
'Zraaatt! Sraaasshh!! Braakk!'
"Fuuuh...."
Lucius mengayunkan pedangnya dengan cepat untuk membersihkan darah Goblin yang menempel.
Kini di hadapannya, adalah tumpukan jasad Goblin yang berserakan di segala arah.
'Kerja bagus. Kau sudah semakin meningkat.' puji Carmilla setelah melihat pertarungan Lucius di bawah cahaya bulan sabit yang semakin menipis ini.
Mendengar pujian itu, Lucius sama sekali tak senang. Baginya, jalannya masih sangat jauh untuk merasa puas atas pencapaiannya.
"Ini hanyalah Goblin. Bukan sesuatu yang layak untuk dipuji." balas Lucius sembari mengelap keringat di keningnya dengan menggunakan jubahnya.
Setelah membakar habis seluruh jasad Goblin itu, Lucius kembali melanjutkan penjelajahannya. Kali ini semakin dalam di hutan gelap ini.
Jauh dari jalan utama yang menghubungkan antara kota Arcanum dengan berbagai kota dan desa yang lainnya, tentu saja wilayah yang dijelajahi oleh Lucius sangat lah berbahaya.
Tak hanya monster, terdapat peluang besar bahwa bandit mendirikan markas mereka di kedalaman hutan ini.
Dan bagi Lucius yang saat ini, melawan manusia lainnya masih terlalu berat.
Setidaknya, itulah yang ada di dalam pikirannya.
Setelah berjalan selama kurang lebih 15 menit, Lucius melihat sesuatu yang mengejutkannya.
'Sruuugg!'
Dengan cepat, Lucius segera bersembunyi di balik pepohonan dan memadamkan api di tangan kirinya.
Apa yang dilihatnya, adalah sebuah kobaran api yang cukup besar namun teratur. Dengan kata lain....
"Ada seseorang disana?" tanya Lucius pada dirinya sendiri sembari berusaha untuk melihat ke arah perapian itu.
Setelah diperhatikan dengan lebih baik, Lucius dapat melihat sebuah susunan api unggun yang rapi. Lengkap dengan rak pengasapan dan juga rangkaian besi untuk membakar daging di atas api unggun itu.
Meskipun kasar dan terkesan dibuat menggunakan peralatan ala kadarnya, tapi semuanya terlihat berfungsi dengan baik.
'Bruk! Bruk! Bruk!!'
Tak lama kemudian, seseorang.... Atau lebih tepatnya sesuatu terlihat berjalan ke arah perapian itu.
Langkah kakinya yang berat dan lambat menimbulkan suara yang cukup keras untuk memecahkan kesunyian di hutan ini.
Dan saat Lucius melihat sosok dari sesuatu itu....
Kedua matanya langsung terbelalak. Tubuhnya mulai gemetar. Begitu pula kedua tangannya yang secara refleks menutupi mulut dan hidungnya untuk meminimalisir suara yang dibuatnya.
'Troll?! Di sini?! Kenapa?! Bukankah Troll hanya berada di pegunungan Utara?! Tunggu....'
__ADS_1
Saat itu lah, Lucius teringat. Bahwa wilayah Utara Kerajaan manusia sekitar 2 bulan lalu terkena invasi dari kaum barbar.
Membuat tak hanya manusia, tapi juga monster bergerak untuk mencari tempat tinggal baru.
Dengan kata lain Troll ini....
"Carmilla? Apa yang harus ku lakukan?" tanya Lucius dengan suara sepelan mungkin.
Tapi berapa lama pun Lucius menantinya, Carmilla sama sekali tak memberikan balasan. Bahkan sepatah kata pun.
Padahal barusan Carmilla masih sempat untuk memujinya. Kenapa saat ini Carmilla menghilang?
'Sialan! Kenapa di saat penting seperti ini?!' teriak Lucius dalam hatinya.
Ia kembali melirik ke arah perapian itu. Melihat sosok Troll besar itu merobek daging rusa yang diburunya dengan mudah, lalu membakarnya di atas api unggun nya.
'Tiga.... Tiga setengah meter? Tidak, mungkin empat meter?! Sedangkan beratnya.... Mungkin 400 atau 500 kilogram lebih? Ini buruk.... Sangat buruk....' pikir Lucius.
Berdasarkan seluruh pelajaran yang telah ditempuhnya di akademi, tentu saja Ia pernah membaca mengenai monster yang disebut sebagai Troll ini.
Dengan tubuh besarnya yang bisa mencapai 4 meter lebih, Troll diberkati kekuatan fisik yang jauh diluar nalar manusia biasa.
