Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 78 - Kebangkitan


__ADS_3

"Jadi, apa yang kau katakan padanya?" tanya Lucius yang masih kebingungan itu.


Kedua tangan kanannya mengarah kedepan, membuat formasi sihir untuk menciptakan sebuah portal. Mengantarkannya tepat pada kamarnya di Kota Arcanum.


Satu hal yang diharapkan Lucius, yaitu kamarnya belum digusur oleh pemilik penginapan. Wajar saja Lucius khawatir karena dirinya telah menghilang selama 4 bulan lebih tanpa membayar.


Dalam pikirannya, Carmilla pun membalas.


'Singkatnya, aku menawarkan keselamatan mereka semua kecuali satu yang harus dikorbankan. Aku juga menjelaskan mengenai kondisi tubuhmu itu, Lucius.'


"Kondisi tubuhku?" tanya Lucius penasaran.


Gadis Elf berambut pirang panjang itu berdiri di samping Lucius sambil menunjukkan jarinya pada portal itu.


"Amin nae' tara ruun? Amin valar tyenna i'savuvalya?" tanya Gadis Elf itu.


"A-apa yang dikatakannya?" tanya Lucius panik.


'Dia bertanya apakah ini sihir ruang, dan apakah aman untuk melewatinya.' balas Carmilla singkat.


Tanpa mengetahui sepatah kata pun dari bahasa Elf, satu-satunya cara bagi Lucius untuk menjawab adalah dengan menganggukkan kepalanya.


Melihat hal itu, Elf itu terlihat tersenyum tipis sambil menyegerakan langkah kakinya melewati portal itu.


Melihat langkah kakinya....


Lucius merasa cukup sedih. Mengetahui bahwa nyawa gadis Elf itu sudah dipastikan akan hilang tak lama lagi demi kebangkitan Carmilla.


Ia terus memandangi rambut pirang panjangnya yang begitu indah itu. Sesekali karena terpana angin, membuat kalung sihir yang menempel di lehernya dapat terlihat dari belakang.


Sebuah kalung yang mengunci penggunaan sihir sepenuhnya.


'Jika kau berpikir aku akan membunuhnya, tenang saja. Apa yang akan ku lakukan padanya sama seperti apa yang ku lakukan padamu, Lucius.' jelas Carmilla tiba-tiba.


Penjelasan itu membuat Lucius secara tak sadar menghentikan langkah kakinya untuk sesaat.


"Maksudmu?" tanya Lucius sebelum melanjutkan langkah kakinya itu.


'Sesuai perkataan ku. Tapi bukan sepertimu dimana kau masih memegang kendali penuh. Apa yang akan ku lakukan pada Lirael adalah mengambil alih hampir sebagian tubuhnya. Sebagai gantinya, aku akan mengembalikan kendali itu selama satu hari padanya setiap bulannya. Dan dia menyetujuinya.' jelas Carmilla panjang lebar.


Tak seperti hubungan antara Lucius dan Carmilla yang terkesan setara, dimana Lucius atau Carmilla bisa bergantian menggunakan tubuh ini....


Gadis Elf itu hanya diberi hak kendali tubuhnya setiap satu bulan sekali.


Dan selain pada satu hari itu....


Ia hanya bisa melihat segalanya dari dalam. Tapi setidaknya, itu jauh lebih baik dari kematian. Itu lah yang ada di dalam pikiran Lucius.


"Satu hari ya?" tanya Lucius sambil memandangi sosok Gadis Elf itu yang telah menghilang di balik portal buatannya.


Tapi saat Lucius baru saja hampir melanjutkan langkah kakinya, Ia baru tersadar atas sesuatu.


"Tunggu dulu, Lirael? Apakah itu nama gadis Elf itu?"


'Tentu saja. Apalagi?'


............


Setelah Lucius melangkahkan kakinya melalui portal itu, Ia cukup terkejut setelah melihat apa yang ada di depan matanya.


Bukan hanya semua barang-barang miliknya masih berada di dalam kamarnya. Tapi juga kamar ini terlihat masih begitu bersih, seakan-akan selalu dibersihkan setiap harinya.


Sosok Lirael terlihat berjalan kesana kemari memperhatikan semua yang ada di kamar Lucius.


