
Pada pagi harinya, Lucius mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke akademi. Dengan kantung mata yang menghitam dan cukup tebal itu....
"Heal.... Cure.... Sialan, tak berguna ya?" keluh Lucius yang terus menerus berusaha menyembuhkan rasa kantuknya itu.
Tapi tak peduli sihir penyembuhan apapun yang digunakannya, rasa kantuknya tak kunjung menghilang. Yang ada justru bertambah karena Lucius terus menerus menguras Mana miliknya yang saat ini sangat lah sedikit itu.
"Ugh.... Sialan."
"Kakanda? Ada apa? Kenapa pagi-pagi sudah.... Eh? Kakanda bertambah tinggi?" tanya Michelle terkejut setelah melihat Lucius berjalan menuruni tangga rumah besar ini.
"Hah? Apa maksud mu?" tanya Lucius dengan mata yang masih tertutup rapat itu. Meski begitu, Lucius bisa melihat dimana Michelle berada berkat penglihatan barunya itu.
Michelle segera berlari mendekati kakaknya itu. Lalu meletakkan telapak tangannya di atas kepalanya dan menyeretnya ke tubuh kakaknya itu.
"Sudah ku duga! Ku rasa kemarin aku masih setinggi dada Kakanda, tapi sekarang?" keluh Michelle yang menyadari bahwa kakaknya telah bertambah tinggi beberapa cm itu.
Semua itu berkat Awakening yang dilakukan oleh Lucius semalam. Membuat tubuhnya jauh lebih sempurna dari yang sebelumnya. Tentu saja, menambah sedikit tinggi badannya adalah hal yang paling tak mengejutkan dari semua proses itu.
"Begitu kah? Aku tak menyadarinya. Juga, berhenti lah memanggil ku seperti itu." balas Lucius sambil membelai rambut kecoklatan adiknya itu.
"Tapi...."
"Tenang saja. Kita bukan lah bangsawan yang kaku, bukankah begitu? Dan juga, bukankah kemarin Carmilla bilang akan segera menanti mu di lantai 6 untuk kembali berlatih?" balas Lucius dengan senyuman yang ramah.
Sambil memegangi buku yang cukup tebal, Michelle segera membalas pertanyaan kakaknya itu.
"Guru meminta ku untuk mempelajari dasar sihir sekali lagi. Jadi...." balas Michelle dengan wajah yang sedih.
Tentu saja. Michelle yang telah cukup berjasa bahkan di wilayah Riverdalle dengan kemampuan sihirnya, diminta untuk mempelajari dasar-dasar dari sihir itu sekali lagi dari awal?
Meski tak menampakkan di wajahnya, Lucius tahu bahwa Michelle sedikit kurang puas dengan latihan ini.
Saat melirik ke arah buku itu, Lucius kembali teringat atas tahun pertamanya di akademi. Dimana dirinya sama sekali tak mengetahui dan memahami sihir itu sendiri.
Karena itu lah Ia seringkali begadang hingga pagi untuk mendalami pengetahuannya mengenai sihir.
"Tanpa pondasi yang kuat, rumah semegah apapun akan runtuh suatu hari nanti. Jadi, perkuat lah dasar mu, Michelle." ucap Lucius sekali lagi sambil membelai rambut kecoklatan adiknya itu hingga acak-acakan.
"Kakak?! Hentikan!"
Setelah itu, Lucius menitipkan pamitnya untuk orangtuanya pada Michelle. Berdasarkan penjelasan Michelle, keduanya telah diundang oleh petinggi dari keluarga Brown untuk membahas soal bisnis.
Sekali lagi....
Lucius kembali ke akademi setelah menghilang selama beberapa bulan.
Meskipun kali ini, Ia kembali sebagai orang biasa yang lemah. Tapi bahkan dengan kondisi yang melemah sekalipun, Lucius terlihat memberikan sorot wajah yang dipenuhi dengan rasa percaya diri.
.............
"Permisi, aku Lucius. Aku berniat untuk membuat laporan mengenai diriku yang menghilang selama...."
