Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 77 - Perbatasan


__ADS_3

"Jadi, bisa jelaskan kenapa sekarang kita ada di perbatasan wilayah Elf?" tanya Lucius yang bersembunyi di atas pohon besar itu.


'Tentu saja. Mencari tubuh untuk jiwaku ini.' balas Carmilla dengan santai.


"Hah.... Kau ini...."


Sudah satu hari berlalu semenjak Lucius meninggalkan reruntuhan tempat jantung Carmilla seharusnya berada itu.


Tapi karena jantungnya yang telah dicuri, Carmilla terus menerus marah selama satu hari ini. Memaksa Lucius untuk berjalan ke arah perbatasan Kerajaan Elvandar ini.


Sebuah wilayah yang dikuasai oleh ras yang paling dekat dengan Dewi Mana itu sendiri, Elf.


Sekalipun masih di daerah perbatasan, hutan di tempat ini sudah terlihat jauh berbeda dengan apa yang ada di wilayah manusia.


Tak hanya jumlah tanamannya yang begitu banyak dan terlihat begitu subur, tapi juga pepohonan nya yang menjulang sangat tinggi.


Pohon tempat Lucius saat ini bersembunyi juga seperti itu. Ketinggian pohonnya mencapai 50 meter lebih dengan dedaunan yang begitu rimbun.


"Kau pikir akan ada Elf yang berjalan sendirian? Jika pun ada, apa yang akan kau lakukan? Menculiknya?" tanya Lucius dengan nada sinis.


'Lucius, itu lah kenapa kau masih bocah.'


"Hah? Apa maksudmu dengan itu?" tanya Lucius kesal.


'Apakah kau pernah melihat seorang Elf?' tanya Carmilla.


"Hanya di dalam buku. Katanya mereka memiliki penampilan menyerupai manusia dengan tubuh yang lebih ramping. Tapi ciri khas utama mereka ada pada telinga yang runcing dan panja...."


'Yah, itu benar tapi.... Kau takkan tahu dengan baik jika hanya dari buku. Dengar, Lucius. Elf itu sangat lah cantik, bahkan laki-laki dari ras Elf jauh lebih cantik dan menawan dibandingkan wanita tercantik dari ras manusia sekalipun. Kulit mereka sangat lah halus dan lembut, tak hanya itu, mereka memiliki umur hingga ratusan tahun lebih panjang dari manusia.' jelas Carmilla panjang lebar.


"Hah? Apa maksudnya laki-laki Elf lebih cantik dari wanita manapun di ras manusia?" tanya Lucius yang semakin kesal.


'Kau akan mengerti nanti setelah bertemu dengan mereka. Tapi singkatnya.... Mereka adalah produk yang sempurna untuk bangsawan.'


Kalimat terakhir Carmilla segera menusuk tepat di hari Lucius. Menyebut seseorang sebagai produk, membuat Lucius teringat atas apa yang pernah mengejutkannya di tengah kota Arcanum.


"Budak?" tanya Lucius dengan suara yang begitu lemas. Tubuhnya gemetar ketakutan saat membayangkan apa yang mungkin akan dilihatnya nanti.


'Benar sekali. Tak peduli zamannya, manusia dan ras lainnya menganggap Elf adalah ras yang paling indah. Itu lah kenapa Elf selalu mengisolasi diri mereka dari dunia ini. Meski begitu.... Lihat.' ucap Carmilla saat mata Lucius mengarah di suatu tempat.


Penglihatan mata sihir Lucius kurang begitu jelas di tempat ini. Itu karena hutan ini sendiri dipenuhi oleh banyak Mana yang tersebar di segala arah.


Tapi saat Ia memfokuskan pada suatu tempat....


Lucius dapat melihatnya.


Sekelompok manusia yang berjumlah sekitar 20 orang, serta 4 ekor kuda yang menarik sebuah gerobak dengan kandang besi besar di atasnya.


Dalam kandang besi itu....


"Yang benar saja.... Apa-apaan ini?" tanya Lucius dengan suara lirih setelah melihat kenyataan di hadapannya.


'Kenyataan. Dunia tak selalu hitam dan putih, Lucius. Kau harus mulai memahami hal itu.' balas Carmilla.


