Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 59 - Tantangan


__ADS_3

"Jadi, sebenarnya apa yang kau mau?" tanya Lucius sekali lagi pada Alex yang duduk di kursi belakang itu.


Dengan senyuman yang ramah, Alex pun membalas.


"Sudah ku bilang. Selama kau membantu keluarga ku memburu musuh-musuh yang berbahaya, aku akan mendukungmu sekuat tenaga. Itu saja."


"Musuh... seperti bandit kemarin?" tanya Lucius untuk memastikan.


"Yah begitu lah. Lagipula keberadaan mu di pihakku saja sudah cukup membuat ku tenang. Aah, soal pedangnya aku akan membuatkan 3 untukmu. Kemungkinan beberapa hari lagi akan siap." lanjut Alex sambil mengangkat tiga jarinya.


"Hah?! Bukankah itu terlalu berlebihan?"


"Harga yang murah selama kau mau tetap di pihakku." balas Alex dengan senyuman ramah khasnya.


Tak berselang lama, teman-temannya yang lain mulai berdatangan ke kelas F ini. Mulai dari Sophia yang berjalan bersama dengan Emily. Kemudian diikuti oleh Max yang masuk bersama dengan Oliver beberapa menit kemudian.


"Ooh, bukankah kalian berdua cukup akrab akhir-akhir ini?" tanya Max dengan suara lantangnya sambil melambaikan tangan.


"Benar juga. Aku baru menyadarinya." sahur Oliver.


Sambil membalikkan buku yang sedang dibacanya, Sophia pun membalas.


"Begitu juga dengan kalian berdua kan?"


"Hahaha.... Kalau kami, bisa dibilang telah menjalin minat dan tujuan yang sama." balas Oliver.


Oliver yang berasal dari keluarga pembunuh bayaran. Kemudian keluarga Max yang berasal dari kelompok Mercenary atau tentara bayaran.


Tentu saja keduanya akan cocok bersama, karena sama-sama bekerja untuk membunuh orang lain.


"Semuanya, silakan duduk dan bersiap untuk pelajaran. Hari ini, kita akan mempelajari mengenai sejarah dari Rune." ucap pak Anderson yang segera memasuki kelas itu.


Pelajaran pun kembali dimulai.


Hari-hari tenang bagi Lucius telah menantinya. Dengan dirinya yang mulai mengurangi porsi latihan secara drastis, suasana seperti ini harusnya menjadi suasana yang damai.


Hanya saja....


'Braaaakk!!!'


Bahkan sebelum Pak Anderson meletakkan buku yang dibawanya, terlihat sosok seorang pria berambut keemasan memukul pintu ruang kelas ini dengan keras hingga rusak di beberapa sisi.


Ia memiliki penampilan rupawan dengan seragam akademi yang dikenakannya itu. Di atasnya terdapat mantel biru putih yang terlihat begitu indah.


Sambil memegang pedang di pinggangnya dengan tangan kirinya, pria bertubuh ramping namun cukup terlatih itu pun berbicara.


"Siapa yang bernama Lucius? Ku dengar dia ada di sini?"


"Aaah.... Tidak bisa seperti itu! Ke-kelas ku akan segera dimulai dan...."

__ADS_1


Hanya dengan lirikan mata yang tajam dari pria itu, Pak Anderson langsung menundukkan kepalanya karena rasa takut.


'Srruugg!!!'


Semua orang di kelas terlihat berdiri panik setelah melihat sosok pria berambut keemasan itu.


Semua kecuali dua orang.


Yaitu Lucius dan juga Alex.


"Siapa kau? Kenapa mencariku?" tanya Lucius dengan santai.


"Lu-Lucius?! Dia itu...."


Teriakan Sophia terhenti setelah pria itu melangkahkan kakinya ke dalam kelas ini.


Pada setiap langkahnya, Sophia dapat merasakan aura dan Mana yang begitu kuat dari pria itu. Sangat jelas hingga membuat Sophia merinding di sekujur tubuhnya.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Emily, Oliver dan juga Max.


Wajar saja. Karena orang yang ada di hadapan mereka ini....


"William Goldencrest. Nampaknya adikku sudah cukup banyak merepotkan mu ya?" ucap pria itu sambil berdiri tepat di hadapan Lucius. Memberikan tatapan mata yang dipenuhi dengan hawa membunuh yang begitu kuat.


Dengan lirikan yang terkesan malas, Lucius pun membalas.


"Aaah, jadi itu kau?" tanya Lucius dengan nada yang terkesan kecewa. Mata kirinya terlihat sedikit bercahaya setelah mengaktifkan Clairvoyance Eye miliknya untuk beberapa saat.


"Aku menolaknya." balas Lucius singkat memotong perkataan William.


"Apa kau bilang?" tanya William kebingungan melihat sikap Lucius. Membuatnya semakin marah pada pelajar kelas F ini.