Tak berselang lama....


'Tap!'


Lucius merasakan tepukan yang ringan pada pundaknya.


Lirael terlihat membawakan selembar kertas sembari menunjuk ke atas meja kerja Lucius.


"Aah, untukku? Dari siapa? Terimakasih." balas Lucius yang segera mulai membaca isi surat itu.


Gadis Elf itu nampak memberikan senyuman ramah sebelum duduk di atas ranjang Lucius. Mengistirahatkan badannya yang lelah atas kejadian sebelumnya.


...[Teruntuk, Kakanda Lucius Nightshade]...


"Eh?!" teriak Lucius terkejut bukan main setelah membaca bagian paling atas dari surat itu.


Di dunia ini, hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Ia tak lain adalah Michelle Nightshade, adiknya sendiri.


'Glek!'


Setelah menelan ludahnya, Lucius melanjutkan membaca surat itu.

__ADS_1


...[Ku dengar Kakanda sudah tumbuh jauh lebih kuat di Akademi Damacia ini. Meski begitu, kenapa menghilang dari Akademi? Ayah dan Ibu sangat khawatir. Kami menanti Kakanda di Central Plaza kota ini. Ku mohon, cepat lah pulang.]...


Surat singkat ini ternyata hanya berisi permohonan dari adiknya untuk segera pulang. Hati Lucius terasa begitu teriris saat membacanya dan....


"Hah? Tu-tunggu dulu? Central Plaza? Apa yang mereka lakukan disana?" tanya Lucius panik.


'Masih lama? Aku ingin segera lepas dari tubuh tak berguna mu.' tanya Carmilla yang sudah mulai kehabisan kesadarannya itu.


"Ya ya.... Silakan lakukan sesukamu."


............


Sekitar 30 menit berlalu.


Selama itu pula, Carmilla terus menggunakan tubuh Lucius untuk menggambar formasi lingkaran sihir yang begitu kompleks di kamar ini menggunakan Mana milik Lucius.


Menggambarnya saja sudah menghabiskan setengah dari Mana Lucius. Mana yang setara dengan penyihir tingkat A keatas.


Wajar saja.


Karena tempat yang digunakan Carmilla menggambar tak terbatas pada lantai saja. Melainkan juga pada dinding dan juga atap kamar kecil ini.


"Laer nae', valar Lirael?" tanya Carmilla.


Ia menanyakan apakah Lirael telah siap untuk memberikan sebagian besar kendali atas tubuhnya itu kepada Carmilla.


Dengan anggukan yang lembut serta senyuman yang begitu manis, Lirael menyetujuinya.


Setelah itu, Carmilla segera melebarkan kedua tangannya. Memulai rapalan sihir transmigrasi jiwa itu dalam kamar kecil ini dengan bahan seadanya.


Sebuah sihir yang seharusnya telah lama hilang, bahkan dianggap mustahil untuk dilakukan oleh berbagai guru besar di bidang sihir.


Jika manusia bisa menguasai sihir ini, tak salah lagi orang itu bisa mencapai keabadian yang semu.


'Swuuuusshhh!!!'


Tekanan angin yang dingin mulai terasa di sekujur tubuh Lucius. Bahkan menusuk hingga ke dalam jiwanya.


Bersamaan dengan itu, seluruh formasi sihir yang rumit di ruangan ini mulai bercahaya. Sebagian besar memiliki cahaya kebiruan yang indah, sedangkan sebagian yang lainnya lagi memiliki cahaya kemerahan yang mengerikan.


Tak seperti Alora, rapalan sihir yang dilakukan oleh Carmilla terdengar begitu lirih, juga tidak menggunakan bahasa yang sama sekali bisa dimengerti oleh Lucius.


Bahasa yang digunakan oleh Carmilla jauh berbeda dari bahasa Elf yang sebelumnya didengar oleh Lucius.


Setelah beberapa saat....


Carmilla menggunakan sihir yang berbeda untuk memecahkan segel pada kalung sihir itu. Melepaskan pengekangan Mana di dalam tubuh Lirael.


'Klaaaangg!!!'


Hanya dengan jentikan jari, Carmilla bisa mematahkan dan melepaskan kalung sihir itu.