Terlihat dalam kandang besi itu, belasan Elf terkurung tak berdaya. Semuanya adalah perempuan. Dengan semacam alat sihir yang terlilit di leher mereka seperti sebuah kalung.


Saat melihatnya lebih lanjut, Lucius dapat menyadari bahwa kalung besi itu tak lain adalah sebuah alat yang menekan pergerakan Mana dalam tubuh seseorang.


Jika perkiraannya benar, maka alat itu bisa mencegah seseorang menggunakan sihir seutuhnya.


Bagi Elf yang kekuatan utama mereka dari Mana dan sihir? Tentu saja keberadaan kalung besi itu dapat membuat Elf manapun menjadi tak bisa bertarung.

__ADS_1


"Aku...." ucap Lucius pada dirinya sendiri. Ia merasa begitu kesal atas dirinya sendiri yang terlalu naif untuk menyadari kegelapan di dunia ini.


'Serahkan padaku. Kau takkan protes jika aku mengambil satu dari mereka kan?' ucap Carmilla yang dengan cepat mengambil alih tubuh Lucius.


'Zraaaattt!'


"Hmm? Kau dengar sesuatu?" tanya salah seorang pemburu manusia itu pada rekannya.


"Tentu saja! Aku dengar uang akan segera memenuhi kantung kita!"


"Bodoh, bukan itu tapi...."


'Zraaaaasssshhh!!!'


Tanpa peringatan, Carmilla langsung menebas leher dari pemburu itu. Membuat kepalanya terlempar jauh ke atas sebelum menggelinding di tanah.


'Zraaaatt!'


Sambil mengayunkan pedangnya untuk membersihkan darah yang menempel, Carmilla berbicara dengan menggunakan tubuh Lucius.


"Empat belas Elf ya? Dan semuanya wanita cantik yang masih muda? Aku yakin kalian pasti bisa mendapatkan uang yang sangat banyak dari menjual mereka. Jadi, bisa kah kalian membagi satu Elf untukku?" ucap Carmilla sambil mengarahkan pedang Mithril itu kedepan.


"Hah?! Kau gila! Yang ada kami aka...."


"Sraaassshh!"


Lagi, tanpa peringatan sedikit pun Carmilla menebas leher dari pemburu yang barusan berbicara itu.


Membunuhnya seketika dalam sekali tebas.


"Kau akan menyesali ini! Melawan kelompok kami sendirian? Siapa yang mengiri...."


"Bos?"


"Biar aku yang urus." ucap pria berambut hitam panjang itu dengan penuh percaya diri.


Ia melangkah hingga tepat berada di depan Lucius. Tinggi badan mereka cukup berbeda jauh. Maklum saja karena Lucius baru saja mencapai umur 17 tahun saat berada di dalam penjara dimensi itu.


Sedangkan pria yang ada di hadapannya, tak salah lagi adalah orang dewasa yang sudah sangat terlatih dalam hal ini.


Tapi....


'Sialan! Apa-apaan bocah ini? Hanya bocah, tapi kenapa tubuhnya....' pikir pria berambut hitam panjang itu sambil terus memperhatikan sosok Lucius.


Dari balik pakaian Lucius yang compang-camping itu, terlihat otot Lucius yang begitu terlatih serta bekas luka yang begitu banyak. Tak salah lagi, bocah di hadapannya adalah sosok yang telah sering menghadapi situasi berbahaya.


'Harus kah aku mengujinya?' pikir bos dari kelompok pemburu itu.


Ia dengan cepat memberikan pukulan dengan tangan kanannya. Mengarah tepat di wajah Lucius. Tapi....


"Dari tadi apa yang ingin kau lakukan?" ucap Carmilla kebingungan. Tangan kanannya terlihat menahan pukulan pria itu dengan mudahnya.


'Ini buruk! Aku bahkan tak bisa mendorong lebih jauh lagi?! Bocah ini?!'


"Sudah ku bilang aku hanya ingin meminta satu dari Elf itu kan?" lanjut Carmilla dengan tatapan yang dipenuhi oleh niatan membunuh.


"Ba-baiklah! Akan ku berikan satu! Oi! Seseorang ambilkan 'dia' dan bawa kemari!" ucap bos pemburu itu panik.


