Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 86 - Rumor


__ADS_3

"Hah.... Hah.... Hah...."


Lucius terlihat begitu kelelahan di tempat latihan ini. Tubuhnya terlihat dibasahi oleh keringat. Sedangkan otot-ototnya telah terlalu panas.


Semua itu terjadi karena Lucius terus mengayunkan pedangnya selama 4 jam lebih secara berturut-turut semenjak pulang dari Akademi hari ini.


"Gereja sialan.... Bahkan masuk di kelas hari ini?" keluh Lucius mengenai kejadian di hari ini. Dimana sekitar 20 Ksatria Suci memenuhi ruang kelas Lucius yang biasanya selalu sepi itu.


Semua itu dengan alasan untuk mengawasinya.


"Padahal sudah ku bilang aku takkan melakukan apapun!" teriaknya kesal.


Untuk menyalurkan kekesalan itu, Lucius terlihat menggunakan sebuah teknik pedang yang diajarkan oleh Carmilla selama berada di dalam Prism of Eternity itu.


'Zraaatt!!! Zraaattt!!! Zraaatt!!!'


Michelle yang baru saja memasuki ruang latihan ini sampai dibuat terkejut oleh teknik pedang Lucius barusan.


Sebuah teknik dimana pedangnya seakan-akan menebas dari 3 arah secara bersamaan. Memotong boneka kayu yang mengenakan zirah besi itu dengan mudahnya.


"Kakak? Barusan itu...." tanya Michelle penasaran.


"Aah itu?" balas Lucius dengan senyuman. Meskipun dalam hatinya berkata lain.


'Sialan! Aku tak sengaja memperlihatkan Formless Sword Technique pada Michelle! Apa yang harus ku gunakan sebagai alasan?!'


Formless Sword Technique. Sebuah teknik yang dikatakan berasal dari Master pedang kenalan Carmilla.


Tentu saja, Master pedang itu adalah seorang Iblis bernama Mordrek.


Jika Carmilla adalah orang yang tergila-gila atas sihir hingga menjadi terlalu kuat dibuatnya, hal yang sama juga berlaku pada Mordrek. Hanya saja Ia terlalu tergila-gila pada pedang.


Level kecintaan Mordrek terhadap pedang bisa dianggap mencapai tingkat obsesi parah. Dan salah satu hasilnya adalah Formless Sword Technique itu.


Sebuah teknik pedang yang tak berbentuk. Membuat penggunanya mampu mengendalikan tebasan pedang layaknya tarian angin yang lembut namun tajam.


Lucius masih ingat jelas perkataan Carmilla di saat melatihnya pada penjara dimensi itu.


"Teknik pedang takkan pernah mengalahkan sihir, setidaknya selama 10 hingga 15 menit pertama pertarungan. Setelah itu, teknik pedang akan selalu menang karena tak membutuhkan Mana untuk menggunakannya."


Itu lah kata-kata Carmilla saat melatih Lucius teknik berpedang.


Tak disangka, teknik yang dilatih untuk berjaga-jaga ketika Lucius tak bisa menggunakan sihir, dapat berguna di situasi seperti ini.


"Kakak?" tanya Michelle sekali lagi setelah melihat kakaknya terdiam tanpa sepatah kata pun.


"Aaah! Ya! Benar sekali! Aku menggunakan sihir angin untuk menambah kecepatan serangan ku barusan!" jawab Lucius panik.


Tanpa di duga, Michelle menerima alasan bodoh Lucius itu mentah-mentah.


"Begitu ya? Sayang sekali afinitasku terhadap sihir angin cukup rendah. Tapi aku juga ingin belajar berpedang, jika kau senggang ajari aku ya kak?" balas Michelle dengan senyuman yang ramah.


Dari balik pintu, sosok Carmilla terlihat berdiri dengan wajah sedikit kesal.


"Michelle. Bukankah kau bilang hanya ingin minum? Kenapa lama sekali?"


"Ma-maaf!"


"Cepat lah selesaikan urusanmu. Kita masih punya pelajaran yang harus di selesaikan." balas Carmilla yang segera pergi meninggalkan ruangan ini.


Lucius yang melihat sosok Carmilla seperti itu mengingatkannya pada dirinya yang dulu. Selalu dimarahi oleh Carmilla saat latihan. Meski begitu, perlakuan Carmilla pada Michelle masih terhitung cukup lembut.


"Kalau begitu, aku kembali belajar dulu kak!" ucap Michelle dengan senyuman yang lebar di wajahnya. Ia melambaikan tangannya sambil berlari meninggalkan ruang latihan ini.


