Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 52 - Latihan


__ADS_3

Lucius terbangun jauh sebelum matahari terbit. Dengan langit yang hanya diterangi oleh cahaya bulan itu, Ia meninggalkan kamarnya untuk menyelesaikan permintaan Alex.


Di puncak menara tertinggi di kota Arcanum ini, Lucius mengaktifkan Clairvoyance Eye di mata kirinya. Memandangi ke segala penjuru kota ini dengan sudut pandang yang jauh berbeda.


"Luarbiasa.... Aku bisa melihat Mana semua orang, juga jumlahnya." ujar Lucius pada dirinya sendiri.


Saat Ia meningkatkan fokusnya, Lucius dapat melihat lebih jauh lagi. Seakan-akan pepohonan yang berjarak ratusan meter itu berada beberapa meter saja di hadapannya.


"Bahkan bisa melihat sejauh ini? Oi, Carmilla. Apakah Luna juga memiliki penglihatan seperti ini?" tanya Lucius penasaran.


'Mana ku tahu. Yang jelas aku melihat beberapa kecacatan pada mata Luna waktu itu. Wajar saja, namanya juga sihir imitasi.' balas Carmilla dengan nada yang terkesan sedikit sombong.


"Be-begitu ya?"


'Yah meski cacat, tetap saja mata sihir itu sangat lah kuat. Membuatmu berada di tingkat yang berbeda dengan manusia pada umumnya.' lanjut Carmilla.


Pada akhirnya, Lucius mulai mempelajari untuk membedakan Mana milik manusia dengan hewan dan tumbuhan.


Sedikit demi sedikit, Lucius mencatat dan merekam detail dari perbedaan itu dengan otaknya.


Meskipun tak memiliki tubuh yang berbakat, Lucius sendiri memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Yang mana dirinya sendiri bahkan tak menyadarinya.


Tak butuh waktu lama bagi Lucius untuk memahami perbedaan Mana antara manusia dengan makhluk hidup yang lain.


Pada dasarnya, Mana pada tubuh manusia jauh lebih pekat dan lebih terang. Selain itu, bentuk dari Mana itu terkonsentrasi pada jantung manusia. Sebelum menyebar ke anggota badan yang lainnya.


Seberapa lemahnya Mana milik manusia, Mana yang dimiliki oleh hewan jauh lebih sedikit dan terkesan lebih redup. Apalagi Mana milik tumbuhan.


"Jadi itulah kenapa memakan daging lebih baik dalam memulihkan Mana dibandingkan dengan sayur?" tanya Lucius setelah memahami perbedaan itu.


Setelah memperhatikan sekeliling selama sekitar 15 menit, Lucius akhirnya menemukan apa yang dicarinya.


Jauh di kedalaman hutan....


Tepat di lereng perbukitan di Utara, Lucius melihat banyak titik-titik Mana yang menyerupai Mana manusia.


Saat Lucius memfokuskan sebagian Mana pada mata kirinya....


Lucius dapat melihat sekelompok manusia yang berjalan kemari, mengangkut banyak barang seperti peti dan juga persenjataan kedalam sebuah goa.


"Jadi di sana ya? Wajar saja Alex kesulitan untuk mencarinya. Terlebih lagi...."


Dari semua bandit yang terlihat di kejauhan itu, Lucius dapat melihat salah seorang dari mereka memiliki jumlah Mana yang cukup besar.


Membandingkan Mana itu dengan dirinya sendiri, kemungkinan jumlah Mana orang itu sekitar seperempat dari Mana Lucius.


"Begitu ya? Pantas saja...."


Lucius paham bagaimana para bandit itu selalu berhasil merampas barang rombongan pedagang. Hingga membuat Alex sedikit kesulitan.


Dengan jumlah Mana sebesar itu, sekalipun Alex memberikan 20 pengawal pada rombongan pedagang itu, mereka tetap akan kalah.


"Baiklah. Aku mengerti. Sekarang...."

__ADS_1


'Apa yang kau pikirkan?' tanya Carmilla tiba-tiba.


"Eh? Apa yang ku pikirkan? Tentu saja memburu mereka semua." balas Lucius yang segera melompat dari puncak menara itu.


Ia berlari dengan cepat diantara atap rumah di perkotaan ini. Tak hanya cepat, langkah kaki dan lompatannya hampir tak menimbulkan suara.


Itu adalah bukti Lucius telah melatih kemampuannya dengan sangat baik selama ini.


'Tunggu! Aku belum selesai bicara! Jumlah mereka ada puluhan! Sedangkan kau sendiri bahkan tak membawa senjata! Kau pikir apa yang bisa kau lakukan?' tanya Carmilla panik.


"Aku bisa membunuh mereka semua sebelum pelajaran di akademi dimulai."


'Bukan itu! Tapi....'


Tak peduli seberapa banyak penjelasan yang diberikan oleh Carmilla kepada Lucius, bocah itu sama sekali tak mendengarkannya.