Lalu setelah itu....


"Lirael." ucap Carmilla singkat sambil mengarahkan kedua tangannya kedepan. Lirael memahaminya dan menempelkan kedua tangannya pada tangan Lucius.


Tak hanya sampai di sana, Carmilla mulai mendekatkan wajahnya. Lalu menempelkan keningnya pada kening Lirael.


"Sssaruk nethrok, kraethan kra'halavthar, Lirael." ucap Carmilla.


Lucius sama sekali tak mengerti arti dari kalimat yang diucapkan oleh Carmilla barusan. Sebuah kalimat yang berarti bahwa Carmilla akan memindahkan jiwanya pada tubuh Lirael.


Meski begitu, Lucius dapat melihatnya secara langsung.


Tubuh Lirael mulai mengalami perubahan yang sangat jelas setelah jiwa Carmilla mulai memasuki tubuhnya.


Rambut pirangnya yang begitu indah dan panjang, kini mulai kehilangan warnanya dan secara perlahan berubah menjadi putih cerah.


Sementara itu kulit Lirael yang sebelumnya cukup putih namun masih memiliki sedikit warna kuning langsat. Tapi setelah jiwa Carmilla memasukinya, warna kulitnya berubah menjadi putih pucat.


Dan perubahan terakhir terlihat dengan jelas oleh Lucius, saat Lirael membuka matanya.


Mata biru cerah Lirael secara perlahan berubah menjadi kemerahan layaknya warna darah.


Dengan senyuman yang lebar, Lirael mulai membuka mulutnya.


"Terimakasih, Lucius. Dengan tubuh ini, tak salah lagi. Aku bisa sedikit mendekati puncak kekuatanku di masa lalu." ucap Lirael... atau lebih tepatnya Carmilla dengan menggunakan tubuh Lirael itu.


Lucius mulai melangkah mundur ketakutan. Untuk pertama kalinya, Ia merasakan hawa ngeri dari Carmilla itu sendiri.


Sikap Carmilla terlihat begitu aneh. Seakan-akan....


"A-apa yang akan kau lakukan dengan tubuh itu?" tanya Lucius panik.


Sebuah pertanyaan yang terlambat berbulan-bulan yang lalu. Sebuah pertanyaan yang seharusnya ditanyakan olehnya saat pertama kali membuat kontrak dengannya.

__ADS_1


Sebuah pertanyaan, yang mungkin akan menentukan nasib dari dunia ini.


Cahaya dari formasi sihir di ruangan ini mulai memudar dan menghilang sepenuhnya. Mengembalikan kondisi ruangan seperti sebelumnya.



Dengan tatapan mata merahnya yang begitu menyeramkan, Carmilla pun membalas.


"Untuk apa? Tentu saja, menyelesaikan urusanku dengan dunia ini."


'Deg! Deg!!'


'Apakah aku telah melepaskan sesuatu yang tak seharusnya dilepaskan di dunia ini?'


Ketakutan Lucius mulai terlihat dengan jelas. Terlebih lagi, Mana dari tubuh Lirael itu kurang lebih setara dengan Mana milik Lucius saat ini.


"Urusan apa?" tanya Lucius panik.


'Apakah aku bisa melawannya? Apakah aku bisa menghentikannya jika dia benar-benar berniat menghancurkan dunia ini?' tanya Lucius dalam hatinya.


Tanpa di duga, Carmilla berjalan mendekat ke arah Lucius. Merangkul tubuhnya dan membisikkan sesuatu pada telinganya.


"Tentu saja, menghancurkan dunia ini." bisik Carmilla dengan suara yang begitu merdu, namun memiliki arti yang begitu mengerikan.


'Sruuuuggg!!!'


Dengan cepat Lucius melompat mundur lalu menarik pedangnya. Jika memang begini keadaannya, mau bagaimana lagi?


'Aku harus menghentikannya! Kenapa aku begitu bodoh?! Apakah karena aku selama ini diperlakukan baik olehnya? Karena itu aku menganggapnya sebagai orang yang baik? Padahal dari awal aku tahu dia adalah iblis! Apakah ini sihirnya? Sihir yang membuatku terus melakukan apa yang diinginkannya tanpa sadar? Benar juga, aku baru sadar setelah dia terbebas kan?!'