"Semangat." balas Lucius.


"Pasti! Bagaimana pun, aku ingin masuk ke Akademi Damacia!"


"Eh?"

__ADS_1


Belum sempat bertanya lebih lanjut, Michelle telah pergi meninggalkan Lucius sendirian di ruangan ini.


"Benar juga, sebentar lagi kan sudah ujian akhir tahun?! Sialan! Aku belum belajar!!!" teriak Lucius panik.


............


Keesokan harinya, saat Lucius berangkat ke Akademi....


"Hehehe, lihat siapa ini?"


"Bocah yang mengalahkan William dengan beruntung?"


"Ku dengar kekuatanmu melemah. Bagaimana jika bertanding melawan kami?"


Baru saja memasuki aula utama di akademi ini, Lucius telah disambut oleh tiga orang pelajar dari tahun kelima. Seangkatan dengan William itu sendiri.


Di dada kiri mereka terpampang huruf B dengan warna perak yang indah. Tak salah lagi bahwa mereka adalah teman sekelas William.


"Ada yang bisa ku bantu?" tanya Lucius dengan wajah kesal sekaligus kelelahan. Ia masih belum terbiasa dengan penglihatan barunya ini, membuatnya cukup kesulitan untuk tidur.


Dan setelah memiliki kesulitan seperti itu, masih ada saja orang yang mengganggunya?


"Tentu saja bertarung! Duel! Lihat, aku juga akan mempertaruhkan harta keluarga ku!"


"Wuaaah! Apakah Lucius sang perebut harta keluarga bangsawan akan kembali beraksi?!"


"Buahahaha!!!"


Berita mengenai Lucius yang merebut Central Plaza dari tangan keluarga Goldencrest tentu saja sudah sangat terkenal di akademi ini. Meskipun yang mempertaruhkan nya adalah keluarga Brown, tetap saja hasil akhirnya diberikan pada keluarga Lucius.


Kesabaran Lucius benar-benar mulai habis. Dan saat Ia hampir saja menarik pedang Mithril di pinggang kirinya itu....


"Berhenti. Apa yang kalian lakukan?" tanya seorang wanita dengan rambut perak dan mata keunguan itu.


Ia mengenakan seragam akademi dengan jubah Dewan Pelajar di atasnya. Dari balik jubahnya itu, Lucius dapat melihat huruf A dengan warna merah yang indah.


Keduanya tak lain adalah Luna dan juga Ethan.


'Sialan, apakah seharusnya aku memang lebih baik membolos dari akademi ini?' pikir Lucius kesal setelah melihat masalah bertubi-tubi menghampiri dirinya.


"Ma-maaf!" teriak salah seorang yang mengganggu Lucius itu. Ketiganya pun segera berlari ketakutan menjauhi dua orang terpenting di Dewan Pelajar itu.


Secara perlahan, Luna berjalan mendekati arah Lucius. Mengaktifkan mata sihirnya untuk melihat kapasitas Mana milik Lucius secara langsung.


"Ku dengar dari Profesor Levaria kau kehilangan kekuatanmu. Tidak, lebih tepatnya menahannya? Sebuah latihan khusus?" tanya Luna penasaran.


"Maaf aku buru-buru." balas Lucius singkat yang segera berniat berjalan melewati keduanya.


Meninggalkan masalah merepotkan itu.


Tapi....


'Sreeett!!!'


Ethan memegangi pundak Lucius dengan kuat.


'Sialan! Orang ini?!' teriak Lucius terkejut setelah menyadari kekuatan fisik Ethan yang begitu luarbiasa.


"Ketua sedang berbicara. Tolong dengarkan terlebih dahulu." ucap Ethan singkat.


"Cih, baiklah. Apa yang kau mau?" tanya Lucius singkat.


Luna terlihat tersenyum tipis mendengar balasan Lucius barusan.


"Sungguh, aneh sekali. Teknik untuk menekan Mana itu memang ada, tapi menghapuskan kapasitas Mana hingga terlihat seperti orang biasa? Aku tak yakin hal seperti itu ada, Lucius." ujar Luna sambil tertawa ringan.


"Maaf saja tapi dunia itu cukup luas. Kau takkan bisa mengetahui segala yang ada di luar sana." balas Lucius berusaha untuk mengelabuhi ketua Dewan Pelajar itu.


"Begitu kah? Kalau begitu, aku harus membuktikannya."

__ADS_1


"Membuktikan? Apa?"