Bahkan diantara ras Naga atau Dragonnewt sekalipun, kekuatan Troll masih jauh lebih unggul. Satu-satunya kelemahan Troll adalah mereka tak memiliki kekuatan sihir.
Sehingga membuat ras berakal lain yang cukup menguasai sihir bisa melawannya.
'Bahkan katanya dibutuhkan 8 Dragonnewt atau 20 prajurit manusia untuk melawan seekor Troll. Apakah aku....'
Pertama, adalah kekuatan fisik Troll yang tak tertandingi.
Dan kedua.... Adalah kemampuan pendengaran mereka yang sangat tajam. Sedikit saja gerakan mencurigakan dari Lucius untuk lari dari tempat ini, akan membuat Troll itu menyadari keberadaannya.
Dan dengan kekuatan fisiknya, Troll itu dapat dengan mudah mengejar Lucius.
Tak seperti Goblin yang menyimpan mangsanya, Troll takkan ragu membunuh untuk memakannya secara langsung.
Itu karena mereka selalu bisa memburu mangsa baru untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka yang sangat besar.
"Sialan, Carmilla! Katakan sesuatu!" bisik Lucius sekali lagi.
Tak berbeda dari sebelumnya, Carmilla masih tak memberikan balasan sama sekali. Membiarkan Lucius untuk menyelesaikan masalah ini sendiri.
Pada akhirnya, Lucius mulai menghirup nafas dalam-dalam. Berusaha untuk berpikir positif di tengah situasi yang buruk ini.
'Pikirkan dengan baik-baik. Ini bukan pertama kalinya Carmilla meninggalkan ku sendirian. Benar. Sama seperti saat melawan Damon. Dengan kata lain, Carmilla sedang menguji ku.' pikir Lucius.
Ia kembali melirik ke arah Troll itu. Dari kejauhan, dapat terlihat Troll itu sedang menikmati daging rusa bakarnya lahap. Tak menyisakan bahkan tulangnya.
'Jarak antara diriku dengan Troll itu sekitar 20 meter. Peluang untuk kabur mendekati 0 persen. Dengan kata lain....'
__ADS_1
'Glek!'
Lucius menelan ludahnya. Mempersiapkan dirinya untuk pilihan yang berat ini.
Dalam kondisi Troll yang lengah ini, Lucius berpikir bahwa dirinya mungkin mampu untuk memberikan serangan kejutan.
Oleh karena itu....
'Icicle Spear.'
Lucius mengangkat tangan kirinya. Menciptakan sebuah lingkaran sihir kebiruan yang sebesar telapak tangannya.
Di atasnya, tercipta sebuah tombak es yang cukup besar dan tajam. Sedikit demi sedikit mulai menjadi semakin besar.
Dan saat ukurannya menjadi sepanjang tubuhnya dan setebal lengannya....
...'Swuuuuusshhhhhh!!!'...
Lucius melemparnya sekuat tenaga. Targetnya adalah kepala besar Troll itu.
Bidikannya akurat. Kecepatannya sudah lebih dari cukup. Dan daya hancurnya sangat besar. Jika itu mengenai manusia, mungkin akan melubangi tubuhnya dan membunuhnya secara langsung.
Tak salah lagi, Lucius akan mampu untuk membunuh Troll itu dalam sekali serang.
Atau....
Itu lah yang ada di dalam pikirannya.
'Sruugg!'
Sesaat setelah Lucius melemparkan tombak es itu, telinga Troll itu terlihat bergerak dengan cepat. Menangkap suara dari lemparan tombak esnya yang menghentakkan udara di sekitar.
Dan dengan cepat....
...'Srruuuggg! Braaaaaakkk!!!'...
...'Pyaaaaarrrr!!!'...
Troll itu mengangkat gada kayunya, mengayunkannya tepat di tombak es yang dilempar oleh Lucius.
Menghancurkannya hingga berkeping-keping. Menjadi debu es yang hanya membasahi tubuh raksasa Troll itu.
Dengan tatapannya yang begitu mengerikan, Troll itu mulai membuka mulutnya dan berbicara.
"Manusia.... Bunuh...." ucapnya sambil memamerkan taringnya yang tajam dan besar itu.
Melihat rencana sempurnanya hancur begitu saja, hanya karena suara dari tekanan angin saat Lucius melemparnya....
"Aaah, ini buruk. Bukankah aku akan mati di sini?" ujar Lucius pada dirinya sendiri sembari tertawa.
__ADS_1
Tak ada lagi serangan kejutan. Tak ada lagi setitik pun peluang untuk kabur. Apa yang bisa Lucius lakukan saat ini, hanyalah menghadapinya secara langsung.
Dengan seluruh kemampuannya.