Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 99 - Keseimbangan Dunia


__ADS_3

"Bocah, pergilah!" teriak Iris panik setelah menyadari betapa mengerikannya lawannya kali ini.


Rynar, sang pahlawan Beastmen. Seperti namanya, Rynar memiliki tubuh yang luarbiasa terlatih dan kekar. Tak hanya itu, Lucius juga dapat melihatnya dengan sangat jelas.


'Mana orang itu.... Gila!' pikir Lucius dalam hatinya.


Sebagai seorang penyihir, wajar saja untuk memiliki Mana yang sangat banyak. Tapi bagaimana dengan petarung jarak dekat seperti Rynar itu?


Dengan Mana yang hampir sama besar dengan milik Alora, tentu saja itu adalah berita yang sangat buruk. Itu karena....


'Zraaatt! Sraaassshh! Blaaaaarr!!!'


Hanya butuh tiga detik saja bagi Rynar untuk membantai seluruh Ksatria Suci yang dipimpin oleh Alora. Sedangkan Roland sendiri terjatuh pada lututnya dengan tubuh yang penuh luka.


Pemandangan yang dipenuhi oleh darah yang berceceran ke segala arah. Begitu juga dengan bagian-bagian tubuh para Ksatria Suci yang terlempar ke segala sisi. Kekuatan Ksatria Suci itu layaknya sebuah mainan saja di hadapan Rynar.


Tak terkecuali salah seorang Inquisitor, yaitu Roland.


"Kuggghh!!!" teriak Roland kesakitan sambil memuntahkan darah dari mulutnya.


"Nona Alora.... Lari...." ucap Roland singkat.


Melarikan diri dari situasi ini tentu merupakan pilihan yang terbaik. Tapi setelah melihat Rynar yang meneguk darah dari para Ksatria Sucinya....


"Tidak." balas Alora singkat. Ia dengan cepat mengangkat tongkat sihirnya ke udara, mengarahkannya tepat pada sosok Rynar yang masih sibuk meneguk darah dari tubuh Ksatria Suci yang telah terbunuh.


'Srriiinggg! Klaaaanggg!!!'


Dari berbagai tempat, rantai cahaya mulai muncul. Menusuk tubuh Rynar dan mengikatnya dengan rantai cahaya keemasan itu.


Iris yang berada di kejauhan juga tak tinggal diam. Ia memperkuat sebanyak mungkin tembakannya, mengarahkannya tepat pada kepalanya.


'Duaaaaaarrr!!!'


Suara tembakan yang menggelegar itu terdengar hingga memecahkan kesunyian di tempat ini.


Hanya saja....


Dengan senyuman yang lebar....


"Hehehe!"


Rynar terlihat tertawa ringan sambil menggigit sesuatu. Apa yang digigitnya tak lain adalah peluru sihir yang baru saja ditembakkan oleh Iris.


"Cuih! Mainan yang menarik, biar ku tebak! Kau meminjam mainan ini dari Dwarf?!"


'Zraaaatt!!!'


Lucius yang sedari tadi terdiam, mulai menekan Mana di tubuhnya serendah mungkin. Berusaha untuk menghapuskan keberadaannya di tempat ini untuk memberikan serangan dadakan para Rynar.

__ADS_1


Meski begitu, tebasan pedangnya yang telah terasah dengan baik itu, hanya mampu memberikan goresan tipis.


'Cih, keras sekali!' pikir Lucius yang segera melompat mundur.


Lucius tak peduli atas serangannya yang tak begitu berpengaruh itu. Karena tujuannya yang sebenarnya, adalah untuk menyelamatkan Roland.


'Sruuugg!'


Dengan cepat, Lucius membopong tubuh Roland yang terluka parah dan membawanya mundur. Saat melewati sosok Alora, Lucius pun berkata.


"Mundur dulu. Musuh terlalu kuat."


Alora mengangguk ringan dan segera melompat mundur. Memasuki portal yang dibuat oleh Lucius barusan.


Di tempat Iris berada, Lucius juga telah membuat portal yang sama untuk membawa mereka semua kembali ke Katredal Suci.


Meninggalkan hanya Eldrath dan Rynar berdua di tengah tanah yang tandus ini.


"Aku benar-benar benci sihir. Apalagi yang bisa membuat tubuh menghilang seperti barusan." ujar Rynar yang segera mematahkan seluruh rantai cahaya yang mengikat tubuhnya itu dengan mudah.


"Semua orang membenci sihir ruang, Tuan Rynar. Tapi tak masalah, mereka pasti akan kembali. Saat itu tiba...."


"Tenang saja! Aku akan mencabik-cabik mereka hingga habis! Apapun itu, aku hanya ingin melawan musuh yang kuat!" balas Rynar memotong perkataan Eldrath.


Dengan senyuman yang tipis, Eldrath membenahi rambut merahnya itu agar rapi kembali sembari melirik ke arah Beastmen itu yang segera pergi. Memasuki celah dimensi yang dibuat oleh Aurellia dari kejauhan.


Setelah memastikan Rynar masuk, Eldrath hanya bisa tertawa ringan. Tapi Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawanya.


