Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 67 - Petunjuk


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan dengan cahaya yang remang-remang, sosok Zephyrith terlihat bangun dari tidurnya.


"Berapa lama aku tertidur?" tanya Zephyrith pada seorang gadis berambut hitam panjang di sampingnya itu.


"Dua hari." balasnya singkat.


Ia memiliki penampilan menyerupai manusia, dengan pengecualian kulitnya yang seputih salju serta telinganya yang cukup panjang dan runcing. Menyerupai seorang Elf.


Meski begitu, telinganya tak cukup panjang untuk dibilang berasal dari ras Elf. Karena sosok gadis itu yang sebenarnya....


"Jadi, bagaimana keadaannya?" tanya Zephyrith singkat sambil segera bangkit dari ranjangnya itu.


"Guru. Orang itu, benar-benar aneh." balas gadis itu.


"Aneh?"


Sambil menganggukkan kepalanya, gadis itu menjelaskan semua yang terjadi selama beberapa hari ini.


"Selama aku mengawasinya, pria itu.... Sama sekali tak ragu untuk menggunakan Mana miliknya. Kemungkinan Ia tak tahu mengenai kondisi dimensi itu. Kemudian...."


Gadis itu nampak berhenti sejenak seakan ragu untuk menjelaskan lebih detail. Tapi pada akhirnya, Ia mengatakannya.


"Ia berusaha untuk menyimpulkan hukum dari dimensi itu." lanjut gadis itu.


Mendengar penjelasan dari muridnya, Zephyrith terlihat terkejut bukan main.


Ini bukanlah kali pertamanya menangkap sesuatu, atau seseorang ke dalam dimensi ruang ciptaannya sendiri. Semuanya yang terperangkap di dalamnya segera memohon ampunan untuk segera dikeluarkan.


Berkata bahwa mereka akan melakukan segalanya untuk kebebasan itu.


Tapi ini? Bocah bernama Lucius ini?


Dia justru berusaha untuk menyimpulkan hukum dari dimensi ruang buatannya? Dengan kata lain....


"Bocah itu, dia berusaha untuk menemukan kunci keluar dari dimensi itu ya?" tanya Zephyrith dengan tubuh yang merinding ketakutan.


Tak pernah sekalipun dalam hidupnya melihat ketangguhan seperti itu dalam diri seseorang.


"Itu benar, Guru. Tapi, apakah ini akan baik-baik saja?" tanya muridnya khawatir.


Dengan tangan kanannya, Zephyrith nampak memberikan belaian yang lembut pada rambut hitam panjang muridnya.

__ADS_1


"Tenang saja, Aurelia. Semua ini akan baik-baik saja. Kau harus ingat, dia adalah subjek yang sangat penting. Setelah aku berhasil memformulasikan senyawa yang tepat untuk tubuh manusia, tak salah lagi bocah bernama Lucius itu akan menjadi iblis yang sangat kuat. Subjek yang sangat berharga bagi rencana kita." jelas Zephyrith panjang lebar sambil tersenyum ramah.


Gadis berambut hitam panjang yang bernama Aurelia itu nampak tersenyum malu. Wajahnya mulai memerah setelah mendengar bahwa Gurunya masih mengingat janji padanya.


Sekalipun....


Harus ada beberapa korban dalam menempuh tujuan mereka, Ia sama sekali tak keberatan soal itu.


"Guru. Terimakasih." balas Aurelia sambil sedikit meneteskan air mata kebahagiaan.


"Aku akan melanjutkan penelitian pada beberapa tahanan yang lain. Tolong terus awasi dia." ucap Zephyrith yang segera berjalan pergi meninggalkan ruangan ini.


Kaki kanannya yang terpotong terlihat telah berhasil disembuhkan. Dengan banyak jahitan di sekitarnya.


Aurelia yang melihat sosok gurunya itu berjalan pergi nampak merasa sedikit khawatir.


'Guru.... Berhati-hati lah. Kau harus sadar bahwa tubuhmu tak sekuat penyihir pada umumnya....' pikir Aurelia dalam hatinya sambil melihat sebuah formasi sihir rumit berwarna kebiruan di punggung tangan kirinya.


Formasi sihir dari Mana Link yang begitu rumit, yang memungkinkan pengguna yang terhubung dengan Aurelia itu sendiri menggunakan Mana miliknya. Bahkan dari jarak yang jauh sekalipun.


Tak lama setelah itu, Aurelia mulai berjalan ke salah satu sisi ruangan ini.


Di hadapannya, terdapat sebuah meja besi dengan banyak formasi sihir yang sangat rumit di sekitarnya.


Untuk apa?


Tepat di tengah formasi sihir itu, terdapat sebuah bola oktagonalyang terbuat dari logam yang aneh dengan cahaya kehijauan di seluruh sisinya.


Secara perlahan, Aurelia terlihat meletakkan tangan kanannya di atas bola itu lalu merapalkan mantra yang terdengar begitu rumit.


