
'Jleeebb!!!'
Tanpa sedikit pun keraguan, Carmilla segera menancapkan pecahan bilah pedang itu di dada kirinya.
Berusaha sedekat mungkin dengan jantungnya, tanpa melukainya.
'Deg! Deg!'
Dan saat itu juga, Ia mengaktifkan sihir kuno... atau lebih tepatnya sihir iblis itu.
"Aetheral Resonance."
Seketika, pecahan bilah pedang yang menancap di dada kiri Lucius itu menyala. Memberikan cahaya biru yang terang.
Hal yang sama juga terjadi pada pecahan bilah pedang lain yang menancap di tangan kiri 8 orang dari regu penyihir. Termasuk Lyra dan juga Selena.
"Apa ini...." tanya Selena penasaran melihat pecahan bilah pedang yang bercahaya itu.
Berdasarkan penjelasan Carmilla sebelumnya, mereka hanya perlu menggambar formasi sihir itu pada benda padat yang kuat. Seperti bilah pedang.
Lalu menancapkan nya pada tubuh mereka, semakin dekat dengan jantung semakin baik. Tapi karena berbahaya, menancapkan nya di punggung tangan juga bisa bekerja.
Semua kecuali satu memiliki formasi sihir yang sama. Dimana satu-satunya yang berbeda adalah formasi sihir pada bilah pedang Carmilla.
"Selena, kau mengganggu. Serahkan pedangmu dan pergi dari sini." ucap Carmilla dengan nada yang dingin.
Pada awalnya, Selena hendak menolak permintaan itu. Mengatakan bahwa dirinya juga mampu untuk bertarung.
Tapi melihat mayat dan potongan tubuh yang berserakan dimana-mana... serta kenyataan bahwa dari semua itu hanya Lucius yang masih bertahan hidup....
Akhirnya Selena mengalah.
"Dimengerti." ucapnya sambil melemparkan pedang besarnya itu. Sebelum akhirnya lari mundur meninggalkan Lucius untuk menghadapi Hobgoblin itu sendirian.
'Sruuugg! Sruuugg!!'
Dari kejauhan, sosok Hobgoblin itu nampak berjalan dengan santai. Senyuman nampak kembali ke wajahnya.
"Kau seharusnya memiliki kesempatan untuk melawanku jika bersamanya. Karena kau mengusirnya, itu artinya kau hanya ingin memberikan waktu bagi mereka untuk kabur?" tanya Goblin itu dengan senyuman yang pada tiap langkahnya menjadi semakin lebar.
"Begitu lah." balas Carmilla singkat.
Ia segera menyarungkan pedang merahnya kembali, lalu mengambil pedang besar Selena yang menancap pada tanah di sebelah kanannya.
'Kecocokannya dengan sihir angin cukup tinggi. Dengan ini....' pikir Carmilla dalam hatinya.
"Kalau begitu mati lah!" teriak Hobgoblin itu. Ia segera melompat maju, bersiap untuk menghadapi Lucius secara langsung.
Kecepatan gerakannya kembali meningkat. Siapapun yang melihat pertumbuhan kekuatan monster ini tentunya akan kehilangan semangat mereka.
Tapi bagi Carmilla yang telah mempersiapkan semuanya dengan matang?
Ia menyempurnakan kuda-kudanya.
Memegang pedang besar itu dengan kedua tangannya pada sisi kiri tubuhnya. Dengan genggaman yang kuat, Carmilla pun mengayunkan pedang besar itu sekuat tenaga.
...'BLAAAAAAAAAAAAARRRRR!!!'...
Hanya dengan satu tebasan yang kuat dan juga cepat. Carmilla dengan mudahnya meremukkan seluruh Trias Shield yang melindungi tubuh Hobgoblin itu dalam sekejap.
'Braaakkk! Sruuugg!!!'
Tubuh monster itu terlempar sejauh puluhan meter. Merubuhkan semua pohon yang dilaluinya.
Dan untuk pertama kalinya....
"Kugghh!! Blaaarrggg!!"
Monster itu memuntahkan darah dari mulutnya. Kedua tangannya juga terlihat remuk setelah menahan tebasan dari Carmilla itu.
