
'Sruugg! Sruugg!'
Lucius terlihat duduk di ruang tunggu Arena ini. Mengistirahatkan badannya yang kelelahan setelah menggunakan beberapa teknik pedang dari iblis itu.
"Hah, sialan.... Aku masih perlu latihan lagi." ucap Lucius pada dirinya sendiri.
Saat Lucius baru saja hendak meneguk air dingin yang disajikan oleh pengurus Arena ini, sebuah portal tiba-tiba muncul di sampingnya.
Dari balik portal itu, sosok Alora terlihat berjalan dengan wajah yang tegang.
"Pertarungan yang luarbiasa, Lucius. Jika kau bilang kau berasal dari akademi ksatria, aku pasti takkan meragukan perkataan mu." ujar Alora dengan nada sinis.
"Apa yang ingin kau katakan." tanya Lucius setelah meneguk air dingin itu.
"Bakat mu benar-benar tidak wajar, Lucius. Seakan-akan para Dewa memberikan dirimu semua bakat itu setengah tahun yang lalu."
Lucius memahami arah dari pembicaraan ini. Pertumbuhan kekuatannya yang tak normal tentu saja karena bantuan dari Carmilla.
Formasi sihir Mana Flow yang diajarkan oleh Carmilla mampu membuat Lucius memperoleh setidaknya 3 tahun latihan sihir hanya dalam waktu 3 bulan saja.
Sedangkan tubuh baru dari hasil Awakening yang dilakukannya mampu membuat potensi kemampuan fisiknya melampaui batas wajar ras manusia itu sendiri.
Tapi tak mungkin Ia akan mengatakannya bukan?
"Aku dulu sering menganggap dunia itu tak adil karena banyak orang berbakat di sekitar ku. Tanpa menyadari aku sendiri juga sedikit berbakat." balas Lucius yang sibuk mengeringkan keringat di sekujur tubuhnya dengan handuk kecil berwarna putih itu.
"Sedikit? Lucius, bakat mu itu sangat jauh dari kata sedikit."
"Begitu kah?"
Keheningan menyelimuti keduanya setelah pembicaraan itu terhenti. Dan akhirnya, Alora mengutarakan tujuannya yang sebenarnya.
"Lucius. Gadis Suci, Mary, ingin bertemu denganmu. Bisakah kau ikut denganku baik-baik?" tanya Alora. Ia segera membukakan portal yang baru, mengarah pada tempat yang sama sekali tak diketahui oleh Lucius.
"Gadis Suci, Mary? Siapa? Dimana?"
"Tak perlu bertanya. Kau akan paham setelah bertemu dengannya."
Meskipun sedikit trauma untuk memasuki portal orang asing, tapi Lucius yakin bahwa sosok Gadis Suci ini mungkin dapat menjadi kunci untuk menghilangkan semua tuduhannya.
Dengan tubuh yang masih kelelahan itu, Lucius bangkit dari duduknya dan segera berjalan ke arah portal itu.
"Aku hanya perlu menemuinya saja kan?" tanya Lucius sesaat sebelum melangkahkan kakinya.
"Ya, dan jaga bicaramu padanya."
"Ya ya.... Aku mengerti."
Segera setelah Lucius melewati portal itu, pemandangan yang luarbiasa segera terlihat di depannya.
Sebuah arsitektur yang begitu indah, dengan banyak mosaik di jendela-jendela kaca raksasa itu. Begitu juga dengan lampu gantung yang begitu megah di langit-langit Katredal ini.
Di ujung Katredal ini, Lucius dapat melihat sebuah patung berukuran cukup besar dengan warna putih yang begitu indah.
Patung Dewi Lunaria yang berdiri dengan megah di ujung ruangan Katredal ini. Patung ini menjadi pusat perhatian dan objek pengagungan bagi mereka yang memasuki katedral di ibukota kerajaan Arathor, Titania ini.
Patung tersebut terbuat dari batu putih yang lembut, memberikan kesan keanggunan dan kemurnian.
Dewi Lunaria digambarkan dalam posisi tegak dengan sikap yang anggun dan elegan dengan tubuhnya yang tinggi dan juga ramping.
