
Penjelasan Carmilla mengenai batas kemampuan fisiknya, Lucius hanya bisa terus terdiam merenungkannya.
Menatap sosok wanita berambut perak panjang yang begitu menawan itu, pada pantulan cermin di hadapannya.
"Aku.... Mau tak mau harus melakukannya ya?" tanya Lucius.
'Melihat potensimu, jika kau ingin mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi tentu saja harus melakukannya. Tapi karena resikonya....'
Resiko dari teknik rahasia yang telah dilupakan, Awakening. Sebuah teknik untuk merombak ulang tubuh dan menyusunnya lagi dari awal agar memiliki potensi yang lebih tinggi lagi.
Tentu saja, kenyataan bahwa dirinya akan kembali menjadi sangat lemah. Seperti dulu.
Jika Lucius telah terlalu banyak membuat musuh saat hal itu terjadi....
'Karena itu lah. Lakukan hal itu setelah membangkitkan ku.' lanjut Carmilla.
"Eh?" tanya Lucius terkejut.
Membangkitkan tubuh Carmilla adalah tujuan akhir dari perjuangan keduanya. Mendekati akhir dari kontrak keduanya untuk saling bekerjasama itu.
"Tapi, bukankah itu masih cukup lama?" ujar Lucius sambil mengerutkan keningnya.
'Dua bulan. Dua bulan lagi kemungkinan tubuh mu sudah cukup kuat untuk melakukannya. Lucius, jika ada kesalahan dalam perkataan ku, itu adalah menyebutmu tak berbakat. Melihat manusia mendekati batas dari potensi mereka dalam kurang dari satu tahun, itu adalah hal yang luarbiasa.' jelas Carmilla panjang lebar.
Gerakan bibir tipisnya yang manis, serta senyumannya yang mempesona dapat terlihat pada pantulan cermin itu.
Pada umumnya, manusia yang bekerja keras dapat mendekati batas potensi mereka setelah puluhan tahun berlatih.
Hal itu sudah dibuktikan berkali-kali oleh Carmilla itu sendiri sepanjang hidupnya. Mengamati berbagai manusia dari kecil hingga mendekati ajal kematiannya.
Pertumbuhan kekuatan Lucius yang sama sekali melewati perkiraannya itu....
Tak salah lagi.
"Bukankah itu semua berkat ajaran darimu, Carmilla. Memiliki pengetahuan kuno, teknik rahasia, metode latihan para iblis, dan juga...." ucap Lucius sambil meletakkan tangan kanannya pada dadanya.
"Cincin pada jantung ini...." lanjut Lucius.
Stellastra. Cincin sihir yang sebenarnya didesain untuk tubuh Iblis. Meski begitu, banyak manusia yang berusaha menirunya dan membuat replika dari teknik ini. Memasangnya pada bagian luar tubuh mereka.
Sepanjang sejarah, tak pernah ada satu pun manusia yang pernah berhasil memasang cincin sihir pada jantung mereka.
Bukan hanya karena mereka tak memiliki kekuatan fisik untuk menahan rasa sakit dan tekanan dari cincin sihir itu.
Tapi juga rasa takut mereka atas kematian.
Itu benar. Puluhan, bahkan ratusan penyihir agung kala itu telah mencobanya dengan teknik dan formasi sihir yang tak sempurna, lalu terbunuh di tempat akibat tak bisa mengendalikan Stellastra.
Karena itulah, manusia memasangnya di luar tubuh.
__ADS_1
'Mungkin kah, efek Stellastra pada jantung manusia jauh lebih baik dibandingkan pada jantung iblis? Atau sebenarnya kau memiliki bakat terpendam?' tanya Carmilla pada dirinya sendiri.
'Apapun itu, karena tak ada manusia lain yang memilikinya aku tak bisa memastikannya. Apapun itu, Lucius. Kau cukup berbakat, terutama dalam mengasah kemampuanmu.' balas Carmilla panjang lebar dengan nada yang hangat dan penuh pujian.
Bakat.
Kata yang cukup dibenci oleh Lucius. Satu kata itu lah yang menyebabkan ketidakadilan di dunia ini.
Mereka yang terlahir pada keluarga bangsawan akan diberkahi bakat yang luarbiasa dari orangtua mereka. Sedangkan mereka yang berasal dari rakyat biasa....
Hanya bisa terus merangkak untuk bertahan hidup.
"Apa.... Apa yang ku perlukan untuk membangkitkan mu?" tanya Lucius, mengganti topik pembicaraan itu.
'Aah, soal itu mudah. Hanya Mana yang besar dan tubuh ku.' balas Carmilla dengan gembira.
"Hah? Tubuhmu? Bukankah kau bilang kau sudah kehilangan tubuhmu dan...."
'Jantung ku. Aku telah menyimpannya dengan baik di suatu tempat. Atau lebih tepatnya, meminta seorang penjaga menyimpannya di kala aku mati. Kau hanya perlu kesana, membiarkanku berbicara dengan penjaga itu, lalu aku akan memperoleh kembali tubuhku yang agung!'
"Tu-tunggu dulu.... Kau membuat semua ini terdengar terlalu mudah sampai-sampai aku merasa ngeri. Dan juga, apakah penjaga itu tak mati setelah ribuan tahun?" tanya Lucius dengan tubuh yang sedikit gemetar.
'Tenang saja. Dia telah meminum darah ku dan memperoleh keabadian, dalam artian takkan pernah menua atau kelaparan. Jadi semuanya aman!'