"Ba-bagaimana bisa? A-aku seharusnya masih jauh lebih kuat?" tanya Hobgoblin itu panik. Ketakutan mulai merembet secara perlahan pada dirinya.
__ADS_1
Di kejauhan, Carmilla terlihat berjalan dengan tenang. Menyeret pedang besar itu dengan kedua tangannya.
"Bagaimana rasanya? Sesekali menjadi sosok yang diburu?" tanya Carmilla dengan nada yang begitu dingin.
Sementara itu di sisi lain....
Selena telah kembali di tempat regu penyihir itu berada.
"Eh? Guild Master? Kenapa kau kembali? Tak membantu Lucius?" tanya Lyra penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Selena hanya mampu untuk terus menatap tanah tempatnya berjalan.
"Dia meminta ku untuk pergi. Yah, meskipun juga meminta pedangku." balas Selena sambil tertawa ringan. Menyadari bahwa mungkin saja, kemampuannya saat ini jauh dibawah Lucius.
"Hah?! Kau meninggalkan Lucius sendirian?! Aku akan memba...."
'Tappp!!!'
Dengan cepat, Selena memegang tangan kanan Lyra dan menghentikan langkah kakinya.
Ia memandangi beberapa penyihir lain yang telah terduduk lemas.
"Lyra, kau tahu sihir apa yang diberikan oleh Lucius sebelumnya?" tanya Selena sambil terus memegangi tangan Lyra.
"Eh? Uh.... Formasi sihirnya sangat aneh, tidak seperti apa yang pernah ku lihat sebelumnya. Tapi ada beberapa bagian yang ku pahami. Sihir ini, menyerupai sihir Mana Link. Tapi...."
Tiba-tiba, tubuh Lyra menjadi sangat lemas dan terjatuh ke tanah.
'Bruuukk!!'
Setelah melihat sekali lagi sosok para penyihir yang kini telah terbaring lemas, Selena akhirnya paham kebenaran di balik sihir ini.
Mana Link.
Sebuah sihir yang memungkinkan pengguna untuk menghubungkan Mana mereka dengan orang lain.
Dengan kalimat sederhana, membuat penerima dari Mana Link itu dapat meminjam Mana dari orang lain yang juga mengaktifkan sihir itu.
Efek sampingnya tentu saja. Pendonor Mana akan kehilangan Mana mereka dan menjadi cepat lelah, bahkan lemas dan tak sadarkan diri.
Selena pernah melihat pemandangan ini saat dirinya diminta Kerajaan untuk membantu memimpin pasukan.
Dimana ratusan penyihir menggunakan Mana Link untuk memperkuat seorang ksatria sihir saja.
Dan jika dibiarkan begitu saja, maka para penyihir yang telah kehabisan Mana mereka....
Bisa mati.
"Gawat! Aku harus segera melepas penghubung Mana Link itu dari mereka sebelum...."
Belum sempat berlari ke arah para penyihir yang telah tergeletak lemas itu, sesuatu yang aneh terjadi.
"Eh?"
'Swuusshh!!!"
Secara misterius, formasi sihir yang berada di bilah pedang para penyihir itu segera terhapus oleh api kebiruan.
Melepaskan mereka secara otomatis dari Mana Link yang tercipta, sehingga nyawa mereka tak terancam karena kehabisan Mana.
"Apa-apaan ini.... Lucius, siapa sebenarnya kau?" tanya Selena sambil menatap ke arah dimana Lucius bertarung.
............
'Klaaaaangg! Blaaaaaarrr!!!'
Setiap ayunan pedang besar Selena itu, formasi Trias Shield yang dibuat oleh Hobgoblin itu runtuh seketika.
Semua karena afinitas pedang itu yang cukup baik dengan elemen angin.
Membuat Carmilla bisa mempertajam dan mempercepat tiap tebasannya, jauh melebihi pedangnya sendiri.
__ADS_1
Tiap tebasannya membuat wilayah di sekitar mereka hancur lebur tak karuan.
Apa yang dulunya adalah sebuah hutan yang lebat, kini hanya nampak seperti tanah lapang biasa dengan banyak kayu yang bertebaran di segala arah.
'Sudah saatnya kah?' pikir Carmilla dalam hatinya.
Ia dapat merasakan bahwa Mana yang dimiliki oleh Hobgoblin itu terkuras dengan sangat cepat.
