
Di hadapan semua petualang itu, terlihat sosok Hobgoblin abnormal yang tengah berdiri di atas sisa tubuh Ursaloth itu.
Ia nampak memandangi ke segala arah, memperhatikan kerumunan manusia di sekitarnya.
"Melihat manusia bergerak layaknya serangga seperti ini, menjijikkan sekali. Seseorang harus menghentikannya. Aku akan menghentikannya...." ucap Hobgoblin itu dengan ekspresi wajah yang dipenuhi dengan kebencian.
Tanpa aba-aba....
Seluruh petualang yang masih memiliki nyali itu akhirnya mulai bergerak.
Yang pertama membuat gerakan tak lain adalah Sera. Ia menembakkan anak panahnya tepat ke arah jantung Hobgoblin itu.
'Swuuuusshh!!!'
Tembakannya jauh lebih cepat dibandingkan dengan petualang dengan pemanah yang lainnya.
Tapi meski begitu....
'Taappp! Krettaakk!!'
"Menggelikan sekali...." ucap Hobgoblin itu sambil menangkap dan meremukkan panah Sera.
Semuanya seakan sudah berada dalam prediksinya. Akan tetapi Ia melupakan satu hal yang penting.
Yaitu kenyataan bahwa para petualang itu tak bertarung sendirian.
'Zraaaaatt!!! Braakk!! Braakk!!!'
Dengan anak panah Sera sebagai aba-aba, semua petualang di bawah pimpinan Selena segera berlari ke arah Goblin itu.
"SERAAAAAAANG!!!" Teriak Selena dengan sangat keras. Kedua tangannya nampak menyeret pedang besarnya itu di tanah. Langkah kakinya begitu cepat hingga tak ada yang bisa mengimbanginya.
Hanya satu orang.
Yaitu seorang anak muda yang berlari sejajar di sebelahnya.
'Bocah ini.... Tak mungkin dia berada di kelas F bukan?' pikir Selena sambil melirik ke arah Lucius di sebelahnya.
Dengan menggunakan Elemental Infusion, Lucius... atau lebih tepatnya Carmilla melapisi pedangnya dengan kobaran api yang sangat kuat tapi juga stabil.
Pengendalian Mana Carmilla yang jauh lebih sempurna dari Lucius membuatnya mampu untuk mengendalikan Elemental Infusion itu lebih baik lagi.
Api yang jauh lebih panas, namun juga menggunakan jauh lebih sedikit Mana.
'Aku harus menghemat Mana, bagaimana pun, aku tak tahu seberapa kuat iblis itu. Lebih dari itu, bagaimana bisa ada iblis di masa ini? Seharusnya sejak saat itu....' pikir Carmilla dalam hatinya.
Hanya dalam sepersekian detik, Lucius dan Selena telah berada tepat di hadapan Hobgoblin itu. Masing-masing mengayunkan pedang mereka dari arah yang berlawanan.
Dalam sepersekian detik itu, fokus keduanya yang begitu tinggi membuat waktu seakan-akan melambat.
Sedikit demi sedikit, mereka berdua melihat pedang mereka semakin mendekat ke arah leher Hobgoblin itu.
Pedang besar Selena yang diayunkan secara memutar dari kiri ke kanan, dan pedang berapi Lucius yang diayunkan dari arah yang sebaliknya.
Tak salah lagi.
Gabungan serangan dari keduanya seharusnya bisa memenggal kepala Hobgoblin itu. Mengingat tubuhnya yang tak terlihat begitu besar, apalagi jika dibandingkan dengan Ursaloth sebelumnya.
Tebakan mereka seharusnya sudah tepat.
Hanya saja jika ada yang tak mereka perhitungkan....
'KLAAAAAANGGG!!!'
'A-apa?! Apa-apaan ini?!' teriak Selena dalam hatinya setelah melihat apa yang ada di hadapannya.
"Si-sihir?!" teriak para petualang lain yang melihat apa yang baru saja dilakukan Hobgoblin itu.
Dengan menggunakan sihir perisai, Hobgoblin itu mampu dengan mudah menahan serangan dari dua arah yang berbeda itu.
Lebih dari itu, perisai buatannya jauh lebih kuat dibandingkan serangan keduanya.
__ADS_1
"Manusia, sadari lah posisi kalian." ucap Hobgoblin itu dengan senyuman yang tipis.
'Blaaaaarrr!!'