Senyuman lebar Carmilla yang terlihat pada pantulan cermin itu akibat Clairvoyance Eye, secara tak sadar membuat Lucius juga ikut tersenyum.
Melihat sosok gurunya yang selalu membantunya di kala sulit itu, kini telah begitu dekat dengan tujuannya.
Hanya saja, terdapat satu pertanyaan yang masih mengganjal Lucius. Yaitu apa yang akan dilakukan Carmilla setelah memperoleh kebebasannya....
............
Sejak hari itu, Lucius benar-benar telah membuka matanya untuk melihat pemandangan yang jauh lebih besar.
Bukan hanya terfokus pada dirinya sendiri. Tapi Lucius mulai melihat dunia ini dalam sudut pandang yang lebih luas lagi.
Mulai dari emosi dan apa yang dipikirkan oleh Carmilla, sikap teman-teman kelasnya, gurunya, hingga profesor di kelas yang lain.
Bahkan, Lucius juga memperhatikan dengan baik atas apa yang ada di sekitar kota Arcanum ini.
Termasuk keberadaan Ksatria Suci yang masih terus bergerak kesana kemari, menanyai beberapa orang mengenai api biru yang bahkan hingga detik ini juga masih belum padam.
Sama seperti hari ini. Di saat Lucius hendak berangkat ke akademi....
"Permisi, pelajar dari Akademi Damacia? Bisa kah kami meminta sedikit waktu?" tanya salah seorang Ksatria Suci yang berpapasan dengannya.
Di belakangnya, terlihat sosok Ksatria Suci yang lain. Memperhatikan lingkungan sekitar untuk memastikan tak ada yang terlewatkan.
"Ya? Ada apa?" tanya Lucius kembali.
__ADS_1
"Apakah kau mengetahui sesuatu tentang api biru di hutan itu? Tak peduli sekecil apapun itu, tolong beritahu kami." balas Ksatria Suci itu.
Mereka dilengkapi dengan zirah Mithril yang lengkap, juga dengan jubah putih yang indah.
Pada bagian belakang jubah mereka, terdapat lambang cahaya keemasan yang menandakan mereka berasal dari Gereja Cahaya, penyembah Dewi Lunaria.
'Lucius ini buruk. Jika gereja sampai....'
"Maaf. Aku sama sekali tak mengetahui apa-apa tentang itu, selain rumor bahwa ada pertarungan besar disana." balas Lucius sambil memperlihatkan tanda pengenalnya.
Melihat kartu tanda pengenal di tangan kanan Lucius itu, kedua Ksatria Suci yang berada di hadapannya segera tersadar.
"Begitu ya.... Maaf mengganggu waktu mu. Permisi." balas Ksatria itu sebelum segera pergi. Berniat untuk menanyakan hal yang sama pada orang lain di kota ini.
'Lucius?' tanya Carmilla. Ia merasa kebingungan kenapa Lucius memotong perkataannya sebelum selesai.
"Tenang saja. Aku pun tahu berurusan dengan Gereja bukanlah hal yang bagus. Sekalipun tak ada kau di tubuh ku." balas Lucius dengan suara yang lirih.
Dengan sikap yang tenang, Lucius kembali melanjutkan langkah kakinya menuju akademi.
Sementara itu....
"Kenapa kita tidak menanyainya lagi? Melihat pakaiannya, dia adalah pelajar di akademi kan? Anak itu pasti tahu sesuatu." tanya rekan dari Ksatria Suci itu sambil terus berjalan.
"Lupakan saja. Dia adalah kelas F. Tak mungkin pelajar Kelas F mengetahui banyak hal mengenai api itu selain dari rumor yang didengarnya." balas Ksatria Suci yang barusan menanyai Lucius itu.
"Aah, pantas saja. Tak sepertimu meninggalkan calon saksi."
Dengan tangan yang terus menggenggam erat pedang di bahu kanannya itu, Ksatria Suci itu kembali mengeluhkan situasi ini sekali lagi.
"Sialan.... Guild Master dan semua petualang juga bersaksi bahwa api itu berasal dari monster abnormal itu. Tapi entah kenapa.... Aku merasa mereka berbohong."
"Hmm? Kenapa?"
"Hanya perasaan ku saja. Jika ada Heretics yang memiliki kemampuan sebesar itu...."
Heretics. Orang yang dilabeli Gereja dan kerajaan sebagai orang sesat yang menyimpang dari ajaran utama Gereja.
Keberadaan mereka selalu diburu dan dimusnahkan oleh Gereja dari balik layar. Tanpa banyak orang yang menyadarinya.
Tapi kasus kali ini....
"Ku dengar, beberapa penduduk kota mulai mendatangi lokasi api biru itu dan menyembahnya. Mengatakan bahwa Era Kegelapan akan segera tiba." balas rekan Ksatria Suci itu.
"Sialan. Kasus ini benar-benar rumit. Siapa sebenarnya dalang dari semua ini? Dan apa tujuannya?"
Keduanya tak menyadari dua hal yang penting saat ini.
Hal yang pertama, adalah kenyataan bahwa mereka baru saja melewatkan orang yang bertanggungjawab atas api biru itu.
__ADS_1
Kemudian yang kedua....
Mengenai keberadaan pria misterius yang mengintai kota ini. Berusaha mencari siapa yang menggunakan sihir api biru abadi itu.