"Eeeh?! Kau Lucius?!" tanya pegawai di bidang administrasi akademi itu dengan terkejut.
"Seseorang cepat panggil wali kelas F!" lanjutnya.
"Tolong tunggu sebentar ya?" ucap pegawai yang lain di sebelahnya.
Lucius yang melihat kehebohan itu tak begitu perduli. Jika ada yang akan berani berbuat macam-macam padanya, setidaknya Ia masih memiliki sesuatu yang bisa diandalkannya di pinggang kirinya.
Yaitu sebuah pedang Mithril yang mulai menumpul itu.
Tak berselang lama setelah teriakan pegawai administrasi itu, bukan hanya Pak tua Anderson yang datang. Tapi juga beberapa profesor lain dari akademi ini.
Termasuk....
"Profesor Levaria?! Kenapa Anda kemari?! Ini adalah anak didikku!" teriak Pak Anderson yang terus berusaha untuk menahan langkah kaki profesor wanita itu, yang tak lain merupakan kepala Akademi Damacia ini.
__ADS_1
"Diam saja kau tua bangka." balas Levaria dengan nada yang dingin.
"Hahaha! Lagipula apa yang bisa tua bangka sepertimu lakukan!" teriak profesor lain di sampingnya.
Berbagai cemoohan terdengar diarahkan pada Pak Anderson.
Lucius yang melihat semua itu benar-benar tak dapat menahan emosinya. Tapi Lucius tetap mampu menahan dirinya untuk tidak melakukan hal yang bodoh.
Bagaimana pun, penglihatannya yang saat ini jauh lebih sempurna daripada mata sihir Carmilla, mampu melihat kebenarannya.
'Ku akui, sekalipun busuk kau benar-benar kuat, Levaria.' pikir Lucius sambil terus menatap ke arah kepala akademi itu.
Sosok wanita bernama Levaria itu memiliki penampilan yang terlihat masih berada di umur 30an awal. Meski begitu Ia telah meraih gelar profesor dan menjadi kepala di Akademi ini murni karena bakatnya.
Hanya saja....
Sikapnya tak sebaik bakatnya. Tak peduli apapun itu dan bagaimana pun caranya, Ia akan meraihnya selama bisa membuatnya mengamankan posisinya di akademi ini. Atau bahkan hingga memperkuat posisinya.
"Lucius." ucap Profesor Levaria itu dengan suara yang tegas.
"Ya?" balas Lucius singkat.
"Ikut denganku."
Profesor Levaria terlihat menuntun Lucius ke arah salah satu kelas yang kosong. Setibanya di dalam kelas itu....
"Lucius Nightshade, keluarga biasa yang memperoleh gelar Baron karena pencapaiannya. Latar belakang keluarga mu cukup bagus, tapi tak ada satu pun dari leluhur mu yang ahli dalam sihir. Bisa kau jelaskan bagaimana kau mengalahkan William Goldencrest?" tanya Profesor Levaria itu sambil membaca selembar berkas di tangannya.
Ia terlihat telah menantikan situasi ini. Menantikan saat dimana dia bisa menanyakan segalanya pada Lucius mengenai asal usul kekuatannya.
Sekitar 6 bulan yang lalu, Lucius bukan lah siapa-siapa. Bahkan hingga diturunkan ke kelas F karena tak ada sedikit pun pencapaian dari dirinya.
Baik dari segi akademik karena tidak ikut ujian, ataupun kemampuan praktik yang sangat rendah.
Dengan latar belakang seperti itu, bagaimana bisa bocah yang sama mengalahkan pelajar kelas B tahun kelima?
Lucius nampak memberikan tatapan yang tajam tepat ke arah mata profesor itu.
'*Tak ada perubahan Mana di matanya.... Dengan kata lain, Ia tak menggunakan mata sihir? Atau tak memilikiny*a? Tapi masalahnya....' pikir Lucius dalam hatinya sambil mengulur waktu dengan omong kosongnya. Sementara pandangannya mengarah ke arah dinding di kanannya. Atau lebih tepatnya, agak ke atas.
