Murid Ratu Iblis

Murid Ratu Iblis
Chapter 89 - Pertandingan


__ADS_3

Lucius terus berlatih di kediaman keluarga Thompson selama seminggu ini. Sedangkan latihannya sendiri juga dapat dibilang sangat ekstrim bagi orang biasa.


Tapi bagi bocah yang telah melalui berbagai neraka dalam satu tahun ini?


"Gila. Aku akan mati jika dilatih seperti itu." ujar salah seorang prajurit Mercenary yang melihat sosok Lucius berlari mengelilingi lapangan latihan ini.


Tapi menyebutnya berlari itu sedikit kurang tepat. Selain mengenakan zirah besi yang sangat tebal, kedua kaki dan tangannya serta di perutnya juga terdapat sebuah rantai yang terikat pada bola besi di belakangnya.


Setiap bola besi itu sendiri seberat setidaknya 50kg. Membuat tiap langkah kakinya sangat lah berat karena menyeret lebih dari 250kg beban di belakangnya. Ditambah dengan zirah besi yang setidaknya seberat 75kg itu.


Dan Lucius telah berlari selama dua jam lebih dalam kondisi ini.


"Lucius, kau yakin tak perlu istirahat?" tanya Adrian khawatir. Ia memperhatikan latihan Lucius sembari membaca berbagai berkas-berkas yang dibawanya.


Melihat sikap dari Lucius itu membuat Adrian sendiri cukup merinding.


"Tidak, terimakasih. Aku masih mampu untuk berlari." balas Lucius dari balik helm besinya yang sangat tebal itu. Suaranya terdengar sedikit mendengung melewati celah kecil di helmnya.


Dengan balasan itu, Lucius kembali berlari mengelilingi lapangan ini.


"Dia itu.... Benar-benar teman kelas mu di akademi sihir? Bukankah kau bilang dia penyihir yang hebat? Lalu apa-apaan ini?" tanya Adrian pada seorang pemuda berambut merah di sebelahnya yang telah terkapar kelelahan.


Pemuda itu tak lain lagi adalah Max. Ia baru saja mencoba menu latihan Lucius untuk membuktikan kemampuannya. Tapi baru setengah jam berlari dengan cara Lucius, Ia telah kehabisan staminanya.


"Benar.... Itulah kenapa aku juga ikut kebingungan...." balas Max dengan kelelahan.


Adrian kini melihat Lucius bukan lagi sebagai seseorang yang berbakat. Melainkan melihatnya sebagai seseorang yang diberkahi oleh seluruh bintang di langit itu sendiri.


'Penyihir yang jenius, bahkan kabarnya dia bisa menggunakan sihir ruang di umur semuda itu. Meski begitu, kemampuan fisiknya bahkan melampaui putraku sendiri yang telah berlatih semenjak Ia bisa berlari. Sungguh.... Dunia benar-benar tak adil ya?' pikir Adrian dalam hatinya sambil memberikan senyuman yang pahit.


............


Satu Minggu telah berlalu.


Tak banyak yang dipelajari oleh Lucius selama berlatih di kediaman Thompson. Hanya dasar-dasar cara kerja Mercenary, bayarannya, dan juga bagaimana cara mereka bertarung.


Sedangkan yang lainnya hanyalah Lucius yang memanfaatkan privasi dari Gereja dan alat-alat latihan di barak pasukan itu.


Hasilnya....


Meskipun Lucius tak meningkatkan sedikit pun kapasitas Mana nya untuk menjaga identitasnya, tapi kemampuan fisiknya benar-benar meningkat dengan drastis.


Pada awalnya Lucius kesulitan menarik 5 buah bola besi saja. Tapi tepat kemarin malam, Ia tak lagi kesulitan untuk menarik 12 bola besi sembari berlari selama 4 jam.


Dan kini....

__ADS_1


"Sialan, ototku kaku semua. Sakit sekali...." keluh Lucius sambil berjalan ke arah Arena pertarungan itu.


"Lucius, ini." ucap Alex yang berjalan di sampingnya. Menemani Lucius melangkah ke dalam Arena pertarungan itu.


Alex terlihat menyerahkan tiga buah pedang baru. Dua dari pedang itu merupakan pedang Mithril baru yang seharusnya diserahkan Lucius sejak dulu.


"Terimakasih. Sekarang aku bisa membuang pedang tumpul ini." balas Lucius yang segera menyimpan kedua pedang itu menggunakan sihir ruangnya.


Sedangkan pedang yang terakhir....


"Kau yakin akan melawannya dengan senjata seperti ini?" tanya Alex khawatir.


"Meskipun begitu, Ethan adalah seorang wakil dari Dewan Pelajar. Kekuatan fisik dan sihir tanahnya benar-benar berada di level yang berbeda jika dibandingkan dengan pelajar lainnya." lanjut Alex dengan suara yang sedikit lebih keras.


