
Dengan tatapan yang penuh percaya diri, Lucius mulai berlari sekuat tenaga sembari mengayunkan pedangnya.
'Zraaaaassshh!!!'
Secepat kilat, kepala Goblin itu terpenggal oleh tebasan Lucius. Membuatnya tersenyum semakin lebar.
"Hahaha! Apa yang ku takutkan dari monster selemah ini?! Aku.... Benar-benar telah...."
'Syuuuuuttt!'
Beberapa anak panah kembali melesat tepat ke arah tubuh Lucius. Tapi kali ini, Lucius menghadapinya dengan keberanian.
Lucius menghentakkan kakinya ke tanah sekaligus memvisualisasikan sebuah lingkaran sihir sederhana di sekitar tempat ia berdiri.
Lingkaran sihir itu memiliki warna kehijauan dengan alur melengkung yang sederhana seperti pusaran angin.
'Wuuuussshhh!!!c
Dalam sekejap, tekanan angin yang kuat muncul di sekitar Lucius untuk sesaat. Mendorong mundur beberapa anak panah itu.
"Kalau tak salah.... Begini?" ucap Lucius pada dirinya sendiri sambil menunjuk dengan menggunakan dua jari tangan kirinya.
Di ujung jari telunjuk dan jari tengahnya itu, muncul lingkaran sihir kecil berwarna merah cerah. Dan dalam sekejap, menembakkan bola api kecil dengan kecepatan yang begitu tinggi.
'Blaaarrr! Blaaarrr!! Blaaarrrr!!!'
Lucius menembakkan total 4 buah bola api kecil, yang dengan mudah menembus kepala beberapa Goblin itu..
"Graaarrgh?!" teriak 7 ekor Goblin yang masih tersisa di sekeliling Lucius. Mereka nampak kebingungan melihat situasi ini.
"Aah, sial. Meleset satu ya? Ku rasa aku harus kembali berlatih menembakkan sihir." keluh Lucius sedikit kesal.
Carmilla yang melihat sosok Lucius untuk pertama kalinya bisa bertarung dengan penuh percaya diri, merasa bangga atas kemampuan Lucius.
Sekalipun tak berbakat sama sekali, Lucius selalu menunjukkan kesungguhan dalam setiap latihan yang diberikannya.
Tak peduli seberapa menyakitkan atau membosankan nya pelatihan itu.
Hanya saja hingga saat ini, Lucius terlalu menilai rendah dirinya. Terlebih lagi setelah insiden melawan Damon dimana Lucius terlalu percaya diri itu.
Tapi kini, setelah Lucius berhasil melawan traumanya sendiri saat tertangkap oleh Goblin....
Akhirnya, Lucius telah terlepas dari seluruh belenggu yang mengekang kemampuannya selama ini.
Belenggu dimana Lucius selalu menilai rendah dirinya sendiri.
"Maju semuanya!" teriak Lucius dengan keras di bawah sinar rembulan yang remang-remang ini.
Suara dedaunan dapat terdengar jelas setiap kali para Goblin itu berlari ke arah Lucius.
Dan saat mereka mendekat....
'Swuuusshh!!'
__ADS_1
Lucius memutar badannya sembari mengayunkan lengan kirinya. Menyemburkan cukup banyak air melalui lingkaran sihir biru di tangan kirinya.
Tak lama setelah itu, Lucius kembali menghentakkan kaki kanannya dengan keras ke tanah.
'Kreettaakkk! Blaaaarrr!!'
Dalam sekejap, pilar-pilar es yang tajam muncul dari tanah yang telah dibasahi oleh air sebelumnya. Menembus tubuh beberapa ekor Goblin yang berlari ke arahnya.
'Swuushh!'
Salah seekor Goblin nampak mampu mendekat dan memberikan serangan telak dengan kapak berkaratnya itu. Mengarah tepat pada leher Lucius.
Tapi dengan mudahnya, Lucius mampu menghindari serangan lambat Goblin itu sebelum memberikan serangan balasan.
Lucius memutar badannya dan memberikan tendangan keras tepat di perut Goblin itu.
'Braaaaakkk!!!'
Membuat monster kecil berkulit kehijauan itu terlempar sejauh puluhan meter.
Tak berhenti disana, Lucius kembali memutar tubuhnya sekali lagi dengan cepat. Memberikan tebasan pedang pada Goblin yang kini tengah melompat ke arahnya.
'Zraaaaattt!!!'
Memenggal leher Goblin itu dengan mudahnya.
Kini yang tersisa hanyalah dua ekor Goblin yang membawa busur dan panah.
Mereka terlihat mulai ketakutan. Tubuhnya gemetar, sedangkan kakinya seakan berteriak untuk segera lari dari sini.
"Kau benar, Carmilla. Aku.... Aku sudah sedikit lebih kuat." ujar Lucius pada dirinya sendiri.
Namun kali ini, hanya rasa percaya diri saja. Tak ada sedikit pun kesombongan di balik perkataan Lucius.
Buktinya?
'Swooooossshhh!!!'
Kini di tangan kiri Lucius terdapat sebuah bola api kuning kemerahan yang cukup besar. Berkobar dengan sangat kuat, siap untuk membakar apapun yang ditargetkannya.