Eldrath terlihat membelai lembut gelang perak yang cukup besar di tangan kirinya dengan banyak sekali huruf dan Rune kuno yang terukir pada gelang itu.


...........


Sementara itu, kembali ke dalam Katredal Suci di Titania....


Hanya empat orang saja yang selamat dari pembantaian barusan. Tak salah lagi jika regu pertama kalah telak. Lagipula, lawan mereka adalah Rynar, sang pahlawan dari Beastmen itu sendiri.


"Lucius." ucap Alora singkat.


"Aku mengerti." balas Lucius singkat yang segera menggunakan sihir penyembuhan tingkat tinggi pada Roland itu.


Cahaya kehijauan menyelimuti tubuh Inquisitor yang tercabik-cabik dengan sangat parah itu. Lalu menyembuhkan semua lukanya seakan-akan tak pernah ada sebelumnya.


Hanya saja, wajah dan kulit Roland masih terlihat begitu pucat.


"Aku tak bisa menggantikan darahmu yang hilang. Jadi.... Beristirahat lah." ujar Lucius.


"Terimakasih. Ini sudah lebih dari cukup."


Tak lama kemudian, Lucius mengalihkan pandangannya pada sosok Mary yang berdiri di kejauhan. Mary nampak membuka mulutnya lebar-lebar setelah menyadari apa yang terjadi.

__ADS_1


Kedua tangan kecil nan rapuh itu berusaha untuk menutupi mulutnya.


"Kau.... Kau tahu sesuatu? Kenapa Rynar yang juga pahlawan dari Dewi Lunaria menyerang pasukan dari Gereja Cahaya?!" teriak Lucius dengan keras.


Tapi sebelum Lucius sempat berlari ke arah Mary itu, Alora segera menahannya dengan memegang pundaknya.


"Tunggu, Lucius. Aku juga penasaran. Tapi.... Mary. Apakah Dewi Lunaria mengatakan sesuatu padamu?" tanya Alora dengan tatapan yang tajam.


Sementara itu Iris terlihat sibuk berusaha untuk membantu Roland berjalan karena tubuhnya masih begitu lemas.


"Aku...." ucap Mary sambil membuka penutup matanya secara perlahan sebelum kembali berbicara. "Tak begitu tahu. Dewi Lunaria tak mengatakan apapun padaku." lanjutnya.


"Begitu ya?" balas Alora singkat.


"Bisa kau jelaskan lebih rinci padaku? Maaf, tapi aku memang bukan orang yang taat." ucap Lucius dengan tatapan yang tajam pada Alora.


Iris telah lama menghilang bersama dengan Roland. Keduanya pergi ke ruang perawatan untuk mengetahui kondisi luka pada tubuh Roland.


Sementara itu....


Alora mulai menjelaskannya dengan rinci pada Lucius.


"Seharusnya, Dewi Lunaria memang memilih 7 pahlawan di dunia ini sebagai wakilnya dalam menjaga keseimbangan dunia. Termasuk memberantas kejahatan dan kegelapan.


Umat manusia dulunya memperoleh 3 pahlawan, yaitu pahlawan tombak, pedang dan sihir. Tapi karena umat manusia menjadi terlalu kuat di benua ini, Dewi Lunaria memutuskan untuk berhenti memberikan pahlawan tombak pada umat manusia." jelasnya panjang lebar.


"Lalu kenapa bisa ada Beastmen yang mengacungkan serangannya pada Gereja Cahaya?" tanya Lucius.


"Mungkin, itu adalah pilihan Dewi Lunaria untuk menjaga keseimbangan dunia? Kita manusia hanya bisa percaya." balas Alora.


"Sebelum aku ikut serta dengan pertarungan antar pahlawan ini, katakan. Ras mana lagi yang dipilih Dewi Lunaria."


"Elf, pahlawan pemanah. Dragonnewt, pahlawan tombak. Dwarf, pahlawan teknologi. Dan terakhir.... Lizardmen. Pahlawan pisau." balas Alora dengan suara yang lirih.


Hanya dari mendengar informasi itu saja, Lucius tahu. Bahwa kemungkinan besar apapun yang ada di tanah Barbarian itu, mungkin memiliki koneksi dengan pahlawan yang lainnya.


Terutama Dwarf dan juga Lizardmen yang cukup netral, namun lebih cenderung ke arah kejahatan.


"Aku tak yakin ini adalah misi yang tepat bagiku, Alora. Aku...."


"Ku mohon! Tak ada lagi yang bisa ku harapkan! Pahlawan Pedang sudah terlalu tua, bahkan mulai pikun! Tak mungkin kita membawanya ke sana!" balas Alora sambil memohon.


"Bagaimana dengan Royal Court Magician? Apa yang mereka lakukan?" tanya Lucius sinis.


"Me-mereka...."


"Mereka?"


"Sedang membantu keluarga Kerajaan dan pasukan utama untuk berperang dengan Lizardmen...."

__ADS_1


Mau tak mau, Lucius terjebak dalam masalah ini. Jika pahlawan Beastmen bahkan berpihak ke arah kelompok misterius di tanah Barbarian itu.


Tak salah lagi. Kemungkinan kelompok itu akan menjadi ancaman yang sangat besar di masa depan jika tak diberantas saat ini juga.


__ADS_2