Selena dan Lucius terlempar ke belakang karena pantulan dari perisai sihir itu.
'Sreeeettt!!!'
Setelah menahan tubuh mereka, Lucius dan Selena kembali menyerang. Memberikan rentetan tebasan yang tak hanya cepat namun juga kuat.
Selena dengan pedang besarnya yang diselimuti oleh sihir angin terlihat menari begitu cepatnya. Pada tiap tebasannya, meninggalkan bekas sayatan di berbagai sisi hutan ini.
Meski begitu, serangannya masih belum mampu untuk menembus perisai sihir Hobgoblin itu.
Sementara itu tebasan Lucius sedikit lebih lambat dari tebasan pedang Selena. Hanya saja tiap tebasannya seakan-akan memiliki berat yang jauh lebih besar.
Bagaimana tidak?
'Swuuusshh! Blaaaaarrrr!!!'
Setiap kali Lucius mengayunkan pedangnya, sebagian tanah dan pepohonan yang ada di arah tebasannya langsung tertelan oleh kobaran api merah yang panas.
Menghanguskan apapun yang ada di sekitarnya.
Hal itu pula yang membuat para petualang lain masih sedikit menjaga jarak dari Lucius dan Selena.
Sesaat setelah mereka mendekat, mungkin saja mereka akan terkena serangan rekannya sendiri.
Para pemanah dan penyihir juga kesulitan untuk menyerang. Di satu sisi, jika serangan mereka meleset justru akan melukai Guild Master dan juga Lucius.
Tapi di sisi lain, sekalipun tidak meleset....
Mereka sama sekali tak yakin bisa menembus perisai yang bahkan bisa menahan hantaman pedang Guild Master itu.
"Usaha yang sia-sia, manusia." ucap Hobgoblin itu yang masih terus mengaktifkan perisai sihirnya.
Carmilla yang memiliki pengetahuan luas tentang sihir tentu mengenali perisai sihir yang digunakan oleh Hobgoblin itu.
"Hoooh, jadi ada yang tahu perisai ini?"
Sesaat sebelum keduanya tercabik-cabik oleh serangan Hobgoblin itu, Lucius dengan cepat menarik dan melompat mundur bersama dengan Selena.
"Ini buruk. Hobgoblin itu kuat."
"Hah?! Bukankah sudah jelas?! Tapi apa-apaan itu?! Bagaimana bisa Hobgoblin menggunakan sihir serumit itu?!"
Monster menggunakan sihir bukanlah hal yang aneh. Tapi kenyataan bahwa seekor Hobgoblin bisa menggunakan sihir rumit seperti Trias Shield yang memiliki ketahanan yang mengerikan....
Adalah hal yang jauh diluar nalar manusia.
'Tak mungkin monster tak berakal seperti Hobgoblin bisa mempelajari formasi Trias dalam perisai sihir. Dengan kata lain....' pikir Carmilla dalam hatinya.
Tanpa ragu, Carmilla segera merancang sebuah rencana darurat jika saja dirinya gagal untuk mengalahkan Hobgoblin itu dengan cara biasa.
"Selena, setelah menyerangnya langsung aku mengerti. Hobgoblin itu memiliki Mana setidaknya 8 kali lipat dari diriku, atau 20 kali lipat dari Mana milikmu. Jika terus seperti ini, kita akan terbantai." ucap Carmilla dengan menggunakan tubuh Lucius itu.
'Blaaaarr! Blaaarr! Blaaaarrr!!'
"Kau berniat untuk mematahkan semangat semuanya?" tanya Selena kesal sambil menghindari rentetan tembakan bola api dari Hobgoblin itu.
"Tidak. Sebaliknya. Kau memiliki peran penting. Dengarkan baik-baik...."
Carmilla nampak membisikkan banyak hal di telinga Selena. Dengan tangan kirinya, Ia menciptakan sihir perisai yang melindungi keduanya dari serangan bola api.
Sedangkan dengan tangan kanannya, Carmilla menggambar sesuatu di tanah.
Sebuah gambar formasi sihir dengan bentuk yang sangat aneh dan tak pernah dilihat bahkan oleh Guild Master itu sendiri.
"Lucius, apa itu?"
"Jangan banyak tanya, sampaikan saja apa yang ku katakan pada Lyra dan regu penyihir lainnya. Itulah kartu terakhir kita untuk menang."
__ADS_1
"Baiklah."