'Itu benar, Lucius. Tak peduli sekalipun itu hanyalah Goblin atau atau musuh lain selemah apapun.... Selalu hadapi mereka dengan seluruh kemampuanmu. Dan dengan itu, kau bisa selangkah lebih dekat dengan kekuatan yang sejati.' balas Carmilla.
Jika saja Carmilla masih memiliki tubuhnya sendiri, Ia pasti telah memberikan senyuman lebar dan membanggakan muridnya ini.
Mendengar balasan Carmilla, Lucius pun tersenyum tipis sebelum mengakhiri perburuan pertamanya ini dengan bola api yang cukup besar.
Membakar 2 Goblin terakhir itu hingga tak bersisa sedikit pun tulangnya.
...........
'Jadi, bagaimana rasanya?' tanya Carmilla setelah Lucius membersihkan sisa pertarungan ini. Termasuk memadamkan api yang barusan dibuatnya dengan sihir air.
Lucius memperhatikan tangan kirinya sendiri sebelum menjawab dengan senyuman.
__ADS_1
"Aku.... Benar-benar merasa telah terlahir kembali."
Untuk pertama kalinya, Carmilla benar-benar merasa bangga atas sosok Lucius. Bukan karena kekuatannya. Karena bagi Carmilla yang telah merasakan sendiri kekuatan yang sejati, kekuatan Lucius saat ini hanya setara dengan seekor semut.
Melainkan karena sikap Lucius yang selalu mau menerima kegagalan, kekalahan, dan penderitaan apapun untuk terus melangkah lebih jauh.
Sebuah sikap yang tak mungkin bisa ditunjukkan oleh bangsawan yang sesungguhnya, dimana mereka selalu memperoleh sendok emas sejak lahir.
Tapi karena Lucius bukanlah siapa-siapa di dunia ini, membuatnya selalu bisa dan selalu mau untuk meletakkan egonya.
Tanpa dimabukkan kenyataan bahwa iblis misterius dengan kekuatan dan pengetahuan kuno melatihnya.
'Aku benar, ku rasa kau adalah orang yang paling sempurna untuk kebangkitan ku. Jadi....'
"Hmm? Kau mengatakan sesuatu, Carmilla?" tanya Lucius.
'Eh? Tidak? Aku tak mengatakan apapun?' balas Carmilla terkejut.
"Begitu kah? Aku merasa kau mengatakan sesuatu, tapi mungkin itu hanya pikiranku saja. Hahaha...." balas Lucius, kini sambil berjalan pergi. Bersiap untuk kembali ke kota Arcanum.
Kembali ke penginapannya untuk beristirahat dan mempersiapkan diri untuk hari yang baru.
'Kau tak lelah?' tanya Carmilla singkat.
"Tentu saja aku lelah. Tapi itu bukan alasan untuk memperlambat tempo pelatihan ini bukan? Aku masih harus mengejar ketertinggalan ku dengan bangsawan lain yang telah berlatih sejak kecil." balas Lucius dengan senyuman yang lebar.
Carmilla semakin tenang setelah mendengar jawaban dari Lucius. Merasa bahwa rencananya akan berjalan dengan lancar.
Tapi....
"Terlebih lagi, katanya kakak dari Edward akan kembali beberapa bulan lagi bukan? Setidaknya sampai saat itu, aku akan terus mati-matian berlatih. Karena jika tidak...." lanjut Lucius.
Jika apa yang dikatakan teman-teman kelas F nya itu benar, maka kakak dari Edward, yaitu William Goldencrest akan benar-benar membalaskan dendam adiknya.
Tidak, lebih dari itu. Ia akan membalas Lucius karena telah mempermalukan keluarga Goldencrest.
Dan Lucius tahu, bahwa kematian mungkin akan menghampirinya jika lengah untuk sesaat saja setelah William kembali ke akademi.
'Cukup gunakan sihir iblis dan kau bisa menang dengan mudah.... Aku ingin sekali berkata seperti itu tapi, Lucius, akan lebih baik kau tak pernah butuh untuk menggunakannya.' ujar Carmilla.
"Tenang saja, Carmilla. Aku telah mulai paham alasan kenapa kau mengajarkan sihir iblis itu padaku." balas Lucius sambil memperbesar cahaya dari bola api di tangan kirinya. Menerangi gelapnya hutan ini.
'Alasan aku mengajarkan mu sihir iblis?'
"Suatu saat, akan ada situasi dimana seluruh latihan keras ku sekalipun tak cukup untuk mengalahkan lawan yang ku hadapi. Dan sebagai jaminan agar aku tak pernah mati, termasuk jiwa mu, kau mengajarkan sihir iblis ini."
Carmilla tersenyum setelah mendengar balas Lucius.
Ia tak bisa percaya bahwa bocah yang mengatakan hal itu, adalah bocah yang sama yang menggantungkan kepercayaan dirinya pada sihir kuno untuk melawan Damon.
'Akhirnya kau paham? Itu benar. Aku hanya tak ingin mati.' balas Carmilla dengan tawa ringan.
"Hahaha, aku tahu itu. Ngomong-ngomong, aku lapar. Kau ingin makan sesuatu?"
__ADS_1
Keduanya kembali ke Kota Arcanum hampir tengah malam. Memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum kembali untuk tidur.