Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 49 - Penyesalan


__ADS_3

Sesaat setelah Carmilla menggunakan sihir api biru itu untuk membakar sebagian besar hutan....


"Lu-Lucius.... Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak.... Siapa sebenarnya kau?" tanya Selena dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


Ia justru merasa ngeri terhadap sosok bocah laki-laki di hadapannya itu.


Carmilla yang telah lelah atas semua pertarungan barusan, mengembalikan kendali tubuh itu pada Lucius.


'Braakkk!!!'


"Lucius?!" teriak Selena yang segera berlari ke arah bocah laki-laki yang terjatuh ke tanah itu.


Melihat semuanya dari sudut pandang Carmilla, Lucius merasa sangat terpukul atas kejadian ini. Menyadari betapa lemahnya dirinya atas situasi seperti ini.


"Hiks.... Sialan.... Kenapa...."


Lucius nampak terbaring di tanah sambil menangisi semua yang baru saja terjadi.


Ia teringat atas sikap kasar namun perhatian dari Ironclad. Sosok yang kini tak lagi bernyawa.


Begitu pula dengan sikap tegas Drakon yang selalu menengahi pertikaian dalam kelompok itu. Mencegah banyak permasalahan yang mungkin saja terjadi.


Dan terakhir....


Ia teringat atas sikap lembut dan baik hati dari Sera. Pertama kalinya Lucius sedekat itu dengan perempuan, tak lain adalah dengan Sera.


Bahkan Lucius merasa Sera layaknya kakak perempuannya sendiri. Selalu menjaga dan mengajari Lucius berbagai hal yang tak diketahuinya.


Sekalipun hanya bersama dengan kelompok itu selama beberapa Minggu saja, Lucius telah terikat dengan sangat dekat terhadap mereka semua.


"Maaf...." ujar Lucius sambil terus memukuli tanah yang dipenuhi abu itu.


"Maafkan aku.... Jika saja aku lebih kuat...."


Di sampingnya, terlihat gagang pedang yang sangat dikenalinya. Gagang dari pedang infernal steel miliknya, dimana saat ini bilahnya telah sepenuhnya meleleh.


Menyisakan hanya sebagian dari logam itu yang masih menempel.


"Lucius...." ucap Selena sambil memeluk erat bocah laki-laki itu.


Sekalipun kekuatannya luarbiasa, Lucius hanyalah bocah yang masih belum memahami betapa kejamnya dunia diluar dinding.


Dunia dimana nyawa bisa melayang begitu saja, dengan alasan yang sama sekali tak terduga.


"Sudah, Lucius.... Kau sudah berjuang dengan sangat baik.... Jadi...."


Secara tak sadar, Selena juga mulai mengeluarkan sisi lembutnya. Air mata mulai mengalir dan membasahi wajah cantiknya. Sedangkan kedua tangannya semakin erat dalam memeluk bocah laki-laki itu.


"Guild Master, bisakah.... Aku meminta sesuatu?" tanya Lucius singkat.


"Tentu saja. Apapun. Katakan padaku."


Selena sama sekali tak percaya atas apa yang keluar dari mulut Lucius berikutnya. Membuatnya kembali bertanya-tanya, apakah sosok laki-laki di hadapannya itu benar-benar masih berumur 16 tahun.


Dan dengan itu, Quest perburuan monster abnormal itu pun berhasil diselesaikan.


Sekalipun harus memakan banyak korban dari kalangan petualang yang berbakat, tapi jumlah itu masih lebih baik dibandingkan dengan ratusan bahkan ribuan penduduk sipil yang bisa jadi mati di masa depan.


Jika monster itu tak pernah diburu.


............


Beberapa hari kemudian....


Guild Pusat akhirnya menghadiahi penyelamat dari misi perburuan monster abnormal ini. Termasuk pihak kerajaan yang memberikan hadiah yang luarbiasa pada penyelamat itu.


"Dengan berkah dari Dewi Mana, sumber dari segala kekuatan di dunia ini, Gereja Mana dengan senang hati memberikan hadiah ini padamu." ucap seorang pendeta dengan jubah putih dan memiliki alur biru itu.