"Lucius?! Apa yang kau lakukan?!" tanya Sophia khawatir.


Max dan juga Oliver terlihat mulai berdiri. Mendekat ke arah meja Lucius untuk berjaga-jaga jika saja William berniat melakukan sesuatu pada temannya.


"Aku mempercepat ekspedisi dan pengabdianku di luar sana setelah menerima kabar bahwa adik kecilku merepotkan mu. Jadi wajar jika kakaknya menyelesaikannya bukan?" ujar William dengan tatapan mata yang semakin dipenuhi oleh amarah.


"Sudah ku bilang aku menolaknya." balas Lucius dengan wajah tak acuh itu. Melanjutkan membaca catatan pada bukunya.


'Sreeettt!!!'


Menyadari hal itu, William segera menarik buku catatan Lucius. Merobek dan membakarnya dengan menggunakan sihir.


'Swuuusshh!!!'


"Kau takut? Bagaimana jika sekarang? Merasa sedikit tertarik?" tanya William dengan seringai lebar di wajahnya setelah membakar habis buku catatan Lucius itu.


'Ta-tanpa formasi sihir?! Apa-apaan itu?!' pikir Sophia dalam hatinya. Ia terkejut melihat William dapat menciptakan sihir api bahkan tanpa membuat formasi sihir sedikit pun.

__ADS_1


Sementara itu Lucius sendiri....


"Dengar, William. Aku menolaknya bukan karena aku takut. Tapi lebih karena aku tak ingin membuatmu terluka." balas Lucius dengan nada dingin, tapi kini sambil memberikan tatapan yang tajam pada William di hadapannya.


Sebuah tatapan mata yang benar-benar dipenuhi oleh rasa percaya diri. Bukan rasa percaya diri tanpa dasar seperti dulu saat dirinya membela Sophia.


Melainkan rasa percaya diri, atas dasar perbedaan kekuatan yang benar-benar terlampau besar.


Lucius dapat melihatnya.


Jumlah Mana yang dimiliki William saat ini, kapasitas Mana miliknya, afinitas sihirnya, juga aliran Mana di tubuhnya.


Berdasarkan apa yang dilihatnya itu....


"Apa kau bilang?" tanya William marah. Ia dengan cepat menarik kerah baju Lucius dan mengangkat tubuhnya ke atas menggunakan tangan kanannya.


"Sudah ku bilang. Kau takkan mungkin mengalahkan ku. Jadi berhenti lah sebelum kau terluka. Berikutnya apa? Menangis ke Ayahmu? Lalu Ayahmu datang untuk membalaskan dendam mu? Berhenti lah." jelas Lucius panjang lebar sambil terus memberikan tatapan yang sama.


Tatapan layaknya seekor predator yang menghadapi hewan buruannya.


Di saat keempat teman kelas Lucius yang lainnya, termasuk Pak Anderson khawatir bukan main, Alex terlihat tersenyum di sudut ruangan.


Dengan susah payah, Alex berusaha untuk menahan tawanya. Bagaimana pun, di kelas ini hanya dirinya yang tahu kekuatan Lucius yang sebenarnya.


'Hahaha, jika William tahu Lucius berhasil memburu kelompok bandit sendirian, bahkan kelompok yang dipimpin bandit tingkat B, mungkin dia akan ketakutan. Tapi ku rasa membiarkannya seperti ini jauh lebih menarik. Lagipula....'


Alex melihat kesempatan bisnis yang sangat besar tepat di depan matanya. Dengan cepat, Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah William.


'Sreeet!!!'


"Sudah lah. Simpan amarahmu untuk di arena nanti. Bukankah benar begitu, Lucius?" tanya Alex sambil menekan pundak William ke bawah.


'Orang ini?!' pikir William terkejut saat merasakan kekuatan Alex itu.


'Braaak!'


Mengikuti perkataan Alex, William segera menurunkan tubuh Lucius sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha! Ku pikir kau percaya diri karena kau kuat, tapi ternyata karena memiliki teman seperti dia ya? Wajar saja! Hahaha! Dasar penge...."


"Aku terima tantanganmu. Kapan?" balas Lucius memotong tawa William.


Kedua mata William langsung terbuka lebar setelah mendengar kalimat itu. Begitu juga dengan senyumannya yang menjadi semakin lebar.


"Hooo, akhirnya. Kalau begitu.... Tiga hari lagi. Kau takkan kabur kan?" tanya William dengan penuh percaya diri.


"Baiklah. Sekarang pergi lah. Aku masih ada kelas." balas Lucius dengan gerakan tangan. seakan-akan mengusir hewan liar.


"Hahaha! Nikmati sisa hidupmu selama 3 hari ini!"

__ADS_1


Dengan kalimat itu, William segera pergi meninggalkan kelas F ini. Membuat semua kecuali dua orang itu bernafas lega dengan kepergiannya.


__ADS_2