"Kau yang memaksa ku ya?"
Dengan kalimat Levaria itu, Lucius dapat melihat dengan jelas perubahan Mana di mata kiri profesor itu. Tak salah lagi, Ia mengaktifkan mata sihirnya untuk menilai kekuatan Lucius secara langsung.
"Sudah ku bilang, kala itu aku hanya beruntung karena William kelelahan setelah pengabdiannya. Ditambah lagi dia cukup emosian soal adiknya." balas Lucius yang berusaha untuk menutupi kenyataan tubuhnya.
Tapi bagi Profesor Levaria, Ia tak memakan omong kosong Lucius dengan semudah itu.
Manusia mana yang beberapa bulan lalu memiliki Mana yang sangat besar dan kuat, tapi kini kembali dengan Mana yang setara seperti pria dewasa biasa? Yang seakan-akan tak pernah menggunakan sihir selama hidupnya?
Dalam pikiran Levaria hanya ada satu kemungkinan. Yaitu Lucius menggunakan sihir penyamaran tingkat tinggi, yang bahkan bisa menyembunyikan Mana yang terdapat dalam tubuhnya.
Membuatnya seakan-akan terlihat lemah padahal kenyataannya jauh lebih kuat. Atau mungkin.... Menyembunyikan fakta bahwa dirinya bukanlah manusia seutuhnya.
Karena itu lah....
'Sreeettt!!!'
"Kau.... Siapa kau sebenarnya? Mana milik mu jauh lebih rendah dibandingkan saat pertandingan saat itu! Mata-mata dari kerajaan lain?! Lalu campuran apa itu yang ada di Mana mu?! Apakah kau benar-benar manusia?! Jika tidak, aku akan mengeksekusi mu di bawah perintah Gereja!" teriak Levaria dengan tatapan yang dipenuhi hawa membunuh itu.
Tak sampai di sana, tangan kiri Levaria telah siap untuk menembakkan bola api pada Lucius. Berniat untuk membakar bocah itu hidup-hidup.
"Lucius Nightshade. Dengan segala hormat, Profesor. Aku tak menyarankan hal itu." balas Lucius dengan tatapan mata mengantuk nya itu.
"Apa kau bi...."
Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, Levaria merasakan sesuatu yang dingin di pinggang kanannya.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu, juga rasa sakit yang tipis.
"Aku bisa membelah tubuh mu menjadi dua dengan ini sebelum kau mengaktifkan sihir." ancam Lucius.
"Hah! Kau pikir bisa...."
Secara tiba-tiba, Lucius mengangkat pedangnya dan kini mengarahkannya tepat di lengan kanan Levaria dari bawah.
"Barusan, kau hendak menggunakan Trias Shield untuk melindungi tubuh bagian bawah mu kan?" tanya Lucius. Tatapan matanya sama sekali tak menyerupai bocah berumur 17 tahun.
Lebih seperti veteran perang yang baru saja kembali dari medan peperangan.
"Lucius. Kau tahu aku bisa mengeluarkan mu dari akademi ini kan? Apakah kau memikirkan efeknya pada keluargamu yang baru saja bangkit itu?" tanya Levaria dengan suara yang sedikit gemetar dan keringat yang mulai membasahi wajahnya.
"Tak masalah. Status bisa dibangun ulang kapan saja. Tapi bagaimana dengan nyawa mu?"
Lucius mulai memiringkan pedangnya. Bilah yang sebelumnya mengarah pada lengan kanan Levaria, kini mengarah tepat ke dadanya. Dalam sekali tarikan, Lucius bisa menebas jantung Levaria dengan mudah.
Dan jika Levaria berniat untuk menggunakan sihir perisai, Lucius bisa merubah arah pedangnya kapan saja untuk menghindari perisai itu sendiri.
Bahkan menyerang sebelum semuanya terbentuk.