__ADS_1


Di sampingnya, beberapa ksatria suci nampak mengawal pendeta itu dalam memberikan hadiah.


"Hamba terima berkah dari Dewi Mana dengan senang hati." ucap sang penyelamat itu.


Ia kemudian mengulurkan kedua tangannya dan meraih sebuah pedang besar yang terbuat dari Mythril. Logam terkuat dengan afinitas sihir terbaik di dunia ini.


"Selena Stormblade, dengan ini, Gereja Mana akan merekomendasikan dirimu untuk naik ke tingkat S. Nantikan kabar baik dari kami, dan jangan lupa untuk berdoa pada Dewi Mana." ucap pendeta itu sambil menepuk bahu kanan dan kiri Selena dengan ringan.


Akhirnya, pendeta dan rombongan Ksatria suci itu pun pergi meninggalkan bangunan Guild ini.


Menyisakan hanya Selena dan beberapa karyawannya. Serta sekitar 4 orang petualang yang berdiri di pojokan aula utama Guild ini.


Semua petualang itu mengenakan jubah penyihir dan membawa tongkat kayu sederhana.


"Selamat atas pencapaiannya, Guild Master! Mendapat rekomendasi dari Gereja Mana adalah sesuatu yang luarbiasa!" ucap para pegawainya dengan gembira.


Begitu pula dengan keempat petualang itu yang segera mengucapkan selamat pada Selena.


Meski begitu....


Selena nampak sedikit murung dan memaksakan senyumannya.


Bagaimana tidak?


'Kenapa kau meminta sesuatu seperti ini, Lucius? Seharusnya, kau yang mendapatkan rekomendasi itu bukan?' tanya Selena dalam hatinya.


Itu benar.


Permintaan dari Lucius sangat lah sederhana, hingga membuat sang Guild Master itu sendiri cukup enggan untuk menerimanya.


Lucius meminta agar Selena yang meraih kehormatan, dan menyatakan bahwa dirinya lah yang berhasil membunuh Hobgoblin abnormal itu.


Sedangkan api biru yang tercipta tak lain adalah sihir dari Hobgoblin itu.


Itulah permintaan Lucius, untuk menyembunyikan identitasnya yang sebenarnya.


Alasan itu yang membuatnya enggan untuk mengakui bahwa dirinya yang mengalahkan Hobgoblin itu.


Meskipun....


Sebagai gantinya, Selena sebagai Guild Master berjanji untuk membalas hutang budi ini kedepannya. Hutang dimana Lucius lah yang berhasil menyelamatkan semuanya dari ancaman monster itu.


Selena bersikeras untuk memberikan banyak dukungan bagi Lucius, termasuk uang jika diperlukan.


Tapi sayangnya, Lucius menolak semuanya. Mengatakan bahwa dirinya tak pantas untuk menerimanya.


............


Sementara itu di pinggiran kota....


"Ahahahaha! Ayo kejar aku!"


"Tunggu! Jangan berlari terlalu cepat!'


"Hahaha! Dia tak bisa mengejarnya!"


Pemandangan banyak anak kecil yang sedang bermain di depan rumah itu mampu menyejukkan hati siapapun.


Kebahagiaan dan senyuman mereka, juga kepolosan mereka terhadap kekejaman dunia ini.


Lucius yang melihatnya merasa rindu pada dirinya di masa lalu, dimana Ia tak begitu banyak mengetahui bagaimana dunia ini sebenarnya bekerja. Dan hanya perlu bersenang-senang setiap harinya.


Pada tangan kanan Lucius, terdapat sebuah keranjang kecil yang tertutupi oleh kain berwarna kuning.


Secara perlahan, Lucius berjalan mendekati mereka semua sambil menawarkan beberapa roti panggang yang masih hangat yang terdapat dalam keranjang itu.


"Jangan berebut. Ada cukup banyak roti untuk kalian semua." sapa Lucius ramah.

__ADS_1


"Yey! Kakak baik ini datang lagi hari ini!"


"Kakak! Sering-sering datang ya?!"