Tapi Lucius hanya terdiam. Mengambil pedang dengan bilah tumpul berwarna hitam pekat itu. Tidak....


Menyebutnya tumpul terkesan terlalu memuji. Karena pedang ini benar-benar menyerupai logam mentah yang sama sekali belum ditempa.


Bentuk bilahnya sendiri hanyalah persegi panjang dengan mata pedang yang tebal. Membuatnya tak mungkin untuk mengiris apapun. Apalagi lawannya.


"Ini jauh lebih baik. Aku tak ingin membunuh siapapun, kau tahu?" balas Lucius dengan senyuman yang ramah.


"Lucius kau...."


"Aku pergi dulu."


Tapi kali ini cukup berbeda. Tak banyak orang yang meneriaki dan menghinanya. Meski bukan berarti mereka mendukungnya.


Semua pelajar meneriaki nama Ethan dengan keras. Mengharapkan kemenangan yang telak darinya.


"Lucius. Aku takkan menahan diri saat melawanmu." ucap Ethan dengan tegas. Badannya juga terlihat jauh lebih besar dibandingkan dengan badan Lucius.


Lebih tinggi, lebih besar, dan harusnya lebih kuat.


Tapi kenyataannya....


Lucius terlihat tersenyum tipis sambil membalas.


"Tenang saja, Ethan. Aku akan memberikanmu kemudahan. Lihat, aku hanya akan menggunakan pedang besi tumpul ini." balas Lucius.


"Kau akan menyesali pilihanmu itu, Lucius."


"Sudah ku bilang. Mengalahkan orang semacam dirimu itu tak perlu menggunakan sihir."


Ethan berusaha dengan keras untuk menahan amarahnya. Semua provokasi yang dilakukan Lucius benar-benar efektif.

__ADS_1


Tapi setelah Ethan melihat sosok Luna yang mendukungnya dari kejauhan, Ia tak bisa mempermalukan Dewan Pelajar lebih jauh lagi.


Tak berselang lama....


Aba-aba terdengar dengan begitu keras. Menandakan bahwa pertarungan ini dimulai.


Tanpa sedikit pun keraguan dan waktu yang terbuang, Ethan segera menggunakan sihirnya.


'Swuuusshhh!!!'


Melihat perubahan aliran Mana di kedua tangan Ethan menjadi kecoklatan, Lucius tak hanya menyadari elemen apa yang akan digunakan oleh lawannya.


"Rock bullet. Kau yakin ingin memperlakukanku seperti anak-anak, Ethan?" tanya Lucius dengan nada yang mengejek.


'Apa?! Bahkan lingkaran sihir ku belum sepenuhnya terbentuk tapi dia sudah tahu?!' teriak Ethan terkejut dalam hatinya.


'Blaaarr! Blaaarr!! Blaaarrr!!!'


Puluhan peluru dari batu yang keras melesat ke arah Lucius dengan begitu cepatnya. Sangat sulit untuk mengikuti arah lintasan batu itu. Tapi....


Yang namanya lintasan batu dari sihir rendahan, apalagi di jarak sedekat ini, tentu saja.


Bisa diprediksi.


'Klaangg! Braaakk! Klaaangg!!'


"Kau yakin tidak sedang bermain-main denganku, Ethan?" tanya Lucius sambil tertawa ringan. Tangan kanannya nampak menebas seluruh peluru batu yang melesat ke arahnya dengan mudahnya.


"Kalau begitu...."


"Whoah, Earth Surge ya? Lumayan menarik." balas Lucius yang segera mengetahui sihir apa yang akan digunakan oleh Ethan.


Lucius nampak berjalan ke arah samping secara perlahan. Dan setelah 3 detik berlalu, lingkaran sihir terbentuk di tempat Lucius sebelumnya berdiri.


Menimbulkan puluhan duri yang tajam dan besar dari bawah tanah dan menusuk ke udara.


Tapi Lucius yang telah menghindar bahkan sebelum sihir itu aktif....


'Bagaimana cara orang itu melakukannya? Bukankah itu.... Seakan-akan bisa melihat ke masa depan?!' pikir Luna terkejut. Ia bahkan sampai berdiri dari duduknya.


Tak percaya atas apa yang baru saja dilihatnya barusan.


Tak ada satu orang penonton pun di Arena ini yang mengetahui bagaimana Lucius melakukannya. Menghindar tanpa menggunakan sihir, tiga detik sebelum kejadian itu terjadi.


Bahkan Alora Skyweaver, pahlawan penyihir yang menonton pertandingan ini pun tak bisa menyadarinya.

__ADS_1


Membuatnya semakin curiga terhadap kemampuan Lucius yang sangat abnormal itu.


__ADS_2