"Profesor Levaria. Aku hanya ingin hidup damai di akademi ini. Aku bukan lah mata-mata atau apapun yang kau pikirkan. Hanya seorang bocah, yang terlalu cinta pada sihir." ucap Lucius sambil menyarungkan pedangnya kembali.
Levaria juga mulai melangkah mundur menjauhi Lucius dalam ketakutan.
"Kau bersungguh-sungguh?" tanya Levaria dengan suara yang gemetar.
"Tentu saja, aku sama sekali tak memiliki niatan buruk pada kerajaan ini. Atau setidaknya, pada lingkungan di sekitar ku. Jika kau ragu, kau bisa terus mengawasi ku hingga ke rumah ku. Aku yakin pahlawan di menara akademi ini takkan keberatan." balas Lucius.
'Deg! Deg!!'
'Bagaimana mungkin?! Menara itu bahkan jaraknya ratusan meter dari kelas ini! Dia juga menyembunyikan Mana nya dengan sangat baik! Bagaimana mungkin dia menyadari kalau Nona Alora ada di sana?!' teriak Levaria dalam hatinya.
Sebenarnya Levaria telah mengetahui apa yang terjadi pada Lucius selama menghilang. Semua itu berdasarkan pengakuan dari sang pahlawan penyihir, Alora itu sendiri.
Apa yang dilakukannya ini hanyalah pengujian singkat untuk melihat reaksi Lucius. Jika Lucius membunuh tanpa ragu, satu atau dua korban jiwa adalah harga yang murah untuk menghentikan bencana di masa depan.
Alora, bersama dengan Gereja Cahaya dan Gereja Mana mencurigai Lucius sebagai orang yang akan membawa bencana baru bagi benua atau bahkan dunia ini.
Itu karena ramalan sang Gadis Suci, Mary, tak pernah salah sebelumnya.
Dan ciri-ciri yang disebutkan oleh Mary mengenai pembawa bencana itu persis seperti apa yang ada pada Lucius.
Berambut hitam gelap layaknya malam hari, setengah darinya adalah manusia sedangkan sisanya bukan. Muda, tapi dengan bakat alaminya dalam bidang sihir, akan membawa kehancuran di kerajaan, atau bahkan dunia ini sebagai seorang iblis abadi.
Itulah ramalan sang Gadis Suci.
'Seperti yang dikatakan Nona Alora. Meskipun tipis.... Aku dapat merasakannya. Keberadaan sesuatu yang bukan manusia di dalam tubuhnya. Mana miliknya itu....'
Dalam pandangan Levaria, Ia melihat Mana Lucius tak seperti Mana milik manusia pada umumnya dengan warna kebiruan. Mana milik Lucius memang memiliki warna dasar kebiruan, tapi memiliki campuran warna lain....
Warna abu-abu gelap.
Sementara itu di kejauhan, tepatnya di atas menara sihir di akademi ini, sosok Alora terlihat memandangi ruangan tempat Lucius berada.
Memperhatikan Mana miliknya dari kejauhan.
"Tak salah lagi. Itu bukan lah Mana milik manusia. Dan saat itu kalau tak salah kau.... Sudah mengetahui keberadaan iblis itu sendiri? Jangan katakan...."
Alora teringat atas pertemuannya dengan Lucius di markas rahasia Zephyrith itu.
Dimana Lucius secara tak sengaja mengatakan kata 'iblis' dan bukannya monster untuk menyebut sosok Zephyrith itu sendiri.
Sebuah informasi yang bahkan sangat dirahasiakan oleh Gereja itu sendiri. Tak mungkin manusia biasa, apalagi yang berada di luar Gereja mengetahuinya.
Dengan kata lain....
"Lucius. Kemungkinan besar, kau yang telah mengetahui semua itu, berasosiasi dengan iblis dalam suatu cara bukan?" ucap Alora pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia mulai membulatkan tekadnya untuk membunuh bocah itu, jika memang situasi membuktikan bahwa Lucius benar-benar sosok yang diramalkan oleh Mary sebagai pembawa bencana di masa depan.