
"Selamat, kau berhasil melakukan Awakening dengan baik, Lucius." ucap Carmilla yang segera memberikan jubah yang dikenakannya. Meninggalkan hanya baju hitam dengan lengan panjang itu pada dirinya.
Tanpa ragu, Lucius segera mengenakan jubah Carmilla itu. Meskipun hanya selembar jubah, namun lebih baik dibandingkan tak mengenakan pakaian sama sekali.
"Sialan, kau tak bilang pakaianku akan ikut rusak." keluh Lucius sambil membenahi jubah itu agar tubuhnya tak begitu terlihat.
"Aku lupa, hehe." balas Carmilla sambil tersenyum dengan wajah mengejek itu.
Gelombang dan getaran kuat yang menghancurkan tubuh Lucius itu, secara tak langsung turut menghancurkan pakaiannya. Tapi itu bukan lagi masalah bagi dirinya yang sekarang.
Karena saat ini....
"Kau melihatnya kan?" tanya Lucius dengan tatapan sinis.
"Eeh? Melihat apa? Aku tak tahu apa maksudmu. Fuuuuh... fuuuuh...." balas Carmilla yang berusaha keras untuk bersiul itu, namun terus menerus gagal di tiap percobaannya.
"Kau?!" teriak Lucius yang berusaha untuk menyerang Carmilla. Namun serangannya dengan mudah dihindarinya karena tubuh Lucius saat ini sudah menjadi jauh lebih lemah
"Hahahaha! Kau takkan bisa menangkap ku!"
"Diam lah di tempat dan biarkan aku memukul mu sekali!"
Setelah sekitar dua menit kejar-kejaran, Lucius mulai kehabisan nafasnya. Ia secara tak sadar bergerak dengan pikiran bahwa tubuhnya masih memiliki kemampuan fisik yang dulu.
Apa yang menurutnya hanyalah lari ringan biasa, ternyata adalah lari sprint dengan penuh tenaga di tubuh barunya ini. Membuatnya kelelahan dengan sangat cepat.
"Hah.... Hah.... Hah.... Aku lupa tubuh ini benar-benar menjadi sangat lemah...."
"Ngomong-ngomong, Lucius. Apakah kau masih memiliki mata sihir mu?" tanya Carmilla singkat.
"Eh?"
"Aku melihat Stellastra dalam tubuhmu hancur. Jadi kupikir mata sihir mu itu seharusnya juga ikut hancur."
Alih-alih mendapatkan jawaban, Carmilla justru memperoleh pertanyaan baru.
"Apa maksud mu? Sedari tadi aku melihat.... Tunggu dulu?!"
Saat itu lah Lucius tersadar. Sedari tadi Lucius memang bisa melihat Mana sama seperti ketika dirinya mengaktifkan mata sihir. Namun pada kenyataannya, Ia sudah tak lagi memiliki mata sihir itu. Bahkan tak mengalirkan Mana sedikit pun pada matanya.
Meski begitu, Ia bisa melihat dengan baik di tengah kegelapan ini. Begitu juga dengan aliran Mana di tubuh Carmilla serta Mana yang tersebar di sekitarnya.
__ADS_1
"Sudah ku duga. Pergerakan mu barusan cukup aneh, jadi aku bertanya-tanya." balas Carmilla singkat. Ia nampak mengistirahatkan dagunya pada kepalan tangan kanannya sembari memejamkan kedua matanya.
"Eh?! Kenapa?! Kenapa jadi seperti ini?!" keluh Lucius yang terus membuka dan menutupi matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Aku juga tak tahu. Bahkan dulu saat aku melakukan Awakening, aku juga kehilangan mata sihir ku sepenuhnya. Lucius, coba lihat di ujung jari ku." balas Carmilla sambil mengangkat jari telunjuk di tangan kirinya.
"Hah?"
"Apa yang kau lihat?" tanya Carmilla singkat.
Dalam pandangan Lucius, Ia dapat melihat Mana mulai mengalir ke arah jari jemarinya. Sebelum Mana dengan warna hijau cerah itu secara perlahan berubah menjadi kemerahan di ujung jari telunjuknya.
"Apa yang ku lihat? Hmm.... Mana mu berubah menjadi merah?" balas Lucius.
"Kalau sekarang?" tanya Carmilla sekali lagi.
"Hmm? Kenapa menjadi biru?"
"Bagaimana dengan sekarang?"
"Kecoklatan.... Tunggu, aku sama sekali tak mengerti apa maksudmu."
"Lalu ini?" tanya Carmilla sekali lagi.
"Hijau.... Tunggu! Jangan katakan?!" teriak Lucius yang segera menyadari kenyataannya.