Tak lama kemudian, Aurelia menutup mata kirinya. Memungkinkannya untuk melihat ke dalam bola oktagonalmisterius itu.


............


'Lucius.... Aku lapar.... Aku ingin ayam bakar.... Tolong cepat pesan ayam bakar....' keluhan Carmilla dalam pikiran Lucius terdengar begitu keras dan mulai sedikit mengganggu.


"Tolong diam lah. Kau tahu di sini tak ada makanan, apalagi restoran yang menyajikan ayam ba.... Tunggu. Ini terjadi lagi." ucap Lucius yang segera keluar dari bangunan es miliknya.


Ia segera menatap ke arah langit kemerahan itu. Berusaha untuk mencari tahu sumber dari perasaan mengganjalnya yang sering dirasakannya selama beberapa hari ini.


'Terjadi lagi? Apa maksudmu?' tanya Carmilla.

__ADS_1


"Seakan-akan, dimensi ini menerima pengunjung dari luar. Tapi tak peduli berapa lama aku mencarinya dengan mata ini, aku tak pernah menemukannya. Jika perkiraan ku tak salah...." ucap Lucius sambil memandangi tepat ke arah matahari yang tak pernah terbenam dengan warna kemerahan itu.


"Kau melihat ku dari sana kan?!" teriak Lucius tiba-tiba pada arah matahari itu.


'Lucius! Apakah kelaparan sudah membuatmu gila?!'


Baru tiga hari Lucius tak makan. Baginya yang telah melewati pelatihan neraka dari Carmilla, ini masih tak seberapa.


Yang terpenting bagi Lucius saat ini, adalah menentukan tempat dimana dirinya berada. Hal itu akan menjadi kunci untuknya memecahkan formulasi dan hukum dari dunia ini.


"Katakan sesuatu! Aku tahu kau di sana!" teriak Lucius dengan suara yang lebih keras.


Tapi sama seperti yang sebelumnya, tak ada jawaban yang terdengar. Lucius saat ini hanya terlihat seperti orang gila yang berbicara pada matahari.


"Hah, jika kau tak ingin menjawab itu bukan masalah bagiku. Tapi kau harus tahu! Kau salah mengira jika aku akan diam seperti yang kau harapkan!" balas Lucius sebelum segera berniat untuk memecahkan misteri dari dunia ini.


Ia menggunakan sihir tanah untuk menciptakan menara batu yang sangat tinggi. Dengan menara batu tinggi itu sebagai acuan, Lucius segera berjalan ke arah Timur. Tepat ke arah matahari itu berada.


'Lucius?! Apa yang akan kau lakukan?' tanya Carmilla penasaran.


"Sedikit percobaan, untuk membuktikan apakah dunia ini benar-benar tak terbatas seperti yang ku pikirkan sebelumnya. Tenang saja, aku telah sedikit banyak memiliki tebakan atas bagaimana dunia ini bekerja." balas Lucius dengan senyuman tipis di wajahnya.


Setelah mulai melangkahkan kakinya, Lucius menciptakan lapisan es pada pakaiannya. Termasuk tudung yang terbuat dari es. Melindungi tubuhnya dari panas ekstrim selama perjalanan itu.


............


'Ini buruk. Benar-benar buruk. Bagaimana mungkin dia menyadari keberadaanku yang bahkan di luar dimensi itu? Kebetulan? Pasti kebetulan bukan? Bahkan Clairvoyance Eye yang diberikan oleh Guru sekalipun tak bisa melihatnya! Ini pasti kebetulan!' pikir Aurelia dalam hatinya.


Ia terlihat terjatuh ke lantai setelah mendengar teriakan Lucius barusan. Tak percaya bahwa Lucius yang terjebak di dalam Prism of Eternity itu bisa melihat dan merasakan apa yang terjadi di dunia luar.


Sebuah Relic buatan Zephyrith itu sendiri, yang memungkinkan untuk menciptakan sebuah dunia buatan di dalamnya.


Dalam hatinya, Aurelia benar-benar ingin menyingkirkan Lucius. Tapi Gurunya mengatakan bahwa Lucius adalah subjek yang penting untuk impiannya.


"Guru.... Orang ini terlalu berbahaya.... Kau tahu itu kan?" ujar Aurelia pada dirinya sendiri.


Ia melirik ke arah belakang, dimana Gurunya terlihat masih sibuk mengujikan bubuk hitam itu pada tubuh manusia yang merupakan tahanan perang.


Salah satu dari mereka terlihat berubah menjadi monster tak berakal dengan tubuh yang mengerikan. Dimana Zephyrith dengan cepat membunuhnya.


Dalam keraguan, Aurelia hanya bisa terus melanjutkan tugasnya. Yaitu untuk mengawasi Lucius yang terjebak di dalamnya.

__ADS_1


Setidaknya....


Sampai pengujian pada para tahanan itu terbukti telah berhasil.


__ADS_2