Saat ini yang ada di kepala Lucius hanya satu. Yaitu mengamankan uang untuk membayar hutangnya, juga untuk menghidupi anak-anak di panti asuhan itu.


Jika Lucius tak bekerja keras, jumlah donasi yang diperoleh panti asuhan itu bahkan tak cukup untuk memberi mereka semua makanan 2 kali sehari.


Karena itu lah.....


'Tap! Swuuusshh!!'


"Siapa disana?!" teriak salah seorang bandit di depan tempat persembunyian itu.


Bukannya bertarung dalam bayangan, Lucius berniat untuk melawan mereka semua secara terang-terangan.


Ia mengangkat kedua tangannya dan membuat kuda-kuda untuk gaya bertarung dengan tangan kosong itu.


Lucius segera melompat maju dan melayangkan sebuah tinju dengan tangan kanannya. Mengenai tepat di wajah bandit itu.


'Braaakkk!!!'


"Hanya dengan satu pukulan sudah pingsan? Yah, untuk berjaga-jaga...."


Dengan segera, Lucius mengambil pisau di sabuk bandit itu. Menggunakannya untuk menusuk bandit itu tepat pada jantungnya.


'Jleeebb!!!'


"Bagus. Sekarang...."


'Lucius, kau....' ucap Carmilla sedikit merasa ngeri.


Sementara itu Lucius yang segera berjalan memasuki goa para bandit itu bertanya.


"Kenapa?"


'Kau tak takut membunuh... manusia?'


Langkah kaki Lucius terhenti untuk beberapa saat. Ia paham atas apa yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Carmilla.


Membunuh monster jauh berbeda dengan membunuh manusia. Di satu sisi, monster adalah makhluk tanpa akal sehat dan selalu menyebabkan kerugian besar bagi manusia.

__ADS_1


Sedangkan membunuh manusia lain? Sekalipun bandit, mereka mungkin juga melakukannya karena terpaksa. Mungkin juga untuk menghidupi keluarga mereka sendiri.


Tapi bagi Lucius?


Jawaban untuk pertanyaan Carmilla adalah....


"Mereka tak berbeda dengan monster. Membunuh dan merugikan orang lain untuk mencari uang.... Aah, mungkin aku juga telah menjadi monster? Aku juga membunuh mereka untuk uang." ujar Lucius sambil tertawa ringan.


Kelelahan yang dialami oleh Lucius mungkin telah sedikit mempengaruhi akal sehatnya.


Membuat bocah itu tak bisa berpikir dengan lurus.


"Tidak. Aku tak sama dengan mereka. Yang ku bunuh adalah orang jahat kan?"


"Siapa disana?!"


Sebelum pertanyaan Lucius terjawab oleh Carmilla, beberapa bandit nampak terlihat berjalan dari kegelapan goa itu.


Masing-masing dari mereka membawa senjata yang berbeda. Satu orang terlihat membawa tombak, dua orang membawa sebuah pedang tanpa perisai, dan satu orang terakhir nampak membawa busur dan panah.


"Aaah, sialan. Padahal aku belum berlatih bagaimana caranya menggunakan pisau. Tapi sudahlah, aku akan berlatih dengan melawan kalian semua." ujar Lucius dengan tawa ringan


Carmilla yang melihat sosok Lucius saat ini merasa sedikit ketakutan. Takut jika saja Lucius mengambil langkah yang salah, dan menyesalinya nanti setelah kehidupannya berakhir.


Tapi....


"Bocah! Kau pikir bisa...."


'Jleeebbb!!! Braaakkk!!'


Dengan sangat cepat, Lucius telah berada tepat di hadapan bandit yang membawa busur dan panah itu. Menusukkan pisau itu tepat di jantungnya dengan menggunakan tangan kirinya.


"Apakah seperti ini cara menggunakan pisau?" tanya Lucius penasaran.


"Sialan! Mati ka...."


'Zraaaatt!!!'


"Atau seperti ini?" tanya Lucius kembali setelah mengayunkan pisaunya ke samping dan menggorok leher bandit yang membawa tombak itu.


"Bo-bocah ini...."


"Kita mundur dulu dan laporkan pada...."


Kedua bandit yang tersisa nampak ketakutan setelah melihat kemampuan Lucius.


"Aah, entahlah. Aku akan mengakhiri kalian dengan keahlian ku saja. Lagipula, tinggal satu setengah jam lagi sebelum kelas dimulai."


Dengan kalimat itu, Lucius mengangkat tangan kanannya. Pada telapak tangannya, mulai muncul bola api berwarna kuning kemerahan


Lucius mulai mengarahkan tangannya pada dua bandit yang lari itu, sebelum akhirnya....


'Blaaaaaarrrrr!!!'

__ADS_1


Menembakkannya dan membakar keduanya dengan cepat.


"Ku rasa aku harus bergegas." ucap Lucius pada dirinya sendiri sambil berjalan melewati kobaran api itu. Menuju tepat di bagian terdalam dari goa ini.


__ADS_2