Beberapa bawahannya terlihat membukakan gembok dari kandang besi besar itu. Mengeluarkan seorang Elf dengan tubuh yang cukup kecil dan pendek, juga penuh dengan luka cambuk di sekujur tubuhnya yang hanya dibalut selembar kain putih itu.


"Silakan! Gratis untukmu!" ucap bos pemburu itu dengan panik.

__ADS_1


Sementara itu Carmilla yang melihat kelakuan kelompok pemburu itu....


"Yang benar saja. Dari 14 Elf, kau memberikanku yang paling buruk? Aaah, lupakan saja. Aku akan membunuh kalian semua dan memilih sendiri. Lagipula, perasaanku sedang tidak baik-baik saja seharian ini kau tahu?" balas Carmilla.


Kini tak hanya tatapannya saja yang dipenuhi oleh niat membunuh yang begitu kuat.


Tapi tangan kanannya telah menghunuskan pedang Mithril itu menembus leher sang ketua pemburu itu.


"Gaaghhh!!!"


Dengan darah yang menyembur keluar dari lehernya, para pemburu yang lain berlarian ketakutan. Meninggalkan Carmilla sendirian bersama dengan 4 ekor kuda yang membawa kandang besi itu.


'Kau tak berniat mengejarnya?' tanya Lucius.


"Malas."


'Aaah, begitu ya?'


Sebelumnya Lucius sempat khawatir karena Carmilla benar-benar hanya menginginkan satu Elf tanpa ada niatan menyelamatkan mereka.


Tapi sekarang....


'Klaaangg!!!'


Carmilla menghancurkan kandang besi itu dengan pedangnya. Membebaskan ke-empat belas Elf muda itu. Hanya saja....


"Nā ceni ar nin galad, aníra lîn. I anír, le nîn erthar i vegil. Forn ennas, leithio. Man i adan?" ucap Carmilla dengan bahasa yang sama sekali tak bisa dimengerti oleh Lucius.


'Apa yang barusan kau katakan?' tanya Lucius setelah melihat reaksi para Elf itu nampak begitu kebingungan dan ketakutan. Tapi di sisi lain, Lucius juga melihat semua Elf itu bernafas lega.


Tak berselang lama, salah seorang Elf terlihat berjalan maju mendekati Carmilla.


Ia memiliki rambut pirang yang indah dengan mata biru yang cerah. Tinggi tubuhnya juga setara dengan tubuh Lucius saat ini, sedikit lebih tinggi.


Postur tubuhnya terlihat cukup ramping namun ideal. Dari bibir merah mudanya yang tipis itu, Ia membalas.


"Anae adûr en'narn, elen silavariël enel i'norethiel thiri dihîr amin estel ar i'tári en i'casa enel im meleth. Annae Lirael." ucapnya sambil menundukkan kepalanya.


"Nadûr gwaeth, ú-nesta vi hûn. Isto, anae rato, le anca mi. Tawarwaith thiri venesta le i'nómin enel eleni?" tanya Carmilla kembali.


Setelah perkataan Carmilla itu, semua Elf selain yang sedang berbicara dengan Carmilla nampak begitu sedih. Mereka berusaha untuk menarik dan menghentikan Elf itu, namun Ia terus menggelengkan kepalanya dengan senyuman.


Lucius hanya bisa memperkirakan bahwa Elf yang berbicara dengan Carmilla itu mengorbankan dirinya sendiri untuk keselamatan yang lainnya.


Itu lah anggapannya. Mengingat bagaimana reaksi para Elf itu.


Lalu dengan senyuman yang begitu lembut, Elf itu pun membalas.


"Uire, pedin naa'le amin."


"Lye, Lirael." balas Carmilla juga dengan senyuman yang lebar.


Lucius sama sekali tak paham apa yang baru saja dibicarakan oleh keduanya.


Tapi satu hal yang pasti, yaitu kenyataan bahwa 13 Elf yang lain terlihat berjalan kembali ke wilayah mereka dengan sedih.


Sedangkan Elf yang sedari tadi berbicara dengan Carmilla, kini berjalan mengikutinya. Meskipun Ia terus berusaha mempertahankan senyumannya, sesekali Lucius dapat merasakannya.


Bahwa dibalik senyuman yang kuat itu, terdapat kesedihan yang begitu mendalam.


Seakan-akan telah memahami apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2