
'Zraaaaaattttt!!!'
'Swuuuooooooosshh!!!'
'Blaaaaarrr!!!'
'Sraaaaaashhh!!'
Kombinasi serangan antara Selena dengan Lucius benar-benar jauh berbeda dengan apa yang dilihat selama ini.
Keduanya seakan-akan diciptakan untuk bertarung bersama.
Di saat Selena memberikan tebasan kuat untuk membuka luka pada tubuh Ursaloth itu, Lucius akan mengikutinya dengan serangan yang mengenai tepat di bekas luka yang dibuat oleh Selena sebelumnya.
Tentunya, sebuah serangan pedang yang diselimuti oleh kobaran api yang panas itu.
"Grooooaaaarrr!!!"
Teriakan kesakitan dari Ursaloth itu dapat terdengar dengan jelas. Meskipun lukanya beregenerasi secara lambat, tapi luka yang ditimbulkan oleh kombinasi Selena dengan Lucius jauh lebih banyak.
Sedikit demi sedikit, Ursaloth itu terus menerima luka.
Perut, kaki, lengan, punggung....
Semuanya terdapat bekas tebasan dan juga luka bakar akibat kombinasi keduanya.
Para petualang yang lain nampak terkagum-kagum melihat sosok kedua orang itu. Sedangkan petualang di regu yang sama dengan Lucius, mereka nampak menggigit jari setelah meremehkannya.
"Bo-bocah itu...."
"Dia benar-benar kuat?"
"Syukurlah aku tak ikut menghinanya...."
Lafael bersama dengan regu penyihir nya mulai memberikan serangan bantuan.
'Blaaarrr!! Duaaarrr!! Blaaarrr!'
Rentetan bola api yang mengincar tepat di badan Ursaloth itu terus menerus meledak. Memberikan luka tambahan pada beruang hitam itu.
Setelah rentetan ledakan sihir itu, Selena dan Lucius akan kembali menyerang.
'Blaaaarrr!!! Sreeeettt!!!'
Bersamaan dengan itu, para petualang dengan senjata utama berupa busur dan panah mulai menyerang dari jarak jauh. Menancapkan puluhan anak panah di tubuh Ursaloth itu.
Sera memimpin regu kecil dengan anggota para pemanah itu.
'Swuuuuussshh!!!'
Dibandingkan dengan para pemanah yang lain, tembakan panah Sera jauh lebih cepat dan jauh lebih kuat. Tapi di hadapan kulit dan otot tebal Ursaloth itu, panahnya seakan tak berguna karena tak bisa menembus cukup dalam.
Meskipun tak memberikan luka yang serius, para petualang yang lain ingin memberikan bantuan sebanyak yang mereka mampu.
Kombinasi rangkaian serangan petualang itu terus berlanjut selama beberapa menit. Memberikan luka yang cukup serius para Ursaloth itu.
Akan tetapi....
Tak berselang lama, Ursaloth itu mulai terbiasa atas rangkaian serangan Selena dan Lucius. Membuatnya mampu memberikan serangan balasan yang cukup kuat untuk mematahkan kombinasi mereka.
"Cih, kuat sekali." keluh Lucius setelah terdorong mundur beberapa meter.
Ia menggunakan pedangnya sebagai perisai untuk menahan pukulan Ursaloth itu, sembari memperbanyak aliran Mana pada Rune "Dur" untuk meningkatkan pertahanannya.
"Oi, Ironclad. Bukankah bocah itu...." ujar Drakon setelah melihat Lucius terpukul di kejauhan.
"Ya. Aku tahu. Bocah itu.... Sudah jauh lebih kuat daripada sebelumnya."
Ironclad masih teringat atas bagaimana pertemuan pertamanya dengan Lucius. Baginya saat itu, Lucius hanyalah bocah ingusan yang baru saja bisa bertarung melawan monster yang tak berakal.
Itu saja.
Tak lebih maupun kurang.
Bagi Ironclad, Lucius hanyalah bocah manja dari kalangan bangsawan. Tapi kenyataannya saat ini?
__ADS_1
"Kau pikir bisa melawannya sekarang?" tanya Drakon.
"Hah, jangan bercanda. Melihatnya mampu menahan pukulan Ursaloth itu tanpa terluka berarti seranganku tak lagi mampu bekerja padanya.' balas Ironclad.
"Apakah itu efek dari sihir penguatan fisik rahasia keluarganya?" tanya Drakon sekali lagi.
"Mungkin saja.... Tapi bukankah dia bisa bertahan jauh lebih lama sekarang?"
