Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 93 - Kedamaian


__ADS_3

Segera setelah Alora pergi, seluruh Ksatria Suci yang membuntuti Lucius juga ikut pergi.


Entah apa yang terjadi di wilayah Utara, Lucius tak bisa memperdulikannya untuk saat ini. Memangnya apa yang bisa dilakukannya saat ini disana?


Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Lucius saat ini, adalah dengan memanfaatkan kedamaian yang telah lama dinantikannya ini untuk berlatih.


Setibanya di rumah, Lucius disambut oleh keluarganya. Termasuk Carmilla.


"Bagaimana pertandingan mu, Nak?" tanya Ayah Lucius yang sedang duduk santai di ruang makan lantai 5 rumah ini.


"Aku menang dengan mudah, Ayah." balas Lucius singkat. Ia segera duduk di salah satu kursi yang ada.


"Seperti yang diharapkan dari putraku." ucap Ayah Lucius dengan bangga.


"Kakak benar-benar hebat." puji Michelle dengan senyuman yang manis di wajahnya.


"Ibu yakin Michelle juga akan bisa melakukannya suatu hari ini." sahut Ibu Lucius.


Di samping Lucius, sosok Carmilla yang begitu anggun terlihat menyeruput teh hangat yang telah dibuatkan oleh para Maid di rumah ini.


'Sluurrp....'


"Aaah.... Jadi, kau bisa kembali berlatih?" bisik Carmilla setelah menyeruput teh hangat itu.


"Begitu lah." balas Lucius singkat.


"Yaah, meskipun aku tak lagi memiliki banyak hal untuk ku ajarkan padamu. Bagaimana jika latih tanding disana?" tanya Carmilla kembali dengan suara yang lirih.


"Disana? Aaah, ya. Aku mengerti."


Dalam suasana yang hangat ini, semuanya menikmati hidangan yang cukup mewah dengan damai. Canda dan tawa dapat terdengar dari ruang makan ini, di saat keluarga Lucius telah terkumpul seutuhnya.


............


Satu bulan telah berlalu semenjak pertemuan Lucius dengan Mary.


Dan kini, tepatnya di dalam Prism of Eternity, Lucius sedang berlatih dengan cukup keras.


'Klaaaangg! Ttrrraaangg! Klaaangg!!'


"Lemah sekali, Lucius. Apakah kau yakin itu tubuh manusia? Kenapa bisa kalah kekuatan fisik dengan tubuh Elf yang lemah ini?" tanya Carmilla yang terus menekan Lucius dalam pertarungan berpedang ini.


"Kalau begitu...."


Lucius segera mengalirkan sebagian Mana miliknya ke sekujur tubuhnya. Sebuah teknik Overflow untuk meningkatkan kemampuan fisik secara signifikan.


'Klaaaaaanggg!!!'


Benturan pedang antara keduanya mampu membuat gelombang kejut yang sangat kuat. Menghembuskan banyak pasir di bawah sinar rembulan ini.


"Bagus! Terus seperti itu!"


Meskipun Carmilla adalah seorang penyihir, Ia memiliki kemampuan bertarung tanpa sihir yang sangat mengerikan.


Mampu menandingi Lucius bahkan tanpa berusaha keras sekalipun.


Di saat terdesak ini, Lucius menggunakan teknik Formless Sword miliknya. Ia mempersiapkan kuda-kudanya untuk menyerang. Dan dengan cepat, tiga buah tebasan kilat segera mengarah tepat ke tubuh Carmilla.


'Klaangg! Ttrrraaangg!! Tttrraanng!'


"Ayolah, aku yang mengajarkanmu tentu saja aku bisa menangkisnya bukan?" ucap Carmilla dengan senyuman yang terlihat begitu meremehkan Lucius.

__ADS_1


"Cih.... Kalau begitu...."


Lucius segera menarik pedangnya ke belakang, bersiap untuk memberikan tusukan kilat pada Elf berambut perak di hadapannya itu.


"Woooh, kali ini tusukan?" tanya Carmilla sambil tertawa ringan.


'Zraaaaaattt!!!'


Dengan mudah, Carmilla memiringkan badannya untuk menghindari tusukan itu.


"Kau tahu, tusukan itu memang sangat kuat. Tapi teknik itu memiliki kelemahan yang sangat fatal." ucap Carmilla setelah mampu menghindarinya dengan begitu mudah.


"Apa?" tanya Lucius. Ia segera menarik kembali pedangnya dan melompat mundur untuk menjaga jarak.


"Serangannya hanya lah sebuah garis lurus. Selama kau mengetahui arah tusukannya, kau pasti bisa menghindarinya."


Formless Sword Technique.


Seperti namanya, adalah sebuah teknik pedang yang tak memiliki wujud atau karakteristik yang jelas.


Inti utama dari teknik ini adalah fleksibilitas serangan yang sulit dibaca. Tapi karena Lucius terlalu fokus pada 2 teknik yang dipelajarinya, membuatnya justru kehilangan keuntungan dari Formless Sword Technique itu sendiri.


"Lucius, ku akui kau memang cerdas bisa mempelajari teknik itu dalam waktu singkat. Tapi akan ku tunjukkan, kenapa Mordrek membutuhkan ratusan tahun untuk menyempurnakan teknik ini, dan menyeret diriku setiap hari untuk berlatih bersamanya."


Setelah perkataan itu, aura Carmilla benar-benar terlihat berbeda.


Ia dengan jelas menggunakan teknik Overflow untuk memperkuat tubuh Elf miliknya itu.