Carmilla kemudian terlihat menurunkan tangan kirinya sebelum berjalan mendekat ke arah Lucius. Ia mendekatkan wajahnya pada Lucius, memperhatikan mata kecoklatan milik Lucius itu dengan lebih dekat.
"Seperti yang ku duga. Kau sekarang bahkan bisa melihat perubahan Mana itu sendiri sebelum sihirnya ku aktifkan." ujar Carmilla dengan tatapan sinis di wajahnya.
"Jadi sedari tadi...."
"Ya. Aku hanya berniat untuk membuat sihir kecil dari berbagai elemen. Tapi kau sudah bisa melihat sihir apa yang akan ku gunakan, bahkan sebelum aku menggunakannya. Apa-apaan mata itu. Aku bahkan tak memiliki penglihatan sekuat itu dulu." balas Carmilla dengan wajah yang nampak kesal.
Ia memalingkan wajahnya dari Lucius sebelum melipat kedua lengannya dalam amarah.
"Tunggu dulu! Kau tidak bercanda kan?! Jika benar seperti itu.... Bukankah itu...."
Terlalu kuat. Itu lah yang ada di pikiran Lucius, namun ragu untuk diucapkannya.
Mampu melihat perubahan Mana sebelum sihir itu diaktifkan, tentu dapat memberikan Lucius keunggulan yang sangat besar dalam pertarungan apapun.
__ADS_1
Seakan-akan Ia dapat melihat beberapa detik ke masa depan elemen sihir apa yang akan digunakan oleh lawannya sebelum sihir itu sendiri aktif.
Karena tanpa sadar, semua orang akan merubah Mana di tubuhnya sendiri sebelum mengaktifkan sihir. Itu adalah sebuah kebiasaan yang tak mungkin bisa lepas dari semua orang.
Kecuali pengendalian Mana mereka sangat lah terampil hingga jeda antara perubahan Mana dan aktifnya sihir itu sangat singkat. Tapi apakah orang yang seterampil itu benar-benar ada?
Bahkan Carmilla sekalipun terlihat tak bisa melakukannya.
'Ini kah efek dari Awakening yang terlalu sempurna? Mungkin Ia sangat terfokus ketika pembentukan ulang matanya? Sehingga penglihatannya menjadi sekuat ini?'
Carmilla tak memiliki niat sedikit pun untuk mengatakan bahwa Lucius memperoleh Awakening yang terlalu sempurna.
Memberikan pujian pada Lucius sesekali memang adalah hal yang bagus. Tapi jika Lucius sendiri menyadari pencapaiannya melampaui apa yang selama ini diketahui oleh Carmilla?
Ia takut Lucius akan besar kepala sekali lagi, lalu mengendurkan latihannya.
Tapi....
"Sialan! Bagaimana aku akan tidur jika seperti ini?! Aku bahkan masih melihat sedikit Mana ketika memejamkan mata ku! Sialan! Carmilla! Apakah kau memiliki suatu trik untuk membuat ini menghilang?!"
Lucius sendiri tak begitu menyadari nilai dari kekuatan barunya yang sebenarnya. Bahkan terlihat kesal dengan keberadaannya.
'Jika saat itu aku memiliki penglihatan seperti itu. Mungkin aku....'
"Carmilla! Katakan sesuatu!" teriak Lucius yang memecahkan pikiran Carmilla saat itu.
"Maaf, aku tak memiliki ide lain selain mencongkel matamu." balas Carmilla sambil bercanda. Ia bahkan terlihat sedikit menjulurkan lidahnya untuk mengejek Lucius.
"Hah?! Kau gila?! Tak mungkin aku melakukan itu kan?"
"Ngomong-ngomong, Lucius. Kapan kau akan kembali memasang mata sihir? Aku akan memasangkannya padamu, jadi kau juga pasangkan satu padaku."
"Aku bahkan sudah kesulitan dengan penglihatan ini! Apa jadinya jika aku memasang mata sihir sekali lagi pada mata yang sudah seperti ini?!" teriak Lucius kesal.
"Entah lah. Mungkin penglihatan mu menjadi lebih kuat lagi?" balas Carmilla santai sambil mengangkat kedua tangannya. Memberikan tatapan yang terkesan begitu acuh.
Setelah itu, Lucius kembali ke kamarnya dengan menggunakan portal yang dibuatnya.
Dan malam itu....
Ia tak bisa tidur karena tak perduli seberapa rapat Ia memejamkan matanya, Lucius masih bisa melihat aliran Mana yang bergerak kesana kemari dalam pandangannya.
__ADS_1