Tebakan keduanya sangat lah tepat. Hingga detik ini, Lucius terus mengaktifkan Overflow dimana dirinya mengalirkan Mana pada sekujur tubuhnya. Meningkatkan kemampuan fisiknya berdasarkan jumlah Mana yang dialirkan.
Tapi berbeda dari sebelumnya, kali ini Lucius telah jauh lebih baik dalam mengendalikan Mana. Ia hanya mengalirkan sebagian kecil Mana miliknya untuk sedikit meningkatkan kemampuan fisiknya.
Sebagai ganti peningkatan kekuatan yang jauh lebih rendah, Lucius kini sama sekali tak memperoleh efek samping dari penggunaan Overflow, selain menguras sedikit Mana miliknya tiap detik.
"Ayo, bantu dia." ujar Ironclad yang segera bangkit dan berlari ke arah Ursaloth itu.
"Ya, setidaknya aku akan menjadi pengalih perhatian Ursaloth itu agar bocah itu bisa terus menyerang." balas Drakon.
"Hah! Kau benar. Bahkan pedangku sama sekali tak bisa melukainya."
Dengan cepat, keduanya mulai berlari kembali ke garis depan. Bertarung dengan niat untuk mengalihkan sebanyak mungkin perhatian Ursaloth itu dari Selena dan Lucius.
'Sraaaaatt!!!'
"Oi, disini beruang sialan! Lawan aku!" teriak Ironclad setelah mengayunkan pedangnya ke arah Ursaloth itu. Yang tentunya tak memberikan luka serius padanya.
"Grrrr...."
Benar saja. Perhatian Ursaloth itu kini teralihkan. Memberikan kesempatan yang bagus bagi Selena dan Lucius untuk menyerang.
"Terimakasih, Ironclad!" teriak Lucius sambil menghunuskan pedang berapinya ke depan.
'Jleeeebb!'
Pedang Lucius menancap dengan mudahnya pada tubuh Ursaloth itu. Menusuk tepat di punggung beruang hitam itu.
Tapi tak berhenti di sana, Lucius segera memutar pedangnya sambil memperbanyak aliran Mana nya pada pedang itu. Membuat kobaran api yang tercipta menjadi jauh lebih besar.
'Swuuuoooooosssshhh!!!'
"Grooooaaaaarrrr!!!"
"Kerja bagus! Lucius!" teriak Selena dengan senyuman yang lebar. Ia juga mulai memperbanyak aliran Mana pada pedang besarnya itu.
Sekaligus, menggunakan Elemental Infusion pada pedangnya. Menyelimuti pedang itu dengan sihir angin yang sangat tajam.
'Zraaaaasssshhh!!!'
"GROOOOAAAARRR!!!"
Teriakan Ursaloth kali ini terdengar sangat keras, bahkan menggema hingga ke seluruh hutan ini.
Dengan satu tebasan itu, Selena berhasil memotong lengan kanan Ursaloth sepenuhnya.
Ia menyerang tepat pada bagian dengan luka yang paling banyak. Mempermudah tebasannya untuk memotong melalui otot dan tulang yang kuat itu.
'Braaaakk!!!'
Melihat lengan Ursaloth abnormal itu akhirnya terpotong, sorakan meriah dapat terdengar dari semua petualang yang ikut serta dalam pertarungan ini.
"Wuuuooooooooooh!!!"
"Kita akan menang!!!"
"Ayo! Sedikit lagi!" teriak Selena sambil mengangkat pedang besarnya dengan tangan kanannya itu.
Dengan semangat yang telah berapi-api, semua petualang yang ada berniat untuk memberikan serangan penghabisan.
Membunuh monster mengerikan ini dan mengakhiri terrornya sebelum dimulai.
'Zraaaat! Jleeeb! Swuuusshh! Blaaarrr!'
Berbagai macam serangan diarahkan tepat pada Ursaloth yang telah kehilangan banyak tenaga itu.
Darahnya mulai habis akibat semua luka yang dideritanya. Organ dalamnya terpanggang oleh sihir api Lucius. Dan tangan kanannya yang sebelumnya menjadi senjata terkuatnya? Kini justru menjadi beban baginya.
__ADS_1
Darah yang terus mengalir dari lengan kanannya yang telah terpotong itu membuat tubuhnya semakin lemas.
Pada akhirnya, Ursaloth itu hanya bisa duduk diam di tanah, menanti kematiannya.
Dan kemenangan pun akan diraih oleh kelompok petualang itu.
Setidaknya....
Itulah yang seharusnya terjadi.