Lucius kebingungan atas pernyataan Luna barusan.


Setelah beberapa saat, Luna nampak menepuk pundak Ethan. Seakan-akan memberikannya suatu kode.


"Jika memang ada teknik seperti itu, dan kau benar-benar sedang menahan kekuatanmu, maka aku hanya perlu memaksa mu untuk menggunakannya kan? Lagipula, kekuatanmu itu tidak hilang kan?" ucap Luna dengan senyuman yang menakutkan.


'Ini buruk. Jika dia menantang ku berduel.... Kedok ku pasti akan terbongkar. Menolaknya? Alasan apa? Bagaimana jika dia menawarkan hadiah di luar nalar?'


Kekhawatiran Lucius itu benar adanya. Hanya saja....


"Ethan, berduel lah dengan Lucius. Buktikan apakah dia benar-benar sedang menyembunyikan kekuatannya, atau memang sudah kehilangan kekuatannya." ucap Luna dengan senyuman yang semakin melebar.


"Dimengerti." balas Ethan singkat.


'Sialan! Sudah ku duga! Kalau begitu....'


"Aah, dan jangan berpikir untuk menolak duel ini. Jika kau menang, aku akan memberikan seluruh wilayah Frostbourne yang ku miliki. Termasuk benteng di Utara."


'Ini buruk.... Tawarannya terlalu besar. Menolak di tengah-tengah keramaian seperti ini....' pikir Lucius sambil memperhatikan kondisi di sekitarnya. Dimana banyak sekali pelajar berkumpul mengerubungi tiga orang itu.


"Sedangkan jika kau kalah, bergabung lah dengan Dewan Akademi."


'Deg! Deg!!'


Lucius benar-benar telah tersudutkan. Baik kalah maupun menang, Lucius sudah dipastikan memperoleh keuntungan yang besar sedangkan pihak Luna hanya memperoleh kerugian dari duel ini.


Menolaknya? Mungkin pilihan yang bijak. Tapi seluruh akademi akan mengetahui fakta bahwa Lucius adalah seorang pengecut lemah yang bahkan tak berani menerima Duel dimana dirinya pasti diuntungkan.


Sekaligus mengakui bahwa dirinya telah kehilangan kekuatannya tepat di hadapan Luna secara langsung.


Lebih dari itu....


Michelle akan segera masuk ke akademi ini. Apa jadinya jika angkatannya tahu bahwa kakaknya hanyalah seorang pengecut yang menghindari duel yang seharusnya sangat menguntungkan itu?


Yang ada di dalam pikiran Lucius hanya satu. Yaitu bayangan dimana adiknya akan menjalani kehidupan akademi yang sama seperti dirinya dulu.


Dihina, dijauhi dan dimusuhi oleh semua orang.


Dengan amarah yang membara, Lucius pun membalas.


"Tak perlu."


"Eh?" tanya Luna singkat.


"Aku tak butuh wilayah bangsawan sepertimu. Kau ingin melihat kekuatan ku? Sayang sekali, aku bahkan tak perlu menggunakan sihir untuk melawan otak otot itu." balas Lucius dengan nada yang provokatif.


"Apa kau bilang?!" teriak Ethan marah.


Luna segera menghalangi Ethan untuk menyerang Lucius saat itu juga sembari bertanya.


"Hoo, jadi kau menolak tawaran emas itu? Baiklah. Minggu depan. Aku menantikan bukti dari rasa percaya dirimu itu, Lucius."


Dengan balasan itu, Luna segera berjalan pergi bersama dengan Ethan meninggalkan Lucius sendirian.


Kerumunan pelajar juga mulai pergi satu demi satu. Semuanya memandangi Lucius dengan tatapan aneh, mungkin karena perkataan Lucius yang terkesan terlalu besar.


"Oi, apa dia gila? Ethan itu salah satu penyihir elemen tanah terkuat kan? Berkata akan melawannya tanpa sihir...."


"Dia sudah kehilangan akalnya. Biarkan saja."


"Hahaha, hanya omong kosong dari keluarga yang tak jelas."


Mendengar cemoohan orang-orang di sekitarnya, Lucius kembali teringat atas apa yang benar-benar diinginkan olehnya dalam hidup ini.


Yaitu sebuah kekuatan mutlak, agar dirinya sendiri bisa hidup damai dan tenang karena mampu melindungi semua yang dicintainya.


"Satu Minggu.... Kau akan menyesal karena memberiku waktu satu Minggu, Luna."

__ADS_1


__ADS_2