Wajah Dewi Lunaria dibentuk dengan rinci, menampilkan fitur yang lembut dan indah. Mata biru langitnya memancarkan cahaya yang menenangkan dan penuh kebijaksanaan.
Patung Dewi Lunaria itu terlihat mengenakan pakaian yang terbuat dari batu putih dengan hiasan emas yang halus. Gaun panjangnya terurai dengan elegan, dan setiap lipatan kain terperinci dengan indah. Tangan Dewi Lunaria diangkat ke atas, seolah menyebarkan sinar cahaya dan berkah kepada umatnya.
Sekalipun Lucius tak menyembah Dewa atau Dewi manapun, melihat patung semegah itu membuatnya cukup terpana.
"Pertama kali melihat Dewi Lunaria?" tanya Alora dengan nada yang sinis.
"Yah, begitu lah."
"Ku harap setelah bertemu dengan Gadis Suci Mary, kau bisa memperoleh keyakinan dan bertaubat pada Dewi Lunaria atas segala perbuatanmu." balas Alora yang terus berjalan mengantarkan Lucius pada sebuah ruangan tersembunyi di Katredal ini.
"Maaf bertaubat atas apa? Aku tak merasa membuat dosa sebesar itu."
Mendengar balasan Lucius, Alora hanya terdiam setelah mendecakkan lidahnya.
Setelah beberapa saat....
"Kita sampai. Ikuti aku." ucap Alora.
Di hadapan Lucius, Ia dapat melihat sebuah tirai yang indah, menutupi apa yang ada di baliknya. Bayangan dari sosok seorang gadis dapat terlihat menembus tirai itu.
Sesaat setelah melangkahkan kakinya ke dalam ruangan ini, Alora segera berlutut dan melapor.
'Huwah?! Bahkan pahlawan penyihir sampai berlutut? Siapa sebenarnya Gadis Suci Mary ini?' pikir Lucius terkejut.
__ADS_1
"Aku telah membawakan Lucius sesuai perintah Anda." ucap Alora yang terus menatap lantai di ruangan ini.
'Bahkan menggunakan bahasa formal yang sopan?!' teriak Lucius yang semakin terkejut.
"Terimakasih, Alora. Bisa kah kau meninggalkan kami berdua?"
Mendengar kalimat itu, Alora segera mengangkat wajahnya karena terkejut.
"Mo-Mohon maaf, tapi meninggalkan Anda dengan orang seperti ini...."
"Tak masalah. Aku sudah sedikit melihatnya. Setidaknya, dia bukanlah orang yang jahat." balas Mary memotong perkataan Alora.
Setelah beberapa saat dipenuhi dengan keraguan, Alora akhirnya mengindahkan permintaan Mary dan segera meninggalkan ruangan ini. Menjaga ruangan ini dari luar agar tak ada yang bisa masuk.
Sedangkan Lucius yang tertinggal sendirian bersama gadis aneh itu, hanya bisa berpikiran buruk.
'Mengingat bagaimana Alora menghormatinya, tak salah lagi dia memiliki posisi lebih tinggi darinya. Dengan kata lain.... Lebih kuat?!' pikir Lucius menganalisa situasi ini.
Tapi setelah itu Lucius baru tersadar. Sesaat setelah melihat Mana dari tubuh gadis itu.
Mana miliknya memiliki warna biru seperti Mana manusia pada umumnya. Hanya saja, pada bagian tengah Mana miliknya terdapat cahaya keemasan yang indah.
Susunan Mana itu mengingatkannya pada dirinya sendiri, dimana bagian tengah Mana milik Lucius memiliki warna abu-abu.
"Tak perlu setegang itu, Lucius Nightshade. Silakan duduk di dekat sini, aku akan membuatkan mu teh." ucap Mary dengan suara yang begitu lembut.
"Baiklah...."
Lucius menerima tawaran dari Mary itu. Ia duduk dengan santai tepat di depan tirai yang membatasi antara wilayah luar dan juga wilayah Mary.
Tanpa mampu untuk melihat sosok Mary yang sebenarnya.
'Srruuugg!!!'