...'BLAAAAAAAAAAAAARRRR!!!'...
Secara tiba-tiba, hempasan angin yang sangat kuat muncul dari arah Ursaloth itu terduduk lemas. Melemparkan semua petualang yang hendak menghabisi nyawanya.
Dari balik debu dan bebatuan yang terus terlempar ke segala arah itu, salah seorang petualang berusaha untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi saat debu yang menghalangi penglihatan itu mulai menghilang, petualang itu hanya bisa membelalakkan matanya atas apa yang dilihatnya.
"A-apa yang.... Ba-bagaimana bisa...." ucapnya dengan penuh ketakutan. Keringat mulai bercucuran di sekujur tubuhnya.
Di hadapannya, terlihat sosok seekor Hobgoblin dengan ciri yang serupa atas apa yang dikatakan oleh Donner bersaudara itu.
Hobgoblin dengan tinggi tubuh seperti pria dewasa. Tubuhnya nampak ramping dengan sedikit otot di tubuhnya.
Sementara itu, kulitnya berwarna hijau gelap dan lebih mendekati warna hitam. Sedangkan di kepalanya nampak sebuah tanduk yang muncul di kening bagian kirinya.
Tapi yang paling menyita perhatian petualang itu tak lain adalah apa yang dipegang Hobgoblin itu di tangan kirinya.
Yaitu sebuah kepala manusia yang telah terpenggal, yang memiliki wajah seperti orang yang dikenalnya.
"Ro-Rover?! Ba-bagaimana ini bisa...."
Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, Hobgoblin itu melemparkan kepala Rover tepat ke petualang itu.
Dengan kecepatan lemparan yang begitu luarbiasa, membuat kepala petualang itu hancur seketika. Membunuhnya tanpa banyak usaha yang diperlukan.
Sedangkan Lucius dan juga Selena yang berdiri bersebelahan mulai menyadari terror yang sebenarnya.
Sebuah terror dimana Hobgoblin itu dengan mudah mencabik-cabik tubuh Ursaloth yang sebelumnya susah payah mereka lawan. Sebelum akhirnya menginjak-injaknya hingga menjadi bubur.
'DEG! DEG!'
Saat itu lah keduanya tersadar.
Bahwa perkataan Donner bersaudara sebelumnya sama sekali bukan bualan semata.
Apa yang mereka temui adalah Hobgoblin. Dan melihat kekuatan Hobgoblin itu secara langsung, Lucius dan Selena bahkan mulai mempertanyakan bagaimana caranya Donner bersaudara itu bisa selamat.
Rasa takut dan terror mulai membekukan tubuh semua petualang yang ada di hutan ini.
Sedangkan Lucius sendiri bisa merasakan rasa takut dari Carmilla, yang membuat nafas dan detak jantungnya menjadi tak karuan.
"Aku memberikanmu kekuatan untuk memburu manusia, tapi apa ini? Kalah dari mereka?" ucap Hobgoblin itu sambil terus menginjak-injak sisa tubuh Ursaloth itu.
Perkataan dari Hobgoblin itu membuat semua petualang jatuh pada lutut mereka. Tak hanya memiliki kekuatan yang diluar nalar, tapi Hobgoblin itu juga memiliki kecerdasan yang tinggi?
Dengan cepat, Carmilla segera mengambil tindakan.
'Lucius! Serahkan tubuhmu! Ini bukanlah lawan yang sepadan denganmu!'
Seketika sorot mata Lucius sedikit berubah setelah dikendalikan oleh Carmilla. Dengan cepat, Carmilla mulai mengendalikan rasa takutnya dan mengubahnya menjadi kemarahan yang tak terbendung.
'Beraninya, iblis rendahan seperti ini memandang rendah diriku. Sekalipun tak memiliki kekuatanku yang seutuhnya, akan ku pastikan menghancurkan mu dengan tubuh ini.' pikir Carmilla dalam hatinya dengan penuh amarah.
"Lucius, ku rasa kita tak bisa kabur dari ini. Kau siap?" tanya Selena.
"Berusaha lah untuk bisa mengimbangi ku." balas Lucius dengan nada sinis. Yang tentunya, adalah perkataan dari Carmilla itu sendiri.
Entah apa yang akan menanti mereka, bagaimanapun kabur dari tempat ini terlihat begitu mustahil.
Dibandingkan mati tanpa perlawanan, seluruh petualang yang masih memiliki tekad kuat memilih untuk mati sembari memberikan perlawanan.
Sekalipun....
Itu adalah sebuah tindakan yang sia-sia.
__ADS_1