Dengan cepat, Selena mundur dari medan pertempuran ini. Meninggalkan Lucius bersama dengan sisa petualang garis depan lainnya untuk menghadapi monster mengerikan itu.
'Swuusshh....'
Secara perlahan, Carmilla melepaskan perisai sihir yang dibuatnya sembari menggumam.
"Ku akui, aku yang sekarang takkan bisa mengalahkanmu. Tapi kau tahu, wahai Iblis tak bernama. Caramu menyia-nyiakan Mana mu seperti itu akan menjadi kehancuran mu sendiri."
Di kejauhan, terlihat beberapa petualang yang menyerang Hobgoblin itu dari jarak dekat namun menerima nasib yang sungguh mengerikan.
Beberapa diantara mereka nampak terpenggal hanya karena ayunan lengan Hobgoblin itu saja. Beberapa yang lain terlihat terbakar hingga menjadi abu oleh sihir dari tangan kiri iblis itu.
Sedangkan yang lain?
Lari meninggalkan pertarungan ini hanya untuk terbunuh dengan batu yang dilempar Hobgoblin itu dari kejauhan.
"Bocah! Ayo maju bersama ku!" teriak Ironclad dari kejauhan.
Drakon sendiri terlihat sudah berhadapan langsung dengan Hobgoblin itu. Memanfaatkan kegesitan kaki dan kecepatan pukulannya, Drakon mampu untuk mengimba....
'ZRAAAAASSSHHH!!!'
"GUAAAAARRRGGGHHHHH!!!"
Suara teriakan Drakon yang kesakitan terdengar hingga memenuhi hutan yang gelap ini.
Hanya dengan ayunan lengan sederhana. Hobgoblin itu mampu memotong kedua tangan Drakon dengan cakarnya yang bahkan tak sebesar cakar Ursaloth sebelumnya.
"Kau pikir, bisa mengimbangi ku dalam kemampuan fisik karena aku hanya terus menggunakan sihir sedari tadi?"
Pada saat itu lah, harapan kecil yang mulai terlihat di mata para petualang mulai memudar.
Mereka berpikir, jika Hobgoblin itu bisa membunuh Ursaloth dengan mudah, menahan serangan Guild Master, dan bahkan menahan tebasan berapi Lucius itu karena Hobgoblin itu merupakan penyihir yang sangat kuat.
Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa sebagian besar penyihir yang mendedikasikan hidupnya untuk sihir akan memiliki fisik yang lemah.
Tapi ini?
Melihat kekuatan fisik Hobgoblin itu barusan, semuanya yakin. Bahwa setidaknya, kemampuan fisik Hobgoblin itu beberap kali lipat jauh lebih besar daripada Ursaloth yang sebelumnya mereka lawan.
'TAAAAAKK!!!'
Di tengah-tengah keputusasaan itu, sosok Lucius terlihat memukulkan pedangnya pada zirah besi petualang yang telah mati di sampingnya.
"Jangan panik! Seberapa kuat Hobgoblin itu, pada akhirnya dia hanyalah monster yang harus diburu. Jika kalian mengikuti ku, aku akan memenggal kepala Hobgoblin itu untuk kalian." teriak Carmilla dengan menggunakan tubuh Lucius itu.
Mendengar teriakan semangat dari seorang bocah membuat para petualang itu bangkit kembali. Bukan karena mereka melihat peluang kemenangan di hadapannya.
Melainkan karena harga diri mereka tak rela untuk berlindung di balik pemuda yang masih berusia 16 tahun itu.
"Sialan! Apa boleh buat, aku akan bertarung sampai mati!" teriak seorang petualang yang bangkit cukup awal.
"Hah! Guild Master sebaiknya menyiapkan imbalan yang besar untuk ini!"
"Itu benar! Setelah ini, aku akan mentraktir kalian semua!"
Semangat yang hampir saja padam, kini kembali berkobar.
Sementara itu Carmilla masih berdiri diam di tempat. Memandangi sosok Hobgoblin itu dari kejauhan.
Persiapannya telah matang. Rencananya juga telah disusun dengan baik. Dan sekalipun gagal, Ia telah menyiapkan rencana cadangan.
Yang tersisa saat ini, adalah untuk menghadapi Hobgoblin itu dengan seluruh kekuatannya.
Hanya saja....
"Aku senang melihat kalian semua tak sabar untuk mati. Karena itu...."
Hobgoblin itu nampak mulai menunjukkan taringnya yang sebenarnya.
__ADS_1