Pikiran Lucius dipenuhi dengan tanda tanya. Sementara itu sosok Carmilla dengan tubuh Lirael itu berdiri dengan santai di hadapannya.


Meski begitu, tatapan dari Carmilla benar-benar tajam dan penuh intimidasi.


"Maaf aku...."


"Bercanda!" ucap Carmilla memotong perkataan Lucius sambil tertawa puas.


"Eh?!"


Seketika, seluruh ketakutan Lucius berubah menjadi kebingungan. Pernyataan mana yang benar? Apakah dia benar-benar ingin menghancurkan dunia ini? Atau tidak?


'Srruuugg!!!'


Tiba-tiba, Carmilla melompat ke arah Lucius. Melemparkannya ke atas ranjangnya sendiri dengan posisi Carmilla yang berada di atasnya.


"Kau tahu, Lucius? Jika itu adalah diriku yang dulu, aku mungkin sangat ingin menghancurkan dunia ini sekarang. Tapi nampaknya, kau telah menunjukkan sesuatu padaku yang jauh lebih menarik dari itu." ucap Carmilla dengan wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Lucius.


"Apa maksudmu dengan itu?"


"Aaah, Lucius. Sekalipun kau cukup jenius dalam sihir, kau bodoh dalam hal ini ya? Haruskah aku mengatakannya secara langsung?" tanya Carmilla yang secara perlahan menempelkan bibirnya pada bibir Lucius.


"Mmmfffhhh?!!" balas Lucius sambil terus meronta berusaha untuk melepaskan diri dari tindihan Carmilla.


Tapi apapun yang dilakukannya, Ia seakan-akan tak berdaya melawannya.


Apakah itu karena Carmilla memiliki posisi yang lebih diunggulkan yaitu di atas? Atau karena Lucius terpana oleh kecantikan dari gurunya sendiri?


Setelah beberapa saat, akhirnya Carmilla melepaskan Lucius.


"Terimakasih, Lucius. Berkat mu, aku sekali lagi bisa menghirup udara segar di dunia ini sekali lagi. Yah, meskipun sudah sejak lama... tapi menggunakan tubuh sendiri, terutama tubuh Elf, jauh lebih membahagiakan untukku."


Carmilla secara perlahan bangkit dari ranjang itu dan memperhatikan penampilannya pada cermin di sudut ruangan itu.


"Tunggu, aku sama sekali tak paham apa maumu." tanya Lucius sekali lagi. Ia terlihat membersihkan bibirnya dari serangan barusan.


"Singkat saja, Lucius. Aku mulai mencintai dunia ini. Atau tepatnya, mencintai lingkungan di sekitarku. Jadi aku akan melindunginya. Selagi melakukan itu, aku akan terus menjadi guru mu. Kau tak keberatan bukan?"


Pada saat itu, sekali lagi Lucius seakan-akan terhipnotis oleh keanggunan dan kecantikan yang ditunjukkan oleh Carmilla.


Lucius seakan-akan tak bisa terlepas dari daya tarik iblis bernama Carmilla itu. Bukan karena Ia menyukai atau bahkan mencintainya.


Bukan perasaan seperti itu yang ada dalam diri Lucius.


Layaknya pungguk yang merindukan bulan. Lucius menyadari bahwa sosok Carmilla terlalu sempurna baginya. Membayangkannya saja mustahil bagi Lucius.


Yang ada dalam hati Lucius hanyalah perasaan kagum dan hormat atas pencapaian dan dedikasi Carmilla yang luarbiasa terhadap sihir.


Pengetahuannya yang luas namun fleksibel di berbagai situasi. Berbagai sihir original buatannya sendiri yang bahkan bisa membalikkan keseimbangan dunia ini.


Hingga berbagai penemuan dengan sihir sebagai pondasinya.


Semua pencapaian Carmilla itu lah yang terus menerus memotivasi Lucius untuk mempelajari sihir.


Tanpa menyadari....

__ADS_1


Bahwa kekagumannya terhadap Carmilla itu lah, yang akan menjungkirbalikkan keseimbangan dunia ini di masa depan.


...- End Arc I : Convergence of Fate - ...


__ADS_2