
Setibanya di kelas, Lucius disambut oleh teman-temannya yang telah lama tak melihat sosoknya.
"Lucius! Syukur lah kau baik-baik saja!" teriak Sophia yang segera berlari memeluk Lucius.
"Alex tak memberitahukan apapun?" tanya Lucius singkat sambil berusaha mendorong mundur tubuh Sophia itu.
Dengan anggukan yang lembut, Sophia membalas.
"Yah, Alex telah cerita kalau beberapa hari lalu kau sudah kembali. Tapi melihatmu secara langsung...."
'Syuuutt!!! Tappp!!!'
Sebuah kerikil melesat tepat ke arah Lucius, dimana Ia dapat dengan mudah menangkapnya. Melihat dari arah tembakannya....
"Oliver?" tanya Lucius singkat.
"Hahaha! Banyak orang bilang kau kehilangan kemampuanmu. Nampaknya hanya rumor omong kosong."
"Emily senang kau baik-baik saja, Lucius." ucap gadis pemalu itu.
Di kejauhan, sosok Max yang tengah sibuk melatih pukulannya turut menyapa.
"Yoo, Lucius. Senang melihat mu kembali."
Pada saat itu lah, Lucius paham atas apa yang perlu dilakukannya setelah ini.
Mengingat Carmilla yang masih cukup sibuk melatih Michelle dan juga Alex secara bersamaan, Lucius tak ingin menambah bebannya. Karena itu lah....
Lucius dengan cepat berjalan ke arah Max di belakang kelas itu.
"Max, bisakah kau membantu ku berlatih pedang?"
Semua orang di kelas ini pun terkejut. Termasuk Alex itu sendiri.
Bagaimana tidak? Orang yang sangat terampil dan berbakat dalam bidang sihir, kini justru meminta untuk diajarkan pedang?
"Tunggu Lucius! Apa yang barusan kau katakan?!" tanya Alex panik.
"Kenapa pedang? Aku tahu kau juga menggunakan pedang tapi bagi penyihir...." tanya Sophia kebingungan.
Emily juga cukup terkejut mendengar perkataan Lucius barusan. Menurutnya, Lucius adalah tipe orang yang cinta buku dan tak terlalu ahli dalam penggunaan senjata.
Sementara itu Oliver nampak biasa saja melihat sikap Lucius barusan. Bagi keluarga pembunuh seperti dirinya, tak peduli apa caranya selama bisa membunuh target maka itu sudah cukup.
Tak ada batasan bahwa seorang penyihir tak boleh berlatih menggunakan senjata yang lainnya.
"Aku sama sekali tak keberatan menjadi teman latihanmu tapi.... Kau yakin? Aku cukup kuat, kau tahu?" balas Max dengan senyuman yang penuh percaya diri.
"Bagus kalau begitu." balas Lucius juga dengan senyuman yang lebar.
............
Sepulang dari Akademi, Lucius langsung berjalan pulang mengikuti langkah kaki dari pemuda berambut kemerahan itu.
Sepanjang perjalanan, Ia selalu membicarakan berbagai hal dengan suara yang cukup keras.
Hingga akhirnya setelah sekitar satu jam.... Tepat setelah matahari mulai terbenam.
Lucius akhirnya tiba di rumah keluarga Thompson itu. Langit malam terhampar dengan gemerlap bintang yang menyoroti perjalanan panjangnya.
Berbeda dengan bayangan Lucius, keluarga Thompson tak tinggal di dalam kota. Melainkan diluar dinding kota Arcanum ini, tepatnya di wilayah Selatan yang agak tandus.
Di cukup tandus dan kering ini, terlihat bangunan megah yang menjadi tempat tinggal keluarga Thompson. Dinding batu yang kokoh dan terawat dengan indah melindungi kehangatan yang tersimpan di dalamnya.
Lucius melangkah melewati gerbang besar yang dihiasi dengan lambang keluarga Thompson. Di balik gerbang itu terbentang pemandangan yang menakjubkan.
Rumah besar dengan arsitektur klasik yang megah dan elegan menjulang tinggi di hadapannya. Atap berundak, jendela-jendela berbingkai, dan balkon yang terhias dengan tanaman menjadikan rumah ini tampak anggun dan mewah.
"Bagaimana? Cukup besar kan?" tanya Max dengan bangga.
__ADS_1
Jika dibandingkan dengan villa yang diperoleh keluarga Lucius di Central Plaza itu, tempat ini jauh lebih besar dan megah.
