Rena, tolong jelaskan kepada Mama, apa benar yang dikatakan Rayhan? Apa kamu sungguh-sungguh menolaknya? Kenapa?” tanya Mama Rena.
“Benar, Mah. Rena memang menolak Rayhan. Itu karena Rayhan ingin melamar Rena,” jawab Rena.
“Apa melamar? Maksud kamu Rayhan ingin kamu jadi istrinya?” tanya Mama Rena yang terkejut mendengar cerita dari putrinya.
Sebelumnya Mama Rena tidak sampai berpikir bahwa kata ‘menolak’ di sini maksudnya ‘menolak lamaran’. Ia berpikir Rayhan baru mengajak Rena berhubungan sebagaimana hubungan muda-mudi pada umumnya. Apalagi yang Mama Rena tahu Rayhan dan Rena belum lama saling mengenal.
“Iya, Mah, Rayhan ingin mengajak Rena menikah dan rencananya lusa Rayhan akan datang bersama keluarganya,” jelas Rena.
“Apa?? Lusa??” tanya Mama Rena semakin kaget.
Mama Rena pun cukup memahami alasan penolakan Rena. Namun, baginya, Rena tetap saja mengambil keputusan yang salah sebab hal itu bertentangan dengan adat dan tradisi di keluarga mereka.
“Tapi Rena, kamu kan tahu adat dan tradisi di keluarga kita bahwa pamali kalau perempuan menolak lamaran yang datang kepadanya karena nanti jodohnya akan jauh lagi,” ucap Mama Rena.
Benar, Rena sangat tahu dengan adat dan pemikiran kuno itu. Adat dan pemikiran yang masih dianut oleh keluarga dan masyarakat yang ada di sekitarnya. Adat yang berpikir bahwa perempuan akan lama mendapatkan jodohnya, jika ia pernah menolak lamaran dari laki-laki.
“Lalu apa yang harus Rena lakukan, Mah?” tanya Rena.
“Sekarang telepon Rayhan, minta maaf kepadanya, dan katakan kalau kamu siap menerima lamarannya?” sahut Mama Rena yang seketika membuat Renata membulatkan matanya karena terkejut mendengar perkataan dari sang Mama.
“Apa?!!!” ucap Rena tersentak kaget.
__ADS_1
"Iya, bukankah selama ini kamu juga tidak ingin berpacaran? Mungkin dia memang jodoh yang dikirim kan Tuhan untukmu," jawab Mama Rena.
Lagi-lagi mamanya mengatakan hal yang tak bisa dibantah oleh Rena, meski pemahamannya terhadap agama masih sangat dangkal, namun ia memang tidak ingin menjalin hubungan pacaran dengan pria mana pun baginya cintanya pertama dan terakhirnya hanya untuk laki-laki yang kelak akan menjadi suaminya.
***
Mungkin, itulah yang disebut takdir Tuhan. Segala hal yang direncanakan oleh manusia kadang tak sesuai dengan rencana yang digariskan Tuhan untuk mereka. Meski keraguan masih sempat menyelinap di hati Rena, namun ketika dua keluarga besar telah membuat keputusan yang disepakati bersama, maka Rena harus memantapkan hatinya, membuang segala perasaan ragu yang akan membuat langkahnya semakin berat untuk menata kehidupan di depannya.
Kini pernikahan Rena tinggal menghitung hari, tepatnya satu minggu lagi. Cincin pernikahan dan gaun pengantinnya pun telah dipesan beberapa hari sebelumnya. Demikian juga dengan kartu undangan yang ada di tangan Rayhan kini telah siap dibagikan kepada para guru dan orang tua murid.
“Kira-kira kapan Rayhan akan membagikan kartu undangan itu, ya? Lalu bagaimana nanti reaksi anak-anak saat menerima kartu undangan yang dititipkan untuk orang tua mereka? Pasti akan sangat menghebohkan, ” gumam Rena di depan sebuah cermin, saat dirinya bersiap untuk berangkat ke sekolah.
Pemikiran Rena tidaklah salah karena sejak pernikahan itu diputuskan, Rayhan meminta Rena untuk merahasiakan rencana pernikahan mereka kepada para siswa maupun guru-guru di sekolah tersebut. Rayhan ingin memberikan kejutan untuk mereka. Bahkan, untuk mendukung kejutan tersebut, selama bertemu di sekolah, baik Rayhan maupun Rena hanya bersikap biasa-biasa saja. Tidak ada tanda-tanda atau pun perilaku mereka yang menunjukkan bahwa mereka berdua adalah calon pengantin yang akan dipersatukan dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Hal konyol bahkan dilakukan Rayhan, saat ia ingin memesan cincin pernikahan untuk mereka. Tidak seperti pasangan pada umumnya, yang jalan berdua untuk memilih cincin pernikahan mereka, Rayhan justru meminta Rena untuk ke kantor dan menggunakan benang jahit yang disimpannya di meja Rena. Kemudian Rena diminta melingkarkan benang jahit tersebut pada jari manisnya dan setelah itu diikat hingga membentuk sebuah cincin benang yang kemudian dilepaskan dan diletakkannya kembali di meja Rena yang nantinya akan diambil kembali oleh Rayhan. Hal tersebut Rayhan lakukan untuk mengetahui ukuran jari manis Rena sehingga cincin yang akan dipesannya tidak kebesaran ataupun kekecilan.
Bukan hanya itu, Rayhan juga menitipkan konsep denah lokasi yang dibuatnya untuk dicantumkan di kartu undangan dalam sebuah buku pelajaran yang dititipkan kepada siswanya untuk diberikan kepada Rena. Begitulah Rayhan menyiasati semuanya guna menutupi rahasia pernikahan yang akan mereka selenggarakan.
***
Bersambung
Masih lanjut di masa lalu Renata ya...
Terima kasih sudah membaca sampai sini...
__ADS_1