Tak berselang lama, Mary mendorong sebuah nampan logam dari balik tirai itu. Di atasnya terdapat satu teko teh dengan satu buah gelas kaca dan satu mangkuk berisi kue kering.
"Ugh...." ucap Lucius ragu.
"Tenang saja. Tak ada racunnya." balas Mary singkat.
Dua tangan kecilnya terlihat keluar dari balik tirai itu. Menuangkan teh dari teko itu ke gelasnya sendiri dan mengambil satu kue kering untuk dimakannya.
"Lucius, ini cukup lezat. Nikmati lah." ucapnya dengan suara yang begitu ramah.
"Baiklah kalau begitu...."
Lucius menggigit kue kering yang manis namun cukup gurih itu. Teksturnya yang agak kasar namun tak begitu keras itu begitu cocok di dalam mulutnya.
Saat mulutnya mulai kering akibat kue itu, Ia menyeruput teh hangat yang telah dituangkannya pada gelasnya.
"Aaah, kau benar. Terimakasih." ucap Lucius dengan senyuman tipis di wajahnya.
Kehangatan seperti ini telah lama tak dirasakannya, semenjak kehidupannya jungkir balik akibat kehadiran Carmilla.
Tapi bukan berarti Lucius menyesali semua itu. Ia hanya sedikit rindu atas suasana damai seperti ini.
Hanya saja....
"Kau tak mungkin ingin menemui ku hanya untuk meminum teh bukan?" tanya Lucius dengan tawa ringan.
"Tentu saja. Tapi sebelum itu...."
Dari balik tirai itu, Lucius dapat melihat bayangan sosok Mary yang bersujud ke arah Lucius sembari melanjutkan perkataannya.
"Aku mohon maaf. Akibat ramalanku yang tak sempurna, kau terjebak dalam banyak tuduhan bukan?"
"Eh?"
'Deg! Deg!!'
Jantung Lucius berdegup dengan kencang setelah mendengar kalimat itu.
"Apa maksudmu dengan itu?" tanya Lucius sekali lagi.
Tiba-tiba, Mary membuka tirai yang memisahkan keduanya. Menunjukkan sosoknya yang begitu cantik dengan rambut pirang keemasan yang panjang dan terurai indah.
Ia mengenakan pakaian berupa jubah gereja cahaya dengan warna utama putih itu.
Tapi yang paling menyita perhatian Lucius adalah kain hitam dengan alur keemasan yang menutupi matanya. Bahkan kain hitam itu juga memiliki Rune yang tertulis dengan jelas.
"Ma-Mary? Apakah tak masalah untuk membuka tirai itu?" tanya Lucius panik, takut jika Alora yang berada di luar ruangan ini melihatnya.
"Tak masalah." balas Mary singkat. Tangan kirinya Ia gunakan untuk merangkak mendekati Lucius. Sedangkan tangan kanannya menarik dan melepas kain hitam yang menutupi kedua matanya.
Meski sekilas, Lucius dapat melihatnya dengan jelas. Balutan perban putih yang tebal di balik jubah gerejanya.
__ADS_1
Sedangkan apa yang ada di balik penutup mata itu, adalah mata keemasan yang begitu indah.
"Mata itu...." ucap Lucius terkejut setelah menyadarinya.
Sedari tadi, Ia sama sekali tak bisa melihat Mana yang ada di matanya. Penyebabnya tak lain adalah penutup mata dengan banyak Rune yang tertuliskan di atasnya itu.
Memblokir seluruh penglihatan dari mata sihir, baik bagi orang lain maupun penggunanya sendiri.
"Dewi Lunaria menitipkan mata ini padaku. Membuatku mampu melihat apa yang seharusnya tak bisa dilihat oleh manusia biasa." ucap Mary dengan senyuman yang terlihat dipenuhi dengan kesedihan itu.
"Menitipkan?"
"Benar. Karena setelah aku mati, mata ini akan kembali pada Dewi Lunaria. Menunggu Gadis Suci berikutnya yang akan terpilih."
Lucius akhirnya paham kenapa Alora sampai sebegitu hormatnya pada gadis bernama Mary ini.