Wajar saja, karena tanah di sekitarnya yang cukup tandus itu tak dihuni oleh banyak orang.
Yang membuat Lucius cukup senang setelah melangkahkan kaki di dalam kediaman keluarga Thompson yaitu para Ksatria Suci yang tak begitu berani mendekat.
Karena ini adalah wilayah keluarga yang cukup berpengaruh di kerajaan, terlebih lagi keluarga yang sering membantu dalam perang, Gereja tak ingin membuat masalah dengan keluarga Thompson.
Memberikan Lucius sedikit ruang untuk bernafas lega di tempat ini.
Melangkah lebih jauh, Lucius tiba di barak pasukan tentara bayaran yang terletak di sisi Selatan rumah besar itu. Bangunan besar dan panjang ini terbuat dari batu bata yang kuat, susunannya sendiri membentuk seperti huruf 'U'.
Suara gemuruh latihan pasukan dan denting pedang saling bergema di tengah-tengah barak itu. Sebuah lapangan yang cukup besar dengan banyak prajurit yang sedang melatih kemampuan mereka.
Meskipun tanahnya agak tandus, beberapa pohon dan semak nampak tumbuh di sekitar lapangan latihan ini. Memberikan tempat teduh di siang hari dan sedikit menyejukkan suasana di sekitarnya.
"Ini semua pasukanmu?" tanya Lucius yang merasa ngeri.
Dalam sekilas, Lucius setidaknya melihat sekitar 200 prajurit yang sedang berlatih di lapangan latihan ini.
"Pasukan keluarga ku. Aku masih belum memiliki hak untuk memimpin pasukan." balas Max tetap dengan senyumannya.
Setelah itu, Max nampak meninggalkan Lucius dengan langkah yang terburu-buru.
"Kemana?" tanya Lucius singkat.
"Mengambil perlengkapan ku. Tunggu sebentar."
Di pinggiran lapangan ini, Lucius memperhatikan gerakan latihan para tentara bayaran ini. Sebagian dari mereka nampak berlatih melawan boneka kayu yang diberi zirah besi.
Sedangkan yang lainnya nampak berlatih melawan tentara bayaran yang lainnya.
Meski sebagian besar menggunakan pedang dan perisai, terdapat sekelompok orang yang sedang berlatih menggunakan panah dan busur.
Akhirnya setelah beberapa saat, Max kembali.
Ini adalah pertama kalinya Lucius melihat sisi lain dari teman kelasnya. Max yang dikenalnya selalu tertawa dan terkesan bertindak bodoh di segala situasi.
Tapi sesaat setelah Ia mengenakan zirah dan mengangkat pedangnya, sosok Max yang dikenalnya berubah drastis.
'Tak salah lagi, dia benar-benar terlatih. Tapi....'
Lucius berpikir sejenak setelah melihat pedang kemerahan milik Max itu.
"Ugh, kau yakin akan menggunakan pedang sungguhan?" tanya Lucius.
"Aah benar juga. Maaf. Mari kita mulai dengan pedang kayu." balas Max yang segera mengambil dua buah pedang kayu satu tangan yang cukup tebal itu.
"Terimakasih." balas Lucius dengan senyuman tipis.
Lucius berdiri tegak di tengah lapangan latihan yang dipenuhi pasir halus itu. Ia memegang pedang kayu dengan erat, merasakan bobotnya dalam genggaman tangannya. Di hadapannya, Max, seorang putra dari keluarga tentara bayaran yang terkenal, siap meladeni tantangan Lucius.
Dengan cepat, Lucius melangkah maju, mengayunkan pedang kayunya.
'Ttrraakk!! Ttraaakk!!'
Setiap serangannya terarah dengan sempurna, menunjukkan pemahaman yang mendalam akan seni bela diri.
"Oooh?! Lucius! Aku tak tahu kau selihai ini dengan pedang!" teriak Max dengan senyuman yang lebar di wajahnya.
Meski begitu, Max mampu menangkisnya dengan mudah.
'Sudah ku duga, perbedaan kekuatan fisik kah?' pikir Lucius dalam hatinya.
Ia dapat merasakannya dengan jelas bahwa kekuatan fisik Max saat ini jauh lebih tinggi darinya. Dimana tebasan terkuat Lucius pun mampu ditangkis tanpa perlu banyak usaha.
Di tengah-tengah kondisi mendesak ini....