Dibalik kekuatan dan kekokohan formasi perisai Trias Shield, Mana yang dibutuhkan untuk mengaktifkannya sangatlah besar.
Dan Carmilla yang terus menerus menyerang Hobgoblin itu memaksanya untuk terus membuat Mana, demi menahan tebasannya.
Tanpa mampu untuk memberikan serangan balasan, Hobgoblin itu hanya bisa terus bertahan.
'Kretttakkk!!!'
Untung bagi Carmilla, sesaat setelah pedang besar Selena itu mulai retak, Ia telah berhasil menguras cukup banyak Mana lawannya.
'Baiklah. Mana beberapa penyihir di belakang juga sudah habis. Menyisakan hanya 3 orang saja, termasuk Lyra dan Selena. Kalau begitu....'
'KLAAAAAANGGG!!!'
Dengan tebasan terakhirnya, Lucius mematahkan pedang Selena dan meremukkan formasi Trias Shield Hobgoblin itu. Tapi tidak cukup menghancurkannya.
"Buahahaha! Akhirnya! Pedang terkutuk itu hancur! Akhirnya! Sekarang, kau tak bisa lagi melawanku kan?!" teriak Hobgoblin itu dengan penuh kebahagiaan.
Hanya saja....
"Kau seharusnya sedih karena pedang itu hancur. Itu karena pedang ini, jauh lebih kuat." balas Carmilla sambil menarik pedang kemerahan Lucius dari sarung pedangnya.
"Omong kosong! Pedang kecil itu tak pernah menghancurkan perisaiku!"
"Begitu kah? Flamma Aeternus." ucap Carmilla sambil meletakkan tangan kirinya pada bilah pedang itu.
Secara perlahan, api mulai muncul dari tangan kirinya yang langsung terserap oleh bilah infernal steel itu.
Tapi bukan api biasa.
Sedikit demi sedikit, intensitas dan suhu dari api itu terus meningkat. Merubah warnanya yang semula berwarna kuning kemerahan, kini menjadi warna biru yang terang.
"A-apa apaan itu...."
Bahkan bagi infernal steel yang memiliki ketahanan sangat tinggi terhadap api sekalipun, logam itu mulai mendekati titik lelehnya secara perlahan. Beberapa bagian bahkan terlihat telah mulai meleleh.
"Sesali pilihanmu untuk merendahkan ku di neraka sana."
Dengan kalimat itu, Carmilla membakar seluruh Mana yang tersisa di tubuhnya. Termasuk tubuh Lyra dan juga Selena. Semuanya untuk memanaskan api pada pedang Lucius itu.
Dan tak lama setelah itu, Ia melompat kedepan dan mengayunkan pedang itu dengan cepat. Tepat mengarah pada sosok Hobgoblin yang terdiam di tempat.
Terror yang memenuhi dirinya, serta rasa takut yang tak lagi terbendung membuatnya hanya bisa terdiam diri.
Dengan naluri serta kemampuannya yang tinggi, Hobgoblin itu langsung menyadarinya.
Bahwa api biru yang berkobar di hadapannya, akan memberikan kematian dalam sekali tebas. Tak mungkin untuk menghindarinya.
...'ZRAAAAAAAAAAAAAATTT!!!'...
...'SWUUUUOOOOOOOOSSHHHH!!!'...
Pada hari itu, dunia pertama kalinya melihat sebagian dari kekuatan iblis yang sebenarnya.
Kobaran api biru yang bisa melelehkan bahkan infernal steel itu sendiri, terlihat menjulang tinggi hingga ke langit.
Membakar banyak pepohonan di sekitarnya dengan sangat cepat. Bahkan terlalu cepat hingga semuanya telah menjadi abu sebelum sempat menyalurkan api biru itu ke sekitarnya.
Bahkan hingga beberapa hari kemudian, api biru itu masih dapat terlihat dari kejauhan.
Bagi beberapa orang, api biru itu adalah sebuah penyelamat. Api yang telah menyelamatkan mereka dari terror monster misterius itu.
Tapi bagi sebagian lain yang tak mengetahuinya, api itu adalah sebuah ancaman besar. Bukan hanya bagi kota Arcanum ini. Tapi bagi keseluruhan Kerajaan manusia ini.
__ADS_1