Dari auranya, Lucius tahu bahwa teknik yang akan digunakan oleh Carmilla saat ini adalah puncak dari teknik Formless Sword yang belum dipelajarinya.


"Formless Sword Technique, Raging Dragon."


Dengan hentakan kaki yang kuat, Carmilla melesat tepat ke arah Lucius. Mengayunkan pedangnya dengan cepat dari arah kiri, menyerang bagian kanan tubuh Lucius.


'Gila! Cepat sekali!'


Tak punya waktu untuk terkejut, Lucius segera merespon dan menggunakan pedang sekaligus sebagian dari sihirnya untuk melindungi bagian kanan tubuhnya.


Tapi....


'Sraaattt! Swuuusshhh!'


Carmilla tiba-tiba menghentikan langkahnya sebelum memutar badannya ke kiri. Memberikan tebasan pedang secara memutar, kini ke arah kiri tubuh Lucius.


Dan semua itu hanya terjadi dalam sepersekian detik saja.


'Blaaaaarrrr! Zraaaassshh!!!'


'Bruuukk!!!'


Tubuh Lucius terlempar hingga puluhan meter ke samping. Darah nampak berceceran di sepanjang jalur yang dilaluinya.


"Ooh, kalah hanya dalam satu gerakan?" tanya Carmilla dengan senyuman yang lebar di wajahnya.


Tangan kanannya nampak menyandarkan pedang itu pada pundaknya. Sedangkan tangan kirinya membawa sesuatu yang terus meneteskan darah.


Yaitu tangan kiri Lucius yang terpotong.


"Kuuughh, apa-apaan barusan?" tanya Lucius yang terus berusaha menahan aliran darah di tangan kirinya yang terpotong itu.


'Bruukk!'

__ADS_1


Carmilla melemparkan potongan tangan kiri Lucius itu sembari membalas.


"Bentuk nyata dari Formless Sword Technique. Apa yang ku ajarkan padamu selama ini hanyalah dasar-dasar untuk teknik yang sebenarnya."


'Swuuuussh!!!'


Dengan sihir penyembuhan tingkat tinggi ajaran Carmilla, Lucius dapat dengan mudah menyambungkan kembali lengannya.


Sebuah pencapaian yang seharusnya sangat lah sulit tanpa sihir penyembuhan tingkat tertinggi di kerajaan manusia.


"Dasar-dasar? Lalu gerakan pertama itu?" tanya Lucius penasaran.


"Raging Dragon, sebuah teknik utama dari Formless Sword. Terdiri dari 12 gerakan yang sangat fleksibel sehingga tak mungkin dihindari. Meskipun tak sesempurna seperti apa yang dilakukan oleh Mordrek, tapi nantinya aku akan mengajarkan ini padamu." jelas Carmilla.


Lucius terkejut bahwa teknik yang memotong lengannya barusan bahkan sekalipun Ia telah berusaha bertahan, hanyalah satu dari duabelas gerakan.


Membuatnya semakin penasaran dengan ras yang disebut sebagai iblis itu. Terutama Mordrek.


"Mordrek.... Dia kuat?" tanya Lucius yang telah pulih sepenuhnya, meskipun harus membakar seperlima Mana miliknya hang untuk sihir penyembuhan.


"Tentu saja. Meskipun tak sekuat diriku yang Agung ini, tapi dia cukup kuat. 12 gerakan teknik barusan ini bisa memenggal kepala pahlawan pedang kala itu."


'Deg! Deg!!'


Rasa takut Lucius terhadap Carmilla kembali timbul. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh iblis ini? Apakah ini adalah pilihan yang tepat bagi Lucius membiarkan Carmilla berbuat sesukanya?


Tapi bukankah Mary juga mengatakan Carmilla tak memiliki niatan buruk pada dunia ini?


"Ca-Carmilla...."


"Ya?"


"Apa yang akan kau lakukan kedepannya?" tanya Lucius penasaran.


Carmilla nampak sibuk berpikir. Ia menopang dagunya menggunakan jari telunjuk tangan kanannya seperti biasa.


Setelah beberapa saat....


"Saat ini mungkin aku hanya ingin memulihkan sebanyak mungkin kekuatanku. Setelah itu, aku akan mencari orang bodoh mana yang mencuri jantungku." jelas Carmilla dengan wajah yang begitu serius.


"Be-begitu kah? Tak ada niatan menghancurkan dunia ini kan?" tanya Lucius sekali lagi.


'Plaaak!!!'


Tiba-tiba Carmilla memukul pundak Lucius dengan cukup keras. Membuatnya cukup terkejut.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucius panik.


"Hahaha! Menghancurkan dunia ini? Untuk apa? Dunia ini sudah jauh lebih indah dibandingkan yang dulu, jadi untuk apa aku membawa dunia ini kembali ke jaman yang buruk? Lagipula...."


"Lagipula?"


Carmilla terlihat berhenti berbicara untuk sesaat. Tawa darinya juga berhenti, tergantikan oleh senyuman yang seakan-akan begitu puas.


Ia memandangi sosok Lucius untuk sesaat, sebelum menatap tepat ke dalam mata Lucius.


"A-apa?" tanya Lucius penasaran sekaligus ketakutan.


"Tidak ada. Perkembanganmu melambat. Aku akan meningkatkan porsi latihanmu." balas Carmilla yang segera berjalan pergi. Kembali melatih Mana miliknya menggunakan formasi Mana Flow di tengah padang pasir ini.


"Eh? Perasaan aku sudah berlatih cukup keras?" teriak Lucius menyusul Gurunya itu.

__ADS_1


__ADS_2