Setelah mendengar penjelasan barusan, tak salah lagi bahwa Mary adalah sosok yang lebih tinggi dibandingkan dengan 7 pahlawan yang ada di dunia ini.
Sosok yang paling dekat, dengan Dewi Lunaria itu sendiri.
"Begitu ya...."
"Lucius. Dengan mata ini, aku dapat melihatnya dengan sangat jelas. Seluruh hidupmu, masa lalu mu, dan sebagian dari kemungkinan masa depan mu." ucapnya dengan suara yang lirih.
"Eh? Bukankah kekuatan seperti itu terlalu kuat.... Tunggu dulu?!"
Mary terlihat tersenyum manis setelah melihat reaksi Lucius.
"Aaah. Carmilla ya? Jadi penyebab kekuatanmu adalah iblis itu?" bisik Mary ke arah telinga kiri Lucius.
'Sruuuuggg!!!'
Lucius dengan cepat mundur menjauhi sosok Mary setelah mendengar bisikan itu.
'Ini buruk! Jauh lebih buruk dari dugaanku! Bagaimana sekarang....'
Sebelum Lucius mampu memikirkan cara untuk kabur dari situasi yang buruk ini, sebuah harapan muncul tepat di depan matanya.
"Tenang saja. Aku hanya melihat cahaya yang cerah di beberapa tahun kedepan hidupmu. Cahaya yang menghangatkan semua orang di sekitar dirimu." ucap Mary dengan senyuman yang hangat.
"Tapi...." lanjutnya.
"Tapi?" tanya Lucius ketakutan.
Mary terlihat melambaikan tangannya, meminta Lucius untuk mendekat.
"Tiga.... Atau mungkin empat tahun lagi, mata Dewi Lunaria ini menunjukkan sesuatu yang sangat buruk di kehidupanmu. Kegelapan yang datang dari kejauhan, dengan niat untuk menelan dirimu." jelas Mary.
"Kegelapan? Apa maksudnya dengan itu?"
"Kughh! Uhuk!! Kughh!!!"
Mary terlihat batuk parah dengan banyak darah yang keluar dari mulutnya.
"Ma-Mary?! Kau baik-baik saja?!"
Tanpa membalas, Mary hanya berusaha sekuat tenaga untuk meraih penutup mata di sampingnya, sebelum memasangnya kembali pada matanya.
Ia mengikat kain hitam itu dan mengalirkan sebagian Mana miliknya untuk mengaktifkan Rune yang tertera di dalamnya.
"Maaf.... Melihat sejauh itu biasanya tak begitu akurat, tapi tak salah lagi. Sesuatu yang buruk menanti dirimu di masa depan. Sesuatu.... Dengan kebencian yang sangat mendalam...." jelas Mary dengan mulutnya yang terus mengeluarkan darah.
Dari balik penutup mata hitam itu, Lucius juga dapat melihat darah mulai mengalir membasahi wajahnya yang cantik itu.
"Kau benar-benar tak apa?"
Mary mengangkat tangan kanannya. Meminta agar Lucius fokus untuk mendengarkan atas apa yang akan dikatakannya.
"Alora! Kemari lah!" teriak Mary sebelum segera kembali bersembunyi di balik tirai itu.
"Ya? Ada yang bisa ku bantu?" tanya Alora sambil berlutut di dekat pintu itu.
"Lucius bukan lah pembawa bencana yang sebelumnya ku lihat. Tapi sesuatu yang sangat gelap menantinya di masa depan. Kemungkinan, pembawa bencana itu." jelas Mary yang terus menerus batuk berdarah.
"Jadi...."
"Tolong hentikan pengawasan padanya. Apapun latar belakangnya, Lucius bukanlah sosok yang membahayakan dunia ini. Justru aku melihatnya sebagai cahaya yang meneranginya." jelas Mary.
Dengan sigap, Alora pun membalas.
"Dimengerti. Akan segera saya kerjakan."
Sedangkan Lucius sendiri masih terdiam di tempat. Memikirkan semua yang baru saja dikatakan oleh Gadis Suci bernama Mary itu.
__ADS_1
'Tiga sampai empat tahun sebelum kegelapan menelanku? Apa maksudnya itu?'