"Aku panggilkan kak Kristy sebentar ya!" teriak seorang gadis kecil yang berlari secepat mungkin ke arah rumah itu.


Sambil duduk di atas batu besar di kejauhan, Lucius memandangi kebahagiaan anak-anak kecil itu. Tanpa sadar, wajahnya mulai tersenyum tipis.


Tak berselang lama, sosok seorang wanita dewasa dengan pakaian kain yang sederhana datang ke arahnya.


"Tuan Lucius. Sekali lagi, terimakasih atas bantuannya." ucap wanita pengasuh yang bernama Kristy itu.


Ia bekerja sebagai pengasuh yang merawat semua anak-anak yatim piatu ini. Memberikan tempat tinggal dan makanan seadanya kepada mereka semua.


Sebuah tugas yang berat karena Kristy yang sibuk merawat mereka semua, tak lagi memiliki waktu untuk mencari uang.


Karena itu lah....


'Sruuugg!'


Lucius menyerahkan sebuah kantung kecil berisi sekitar 20 koin perak di dalamnya.


"Ku rasa itu cukup untuk Minggu ni kan?" tanya Lucius.


"Tu-Tuan Lucius? Bu-bukankah ini terlalu banyak? Jika kami berhemat kami bisa bertahan untuk beberapa bulan dan...."


"Jangan. Habiskan dalam seminggu ini. Traktir anak-anak makanan yang enak, juga beli pakaian baru untuk mereka. Termasuk pakaian untukmu. Minggu depan, aku akan mencari beberapa pekerja bangunan untuk...."


Belum selesai mengutarakan semua rencananya, Lucius dihadapkan sosok Kristy yang menangis tersedu-sedu.


"Katakan.... Bagaimana saat-saat terakhir Ironclad dan teman-temannya?" tanya Kristy dengan suara yang begitu lirih.


Mengingat kembali apa yang terjadi pada pertarungan itu, Lucius pun menjawab.


"Mereka bertarung dengan sangat berani. Ironclad menyelamatkanku berkali-kali di sana, itulah kenapa aku masih bisa bertahan hidup." balas Lucius.


"Syukurlah.... Setidaknya.... Mereka telah berjuang dengan baik...." balas Kristy sambil mengelap air matanya dengan lengan bajunya.


Dengan sedikit keraguan, akhirnya Lucius menanyakan apa yang sangat ingin diketahuinya.


"Lyra, apakah dia kemari?" tanya Lucius.


"Tidak. Sudah lama aku tak melihat sosok Nona Lyra. Tapi aku tahu tempat tinggalnya."


"Bisa beritahukan padaku?"


Kristy segera menuliskannya pada secarik kertas yang diberikan oleh Lucius. Alamat tempat tinggal anggota kelompok Ironclad terakhir, yang masih bertahan hidup dari kengerian iblis itu.


Setelah memastikan alamat yang dituliskannya, Lucius segera menyimpannya dalam kantong sakunya sebelum kembali bertanya hal penting lainnya.


"Kau, tidak mengatakannya pada anak-anak kan?"


Kristy segera menggelengkan kepalanya sambil memaksakan senyuman di wajahnya.


"Aku hanya bilang bahwa Tuan Ironclad dan teman-temannya sedang dalam misi di wilayah Utara untuk waktu yang lama." balas Kristy.


"Bagus lah. Kalau begitu, aku permisi dulu." balas Lucius yang segera berdiri dari tempat duduknya.


Sosok Kristy terlihat membungkukkan badannya untuk memberikan hormat pada Lucius. Bagaimana pun, status keduanya berbeda sangat jauh.


Di satu sisi, Lucius adalah seorang bangsawan. Sedangkan di sisi lain, Kristy hanyalah seorang rakyat biasa.


Seharusnya kasta itu tak bisa berbicara dengan santai seperti itu. Tapi Lucius yang juga berasal dari kalangan rakyat biasa, tak begitu peduli dengan kasta.


Baginya, semua manusia itu sama.


Yang membedakan adalah bagaimana mereka bersikap dan bertindak di dunia yang hanya sesaat ini.

__ADS_1


__ADS_2