
Iris di bagian belakang barisan Ksatria Suci itu segera membidik lawannya. Targetnya adalah sosok manusia setengah naga dengan rambut kemerahan itu.
'Swuuuusshhh!!!'
Beberapa gerigi dalam senjata aneh itu mulai berputar, mengeluarkan gas dan cahaya kebiruan yang indah. Sedangkan tepat di depan mata kanan Iris muncul 6 buah lingkaran sihir berukuran kecil.
Sebuah lingkaran sihir yang berfungsi sebagai lensa untuk melihat lebih jauh.
Sementara itu, tepat di bagian depan senjata aneh itu, muncul juga 4 buah lingkaran sihir. Tiga diantaranya berwarna kehijauan dengan lingkaran sihir yang paling luar memiliki warna merah.
'Senjata apa itu sebenarnya?' tanya Lucius dalam hatinya.
Tapi jawaban dari pertanyaan Lucius muncul sesaat setelah Iris menarik pelatuk di senjata itu menggunakan jari telunjuk tangan kanannya.
'Klak!'
'Duaaaaaarrr!!!'
Sebuah ledakan yang cukup kuat menimbulkan gelombang angin yang sedikit mendorong mundur tubuh Lucius.
Iris sendiri juga terlihat sedikit terdorong, dengan senjatanya yang terangkat ke udara.
"Apa-apaan itu?" tanya Lucius penasaran. Tapi saat Ia menoleh ke arah manusia setengah naga itu di kejauhan....
'Deg! Deg!!'
Lucius dapat melihat pundak kiri manusia setengah naga itu terluka parah hingga tak bisa digerakkan.
"Peluru sihir. Aku menembakkan peluru sihir ini sebagai ganti anak panah, dengan kecepatan dan daya hancur yang jauh lebih mematikan." jelas Iris. Ia terlihat mengambil sebuah peluru dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari jari telunjuknya itu.
Peluru itu memiliki warna perak yang indah dengan alur rumit di sekelilingnya.
'Cklaaakk!!'
Iris menarik salah satu tuas di senjata aneh itu, membuang selongsongan peluru yang telah kosong. Kemudian memasukkan peluru baru di dalamnya.
"Ku dengar kau cukup kuat. Ku pasrahkan perlindungan diriku padamu. Aku tak bisa memperhatikan sekeliling setelah fokus untuk menembak." ucap Iris dengan nada datar.
"Baiklah...." balas Lucius singkat.
Ia menerima permintaan itu, mengingat senjata yang digunakan oleh Iris benar-benar mengerikan. Jika saja setiap tembakannya tak memakan begitu banyak Mana....
Kemungkinan senjata itu akan menjadi penghancur keseimbangan militer di dunia ini.
'Duaaaaarrr!!! Klaaangg!'
"Cih, meleset." keluh Iris yang segera mengisi ulang senjata sihirnya itu.
Sementara itu di bagian depan, barisan pasukan Ksatria Suci terlihat mulai bertubrukan dengan pasukan Barbarian itu.
Alora berdiri di barisan belakang bersama dengan dua orang Paladin dan lima orang Ksatria Suci yang melindunginya.
Menembakkan banyak sihir kepada lawan, sekaligus menggunakan sihir pendukung untuk menyembuhkan dan meningkatkan kekuatan rekannya.
Sekalipun dari kejauhan, kemampuan Alora melakukan Multi Casting tetap memukau untuk dilihat. Sebuah kemampuan dimana Alora menggunakan beberapa sihir dengan cara kerja yang sepenuhnya berbeda itu.
Bagi Lucius, masih perlu banyak latihan untuk mencapai level yang sama dengan Alora.
__ADS_1
Hanya saja....
"Tunggu dulu?!" teriak Lucius terkejut.
Ia segera memfokuskan pandangannya pada sosok manusia setengah naga itu. Saat lebih dekat, Lucius baru menyadarinya.
Bahwa sosok itu....
"Bocah, ada apa?" tanya Iris yang masih mengisi ulang senjata sihirnya.
"Manusia setengah naga itu.... Sama sekali tak memiliki Mana?" ucap Lucius ketakutan.
Lucius dapat melihatnya dengan jelas pada jarak ini. Dengan mata sihir yang diperolehnya setelah melalui Awakening, Ia menyadarinya. Bahwa tak ada setitik pun Mana di tubuh pria itu.
"Hah? Kau sudah gila? Bahkan batu saja memiliki Mana. Jangan bercanda dan ambilkan peluru baru untukku di belakang sana." balas Iris yang terus menerus menembakkan peluru sihir itu.
Sesekali, Ia mengincar manusia setengah naga itu. Tapi karena gerakannya yang begitu lincah dan serangannya yang begitu fleksibel, bahkan dengan satu tangan saja, Iris mengganti targetnya dan memutuskan untuk membunuh Barbarian yang dipimpin pria itu.
'Duaaaaarrr!!!'
Hanya dalam satu tembakan saja, Iris mampu memecahkan kepala targetnya hingga menjadi bubur.
'Klaaangg!!'
Ia kemudian segera mengganti pelurunya. Mengabaikan seluruh pertanyaan Lucius barusan mengenai sosok manusia setengah naga itu.
Sementara itu....
'Blaaarr! Ttrraaangg!! Klaaangg!!'
Roland terlihat berhadapan secara langsung dengan komandan pasukan musuh.