__ADS_1
Lucius akhirnya menggunakan teknik pedangnya yang unik, Formless Sword Technique. Sebuah teknik ciptaan iblis kenalan Carmilla yaitu Mordrek.
Gerakan-gerakan pedangnya seolah-olah mengalir tanpa batas, tak terduga dan sulit untuk diprediksi. Pukulan dan tusukan pedangnya melesat seperti kilat, menunjukkan fleksibilitas dan adaptabilitasnya yang luar biasa.
"Oioioi?! Apa-apaan ini?! Lucius?!" teriak Max terkejut dengan senyuman yang semakin melebar.
Sesaat setelah Lucius menggunakan teknik pedang itu, gerakannya menjadi jauh lebih sulit untuk diprediksi.
Tak hanya itu, kecepatan dan bobot tebasannya juga meningkat drastis.
Masalahnya....
Max masih mampu mengimbangi serangan Lucius karena kemampuan fisiknya memang jauh lebih tinggi saat ini.
"Menarik! Menarik sekali Lucius!"
'Braaaaakkkk!!!'
Dengan tebasan horizontal yang kuat, Max melemparkan tubuh Lucius beberapa meter ke belakang.
Para prajurit yang sedang berlatih nampak menghentikan seluruh aktivitas mereka. Semua demi melihat pertarungan Tuan mereka melawan orang tak dikenal itu.
"Tuan Max sampai seserius itu?"
"Siapa sebenarnya lawannya?"
"Seragam itu.... Pelajar di akademi sihir? Tapi kenapa bisa memiliki kemampuan berpedang menyamai Tuan Max?"
Kerumunan di sekitar keduanya menjadi semakin ramai. Tapi mereka memberikan ruang yang cukup bagi Lucius dan juga Max untuk bertarung.
Suara benturan pedang memenuhi udara, menciptakan harmoni yang kuat di malam hari yang hanya diterangi obor di sekeliling barak ini saja.
Setelah merasa sangat tertekan, Lucius akhirnya menggunakan salah satu gerakan dalam Formless Sword Technique itu.
'Formless Sword Technique, tiga tebasan beruntun.' teriak Lucius dalam hatinya sambil mengangkat pedang kayu itu ke atas menggunakan kedua tangannya.
Namanya sendiri tak terdengar begitu kuat. Tapi gerakan dari teknik ini benar-benar mematikan jika menggunakan pedang sungguhan. Itulah kenap Lucius menyarankan untuk menggunakan pedang kayu.
Dalam sekejap, Max yang hidup dalam dunia pedang dapat melihatnya.
Di hadapannya terdapat tiga buah tebasan yang seakan-akan muncul secara bersamaan dari tiga sisi yang berbeda.
Tebasan pertama adalah tebasan vertikal yang mengarah tepat di kepalanya. Kemudian tebasan kedua yang mengarah tepat di lengan kanannya, dan terakhir tebasan ketiga yang mengarah tepat di pundak kirinya.
Hanya saja....
Max tak mampu mempercayai bahwa tiga tebasan yang seharusnya dilancarkan satu persatu itu, seakan-akan datang secara bersamaan dari 3 arah yang berbeda.
Dan akhirnya....
'Ttraakk! Ttraakkk!! Taakkk!!!'
'Braakkk!!!'
Max yang menerima tiga tebasan secara bersamaan itu segera terjatuh ke tanah. Tak menyadari apa yang sebenarnya barusan terjadi.
"Apa-apaan serangan barusan itu?" keluh Max sambil meraih uluran tangan Lucius.
"Uggh.... Soal itu...."
"Jelaskan lebih detail padaku, bocah!"
Dari kejauhan, terdengar suara seorang pria tua yang begitu berat. Saat Lucius menoleh Ia dapat melihat sosok seorang pria tua dengan rambut yang mulai memutih itu.
Ia mengenakan zirah kulit dengan jubah merah di atasnya. Dengan kedua lengan yang dilipat di depan dadanya, pria tua itu terus memandangi sosok Lucius dengan penuh rasa penasaran.
"Eh?"
"Teknik pedang mu barusan, dimana kau mempelajarinya, dan bagaimana kau melakukannya. Nasib mu akan ditentukan berdasarkan jawabanmu."
__ADS_1
Tanpa sadar, Lucius berhasil menyelamatkan dirinya dari kandang buaya. Namun masuk ke dalam kandang singa. Lebih tepatnya, singa tua yang sangat kuat.