Tak hanya itu, lawannya bahkan hanya bertarung dengan dengan menggunakan satu tangannya. Karena tangan kirinya terluka cukup parah akibat tembakan peluru sihir Iris.
"Eldrath. Kau?" tanya manusia setengah naga itu dengan seringai di wajahnya.
"Kau.... Tak merasa ketakutan?" tanya Roland yang semakin kebingungan.
Keduanya terus berusaha memukul mundur dengan senjata mereka masing-masing. Roland dengan pedang besarnya tentu memberikan pukulan yang lebih keras dan lebih kuat.
Tapi di setiap satu tebasan yang dilancarkan oleh Roland, terdapat tiga buah tusukan atau tebasan dari tombak Eldrath.
'Hanya dengan satu tangan dan sudah sekuat ini?! Aku tak bisa membayangkan bagaimana kuatnya dia jika Iris tak mengenai tangan kirinya barusan.' pikir Roland dalam hatinya.
'Blaarr! Blaaaaarrr!! Blaaaaarrr!!!'
Berbagai sihir ledakan dilancarkan oleh Alora tepat ke arah Eldrath. Di saat yang bersamaan, Alora terus menyembuhkan segala luka yang diderita oleh pasukannya.
Membuat pertempuran ini benar-benar berat sebelah.
Tak perlu waktu lama bagi Gereja Cahaya untuk menghabisi ratusan Barbarian yang dipimpin oleh Eldrath itu.
Terlebih dengan bantuan Iris di garis belakang. Iris sendiri telah membunuh lebih dari 40 Barbarian sendirian dengan senjata sihirnya.
Dan kini....
Di tengah-tengah para Ksatria Suci Gereja Cahaya itu....
__ADS_1
Sosok Eldrath terlihat berdiri sendirian.
Dengan tangan kirinya yang terluka cukup parah serta kelelahan akibat harus menahan Roland dan beberapa Paladin sendirian, tak diragukan lagi.
Bahwa kekalahannya sudah berada tepat di depan matanya.
Tapi entah kenapa....
Seringai di wajah Eldrath tak pernah luntur sedikit pun.
"Nampaknya aku gagal ya?" ucap Eldrath sambil tertawa ringan.
"Menyerah lah. Kau sudah terpojokkan." ucap Alora mengarahkan tongkat sihirnya tepat ke wajah Eldrath.
Jika Ia macam-macam, akan sangat mudah bagi Alora untuk membunuhnya saat itu juga.
Karena itu lah, Alora memanfaatkan kesempatan ini untuk sedikit menggali informasi.
"Siapa yang memperkerjakan mu? Dilihat dari kemampuan mu, kau sangat lah terampil menggunakan tombak. Bahkan diantara para Elit ksatria Dragonnewt, kau mungkin lebih baik daripada mereka jika menggunakan kedua tanganmu." ujar Alora panjang lebar.
Lucius yang melihat dari kejauhan merasa bahwa akhir pertempuran ini sangat antiklimatik.
Buktinya, Iris yang duduk santai di atas batu besar itu juga memiliki pendapat yang sama.
"Serius, regu pertama kalah dengan ini?" tanya Iris pada dirinya sendiri.
Tapi entah kenapa....
Lucius merasakan ada sesuatu yang tak beres dari semua ini. Mulai dari serangan yang muncul secara tiba-tiba hingga pasukan Barbarian yang begitu lemah ini.
Termasuk juga Dragonnewt itu.
Jika Iris bisa mengenainya pada tembakan pertama....
Lantas kenapa semua tembakan Iris yang lainnya tak pernah mengenainya? Apakah orang itu sengaja? Atau hanya kebetulan?
Saat Lucius masih memikirkan hal itu....
'Krettakk!!!'
Sebuah celah dimensi terlihat muncul tepat di sebelah Dragonnewt itu berdiri. Dari baliknya, sosok seorang pria bertubuh besar dengan rambut kecoklatan yang panjang berjalan dengan santai.
Selain tubuhnya yang besar, kedua tangannya memiliki cakar panjang yang keras dan juga tajam. Sedangkan sebagian besar tubuhnya cukup tertutupi oleh bulu kecoklatan dan kekuningan dengan loreng putih di beberapa sisi.
"Rynar, akhirnya kau datang. Tolong selamatkan aku." ucap Eldrath memelas.
'Jadi itu alasan di balik rasa percaya dirinya? Tapi ini....' pikir Alora dalam hatinya. Saat Ia melihat tepat ke arah sosok manusia setengah hewan buas atau Beastmen itu, Ia menyadarinya.
Di balik Mana miliknya yang begitu melimpah namun cukup kotor itu, terdapat semburat cahaya keemasan di dalamnya.
Menandakan bahwa pria kekar di hadapan Alora saat ini, tak lain adalah pahlawan Beastmen, Rynar Thornclaw.
"Jadi, mana yang harus ku bunuh?" tanya Rynar dengan mulut yang terbuka lebar. Seakan-akan dirinya telah haus akan darah segar.
Menggunakan tombaknya, Eldrath pun menunjuk ke arah Alora.
"Nona Aurellia menginginkan kematiannya." ucap Eldrath.
__ADS_1
"Begitu kah?"
Dari balik senyuman lebar Rynar, taring-taring yang besar dan tajam dapat terlihat. Siap untuk menekan mangsanya.